<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasien Covid-19 Korut Ditahan di &quot;Kamp Karantina Rahasia&quot;, Banyak Mati Kelaparan </title><description>Laporan Peters menyebutkan bahwa para pasien ditinggalkan di kamp itu dengan sedikit makanan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan"/><item><title>Pasien Covid-19 Korut Ditahan di &quot;Kamp Karantina Rahasia&quot;, Banyak Mati Kelaparan </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan</guid><pubDate>Selasa 03 November 2020 15:57 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan-2Ote6ZMKVr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/03/18/2303479/pasien-covid-19-korut-ditahan-di-kamp-karantina-rahasia-banyak-mati-kelaparan-2Ote6ZMKVr.jpg</image><title>Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. (Foto: Reuters)</title></images><description>SEOUL &amp;ndash; Sebuah laporan mengklaim bahwa para pasien Covid-19 di Korea Utara banyak yang mati kelaparan setelah ditinggalkan di kamp karantina rahasia.
Laporan itu mengklaim Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyembunyikan kengerian sebenarnya dari pandemi Covid-19 di negaranya dari sorotan dunia dengan sebuah kamp karantina rahasia.
BACA JUGA: Cegah Covid-19, Kim Jong-un, Perintahkan Tembak Mati Orang yang Dekati Perbatasan
Menurut keterangan seorang sumber kepada Tim Peters, seorang aktivis Kristen yang menjalankan Helping Hands Korea yang berbasis di Seoul, kamp karantina rahasia itu dibangun khusus untuk menampung pasien di kota-kota dekat perbatasan China. Tapi, dia mengatakan bahwa mereka yang diisolasi di kamp tidak menerima bantuan medis yang layak, dan dengan kejam dibiarkan mati kelaparan.
Dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post, Peters mengatakan dia &quot;khawatir&quot; mengetahui bahwa pemerintah Korea Utara &quot;benar-benar memberikan sedikit atau tidak sama sekali makanan atau obat-obatan kepada mereka yang dikebumikan di sana&quot;.
&quot;Jadi, terserah keluarga dari warga yang dikarantina untuk datang ke pinggiran kamp dan membawa makanan agar (mereka) tetap hidup bersama dengan bantuan terkait kesehatan apa pun yang dapat mereka kumpulkan,&quot; ujarnya.
Ini termasuk obat-obatan yang &quot;dijual di pasar jangmadang (lokal), atau bahkan pengobatan rumahan yang dikumpulkan dari lereng gunung.
&quot;Sumber saya menunjukkan banyak orang di kamp-kamp ini telah meninggal, tidak hanya karena pandemi tetapi juga karena kelaparan dan penyebab terkait.&quot;
Situasi Covid-19 di Korea Utara &quot;sangat serius&quot;, kata Peters, yang LSMnya memberikan pasokan medis dan lainnya ke Korea Utara. Dia mengatakan informasi tersebut cocok dengan rincian yang muncul dari kamp penjara Korea Utara, di mana &quot;jumlah makanan yang sangat minimum&quot; diberikan kepada narapidana.
BACA JUGA: Muncul Setelah Diisukan Koma, Kim Jong-un Peringatkan Korut Tentang Covid-19 dan Topan
Menurut David Lee, seorang pendeta yang bekerja dengan para pembelot Korea Utara di Seoul, Covid-19 dijuluki sebagai &quot;penyakit hantu&quot; oleh rezim Kim Jong-un.
Dia mengatakan kepada SCMP bahwa para pengungsi telah melaporkan kasus orang dengan gejala &amp;ldquo;dipaksa diisolasi, atau ditampung di rumah mereka tanpa makanan atau bantuan lain dan dibiarkan mati&amp;rdquo;.


Lee menambahkan bahwa pejabat tidak memiliki cara untuk melacak, dan  menghentikan, penyebaran Covid karena &quot;mereka tidak memiliki alat  penguji yang tepat&quot;.
Pengungkapan mengerikan itu datang sebulan setelah pemimpin Kim Jong-un  menjadi emosional saat berpidato di parade militer. Dia menangis saat  berterima kasih kepada pasukan atas pengorbanan mereka dan meminta maaf  kepada warga karena gagal meningkatkan kehidupan mereka.
Selama perayaan untuk memperingati 75 tahun berdirinya Partai Buruh  yang berkuasa, Kim berterima kasih kepada ribuan tentara yang berkumpul  karena menanggapi badai yang merusak baru-baru ini.
Dia juga memuji mereka karena membantu mencegah wabah virus corona di negara itu.
Kim mengatakan dia bersyukur tidak ada satu pun warga Korea Utara  yang terinfeksi virus itu, klaim yang sebelumnya diragukan oleh pejabat  Amerika dan Korea Selatan.
