<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Warga di Kota Ini Punya Kebanggaan dengan Budaya &quot;Rebahan&quot;</title><description>Orang-orang di Plovdiv terkesan memiliki lebih banyak waktu. Lalu lintas jalanan lebih lengang.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan"/><item><title>Warga di Kota Ini Punya Kebanggaan dengan Budaya &quot;Rebahan&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan</guid><pubDate>Sabtu 14 November 2020 08:59 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan-tDCURKfHIO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kota Plovdiv di Bulgaria terkenal dengan kebudayaan santai (Foto: Getty Image)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/14/18/2309425/warga-di-kota-ini-punya-kebanggaan-dengan-budaya-rebahan-tDCURKfHIO.jpg</image><title>Kota Plovdiv di Bulgaria terkenal dengan kebudayaan santai (Foto: Getty Image)</title></images><description>WARGA kota terbesar kedua di Bulgaria, Plovdiv, bangga dengan kebiasaan mereka yang santai dan berleha-leha.

Waktu memang terasa lebih lamban begitu Anda tiba di Plovdiv dengan menumpang bus dari ibu kota Bulgaria, Sofia.

Orang-orang di Plovdiv terkesan memiliki lebih banyak waktu. Lalu lintas jalanan lebih lengang.

Begitu Anda berjalan ke alun-alun melalui taman kota, Anda akan melihat sejumlah laki-laki uzur bermain catur. Ada pula sekelompok orang yang bersantai dan berbincang di bawah bayangan pohon-pohon tua.

Plovdiv memang berbeda. Perbedaan itu terlihat tapi sulit untuk diungkapkan.

Di kawasan pusat kota yang bernama Kapana, warga Plovdiv memenuhi bar dan kafe yang tempat duduknya menyesaki jalur pejalan kaki.

Di dekat mural berwarna cerah, beberapa muda-mudi berkumpul, saling menggoda, dan memainkan ponsel pintar. Di kafe dekat Masjid Dzhumaya, orang-orang duduk selama berjam-jam. Mereka menyeruput secangkir kopi Turki.

Sejumlah kucing di jalanan berbatu di kawasan kota tua bahkan tampak lebih lesu dibandingkan kucing di tempat lain. Mereka meregangkan tubuh, mendengkur, berguling, lalu tidur.

Jika Anda bertanya kepada orang-orang di kota ini mengapa Plovdiv begitu santai, mereka akan memberi tahu Anda bahwa Plovdiv adalah aylyak.
Eropa

Dua perempuan duduk di Taman Relaksasi dan BUdaya di Plovdiv, 2 Oktober lalu.

Terminologi aylyak jarang digunakan di luar kota Plovdiv, meski kata itu muncul di kamus bahasa Bulgaria sejak akhir abad ke-19.

Kata ini berasal dari bahasa Turki, aylakl&amp;#305;k, yang dapat diterjemahkan sebagai kemalasan, membuang-buang waktu ,atau pengembaraan.

Akar katanya adalah, ayl&amp;#305;k, yang berarti bulan.

Menurut Yana Genova, Direktur Sofia Literature and Translation House, arti asli aylyak adalah seseorang yang akhirnya mengetahui makna waktu luang setelah dipekerjakan selama berbulan-bulan.

Kata kerja yang cocok dengan aylyak adalah bichim, turunan dari kata kerja &quot;bicha&quot;, yang berarti memukul, mencambuk, atau memotong balok dan papan dari batang pohon.

Memukul, mencambuk atau memotong adalah pengingat bahwa aylyak adalah kegiatan aktif. Jika Anda ingin mengetahui makna kesenggangan, Anda harus memberikan waktu untuk diri Anda sendiri.

Anda harus melepaskan diri dari kekhawatiran sehari-hari.

Tapi apapun asal-usul kata itu, di Kota Plovdiv yang modern, aylyak telah memiliki arti khusus.
Eropa

Ketika Anda meminta warga Plovdiv menjelaskan artinya, mereka pasti akan menceritakan sebuah lelucon kepada Anda.

