<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Warga Venezuela Hidup Dengan Rp18.000 Per Bulan</title><description>Di usia tuanya, Norman Mujica harus hidup dengan uang pensiun senilai Rp18.000 per bulan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan"/><item><title>Cerita Warga Venezuela Hidup Dengan Rp18.000 Per Bulan</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan</guid><pubDate>Senin 23 November 2020 11:53 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan-gvltaFuIsZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Norman Mujica. (Foto: Oswer Dias Mireles)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/23/18/2314345/cerita-warga-venezuela-hidup-dengan-rp18-000-per-bulan-gvltaFuIsZ.jpg</image><title>Norman Mujica. (Foto: Oswer Dias Mireles)</title></images><description>PADA 1980, usia tua adalah hal yang terlihat jauh bagi Norma Mujica.
&quot;Saat itu saya berusia 27 tahun. Saya telah menikah dan menari salsa dengan suami saya di disko. Kami sangat menyukai Oscar de Leon dan Celia Cruz,&quot; katanya mengenang masa mudanya di Ibu Kota Venezuela, Caracas.
&quot;Kadang-kadang kami membeli makanan China di restoran dan di akhir pekan kami pergi ke pantai atau berjalan-jalan.&quot;
Sekarang pada usia 67 tahun, hari-hari Norma sangat berbeda.
BACA JUGA: Begini Kisah Krisis Ekonomi Venezuela, Negara yang Kaya Minyak
Karena mata uang Venezuela (bolivar) terus mengalami devaluasi, uang pensiunnya yang dulunya setara dengan USD172 (Rp2,4 juta) sebulan kini hanya bernilai USD1,30 (sekitar Rp18.500).
Rumahnya yang sederhana, dengan atap seng dan plester yang mengelupas, terletak di jalan terjal yang berlubang.
Di dalam rumah, tirai usang, poster Yesus, dan perabotan bobrok menghiasi ruangan, tetapi lantai rumah dalam kondisi yang baik.
Norma juga memiliki mesin cuci tua dan kompor gas.

Tumbuh besar dengan suara drum
Norma duduk di kursi plastik kecil, mengenakan daster lusuh, dan sepatu Crocs palsu dengan kaus kaki wol. Sejak lahir, dia tinggal di daerah miskin yang sama di pinggiran Caracas, kawasan perbukitan di 23 de Enero.
&quot;Ayah saya memainkan alat musik timbales di sebuah orkestra. Di sini, di 23 de Enero selalu terdengar musik salsa dan merengue,&quot; katanya kepada BBC.
&quot;Saya membeli rumah kecil ini bersama suami saya dan sedikit demi sedikit kami membangunnya dengan pasir dan semen. Ketika saya berusia 40 tahun, Tuhan mendengar doa saya dan memberi saya putra satu-satunya. Saya butuh waktu lama untuk hamil.&quot;

Foto: Oswer Diaz Mireles.
Eli&amp;eacute;cer, putranya, &quot;tidak pernah menginginkan apa pun&quot;, katanya.
Rafael Alcal&amp;aacute;, suaminya, bekerja sebagai asisten sistem TI di sebuah bank.
Norma adalah pegawai negeri di bagian kesejahteraan sosial di Kementerian Pendidikan. Dia sudah bekerja di sana sejak usia 19 tahun.
&quot;Saya melakukan segalanya: Saya adalah seorang sekretaris, asisten kantor... shift dimulai pukul sepuluh dan selesai pukul sembilan.&quot;

Jatuh sakit
Pada tahun 2000, Norma mengalami stroke di tempat kerja. &quot;Tekanan  darah saya melonjak, saya jatuh ke lantai dan mengalami kondisi yang  buruk,&quot; kenangnya.
Akhirnya dia bisa berbicara dan berjalan lagi dengan tongkat. Tapi  dia tidak pernah bisa melanjutkan pekerjaan. Dia pensiun lebih awal,  pada September 2000 karena disabilitas.
Saat itu, tunjangan Norma setara dengan USD172 (Rp2,4 juta) per bulan, yang memungkinkannya memenuhi semua kebutuhan dasarnya.
&quot;Saya mampu membeli makanan yang cukup, membayar tagihan telepon,  membeli obat, dan yang terpenting, suami saya bekerja,&quot; katanya.
Dia mendapat manfaat dari perubahan yang diberlakukan setelah reformasi konstitusi pada 1999 oleh mantan Presiden Hugo Chavez.
Perubahan itu mengamanatkan pemerintah untuk membayar upah minimum dan pensiun yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Saat suami Norma meninggal pada 2015, uang pensiun itu menjadi satu-satunya penghasilannya.