Ekonomi Korea Utara telah sangat dibatasi oleh sanksi internasional  yang diberlakukan atas program senjata nuklir dan rudal balistiknya.  Negara itu semakin terpukul setelah menutup hampir semua lalu lintas  perbatasan dalam upaya mencegah wabah virus corona.</description><content:encoded>SEOUL &amp;ndash; Sebuah laporan mengklaim bahwa para pasien Covid-19 di Korea Utara banyak yang mati kelaparan setelah ditinggalkan di kamp karantina rahasia.
Laporan itu mengklaim Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyembunyikan kengerian sebenarnya dari pandemi Covid-19 di negaranya dari sorotan dunia dengan sebuah kamp karantina rahasia.
BACA JUGA: Cegah Covid-19, Kim Jong-un, Perintahkan Tembak Mati Orang yang Dekati Perbatasan
Menurut keterangan seorang sumber kepada Tim Peters, seorang aktivis Kristen yang menjalankan Helping Hands Korea yang berbasis di Seoul, kamp karantina rahasia itu dibangun khusus untuk menampung pasien di kota-kota dekat perbatasan China. Tapi, dia mengatakan bahwa mereka yang diisolasi di kamp tidak menerima bantuan medis yang layak, dan dengan kejam dibiarkan mati kelaparan.
Dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post, Peters mengatakan dia &quot;khawatir&quot; mengetahui bahwa pemerintah Korea Utara &quot;benar-benar memberikan sedikit atau tidak sama sekali makanan atau obat-obatan kepada mereka yang dikebumikan di sana&quot;.
&quot;Jadi, terserah keluarga dari warga yang dikarantina untuk datang ke pinggiran kamp dan membawa makanan agar (mereka) tetap hidup bersama dengan bantuan terkait kesehatan apa pun yang dapat mereka kumpulkan,&quot; ujarnya.
Ini termasuk obat-obatan yang &quot;dijual di pasar jangmadang (lokal), atau bahkan pengobatan rumahan yang dikumpulkan dari lereng gunung.
&quot;Sumber saya menunjukkan banyak orang di kamp-kamp ini telah meninggal, tidak hanya karena pandemi tetapi juga karena kelaparan dan penyebab terkait.&quot;
Situasi Covid-19 di Korea Utara &quot;sangat serius&quot;, kata Peters, yang LSMnya memberikan pasokan medis dan lainnya ke Korea Utara. Dia mengatakan informasi tersebut cocok dengan rincian yang muncul dari kamp penjara Korea Utara, di mana &quot;jumlah makanan yang sangat minimum&quot; diberikan kepada narapidana.
BACA JUGA: Muncul Setelah Diisukan Koma, Kim Jong-un Peringatkan Korut Tentang Covid-19 dan Topan
Menurut David Lee, seorang pendeta yang bekerja dengan para pembelot Korea Utara di Seoul, Covid-19 dijuluki sebagai &quot;penyakit hantu&quot; oleh rezim Kim Jong-un.
Dia mengatakan kepada SCMP bahwa para pengungsi telah melaporkan kasus orang dengan gejala &amp;ldquo;dipaksa diisolasi, atau ditampung di rumah mereka tanpa makanan atau bantuan lain dan dibiarkan mati&amp;rdquo;.


Lee menambahkan bahwa pejabat tidak memiliki cara untuk melacak, dan  menghentikan, penyebaran Covid karena &quot;mereka tidak memiliki alat  penguji yang tepat&quot;.
Pengungkapan mengerikan itu datang sebulan setelah pemimpin Kim Jong-un  menjadi emosional saat berpidato di parade militer. Dia menangis saat  berterima kasih kepada pasukan atas pengorbanan mereka dan meminta maaf  kepada warga karena gagal meningkatkan kehidupan mereka.
Selama perayaan untuk memperingati 75 tahun berdirinya Partai Buruh  yang berkuasa, Kim berterima kasih kepada ribuan tentara yang berkumpul  karena menanggapi badai yang merusak baru-baru ini.
Dia juga memuji mereka karena membantu mencegah wabah virus corona di negara itu.
Kim mengatakan dia bersyukur tidak ada satu pun warga Korea Utara  yang terinfeksi virus itu, klaim yang sebelumnya diragukan oleh pejabat  Amerika dan Korea Selatan.
Ekonomi Korea Utara telah sangat dibatasi oleh sanksi internasional  yang diberlakukan atas program senjata nuklir dan rudal balistiknya.  Negara itu semakin terpukul setelah menutup hampir semua lalu lintas  perbatasan dalam upaya mencegah wabah virus corona.</content:encoded></item></channel></rss>
