<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Presiden AS Terpilih, Joe Biden Hadapi Tantangan Mirip dengan Situasi Indonesia</title><description>Joe Biden menghadapi tantangan yang berat setelah menjadi Presiden Terpilih AS.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia"/><item><title>Jadi Presiden AS Terpilih, Joe Biden Hadapi Tantangan Mirip dengan Situasi Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia</guid><pubDate>Rabu 11 November 2020 11:14 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia-DPPWbGyBf1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Terpilih Amerika Serikat Joe Biden. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/11/18/2307756/jadi-presiden-as-terpilih-joe-biden-hadapi-tantangan-mirip-dengan-situasi-indonesia-DPPWbGyBf1.jpg</image><title>Presiden Terpilih Amerika Serikat Joe Biden. (Foto: Reuters)</title></images><description>&quot;YOU are fired!&quot; Kata-kata andalan Donald Trump ketika masih menjadi pembawa acara realitas The Apprentice kini digunakan sebagian pemilih Amerika Serikat (AS) kepada sang presiden sehingga ia tercatat sebagai salah satu dari sembilan petahana yang ditolak rakyat untuk menjabat pada periode kedua.
Kepergian Trump pada tanggal 20 Januari 2021 nanti, jika transisi kekuasaan berjalan lancar sesuai jadwal, jelas akan meninggalkan banyak tantangan bagi penerusnya, Joe Biden dari Partai Demokrat.
Masyarakat AS mengalami perpecahan yang semakin tajam, terutama sesudah peristiwa kematian warga kulit hitam, George Floyd, di tangan polisi dan masa kampanye sengit untuk memperebutkan tiket ke Gedung Putih.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi Jika Trump Menolak Pergi dari Gedung Putih?
Hingga kini Presiden Donald Trump dari Partai Republik belum mengakui kekalahan dan justru bertekad melayangkan gugatan hukum terkait proses pemilihan presiden. Sikap seperti itu dikhawatirkan akan semakin memupuk keretakan sosial.
&quot;Meskipun Donald Trump sekarang masih presiden, dia sebentar lagi harus menyerahkan posisinya ke Joe Biden, tetapi dia tidak mau. Dan kalau dia tidak mau, pendukungnya juga tidak mau. Pendukungnya mengira posisinya dia (Trump) diambil darinya secara tidak adil. Nah, mana mungkin hal seperti itu dipulihkan oleh Joe Biden ini,&quot; kata Lindy Backues, guru besar di Eastern University, Philadelphia.
Lindy Backues, yang pernah tinggal di Indonesia selama 18 tahun, menyandingkan kondisi di AS saat ini mirip dengan hajatan politik di Indonesia pada 2019 lalu.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2020/11/08/68557/342885_medium.jpg&quot; alt=&quot;Momen Kebersamaan Calon Presiden AS Joe Biden dan Calon Wapres AS Kamala Harris &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Prabowo Subianto, yang saat itu merupakan calon presiden nomor urut dua, sudah mendeklarasikan diri sebagai pemenang pemilihan presiden sebelum hasil resmi diumumkan.
Kemudian, sesudah hasil resmi menyatakan Joko Widodo sebagai pemenang pilpres, kubunya melayangkan gugatan sengketa pemilu ke Mahkamah Konstitusi, namun gugatan ditolak. Suhu politik dan tensi di masyarakat pun sempat tinggi.&quot;Orang Indonesia mungkin sangat mengerti posisinya orang Amerika saat  ini.&quot; Demikian Lindy Backues membandingkan imbas pemilihan presiden  Amerika saat ini dan pilpres di Indonesia pada 2019.