Leluconnya seperti ini:

Seorang warga Plovdiv sedang bertemu dengan pengunjung asal Spanyol.  &quot;Apa itu aylyak?,&quot; tanya orang Spanyol itu. Orang Bulgaria itu berpikir  sejenak, lalu berkata, &quot;Ini seperti istilah manana (besok saja) dalam  bahasa Anda, tetapi tanpa unsur stres.&quot;

Tahun 2019, Plovdiv dianugerahi gelar Ibu kota Kebudayaan Eropa.  Sebagai bagian dari kegiatan kota budaya, serangkaian diskusi publik  digelar untuk mengeksplorasi makna aylyak secara lebih mendalam.

Forum itu diselenggarakan Fire Theatre Mime Company, organisasi yang  dipimpin aktor, sutradara dan sekaligus seniman pantomim asal Bulgaria,  Plamen Radev Georgiev.

Georgiev ingin mengetahui makna sejati aylyak, asal usulnya dan  bagaimana terminologi itu menjadi berkaitan sangat erat dengan Kota  Plovdiv.

Saya bertemu dengan Georgiev di sebuah kafe di Sofia. Ia lahir di  Stara Zagora. Ketika tiba di Plovdiv tahun 2018, dia belum memahami  kompleksitas budaya aylyak.

&quot;Penelitian kami sulit,&quot; ujarnya. kepada saya. &quot;Orang-orang bertanya  mengapa kami tertarik dengan aylyak. Mereka bilang itu sama sekali bukan  nilai. Itu hanya kemalasan.&quot;

Namun melalui diskusi publik, gambaran yang lebih utuh muncul.  Aylyak, kata orang, tentang mencari waktu. Budaya itu terwujud dalam  aktivitas duduk bersama teman untuk sarapan. Dan malam harinya mereka  sadar bahwa mereka masih kongko.

Budaya ini tentang menikmati lingkungan, terkait status sosial.  Orang-orang yang berdandan kluyuran di jalanan tanpa tahu apa yang  hendak mereka lakukan.

Dan, pada tingkat yang lebih dalam, Georgiev menyebutnya begai 'Zen aylyak', tradisi ini berkaitan dengan kebebasan jiwa.

&quot;Aylyak berarti Anda memiliki kesulitan hidup, tapi tetap merasa aman dari semua masalah itu,&quot; kata Georgiev.

Di Sofia, banyak orang yang saya ajak bicara skeptis pada budaya   aylyak. Mereka menganggapnya tidak lebih dari pencitraan kota kebudayaan   dan pemasaran kekinian. Saya pun tidak yakin.

Jadi, saya naik bus dari Sofia ke Plovdiv, untuk menghabiskan beberapa hari di kota itu dan menjalankan aylyak sendiri.

Di Plovdiv, saya bertemu Svetoslava Mancheva, antropolog dan direktur   ACEA Mediator, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk  menghubungkan  warga dan ruang kota.

Berasal dari Kardzhali di sisi barat daya Bulgaria, Svetoslava   mengaku secara sadar mulai menjalankan aylyak. Dia tinggal di Plovdiv   selama 10 tahun terakhir dan tidak berniat untuk pergi.

&quot;Banyak orang tinggal di sini khusus untuk menjalankan aylyak,&quot; ujarnya.

Rekannya, Elitsa Kapusheva, memberi tahu saya bahwa dia dibesarkan di   Plovdiv, tapi baru-baru ini kembali dari Berlin. Dia senang berada di   kampung, Berlin bagus, tapi tidak ada aylyak.
Eropa

Dua anak bermain air di taman kota di Plovdiv, Juli 2015..

Mancheva menilai aylyak berakar pada sejarah panjang keanekaragaman   budaya di Kota Plovdiv. Sejarawan Mary C Neuberger menggambarkan   bagaimana Plovdiv menjadi pusat komersial yang berkembang pesat pada   abad ke-19.

Dari semua kota di Kekaisaran Ottoman, Plovdiv adalah kota terbesar   kedua setelah Istanbul. Kota ini merupakan rumah bagi orang Yahudi,   Yunani, Bulgaria, Roma, Armenia, dan Slavia. Mereka berdesakan di jalan   dan kafe, atau kedai kopi.

Mancheva berkata, aylyak adalah jawaban atas tantangan hidup   berdampingan dengan orang asing. &quot;Ini cara menemukan tempat Anda sendiri   di kota,&quot; ujarnya.

