<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tekan Depresi Siswa Akibat Pandemi, KPAI Minta Sekolah Buka Layanan Konsultasi </title><description>Peran guru, terutama wali kelas, penting dalam membantu anak yang memiliki masalah psikologi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi"/><item><title>Tekan Depresi Siswa Akibat Pandemi, KPAI Minta Sekolah Buka Layanan Konsultasi </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi</guid><pubDate>Senin 19 Oktober 2020 14:46 WIB</pubDate><dc:creator>Neneng Zubaidah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi-7sKKwCkofW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/19/337/2296001/tekan-depresi-siswa-akibat-pandemi-kpai-minta-sekolah-buka-layanan-konsultasi-7sKKwCkofW.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mendorong peranan sekolah yang lebih besar untuk mendampingi siswa agar tidak mengalami depresi selama masa pandemi ini.
Retno mengatakan, KPAI mendorong peran sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah mental atau psikologis akibat pandemic Covid 19 yang sudah mencapai 7 bulan ini. Peran wali kelas dan guru bimbingan konseling, ujar Retno, menjadi sangat strategis dalam membantu anak-anak yang memiliki masalah psikologi, termasuk kesulitan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).
BACA JUGA: Siswa Bunuh Diri karena Sekolah Daring, Ini Kata Psikolog
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi whatsApp atau aplikasi lain yang mudah dijangkau guru dan anak-anak. Kerap kali, anak-anak hanya butuh didengar, ada saluran curhat selain ke sahabatnya, bisa juga ke guru BK dan wali kelas agar dapat diberikan solusi yang tepat,&amp;rdquo; kata Retno melalui keterangan tertulis, Senin (19/10/2020).
Mantan kepala sekolah ini menambahkan, peran orangtua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Suasana yang tidak nyaman atau pertengkaran dengan teman mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa. Namun, dia mengatakan, berbeda jika kondisi tersebut dialami oleh remaja. Menurut dia, jika dibiarkan berlarut-larut, suasana tidak nyaman ini bisa memicu depresi pada kalangan remaja.
Retno menuturkan, remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati atau mood. Itulah sebabnya, remaja yang terlihat murung atau sedih sering kali dianggap hal biasa, misalnya karena patah hati, mendapat nilai jelek, atau merasa kurang perhatian dari orang tua. Padahal, bisa jadi itu gejala depresi pada remaja.
BACA JUGA: Apakah Sekolah Daring Bikin Anak Jadi Anti-Sosial?
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlanjut dan menyebabkan munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri,&amp;rdquo; imbuhnya.
Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (Kemen PPPA) meluncurkan buku penanganan gangguan psikososial pada  peserta didik. Buku ini diharapkan bisa mendeteksi dini peserta didik  yang mengalami gangguan psikososial. Buku panduan ini akan membantu  pihak sekolah, guru kelas, guru BK dan guru PJOK (Pendidikan, Jasmani,  Olahraga dan Kesehatan) dalam deteksi dini dan penanganan peserta didik  dengan gangguan psikososial.
Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA Nahar mengatakan, kondisi  akibat Pandemi Covid-19 dan juga tekanan yang terjadi pada anak dan  keluarga anak harus bisa dideteksi agar anak bisa terpantau dengan baik  sehingga bisa terlindungi dan dipenuhi hak-haknya.
Nahar menjelaskan, hasil survei Kemen PPPA beberapa waktu lalu  menyebutkan 80 % anak-anak menyebutkan bahwa mereka sudah mulai jenuh  belajar dari rumah.
Mereka mulai jenuh karena tidak bisa bertemu dengan teman-teman  sekolahnya. Kemudian juga ada catatan lain seperti anak yang ikut merasa  tertekan karena takut orang tuanya kehilangan pekerjaan. Dan kondisi  dan situasi lainnya yang menyebabkan anak merasa terjebak dan tertekan  kondisi psikisnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mendorong peranan sekolah yang lebih besar untuk mendampingi siswa agar tidak mengalami depresi selama masa pandemi ini.
Retno mengatakan, KPAI mendorong peran sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah mental atau psikologis akibat pandemic Covid 19 yang sudah mencapai 7 bulan ini. Peran wali kelas dan guru bimbingan konseling, ujar Retno, menjadi sangat strategis dalam membantu anak-anak yang memiliki masalah psikologi, termasuk kesulitan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).
BACA JUGA: Siswa Bunuh Diri karena Sekolah Daring, Ini Kata Psikolog
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi whatsApp atau aplikasi lain yang mudah dijangkau guru dan anak-anak. Kerap kali, anak-anak hanya butuh didengar, ada saluran curhat selain ke sahabatnya, bisa juga ke guru BK dan wali kelas agar dapat diberikan solusi yang tepat,&amp;rdquo; kata Retno melalui keterangan tertulis, Senin (19/10/2020).
Mantan kepala sekolah ini menambahkan, peran orangtua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Suasana yang tidak nyaman atau pertengkaran dengan teman mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa. Namun, dia mengatakan, berbeda jika kondisi tersebut dialami oleh remaja. Menurut dia, jika dibiarkan berlarut-larut, suasana tidak nyaman ini bisa memicu depresi pada kalangan remaja.
Retno menuturkan, remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati atau mood. Itulah sebabnya, remaja yang terlihat murung atau sedih sering kali dianggap hal biasa, misalnya karena patah hati, mendapat nilai jelek, atau merasa kurang perhatian dari orang tua. Padahal, bisa jadi itu gejala depresi pada remaja.
BACA JUGA: Apakah Sekolah Daring Bikin Anak Jadi Anti-Sosial?
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlanjut dan menyebabkan munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri,&amp;rdquo; imbuhnya.
Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (Kemen PPPA) meluncurkan buku penanganan gangguan psikososial pada  peserta didik. Buku ini diharapkan bisa mendeteksi dini peserta didik  yang mengalami gangguan psikososial. Buku panduan ini akan membantu  pihak sekolah, guru kelas, guru BK dan guru PJOK (Pendidikan, Jasmani,  Olahraga dan Kesehatan) dalam deteksi dini dan penanganan peserta didik  dengan gangguan psikososial.
Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA Nahar mengatakan, kondisi  akibat Pandemi Covid-19 dan juga tekanan yang terjadi pada anak dan  keluarga anak harus bisa dideteksi agar anak bisa terpantau dengan baik  sehingga bisa terlindungi dan dipenuhi hak-haknya.
Nahar menjelaskan, hasil survei Kemen PPPA beberapa waktu lalu  menyebutkan 80 % anak-anak menyebutkan bahwa mereka sudah mulai jenuh  belajar dari rumah.
Mereka mulai jenuh karena tidak bisa bertemu dengan teman-teman  sekolahnya. Kemudian juga ada catatan lain seperti anak yang ikut merasa  tertekan karena takut orang tuanya kehilangan pekerjaan. Dan kondisi  dan situasi lainnya yang menyebabkan anak merasa terjebak dan tertekan  kondisi psikisnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