Dua kubu yang perlu ditenteramkan
Oleh karenanya, menurut Backues, mengatasi polarisasi masyarakat  menjadi salah satu tantangan berat bagi presiden terpilih Joe Biden dan  jalannya harus segera dirintis.
Biden sendiri dalam pidato kemenangannya pada Sabtu (7/11/2020) malam  di Delaware, berikrar menjaga persatuan seraya meminta para  pendukungnya untuk &quot;berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh&quot;.
Adapun Presiden Trump masih bersikukuh dengan tuduhannya, walau tanpa  disertai bukti-bukti, bahwa terjadi kecurangan dalam pemilu dan  Demokrat mencuri kemenangan dari Republik. Sikap itu kemudian diperkuat  oleh tim kampanyenya yang menegaskan &quot;pemilu jauh dari usai&quot;.
&quot;Donald Trump tidak akan berubah, dia akan tetap begini.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wOC8xMC8xMjQyNDgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Tapi Joe Biden dan timnya harus menenteramkan hati para pendukung  Trump dan harus mencari titik temunya di mana mereka bisa tahu atau  merasa bahwa posisinya mereka tidak dibajak, posisinya mereka tidak  dicuri, bahwa mereka akan didengarkan, mereka akan dirangkul dan mereka  tidak perlu khawatir bahwa kepentingan mereka akan diabaikan,&quot; tambah  Lindy Backues.
Namun pada saat yang sama, lanjut Backues, Joe Biden harus pula  memisahkan kepentingan apa saja yang paling menonjol bagi pendukung  Trump dan pendukungnya sendiri.
Basis kuat Donald Trump berada di wilayah pedesaan yang mayoritas  penduduknya berkulit putih, sedangkan kantong pendukung Joe Biden pada  umumnya tinggal di perkotaan.
&quot;Karena mereka juga yang menyoblos dan bersuara bagi dia. Jadi mereka  harus diutamakan. Nah justru itu yang membuat sangat sulit, dua-duanya  harus seimbang. Dengan pendukungnya dia harus kuat. Tapi dengan Donald  Trump kalau diabaikan, karena mereka hampir 50% dari orang yang  bersuara, mereka masih mendukung Donald Trump,&quot; jelasnya.


Lindy Backues, yang bekerja di Indonesia selama periode 1989-2007, mengamati bahwa tantangan ini juga pernah dialami Indonesia.
&quot;Itu tantangannya mirip sama waktu Pak Harto turun di mana Golkar dan   lainnya harus ditenteramkan, harus dipuaskan. Ini sama dengan di sini.   Tergantung situasi dan konteksnya. Dan selama ini terjadi maka Donald   Trump dan anteknya akan anti, akan melawan.&quot;
Untuk tahap ini, masyarakat di AS pada umumnya belum merasakan   ketenteraman, antara lain karena pendukung Presiden Trump marah atas   kekalahan Trump dan berharap apa yang diklaim sebagai kecurangan pemilu   dapat membalikkan keadaan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2020/11/08/68556/342880_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pendukung Presiden Terpilih Joe Biden Rayakan Kemenangan di BLM Plaza Washington&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Situasinya masih sangat rumit dan belum pasti apa yang akan terjadi.   Pemerintahan Trump masih berusaha membuat gangguan. Saya kira   kebanyakan orang Amerika senang dengan hasil pemilu, tetapi banyak juga   yang tidak senang sama sekali dan siapa tahu apa yang akan terjadi   dengan mereka.&quot; Itulah pengamatan Patricia Henry, pensiunan guru besar   dari Northern Illinois University yang fasih berbahasa Indonesia.

Tantangan ekonomi dan pandemi Covid-19
Sejauh ini masih terjadi kebuntuan di Senat terkait dengan   penggelontoran dana untuk menopang ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kubu   Republik menolak jumlah dana yang diajukan Demokrat, meskipun Presiden   Trump sendiri telah membujuk Republikan untuk berkompromi.
Padahal talangan dana pemerintah federal dirasa amat diperlukan untuk menggelindingkan roda perekonomian.


Sejak pensiun sebagai guru besar di Northern Illinois University di      DeKalb, Patricia Henry menetap di Chicago, salah satu kota terbesar  di     AS. Ia merasakan betapa lesu perekonomian di kota yang kaya akan    gedung   pencakar langit tersebut.
&quot;Dulu kami di sini, aduh rasanya enak sekali. Bisa naik bus dan tidak      susah jalan-jalan, ada banyak restoran dan rumah makan yang bagus,    ada   sandiwara dan lain-lain. Tapi sekarang semua sudah tutup,&quot; kata     Patricia  Henry dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, melalui sambungan telepon.
Menurutnya, tempat-tempat usaha tersebut akan memerlukan waktu lama untuk bangkit lagi.
&quot;Kalau restoran saya kira akan banyak yang harus tutup selama-lamanya    dan dan orang yang bekerja di bagian pelayanan memang akan lama  sekali   baru dapat kembali beroperasi.&quot;
Keterpurukan ekonomi sebagai dampak dari pandemi ini, menurut Prof Henry, turut memicu kemarahan masyarakat.
&quot;Kemarahan orang, ketidaktenangan orang, saya kira itu yang    menimbulkan banyak demonstrasi dan lain sebagainya, selain ada dasar    dalam beberapa hal, seperti kemiskinan dan rasisme. Tapi Covid ini    menjadi api lagi.&quot;
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2020/11/08/68554/342870_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pidato Kemenangan Joe Biden: Hal Pertama Pekerjaan Kami Ialah Pengendalian Covid-19&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Mantan wartawan Tempo dan sekarang menjadi chief operations officer    di Indonesianlantern.com, portal komunitas Indonesia di Amerika  Serikat,   Didi Prambadi, menggarisbawahi bahwa jurang antara pendapatan  dan   pengeluaran semakin membengkak.
&quot;Joe Biden bakal mewarisi masalah ekonomi Amerika dengan defisit    sangat besar yaitu USD3,3 triliun (sekitar Rp48 kuadriliun),&quot; ujarnya.
Menurut hemat Lindy Backues, profesor madya di Eastern University,    Philadelphia, kekeliruan yang dibuat Presiden Trump adalah memisahkan    antara pandemi dan ekonomi.