&quot;Bagi saya, dasar dari aylyak adalah komunikasi. Anda tidak perlu   menyukai satu sama lain. Yang penting adalah keinginan untuk berbicara,   keinginan untuk mengerti,&quot; kata dia.

Catatan sejarah mencatat, kedai kopi di Plovdiv pada abad ke-19 adalah tempat berbaur para perajin dan pedagang.

Penyair Bulgaria abad ke-19, Hristo Danov, tidak setuju pada kebiasaan orang-orang menghabiskan sepanjang hari di kafe.

Dia menulis, orang-orang pergi ke kafe untuk merokok, mengobrol,   minum kopi, dan &quot;tidak sabar menunggu matahari terbenam sehingga mereka   bisa beralih ke minuman alkohol brendi plum&quot;.

Orang asing juga merasakan nuansa santai Plovdiv yang unik. Dalam    akun perjalanannya tahun 1906, penjelajah Inggris, John Foster Fraser    terpesona oleh laju kehidupan di Plovdiv yang saat itu disebut    Philippopolis.

Ini yang dia tulis saat itu:

&quot;Bayangkan momen ini. Taman dengan banyak lampu. Di bawah pepohonan,    terdapat meja yang tak terhitung banyaknya. Di sana seluruh    Philippopolis menyeruput kopi, minum bir, bersulang minuman anggur satu    sama lain.

Di salah satu ujung taman itu ada panggung kecil. Ada sebuah band    Hungaria yang bermain dengan emosional&amp;hellip;Saat itu Minggu malam dan    Philippopolis sedang bersenang-senang.&quot;
Eropa

Warga Plovdiv merayakan anugerah Kota Kebudayaan Eropa yang diterima kota mereka tahun 2014.

Saat saya mengobrol dengan Mancheva dan Kapusheva tentang aylyak, mereka terus-menerus mengulang satu gagasan.

Mereka menyebut aylyak adalah budaya menemukan ruang di hari yang    sibuk untuk minum kopi. Ini berkaitan dengan menemukan celah di kota,    baik gang, taman kecil, bangku, atau tempat dapat berkumpul dengan    teman, bermain musik, minum bir, atau mengobrol.

Aylyak adalah memberi ruang bagi orang lain saat Anda berkomunikasi.    Dan, seperti yang dikatakan Georgiev kepada saya, ini tentang  menemukan   ruang kebebasan di tengah kesulitan hidup.

Bagi mereka yang telah mengembangkan kemampuan menjalankan aylyak,    seperti Mancheva dan Kapusheva, tidak ada cara hidup yang lebih baik.

Setelah beberapa hari di Plovdiv, saya kehilangan skeptisme dan    belajar bagaimana melakukan menjalankan budaya aylyak. Saya menghabiskan    waktu di jalanan. Saya santai saja.

Dan anehnya, saya merasa tidak menjalankannya secara tepat, hanya sekedar melakukannya tanpa stres.

Menjelang akhir masa tinggal di kota itu, saya bertanya-tanya apakah Plovdiv memiliki sesuatu untuk ditawarkan ke seluruh dunia.

Saya mengirim email kepada penulis Bulgaria, Filip Gyurov, yang    meneliti aylyak sebagai filosofi kehidupan dan sebagai alternatif    pertumbuhan ekonomi. Tema itu adalah bagian dari tesisnya di Universitas    Lund.

&quot;Kehidupan tidak cuma tentang keramaian dan hiruk pikuk kota besar,    kebutuhan membeli mainan teknologi terbaru atau melakukan panjat    sosial,&quot; kata Gyurov.

&quot;Orang-orang, terutama kaum muda, pernah mengalami efek samping     mengerikan akibat kelelahan. Oleh karena itu, kebutuhan untuk     memperlambat, menghilangkan pertumbuhan, untuk hidup lebih selaras     dengan alam dan diri kita sendiri,&quot; tuturnya.

Pada sore terakhir saya di Plovdiv, saya duduk di kafe, di luar     Masjid Dzhumaya. Saya memesan kopi Turki dan seporsi kyunefe, makanan     penutup khas Timur Tengah dengan sentuhan kuliner yang cemerlang,     menggabungkan baklava dan keju.