Sistem kolaps
Di Venezuela, seperti di banyak negara lain, sistem pensiun didanai  oleh karyawan-karyawan yang beberapa persen dari gajinya dipotong untuk  membayar gaji para pensiunan.
Tetapi banyak pekerja, terutama yang berkualifikasi tinggi, telah meninggalkan negara itu.
Upah keseluruhan di negara itu rendah dan banyak orang yang bekerja  pada sektor informal, yang berarti mereka tidak memberikan kontribusi  apa pun.
Beban pensiun 4,5 juta rakyat Venezuela sebagian besar ditanggung negara. Tapi secara matematika, itu tidak memungkinkan.Minyak adalah sumber utama pendapatan negara: USD9 dari setiap USD10   yang masuk ke dalam perekonomian negara itu. Namun produksi minyak  telah  turun tajam sejak 2017.
Selain pemerintah yang miskin dengan sedikit sumber pendapatan,   inflasi Venezuela termasuk yang tertinggi di dunia, hal yang   mendatangkan malapetaka pada nilai mata uang nasional negara itu.
BACA JUGA: Mata Uang Venezuela Ambruk: Tisu Dijual 2,6 juta, Daging Ayam 14,6 juta
Selama tiga tahun terakhir, Bank Sentral telah memperketat pasokan   dolar Amerika Serikat (AS), yang dipandang oleh banyak orang Venezuela   sebagai perlindungan aman bagi uang mereka.
Akibatnya, mata uang AS meroket sementara bolivar anjlok, bersama merosotnya nilai uang pensiun.
Bagi kebanyakan orang lanjut usia, kualitas hidup mereka menukik tajam, membuat mereka berada dalam situasi yang lebih rentan.

Hidup dengan keterbatasan
Karena penurunan nilai bolivar, uang pensiun Norma kini hanya bernilai USD1,30 (Rp 18.500) per bulan.
Ia mendapatkan bentuk bonus lain yang diberikan oleh pemerintah dalam upaya untuk meringankan dampak kemerosotan ekonomi.
Ketika semua penghasilannya ditambahkan, dia memiliki sekitar USD5 (Rp 70.000) sebulan, cukup untuk membeli satu kilo daging.

Norman Mujica. (Foto: Oswer Diaz Mireles)
Tapi prioritas utama Norma bukanlah daging, tapi pil penurun tekanan   darah yang harus diminumnya setiap hari. Obat itu biasanya dipasok oleh   negara melalui Farmapatria, jaringan apotek pemasok obat-obatan dasar   bagi masyarakat.
Tetapi dia tidak selalu mendapatkan pil tepat waktu, itulah sebabnya dia menabung.

&quot;Saya menabung sedikit dari yang mereka berikan sehingga saya dapat    membeli obat-obatan saat saya membutuhkan. Saya tidak mampu membeli  satu   kotak utuh, tetapi setidaknya saya dapat membeli setengah kotak,  yang   berisi 20 pil&quot;.
Norma mengatakan para dokter telah memberitahunya bahwa dia harus    memastikan tekanannya terkendali untuk meminimalkan risiko stroke.
&quot;Saya bersyukur saya hampir tak pernah tak memiliki pil. Kadang anak    saya berkorban sedikit dan membelikan saya sedikit obat. Ketika saya    tidak meminum obat, saya tidak bisa tidur karena saya takut.&quot;
Untuk mencapai Farmapatria, Norma harus berjalan sekitar 1,5 km ke    stasiun metro terdekat. Lereng curam menuruni bukit itu adalah    perjalanan berbahaya.

Presiden Venezula Nicolas Maduro. (Foto: Reuters)
Dia berjalan dengan tongkatnya di trotoar yang tidak rata dan    berlubang, melewati pedagang kaki lima dan tong sampah. Karena    kondisinya, Norma harus berulang kali berhenti untuk istirahat saat    melakukan perjalanan pulang.
Dalam perjalanan kereta, ia melewati tiga perhentian. Kereta itu gratis untuk orang seusianya.
&quot;Saya perlu berjalan. Jika saya tinggal di rumah, saya akan sakit dan    hanya berbaring di tempat tidur dan saya tidak menginginkannya.    Terkadang kaki saya sakit karena belum lama ini saya terjatuh dan    pergelangan kaki saya terkilir. Sedikit bengkak, tapi saya tetap    berjalan,&quot; kata Norma.