&quot;Kita harus lihat beberapa bulan yang lalu mulai Februari sebetulnya     ekonomi di sini dan dari semua angka ekonominya itu baik sekali. Jadi     dari ekonomi yang baik ini, kira-kira Donald Trump akan menang pilpres     ini lagi, pasti akan menang.
&quot;Tapi ekonomi memburuk. Kenapa? Karena pandemi. Sebetulnya pandemi     dan ekonomi bukan hal yang berbeda. Pandemi itu yang menyebabkan  ekonomi    memburuk dan turun. Jadi pandemi harus dianggap sebagai  faktor    ekonominya, dan mereka harus menangani itu,&quot; jelasnya.
Presiden Trump dikritik kurang fokus menangani pandemi bahkan     menganggap remeh virus corona dan juga mempertanyakan sains dalam urusan     ini, seperti manfaat penggunaan masker untuk mencegah penularan.
Ini semua terjadi ketika Amerika Serikat tercatat sebagai negara yang     mengalami rekor tertinggi di seluruh dunia dari segi jumlah kematian     maupun penularan, termasuk Trump yang terinfeksi virus corona.
&quot;Masalahnya, Donald Trump membuat ini sebagai masalah politik dan dia      kira kalau ini masalah politik maka ekonominya tidak ada kaitan    dengan   pandemi,&quot; pungkas Backues dalam wawancara dengan bahasa    Indonesia yang   fasih.
Penghitungan suara pemilihan presiden AS belum final, tetapi Joe      Biden telah diproyeksikan berhasil melewati ambang batas 270 suara      elektoral sebagai pemenang, sementara tim kampanye Trump berusaha      menggugat proses pemilihan dan penghitungan suara di negara-negara      bagian penentu.
Jika peralihan kekuasaan berjalan mulus, Biden akan menetap di Gedung      Putih selama empat tahun sesudah pelantikan pada tanggal 20 Januari      nanti dengan banyak tantangan, sebagian di antaranya disebutkan  oleh     para nara sumber.</description><content:encoded>&quot;YOU are fired!&quot; Kata-kata andalan Donald Trump ketika masih menjadi pembawa acara realitas The Apprentice kini digunakan sebagian pemilih Amerika Serikat (AS) kepada sang presiden sehingga ia tercatat sebagai salah satu dari sembilan petahana yang ditolak rakyat untuk menjabat pada periode kedua.
Kepergian Trump pada tanggal 20 Januari 2021 nanti, jika transisi kekuasaan berjalan lancar sesuai jadwal, jelas akan meninggalkan banyak tantangan bagi penerusnya, Joe Biden dari Partai Demokrat.
Masyarakat AS mengalami perpecahan yang semakin tajam, terutama sesudah peristiwa kematian warga kulit hitam, George Floyd, di tangan polisi dan masa kampanye sengit untuk memperebutkan tiket ke Gedung Putih.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi Jika Trump Menolak Pergi dari Gedung Putih?
Hingga kini Presiden Donald Trump dari Partai Republik belum mengakui kekalahan dan justru bertekad melayangkan gugatan hukum terkait proses pemilihan presiden. Sikap seperti itu dikhawatirkan akan semakin memupuk keretakan sosial.
&quot;Meskipun Donald Trump sekarang masih presiden, dia sebentar lagi harus menyerahkan posisinya ke Joe Biden, tetapi dia tidak mau. Dan kalau dia tidak mau, pendukungnya juga tidak mau. Pendukungnya mengira posisinya dia (Trump) diambil darinya secara tidak adil. Nah, mana mungkin hal seperti itu dipulihkan oleh Joe Biden ini,&quot; kata Lindy Backues, guru besar di Eastern University, Philadelphia.
Lindy Backues, yang pernah tinggal di Indonesia selama 18 tahun, menyandingkan kondisi di AS saat ini mirip dengan hajatan politik di Indonesia pada 2019 lalu.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2020/11/08/68557/342885_medium.jpg&quot; alt=&quot;Momen Kebersamaan Calon Presiden AS Joe Biden dan Calon Wapres AS Kamala Harris &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Prabowo Subianto, yang saat itu merupakan calon presiden nomor urut dua, sudah mendeklarasikan diri sebagai pemenang pemilihan presiden sebelum hasil resmi diumumkan.
Kemudian, sesudah hasil resmi menyatakan Joko Widodo sebagai pemenang pilpres, kubunya melayangkan gugatan sengketa pemilu ke Mahkamah Konstitusi, namun gugatan ditolak. Suhu politik dan tensi di masyarakat pun sempat tinggi.&quot;Orang Indonesia mungkin sangat mengerti posisinya orang Amerika saat  ini.&quot; Demikian Lindy Backues membandingkan imbas pemilihan presiden  Amerika saat ini dan pilpres di Indonesia pada 2019.

