<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Genjot Pengayaan Uranium, Iran Kini miliki Cadangan 12 Kali Lipat dari Batas</title><description>Peningkatan uranium Iran membuat Arab Saudi menyatakan keprihatinannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas"/><item><title>Genjot Pengayaan Uranium, Iran Kini miliki Cadangan 12 Kali Lipat dari Batas</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas</guid><pubDate>Jum'at 13 November 2020 09:38 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas-rEQVXcoRku.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/13/18/2308878/genjot-pengayaan-uranium-iran-kini-miliki-cadangan-12-kali-lipat-dari-batas-rEQVXcoRku.jpg</image><title>Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: Reuters)</title></images><description>TEHERAN - Iran sekarang menyimpan uranium yang diperkaya lebih dari 12 kali dari jumlah yang diperbolehkan berdasarkan perjanjian nuklir tahun 2015, kata Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Menurut IAEA, stok uranium kadar rendah yang dimiliki Iran telah mencapai 2.442,9 kg bulan ini, padahal batas yang ditetapkan adalah 202.8 kg.
Laporan tersebut sontak membuat Raja Salman dari Arab Saudi, rival Iran di kawasan, menyerukan agar masyarakat internasional &quot;bersikap tegas&quot; terhadap Iran.
BACA JUGA: Peringati 5 Tahun Kesepakatan Nuklir, Iran Siap Pertahankan JCPOA
Iran selama ini selalu menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan-tujuan damai.
IAEA juga mengatakan penjelasan Iran tentang keberadaan materi nuklir di suatu lokasi yang namanya tidak disebutkan itu &quot;tidak dapat dipercaya&quot;.
Penilaian itu dikeluarkan sesudah Duta Besar Iran untuk IAEA, Gharib Abadi, mengatakan &quot;semua komentar yang buru-buru seharusnya dihindari&quot;, dan menambahkan: &quot;Pendekatan sedang dijalin dengan tujuan merampungkan pemecahan atas masalah ini.&quot;
&amp;nbsp;
 
Apa isi laporan pengawas nuklir?
Dalam laporan terbaru yang diberikan kepada negara-negara anggota, Badan Tenaga Atom tidak merinci lokasi penemuan bahan nuklir di Iran.
Seorang sumber yang namanya tidak disebutkan mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tidak ada indikasi lokasi yang dimaksud itu digunakan untuk memproses uranium, melainkan mungkin digunakan untuk menyimpan uranium.
Ditambahkan oleh IAEA, Iran terus melakukan pengayaan uranium hingga pada tingkat kemurnian 4,5% padahal ambang batas yang ditetapkan dalam perjanjian hanyalah 3,6%.
Pada tahap ini, badan pengawas nuklir itu masih menganalisis sampel yang diambil pada September dari dua bekas lokasi yang dicurigai digunakan untuk memproses nuklir. Dua tempat itu dibuka bagi inspektur IAEA tahun ini.
BACA JUGA: Iran Kembali Ambil Langkah Mundur dari Kesepakatan Nuklir 2015
Tahun lalu, Iran mulai melanggar perjanjian nuklir secara sengaja dan terang-terangan. Perjanjian tahun 2015 tersebut dibuat antara Iran dengan China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat (AS).
Di dalamnya diatur mengenai pencabutan sanksi-sanksi internasional terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan kegiatan nuklir di negara itu.

Namun sesudah Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian pada  Mei 2018 dan kemudian kembali menerapkan sanksi yang melumpuhkan  perekonomian Iran, Teheran mulai melanggar perjanjian.
Trump berdalih kesepakatan yang diteken di masa Presiden Barack Obama  itu cacat dan ia ingin memaksa pemerintah Iran untuk merundingkannya  kembali.
Perjanjian internasional menetapkan Iran hanya boleh memproduksi  maksimal 300 kg uranium yang diperkaya dalam bentuk gas uranium  hexafluoride (UF6), atau setara dengan 202.8 kg uranium.
Uranium berkadar rendah - yang mempunyai konsentrasi isotop U-235  antara 3% hingga 5% - dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar  untuk pembangkit listrik. Adapun uranium untuk membuat senjata  memerlukan konsentrasi setidaknya 90%.

Saudi minta dunia bersikap
Tak lama setelah laporan IAEA dirilis, Raja Salman bin Abdulaziz dari  Arab Saudi - rival Iran di kawasan itu - mengatakan dunia seharusnya  menempuh &quot;sikap tegas&quot; untuk memastikan Teheran tidak memproduksi  senjata pemusnah massal.

&quot;Kerajaan Arab Saudi menggarisbawahi bahaya akan proyek regional  Iran, campur tangannya di negara-negara lain, mendorong terorisme,  mengobarkan api sektarianisme dan Arab Saudi menyerukan sikap tegas  masyarakat internasional terhadap Iran untuk menjamin pengawasan drastis  dalam upaya Iran mendapatkan senjata pemusnah massal dan mengembangkan  program rudal balistik,&quot; kata Raja Salman dalam pidatonya.