Sangat sedikit makanan
Norma bergantung pada makanan yang dibagikan pemerintah kepada mereka yang berpenghasilan rendah.
&quot;Kotak makanan itu datang setiap satu setengah bulan. Yang terakhir     isinya dua kilo beras, dua bungkus tepung untuk membuat arepas [roti     pokok Venezuela], dua kilo pasta, beberapa bungkus chickpeadan kopi.     Kali itu, mereka tidak memberikan gula,&quot; kata Norma.
Makanan itu tidak cukup dan Norma mengatakan dia sering merasa &quot;pusing&quot;.
&quot;Hari ini saya makan roti tepung, kopi, dan telur yang diberikan     seseorang untuk sarapan saya. Untuk makan siang, saya makan kacang     polong dan nasi, dan kacang polong lagi untuk makan malam.&quot;
&quot;Sudah lama sekali sejak saya tidak makan daging, ayam, susu; saya     tidak pernah mengira saya akan kelaparan di usia tua. Bukan hanya saya     yang mengalami ini, banyak orang di lingkungan ini yang mengalami     situasi yang sama,&quot; tambahnya.
Norma mengatakan putranya tidak dapat membantunya sekarang.
&quot;Dia berusia 25 tahun, telah menikah dan memiliki dua anak. Dia     mendapatkan upah minimum di sebuah restoran, tapi pekerjaan itu berakhir     akibat pandemi. Kini, dia membuat kue bersama istrinya untuk  memenuhi    kebutuhan.&quot;

Listrik tak memadai dan air kuning
Norma bersyukur mesin cuci tua yang sudah dimilikinya bertahun-tahun masih berfungsi.
Begitu juga dengan lemari es dan TV sebagai sumber hiburannya. Namun,     dia khawatir tegangan listrik yang turun tiba-tiba dan pemadaman     listrik yang berulang akan merusak peralatannya.
&quot;Karena itulah microwave saya rusak. Sudah tidak menyala lagi sekarang dan saya tidak mungkin membeli yang baru,&quot; katanya cemas.
Tak hanya pasokan listrik yang jadi masalah.
&quot;Hampir setiap minggu, saya mengalami kesulitan air selama dua hari.      Untungnya, ketika suami saya masih hidup, dia membeli tangki plastik      yang dipasang di kamar mandi. Tapi air yang keluar berwarna kuning   dan    sangat kotor, jadi saya harus merebusnya.&quot;
Norma menghindar untuk bicara masalah politik.
Dia enggan mengatakan apakah dia mendukung mantan Presiden Chavez,      dan apakah dia akan memberikan suara dalam pemilihan parlemen bulan      Desember.
&quot;Saya tidak lagi mengharapkan sesuatu yang baik; segalanya selalu lebih buruk,&quot; ujarnya pasrah.
</description><content:encoded>PADA 1980, usia tua adalah hal yang terlihat jauh bagi Norma Mujica.
&quot;Saat itu saya berusia 27 tahun. Saya telah menikah dan menari salsa dengan suami saya di disko. Kami sangat menyukai Oscar de Leon dan Celia Cruz,&quot; katanya mengenang masa mudanya di Ibu Kota Venezuela, Caracas.
&quot;Kadang-kadang kami membeli makanan China di restoran dan di akhir pekan kami pergi ke pantai atau berjalan-jalan.&quot;
Sekarang pada usia 67 tahun, hari-hari Norma sangat berbeda.
BACA JUGA: Begini Kisah Krisis Ekonomi Venezuela, Negara yang Kaya Minyak
Karena mata uang Venezuela (bolivar) terus mengalami devaluasi, uang pensiunnya yang dulunya setara dengan USD172 (Rp2,4 juta) sebulan kini hanya bernilai USD1,30 (sekitar Rp18.500).
Rumahnya yang sederhana, dengan atap seng dan plester yang mengelupas, terletak di jalan terjal yang berlubang.
Di dalam rumah, tirai usang, poster Yesus, dan perabotan bobrok menghiasi ruangan, tetapi lantai rumah dalam kondisi yang baik.
Norma juga memiliki mesin cuci tua dan kompor gas.