Dua kubu yang perlu ditenteramkan
Oleh karenanya, menurut Backues, mengatasi polarisasi masyarakat  menjadi salah satu tantangan berat bagi presiden terpilih Joe Biden dan  jalannya harus segera dirintis.
Biden sendiri dalam pidato kemenangannya pada Sabtu (7/11/2020) malam  di Delaware, berikrar menjaga persatuan seraya meminta para  pendukungnya untuk &quot;berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh&quot;.
Adapun Presiden Trump masih bersikukuh dengan tuduhannya, walau tanpa  disertai bukti-bukti, bahwa terjadi kecurangan dalam pemilu dan  Demokrat mencuri kemenangan dari Republik. Sikap itu kemudian diperkuat  oleh tim kampanyenya yang menegaskan &quot;pemilu jauh dari usai&quot;.
&quot;Donald Trump tidak akan berubah, dia akan tetap begini.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wOC8xMC8xMjQyNDgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Tapi Joe Biden dan timnya harus menenteramkan hati para pendukung  Trump dan harus mencari titik temunya di mana mereka bisa tahu atau  merasa bahwa posisinya mereka tidak dibajak, posisinya mereka tidak  dicuri, bahwa mereka akan didengarkan, mereka akan dirangkul dan mereka  tidak perlu khawatir bahwa kepentingan mereka akan diabaikan,&quot; tambah  Lindy Backues.
Namun pada saat yang sama, lanjut Backues, Joe Biden harus pula  memisahkan kepentingan apa saja yang paling menonjol bagi pendukung  Trump dan pendukungnya sendiri.
Basis kuat Donald Trump berada di wilayah pedesaan yang mayoritas  penduduknya berkulit putih, sedangkan kantong pendukung Joe Biden pada  umumnya tinggal di perkotaan.
&quot;Karena mereka juga yang menyoblos dan bersuara bagi dia. Jadi mereka  harus diutamakan. Nah justru itu yang membuat sangat sulit, dua-duanya  harus seimbang. Dengan pendukungnya dia harus kuat. Tapi dengan Donald  Trump kalau diabaikan, karena mereka hampir 50% dari orang yang  bersuara, mereka masih mendukung Donald Trump,&quot; jelasnya.


Lindy Backues, yang bekerja di Indonesia selama periode 1989-2007, mengamati bahwa tantangan ini juga pernah dialami Indonesia.
&quot;Itu tantangannya mirip sama waktu Pak Harto turun di mana Golkar dan   lainnya harus ditenteramkan, harus dipuaskan. Ini sama dengan di sini.   Tergantung situasi dan konteksnya. Dan selama ini terjadi maka Donald   Trump dan anteknya akan anti, akan melawan.&quot;
Untuk tahap ini, masyarakat di AS pada umumnya belum merasakan   ketenteraman, antara lain karena pendukung Presiden Trump marah atas   kekalahan Trump dan berharap apa yang diklaim sebagai kecurangan pemilu   dapat membalikkan keadaan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2020/11/08/68556/342880_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pendukung Presiden Terpilih Joe Biden Rayakan Kemenangan di BLM Plaza Washington&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Situasinya masih sangat rumit dan belum pasti apa yang akan terjadi.   Pemerintahan Trump masih berusaha membuat gangguan. Saya kira   kebanyakan orang Amerika senang dengan hasil pemilu, tetapi banyak juga   yang tidak senang sama sekali dan siapa tahu apa yang akan terjadi   dengan mereka.&quot; Itulah pengamatan Patricia Henry, pensiunan guru besar   dari Northern Illinois University yang fasih berbahasa Indonesia.