Kopi di meja saya dengan segelas kecil sirup air mawar manis untuk     menghilangkan rasa pahit. Di samping masjid, di bawah semak mawar,     seekor kucing tertidur dalam damai.

Saya tidak punya jam tangan, tapi saya merasa tidak perlu memeriksa     ponsel saya. Saya tidak punya janji untuk ditepati. Saya minum kopi  dan    membiarkan sore berlalu karena saya tahu, saya punya banyak  waktu.</description><content:encoded>WARGA kota terbesar kedua di Bulgaria, Plovdiv, bangga dengan kebiasaan mereka yang santai dan berleha-leha.

Waktu memang terasa lebih lamban begitu Anda tiba di Plovdiv dengan menumpang bus dari ibu kota Bulgaria, Sofia.

Orang-orang di Plovdiv terkesan memiliki lebih banyak waktu. Lalu lintas jalanan lebih lengang.

Begitu Anda berjalan ke alun-alun melalui taman kota, Anda akan melihat sejumlah laki-laki uzur bermain catur. Ada pula sekelompok orang yang bersantai dan berbincang di bawah bayangan pohon-pohon tua.

Plovdiv memang berbeda. Perbedaan itu terlihat tapi sulit untuk diungkapkan.

Di kawasan pusat kota yang bernama Kapana, warga Plovdiv memenuhi bar dan kafe yang tempat duduknya menyesaki jalur pejalan kaki.

Di dekat mural berwarna cerah, beberapa muda-mudi berkumpul, saling menggoda, dan memainkan ponsel pintar. Di kafe dekat Masjid Dzhumaya, orang-orang duduk selama berjam-jam. Mereka menyeruput secangkir kopi Turki.

Sejumlah kucing di jalanan berbatu di kawasan kota tua bahkan tampak lebih lesu dibandingkan kucing di tempat lain. Mereka meregangkan tubuh, mendengkur, berguling, lalu tidur.

Jika Anda bertanya kepada orang-orang di kota ini mengapa Plovdiv begitu santai, mereka akan memberi tahu Anda bahwa Plovdiv adalah aylyak.
Eropa

Dua perempuan duduk di Taman Relaksasi dan BUdaya di Plovdiv, 2 Oktober lalu.

Terminologi aylyak jarang digunakan di luar kota Plovdiv, meski kata itu muncul di kamus bahasa Bulgaria sejak akhir abad ke-19.

Kata ini berasal dari bahasa Turki, aylakl&amp;#305;k, yang dapat diterjemahkan sebagai kemalasan, membuang-buang waktu ,atau pengembaraan.

Akar katanya adalah, ayl&amp;#305;k, yang berarti bulan.

Menurut Yana Genova, Direktur Sofia Literature and Translation House, arti asli aylyak adalah seseorang yang akhirnya mengetahui makna waktu luang setelah dipekerjakan selama berbulan-bulan.

Kata kerja yang cocok dengan aylyak adalah bichim, turunan dari kata kerja &quot;bicha&quot;, yang berarti memukul, mencambuk, atau memotong balok dan papan dari batang pohon.

Memukul, mencambuk atau memotong adalah pengingat bahwa aylyak adalah kegiatan aktif. Jika Anda ingin mengetahui makna kesenggangan, Anda harus memberikan waktu untuk diri Anda sendiri.

Anda harus melepaskan diri dari kekhawatiran sehari-hari.

Tapi apapun asal-usul kata itu, di Kota Plovdiv yang modern, aylyak telah memiliki arti khusus.
Eropa

Ketika Anda meminta warga Plovdiv menjelaskan artinya, mereka pasti akan menceritakan sebuah lelucon kepada Anda.

Leluconnya seperti ini:

Seorang warga Plovdiv sedang bertemu dengan pengunjung asal Spanyol.  &quot;Apa itu aylyak?,&quot; tanya orang Spanyol itu. Orang Bulgaria itu berpikir  sejenak, lalu berkata, &quot;Ini seperti istilah manana (besok saja) dalam  bahasa Anda, tetapi tanpa unsur stres.&quot;

Tahun 2019, Plovdiv dianugerahi gelar Ibu kota Kebudayaan Eropa.  Sebagai bagian dari kegiatan kota budaya, serangkaian diskusi publik  digelar untuk mengeksplorasi makna aylyak secara lebih mendalam.