Tumbuh besar dengan suara drum
Norma duduk di kursi plastik kecil, mengenakan daster lusuh, dan sepatu Crocs palsu dengan kaus kaki wol. Sejak lahir, dia tinggal di daerah miskin yang sama di pinggiran Caracas, kawasan perbukitan di 23 de Enero.
&quot;Ayah saya memainkan alat musik timbales di sebuah orkestra. Di sini, di 23 de Enero selalu terdengar musik salsa dan merengue,&quot; katanya kepada BBC.
&quot;Saya membeli rumah kecil ini bersama suami saya dan sedikit demi sedikit kami membangunnya dengan pasir dan semen. Ketika saya berusia 40 tahun, Tuhan mendengar doa saya dan memberi saya putra satu-satunya. Saya butuh waktu lama untuk hamil.&quot;

Foto: Oswer Diaz Mireles.
Eli&amp;eacute;cer, putranya, &quot;tidak pernah menginginkan apa pun&quot;, katanya.
Rafael Alcal&amp;aacute;, suaminya, bekerja sebagai asisten sistem TI di sebuah bank.
Norma adalah pegawai negeri di bagian kesejahteraan sosial di Kementerian Pendidikan. Dia sudah bekerja di sana sejak usia 19 tahun.
&quot;Saya melakukan segalanya: Saya adalah seorang sekretaris, asisten kantor... shift dimulai pukul sepuluh dan selesai pukul sembilan.&quot;

Jatuh sakit
Pada tahun 2000, Norma mengalami stroke di tempat kerja. &quot;Tekanan  darah saya melonjak, saya jatuh ke lantai dan mengalami kondisi yang  buruk,&quot; kenangnya.
Akhirnya dia bisa berbicara dan berjalan lagi dengan tongkat. Tapi  dia tidak pernah bisa melanjutkan pekerjaan. Dia pensiun lebih awal,  pada September 2000 karena disabilitas.
Saat itu, tunjangan Norma setara dengan USD172 (Rp2,4 juta) per bulan, yang memungkinkannya memenuhi semua kebutuhan dasarnya.
&quot;Saya mampu membeli makanan yang cukup, membayar tagihan telepon,  membeli obat, dan yang terpenting, suami saya bekerja,&quot; katanya.
Dia mendapat manfaat dari perubahan yang diberlakukan setelah reformasi konstitusi pada 1999 oleh mantan Presiden Hugo Chavez.
Perubahan itu mengamanatkan pemerintah untuk membayar upah minimum dan pensiun yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Saat suami Norma meninggal pada 2015, uang pensiun itu menjadi satu-satunya penghasilannya.

Sistem kolaps
Di Venezuela, seperti di banyak negara lain, sistem pensiun didanai  oleh karyawan-karyawan yang beberapa persen dari gajinya dipotong untuk  membayar gaji para pensiunan.
Tetapi banyak pekerja, terutama yang berkualifikasi tinggi, telah meninggalkan negara itu.
Upah keseluruhan di negara itu rendah dan banyak orang yang bekerja  pada sektor informal, yang berarti mereka tidak memberikan kontribusi  apa pun.
Beban pensiun 4,5 juta rakyat Venezuela sebagian besar ditanggung negara. Tapi secara matematika, itu tidak memungkinkan.Minyak adalah sumber utama pendapatan negara: USD9 dari setiap USD10   yang masuk ke dalam perekonomian negara itu. Namun produksi minyak  telah  turun tajam sejak 2017.
Selain pemerintah yang miskin dengan sedikit sumber pendapatan,   inflasi Venezuela termasuk yang tertinggi di dunia, hal yang   mendatangkan malapetaka pada nilai mata uang nasional negara itu.
BACA JUGA: Mata Uang Venezuela Ambruk: Tisu Dijual 2,6 juta, Daging Ayam 14,6 juta
Selama tiga tahun terakhir, Bank Sentral telah memperketat pasokan   dolar Amerika Serikat (AS), yang dipandang oleh banyak orang Venezuela   sebagai perlindungan aman bagi uang mereka.
Akibatnya, mata uang AS meroket sementara bolivar anjlok, bersama merosotnya nilai uang pensiun.
Bagi kebanyakan orang lanjut usia, kualitas hidup mereka menukik tajam, membuat mereka berada dalam situasi yang lebih rentan.

Hidup dengan keterbatasan
Karena penurunan nilai bolivar, uang pensiun Norma kini hanya bernilai USD1,30 (Rp 18.500) per bulan.
Ia mendapatkan bentuk bonus lain yang diberikan oleh pemerintah dalam upaya untuk meringankan dampak kemerosotan ekonomi.
Ketika semua penghasilannya ditambahkan, dia memiliki sekitar USD5 (Rp 70.000) sebulan, cukup untuk membeli satu kilo daging.

Norman Mujica. (Foto: Oswer Diaz Mireles)
Tapi prioritas utama Norma bukanlah daging, tapi pil penurun tekanan   darah yang harus diminumnya setiap hari. Obat itu biasanya dipasok oleh   negara melalui Farmapatria, jaringan apotek pemasok obat-obatan dasar   bagi masyarakat.
Tetapi dia tidak selalu mendapatkan pil tepat waktu, itulah sebabnya dia menabung.