Tantangan ekonomi dan pandemi Covid-19
Sejauh ini masih terjadi kebuntuan di Senat terkait dengan   penggelontoran dana untuk menopang ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kubu   Republik menolak jumlah dana yang diajukan Demokrat, meskipun Presiden   Trump sendiri telah membujuk Republikan untuk berkompromi.
Padahal talangan dana pemerintah federal dirasa amat diperlukan untuk menggelindingkan roda perekonomian.


Sejak pensiun sebagai guru besar di Northern Illinois University di      DeKalb, Patricia Henry menetap di Chicago, salah satu kota terbesar  di     AS. Ia merasakan betapa lesu perekonomian di kota yang kaya akan    gedung   pencakar langit tersebut.
&quot;Dulu kami di sini, aduh rasanya enak sekali. Bisa naik bus dan tidak      susah jalan-jalan, ada banyak restoran dan rumah makan yang bagus,    ada   sandiwara dan lain-lain. Tapi sekarang semua sudah tutup,&quot; kata     Patricia  Henry dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, melalui sambungan telepon.
Menurutnya, tempat-tempat usaha tersebut akan memerlukan waktu lama untuk bangkit lagi.
&quot;Kalau restoran saya kira akan banyak yang harus tutup selama-lamanya    dan dan orang yang bekerja di bagian pelayanan memang akan lama  sekali   baru dapat kembali beroperasi.&quot;
Keterpurukan ekonomi sebagai dampak dari pandemi ini, menurut Prof Henry, turut memicu kemarahan masyarakat.
&quot;Kemarahan orang, ketidaktenangan orang, saya kira itu yang    menimbulkan banyak demonstrasi dan lain sebagainya, selain ada dasar    dalam beberapa hal, seperti kemiskinan dan rasisme. Tapi Covid ini    menjadi api lagi.&quot;
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2020/11/08/68554/342870_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pidato Kemenangan Joe Biden: Hal Pertama Pekerjaan Kami Ialah Pengendalian Covid-19&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Mantan wartawan Tempo dan sekarang menjadi chief operations officer    di Indonesianlantern.com, portal komunitas Indonesia di Amerika  Serikat,   Didi Prambadi, menggarisbawahi bahwa jurang antara pendapatan  dan   pengeluaran semakin membengkak.
&quot;Joe Biden bakal mewarisi masalah ekonomi Amerika dengan defisit    sangat besar yaitu USD3,3 triliun (sekitar Rp48 kuadriliun),&quot; ujarnya.
Menurut hemat Lindy Backues, profesor madya di Eastern University,    Philadelphia, kekeliruan yang dibuat Presiden Trump adalah memisahkan    antara pandemi dan ekonomi.

&quot;Kita harus lihat beberapa bulan yang lalu mulai Februari sebetulnya     ekonomi di sini dan dari semua angka ekonominya itu baik sekali. Jadi     dari ekonomi yang baik ini, kira-kira Donald Trump akan menang pilpres     ini lagi, pasti akan menang.
&quot;Tapi ekonomi memburuk. Kenapa? Karena pandemi. Sebetulnya pandemi     dan ekonomi bukan hal yang berbeda. Pandemi itu yang menyebabkan  ekonomi    memburuk dan turun. Jadi pandemi harus dianggap sebagai  faktor    ekonominya, dan mereka harus menangani itu,&quot; jelasnya.
Presiden Trump dikritik kurang fokus menangani pandemi bahkan     menganggap remeh virus corona dan juga mempertanyakan sains dalam urusan     ini, seperti manfaat penggunaan masker untuk mencegah penularan.
Ini semua terjadi ketika Amerika Serikat tercatat sebagai negara yang     mengalami rekor tertinggi di seluruh dunia dari segi jumlah kematian     maupun penularan, termasuk Trump yang terinfeksi virus corona.
&quot;Masalahnya, Donald Trump membuat ini sebagai masalah politik dan dia      kira kalau ini masalah politik maka ekonominya tidak ada kaitan    dengan   pandemi,&quot; pungkas Backues dalam wawancara dengan bahasa    Indonesia yang   fasih.
Penghitungan suara pemilihan presiden AS belum final, tetapi Joe      Biden telah diproyeksikan berhasil melewati ambang batas 270 suara      elektoral sebagai pemenang, sementara tim kampanye Trump berusaha      menggugat proses pemilihan dan penghitungan suara di negara-negara      bagian penentu.
Jika peralihan kekuasaan berjalan mulus, Biden akan menetap di Gedung      Putih selama empat tahun sesudah pelantikan pada tanggal 20 Januari      nanti dengan banyak tantangan, sebagian di antaranya disebutkan  oleh     para nara sumber.</content:encoded></item></channel></rss>