Presiden terpilih AS, Joe Biden, telah mengisyaratkan keinginannya   untuk bergabung kembali ke dalam perjanjian nuklir, dan menawarkan   kepada Iran sebuah &quot;jalan yang dapat dipercaya menuju diplomasi.&quot;
Sebagai tanggapannya, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan   negaranya akan memanfaatkan &quot;setiap peluang&quot; untuk &quot;melepaskan beban   dari pundak rakyat kami akibat penerapan sanksi&quot;.
Ekonomi Iran terpuruk sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir   dan kembali menerapkan sanksi dengan sasaran sektor minyak dan   perbankan.
Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, tetapi para   pengamat mengatakan 20% dari uranium yang diperkaya sudah cukup membuat   uranium menjadi senjata.</description><content:encoded>TEHERAN - Iran sekarang menyimpan uranium yang diperkaya lebih dari 12 kali dari jumlah yang diperbolehkan berdasarkan perjanjian nuklir tahun 2015, kata Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Menurut IAEA, stok uranium kadar rendah yang dimiliki Iran telah mencapai 2.442,9 kg bulan ini, padahal batas yang ditetapkan adalah 202.8 kg.
Laporan tersebut sontak membuat Raja Salman dari Arab Saudi, rival Iran di kawasan, menyerukan agar masyarakat internasional &quot;bersikap tegas&quot; terhadap Iran.
BACA JUGA: Peringati 5 Tahun Kesepakatan Nuklir, Iran Siap Pertahankan JCPOA
Iran selama ini selalu menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan-tujuan damai.
IAEA juga mengatakan penjelasan Iran tentang keberadaan materi nuklir di suatu lokasi yang namanya tidak disebutkan itu &quot;tidak dapat dipercaya&quot;.
Penilaian itu dikeluarkan sesudah Duta Besar Iran untuk IAEA, Gharib Abadi, mengatakan &quot;semua komentar yang buru-buru seharusnya dihindari&quot;, dan menambahkan: &quot;Pendekatan sedang dijalin dengan tujuan merampungkan pemecahan atas masalah ini.&quot;
&amp;nbsp;
 
Apa isi laporan pengawas nuklir?
Dalam laporan terbaru yang diberikan kepada negara-negara anggota, Badan Tenaga Atom tidak merinci lokasi penemuan bahan nuklir di Iran.
Seorang sumber yang namanya tidak disebutkan mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tidak ada indikasi lokasi yang dimaksud itu digunakan untuk memproses uranium, melainkan mungkin digunakan untuk menyimpan uranium.
Ditambahkan oleh IAEA, Iran terus melakukan pengayaan uranium hingga pada tingkat kemurnian 4,5% padahal ambang batas yang ditetapkan dalam perjanjian hanyalah 3,6%.
Pada tahap ini, badan pengawas nuklir itu masih menganalisis sampel yang diambil pada September dari dua bekas lokasi yang dicurigai digunakan untuk memproses nuklir. Dua tempat itu dibuka bagi inspektur IAEA tahun ini.
BACA JUGA: Iran Kembali Ambil Langkah Mundur dari Kesepakatan Nuklir 2015
Tahun lalu, Iran mulai melanggar perjanjian nuklir secara sengaja dan terang-terangan. Perjanjian tahun 2015 tersebut dibuat antara Iran dengan China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat (AS).
Di dalamnya diatur mengenai pencabutan sanksi-sanksi internasional terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan kegiatan nuklir di negara itu.

Namun sesudah Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian pada  Mei 2018 dan kemudian kembali menerapkan sanksi yang melumpuhkan  perekonomian Iran, Teheran mulai melanggar perjanjian.
Trump berdalih kesepakatan yang diteken di masa Presiden Barack Obama  itu cacat dan ia ingin memaksa pemerintah Iran untuk merundingkannya  kembali.
Perjanjian internasional menetapkan Iran hanya boleh memproduksi  maksimal 300 kg uranium yang diperkaya dalam bentuk gas uranium  hexafluoride (UF6), atau setara dengan 202.8 kg uranium.
Uranium berkadar rendah - yang mempunyai konsentrasi isotop U-235  antara 3% hingga 5% - dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar  untuk pembangkit listrik. Adapun uranium untuk membuat senjata  memerlukan konsentrasi setidaknya 90%.

Saudi minta dunia bersikap
Tak lama setelah laporan IAEA dirilis, Raja Salman bin Abdulaziz dari  Arab Saudi - rival Iran di kawasan itu - mengatakan dunia seharusnya  menempuh &quot;sikap tegas&quot; untuk memastikan Teheran tidak memproduksi  senjata pemusnah massal.

&quot;Kerajaan Arab Saudi menggarisbawahi bahaya akan proyek regional  Iran, campur tangannya di negara-negara lain, mendorong terorisme,  mengobarkan api sektarianisme dan Arab Saudi menyerukan sikap tegas  masyarakat internasional terhadap Iran untuk menjamin pengawasan drastis  dalam upaya Iran mendapatkan senjata pemusnah massal dan mengembangkan  program rudal balistik,&quot; kata Raja Salman dalam pidatonya.

Presiden terpilih AS, Joe Biden, telah mengisyaratkan keinginannya   untuk bergabung kembali ke dalam perjanjian nuklir, dan menawarkan   kepada Iran sebuah &quot;jalan yang dapat dipercaya menuju diplomasi.&quot;
Sebagai tanggapannya, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan   negaranya akan memanfaatkan &quot;setiap peluang&quot; untuk &quot;melepaskan beban   dari pundak rakyat kami akibat penerapan sanksi&quot;.
Ekonomi Iran terpuruk sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir   dan kembali menerapkan sanksi dengan sasaran sektor minyak dan   perbankan.
Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, tetapi para   pengamat mengatakan 20% dari uranium yang diperkaya sudah cukup membuat   uranium menjadi senjata.</content:encoded></item></channel></rss>