&quot;Saya menabung sedikit dari yang mereka berikan sehingga saya dapat    membeli obat-obatan saat saya membutuhkan. Saya tidak mampu membeli  satu   kotak utuh, tetapi setidaknya saya dapat membeli setengah kotak,  yang   berisi 20 pil&quot;.
Norma mengatakan para dokter telah memberitahunya bahwa dia harus    memastikan tekanannya terkendali untuk meminimalkan risiko stroke.
&quot;Saya bersyukur saya hampir tak pernah tak memiliki pil. Kadang anak    saya berkorban sedikit dan membelikan saya sedikit obat. Ketika saya    tidak meminum obat, saya tidak bisa tidur karena saya takut.&quot;
Untuk mencapai Farmapatria, Norma harus berjalan sekitar 1,5 km ke    stasiun metro terdekat. Lereng curam menuruni bukit itu adalah    perjalanan berbahaya.

Presiden Venezula Nicolas Maduro. (Foto: Reuters)
Dia berjalan dengan tongkatnya di trotoar yang tidak rata dan    berlubang, melewati pedagang kaki lima dan tong sampah. Karena    kondisinya, Norma harus berulang kali berhenti untuk istirahat saat    melakukan perjalanan pulang.
Dalam perjalanan kereta, ia melewati tiga perhentian. Kereta itu gratis untuk orang seusianya.
&quot;Saya perlu berjalan. Jika saya tinggal di rumah, saya akan sakit dan    hanya berbaring di tempat tidur dan saya tidak menginginkannya.    Terkadang kaki saya sakit karena belum lama ini saya terjatuh dan    pergelangan kaki saya terkilir. Sedikit bengkak, tapi saya tetap    berjalan,&quot; kata Norma.

Sangat sedikit makanan
Norma bergantung pada makanan yang dibagikan pemerintah kepada mereka yang berpenghasilan rendah.
&quot;Kotak makanan itu datang setiap satu setengah bulan. Yang terakhir     isinya dua kilo beras, dua bungkus tepung untuk membuat arepas [roti     pokok Venezuela], dua kilo pasta, beberapa bungkus chickpeadan kopi.     Kali itu, mereka tidak memberikan gula,&quot; kata Norma.
Makanan itu tidak cukup dan Norma mengatakan dia sering merasa &quot;pusing&quot;.
&quot;Hari ini saya makan roti tepung, kopi, dan telur yang diberikan     seseorang untuk sarapan saya. Untuk makan siang, saya makan kacang     polong dan nasi, dan kacang polong lagi untuk makan malam.&quot;
&quot;Sudah lama sekali sejak saya tidak makan daging, ayam, susu; saya     tidak pernah mengira saya akan kelaparan di usia tua. Bukan hanya saya     yang mengalami ini, banyak orang di lingkungan ini yang mengalami     situasi yang sama,&quot; tambahnya.
Norma mengatakan putranya tidak dapat membantunya sekarang.
&quot;Dia berusia 25 tahun, telah menikah dan memiliki dua anak. Dia     mendapatkan upah minimum di sebuah restoran, tapi pekerjaan itu berakhir     akibat pandemi. Kini, dia membuat kue bersama istrinya untuk  memenuhi    kebutuhan.&quot;

Listrik tak memadai dan air kuning
Norma bersyukur mesin cuci tua yang sudah dimilikinya bertahun-tahun masih berfungsi.
Begitu juga dengan lemari es dan TV sebagai sumber hiburannya. Namun,     dia khawatir tegangan listrik yang turun tiba-tiba dan pemadaman     listrik yang berulang akan merusak peralatannya.
&quot;Karena itulah microwave saya rusak. Sudah tidak menyala lagi sekarang dan saya tidak mungkin membeli yang baru,&quot; katanya cemas.
Tak hanya pasokan listrik yang jadi masalah.
&quot;Hampir setiap minggu, saya mengalami kesulitan air selama dua hari.      Untungnya, ketika suami saya masih hidup, dia membeli tangki plastik      yang dipasang di kamar mandi. Tapi air yang keluar berwarna kuning   dan    sangat kotor, jadi saya harus merebusnya.&quot;
Norma menghindar untuk bicara masalah politik.
Dia enggan mengatakan apakah dia mendukung mantan Presiden Chavez,      dan apakah dia akan memberikan suara dalam pemilihan parlemen bulan      Desember.
&quot;Saya tidak lagi mengharapkan sesuatu yang baik; segalanya selalu lebih buruk,&quot; ujarnya pasrah.
</content:encoded></item></channel></rss>
