<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketua Tim Riset Unpad Jelaskan Proses Penemuan Vaksin Covid-19</title><description>Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil menjelaskan proses penemuan vaksin hingga dapat digunakan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19"/><item><title>Ketua Tim Riset Unpad Jelaskan Proses Penemuan Vaksin Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19</guid><pubDate>Selasa 10 November 2020 13:13 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19-1WG9zqUNLX.png" expression="full" type="image/jpeg">Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad, Kusnandi Rusmil. (Foto : Sindo/Agung Bakti Sarasa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/10/337/2307228/ketua-tim-riset-unpad-jelaskan-proses-penemuan-vaksin-covid-19-1WG9zqUNLX.png</image><title>Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad, Kusnandi Rusmil. (Foto : Sindo/Agung Bakti Sarasa)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 adalah dengan vaksin. Berbagai negara termasuk Indonesia sedang berjuang untuk menemukan vaksin Covid-19. Lalu, bagaimana proses vaksin sehingga dapat digunakan?
&amp;ldquo;Jadi kalau perkembangan suatu vaksin itu dimulai dari mencari antigennya dulu ya, bakal vaksin. Bakal vaksin itu diuji coba dulu secara fisika dan kimia, stabil atau enggak,&amp;rdquo; kata Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil dalam dialog khusus KCP PEN secara virtual, Selasa (10/11/2020).
Kemudian, jelas Kusnandi. ketika antigen sudah stabil secara fisika dan kimia, baru masuk kepada proses uji coba pada binatang, biasanya tikus dan monyet.

&amp;ldquo;Pada tikus dan monyet itu disuntik. Suntiknya itu bukan biasa tapi intra vena. Kemudian itu dilihat dampaknya pada organ-organ tubuh, paru-paru dilihat dampaknya, otak dilihat dampaknya, di usus dia dilihat dampaknya,&amp;rdquo; ujarnya.
Selanjutnya, kata Kusnandi, jika dalam proses uji pada binatang telah dihasilkan dampaknya barulah diujikan kepada manusia. &amp;ldquo;Nah kalau itu udah bagus dampaknya ya, itu baru bisa dilakukan uji klinis pada manusia. Uji klinis kepada manusia itu dilakukan kurang lebih antara 80-100 orang. Itu dilihat keamanannya pada fase satu dan dilihat juga imonogiunitasnya.&amp;rdquo;
Kusnandi menjelaskan, pada uji coba fase dua ini, di samping dilihat keamanannya kemudian juga dilihat imogiunitas dan dosis. &amp;ldquo;Itu biasanya uji coba pada ratusan orang. Kalau tadi fase satu sekitar 80 orang, fase dua sekitar ratusan orang. Itu biasanya dilihat dosis dan sebagainya.&amp;rdquo;Selanjutnya, kata Kusnandi adalah uji coba fase tiga yang harus dilakukan kepada ribuan orang dan di banyak tempat. &amp;ldquo;Nah kemudian fase tiga itu baru ribuan. Ribuan ini harus di banyak tempat, kemudian dilihat apakah itu hasilnya sama atau tidak,&amp;rdquo; tuturnya.
Kusnandi mengatakan bahwa uji coba fase tiga vaksin Covid-19, dilakukan bersama-sama dengan Brasil, Uni Emirat Arab, Turki dan India. &amp;ldquo;Seperti uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 di Indonesia itu bersama-sama dengan Brasil, bersama-sama dengan Uni Emirat Arab, kemudian Turki dan India.&amp;rdquo;

Baca Juga : Ketua Tim Riset Unpad Tegaskan Vaksin Jadi Harapan Memutus Covid-19

&amp;ldquo;Nanti itu WHO akan melihat hasilnya. Apakah sama atau tidak. Kalau hasilnya sama, nanti dia akan memberikan suatu disposisi bahwa vaksin ini bisa digunakan di seluruh dunia begitu. Di Indonesia, itu yang menilai adalah Badan POM. Nanti Badan POM yang mengirim surat kepada WHO,&amp;rdquo; tutur Kusnandi.

Baca Juga : Dampak Covid-19, 1.500 Pekerja di Bekasi Jadi Korban PHK

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 adalah dengan vaksin. Berbagai negara termasuk Indonesia sedang berjuang untuk menemukan vaksin Covid-19. Lalu, bagaimana proses vaksin sehingga dapat digunakan?
&amp;ldquo;Jadi kalau perkembangan suatu vaksin itu dimulai dari mencari antigennya dulu ya, bakal vaksin. Bakal vaksin itu diuji coba dulu secara fisika dan kimia, stabil atau enggak,&amp;rdquo; kata Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil dalam dialog khusus KCP PEN secara virtual, Selasa (10/11/2020).
Kemudian, jelas Kusnandi. ketika antigen sudah stabil secara fisika dan kimia, baru masuk kepada proses uji coba pada binatang, biasanya tikus dan monyet.

&amp;ldquo;Pada tikus dan monyet itu disuntik. Suntiknya itu bukan biasa tapi intra vena. Kemudian itu dilihat dampaknya pada organ-organ tubuh, paru-paru dilihat dampaknya, otak dilihat dampaknya, di usus dia dilihat dampaknya,&amp;rdquo; ujarnya.
Selanjutnya, kata Kusnandi, jika dalam proses uji pada binatang telah dihasilkan dampaknya barulah diujikan kepada manusia. &amp;ldquo;Nah kalau itu udah bagus dampaknya ya, itu baru bisa dilakukan uji klinis pada manusia. Uji klinis kepada manusia itu dilakukan kurang lebih antara 80-100 orang. Itu dilihat keamanannya pada fase satu dan dilihat juga imonogiunitasnya.&amp;rdquo;
Kusnandi menjelaskan, pada uji coba fase dua ini, di samping dilihat keamanannya kemudian juga dilihat imogiunitas dan dosis. &amp;ldquo;Itu biasanya uji coba pada ratusan orang. Kalau tadi fase satu sekitar 80 orang, fase dua sekitar ratusan orang. Itu biasanya dilihat dosis dan sebagainya.&amp;rdquo;Selanjutnya, kata Kusnandi adalah uji coba fase tiga yang harus dilakukan kepada ribuan orang dan di banyak tempat. &amp;ldquo;Nah kemudian fase tiga itu baru ribuan. Ribuan ini harus di banyak tempat, kemudian dilihat apakah itu hasilnya sama atau tidak,&amp;rdquo; tuturnya.
Kusnandi mengatakan bahwa uji coba fase tiga vaksin Covid-19, dilakukan bersama-sama dengan Brasil, Uni Emirat Arab, Turki dan India. &amp;ldquo;Seperti uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 di Indonesia itu bersama-sama dengan Brasil, bersama-sama dengan Uni Emirat Arab, kemudian Turki dan India.&amp;rdquo;

Baca Juga : Ketua Tim Riset Unpad Tegaskan Vaksin Jadi Harapan Memutus Covid-19

&amp;ldquo;Nanti itu WHO akan melihat hasilnya. Apakah sama atau tidak. Kalau hasilnya sama, nanti dia akan memberikan suatu disposisi bahwa vaksin ini bisa digunakan di seluruh dunia begitu. Di Indonesia, itu yang menilai adalah Badan POM. Nanti Badan POM yang mengirim surat kepada WHO,&amp;rdquo; tutur Kusnandi.

Baca Juga : Dampak Covid-19, 1.500 Pekerja di Bekasi Jadi Korban PHK

</content:encoded></item></channel></rss>