Forum itu diselenggarakan Fire Theatre Mime Company, organisasi yang  dipimpin aktor, sutradara dan sekaligus seniman pantomim asal Bulgaria,  Plamen Radev Georgiev.

Georgiev ingin mengetahui makna sejati aylyak, asal usulnya dan  bagaimana terminologi itu menjadi berkaitan sangat erat dengan Kota  Plovdiv.

Saya bertemu dengan Georgiev di sebuah kafe di Sofia. Ia lahir di  Stara Zagora. Ketika tiba di Plovdiv tahun 2018, dia belum memahami  kompleksitas budaya aylyak.

&quot;Penelitian kami sulit,&quot; ujarnya. kepada saya. &quot;Orang-orang bertanya  mengapa kami tertarik dengan aylyak. Mereka bilang itu sama sekali bukan  nilai. Itu hanya kemalasan.&quot;

Namun melalui diskusi publik, gambaran yang lebih utuh muncul.  Aylyak, kata orang, tentang mencari waktu. Budaya itu terwujud dalam  aktivitas duduk bersama teman untuk sarapan. Dan malam harinya mereka  sadar bahwa mereka masih kongko.

Budaya ini tentang menikmati lingkungan, terkait status sosial.  Orang-orang yang berdandan kluyuran di jalanan tanpa tahu apa yang  hendak mereka lakukan.

Dan, pada tingkat yang lebih dalam, Georgiev menyebutnya begai 'Zen aylyak', tradisi ini berkaitan dengan kebebasan jiwa.

&quot;Aylyak berarti Anda memiliki kesulitan hidup, tapi tetap merasa aman dari semua masalah itu,&quot; kata Georgiev.

Di Sofia, banyak orang yang saya ajak bicara skeptis pada budaya   aylyak. Mereka menganggapnya tidak lebih dari pencitraan kota kebudayaan   dan pemasaran kekinian. Saya pun tidak yakin.

Jadi, saya naik bus dari Sofia ke Plovdiv, untuk menghabiskan beberapa hari di kota itu dan menjalankan aylyak sendiri.

Di Plovdiv, saya bertemu Svetoslava Mancheva, antropolog dan direktur   ACEA Mediator, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk  menghubungkan  warga dan ruang kota.

Berasal dari Kardzhali di sisi barat daya Bulgaria, Svetoslava   mengaku secara sadar mulai menjalankan aylyak. Dia tinggal di Plovdiv   selama 10 tahun terakhir dan tidak berniat untuk pergi.

&quot;Banyak orang tinggal di sini khusus untuk menjalankan aylyak,&quot; ujarnya.

Rekannya, Elitsa Kapusheva, memberi tahu saya bahwa dia dibesarkan di   Plovdiv, tapi baru-baru ini kembali dari Berlin. Dia senang berada di   kampung, Berlin bagus, tapi tidak ada aylyak.
Eropa

Dua anak bermain air di taman kota di Plovdiv, Juli 2015..

Mancheva menilai aylyak berakar pada sejarah panjang keanekaragaman   budaya di Kota Plovdiv. Sejarawan Mary C Neuberger menggambarkan   bagaimana Plovdiv menjadi pusat komersial yang berkembang pesat pada   abad ke-19.

Dari semua kota di Kekaisaran Ottoman, Plovdiv adalah kota terbesar   kedua setelah Istanbul. Kota ini merupakan rumah bagi orang Yahudi,   Yunani, Bulgaria, Roma, Armenia, dan Slavia. Mereka berdesakan di jalan   dan kafe, atau kedai kopi.

Mancheva berkata, aylyak adalah jawaban atas tantangan hidup   berdampingan dengan orang asing. &quot;Ini cara menemukan tempat Anda sendiri   di kota,&quot; ujarnya.

&quot;Bagi saya, dasar dari aylyak adalah komunikasi. Anda tidak perlu   menyukai satu sama lain. Yang penting adalah keinginan untuk berbicara,   keinginan untuk mengerti,&quot; kata dia.

Catatan sejarah mencatat, kedai kopi di Plovdiv pada abad ke-19 adalah tempat berbaur para perajin dan pedagang.

Penyair Bulgaria abad ke-19, Hristo Danov, tidak setuju pada kebiasaan orang-orang menghabiskan sepanjang hari di kafe.

Dia menulis, orang-orang pergi ke kafe untuk merokok, mengobrol,   minum kopi, dan &quot;tidak sabar menunggu matahari terbenam sehingga mereka   bisa beralih ke minuman alkohol brendi plum&quot;.

Orang asing juga merasakan nuansa santai Plovdiv yang unik. Dalam    akun perjalanannya tahun 1906, penjelajah Inggris, John Foster Fraser    terpesona oleh laju kehidupan di Plovdiv yang saat itu disebut    Philippopolis.

Ini yang dia tulis saat itu:

&quot;Bayangkan momen ini. Taman dengan banyak lampu. Di bawah pepohonan,    terdapat meja yang tak terhitung banyaknya. Di sana seluruh    Philippopolis menyeruput kopi, minum bir, bersulang minuman anggur satu    sama lain.

Di salah satu ujung taman itu ada panggung kecil. Ada sebuah band    Hungaria yang bermain dengan emosional&amp;hellip;Saat itu Minggu malam dan    Philippopolis sedang bersenang-senang.&quot;
Eropa

Warga Plovdiv merayakan anugerah Kota Kebudayaan Eropa yang diterima kota mereka tahun 2014.

Saat saya mengobrol dengan Mancheva dan Kapusheva tentang aylyak, mereka terus-menerus mengulang satu gagasan.

Mereka menyebut aylyak adalah budaya menemukan ruang di hari yang    sibuk untuk minum kopi. Ini berkaitan dengan menemukan celah di kota,    baik gang, taman kecil, bangku, atau tempat dapat berkumpul dengan    teman, bermain musik, minum bir, atau mengobrol.

Aylyak adalah memberi ruang bagi orang lain saat Anda berkomunikasi.    Dan, seperti yang dikatakan Georgiev kepada saya, ini tentang  menemukan   ruang kebebasan di tengah kesulitan hidup.

Bagi mereka yang telah mengembangkan kemampuan menjalankan aylyak,    seperti Mancheva dan Kapusheva, tidak ada cara hidup yang lebih baik.

Setelah beberapa hari di Plovdiv, saya kehilangan skeptisme dan    belajar bagaimana melakukan menjalankan budaya aylyak. Saya menghabiskan    waktu di jalanan. Saya santai saja.

Dan anehnya, saya merasa tidak menjalankannya secara tepat, hanya sekedar melakukannya tanpa stres.

Menjelang akhir masa tinggal di kota itu, saya bertanya-tanya apakah Plovdiv memiliki sesuatu untuk ditawarkan ke seluruh dunia.

Saya mengirim email kepada penulis Bulgaria, Filip Gyurov, yang    meneliti aylyak sebagai filosofi kehidupan dan sebagai alternatif    pertumbuhan ekonomi. Tema itu adalah bagian dari tesisnya di Universitas    Lund.

&quot;Kehidupan tidak cuma tentang keramaian dan hiruk pikuk kota besar,    kebutuhan membeli mainan teknologi terbaru atau melakukan panjat    sosial,&quot; kata Gyurov.

&quot;Orang-orang, terutama kaum muda, pernah mengalami efek samping     mengerikan akibat kelelahan. Oleh karena itu, kebutuhan untuk     memperlambat, menghilangkan pertumbuhan, untuk hidup lebih selaras     dengan alam dan diri kita sendiri,&quot; tuturnya.

Pada sore terakhir saya di Plovdiv, saya duduk di kafe, di luar     Masjid Dzhumaya. Saya memesan kopi Turki dan seporsi kyunefe, makanan     penutup khas Timur Tengah dengan sentuhan kuliner yang cemerlang,     menggabungkan baklava dan keju.

Kopi di meja saya dengan segelas kecil sirup air mawar manis untuk     menghilangkan rasa pahit. Di samping masjid, di bawah semak mawar,     seekor kucing tertidur dalam damai.

Saya tidak punya jam tangan, tapi saya merasa tidak perlu memeriksa     ponsel saya. Saya tidak punya janji untuk ditepati. Saya minum kopi  dan    membiarkan sore berlalu karena saya tahu, saya punya banyak  waktu.</content:encoded></item></channel></rss>
