<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Marak Kerumunan Massa, IPW Ingatkan Polri Antisipasi Terorisme</title><description>Neta S Pane menilai maraknya aksi kerumunan dapat memberikan peluang bagi pelaku terorisme memanfaatkan situasi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme"/><item><title>Marak Kerumunan Massa, IPW Ingatkan Polri Antisipasi Terorisme</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme</guid><pubDate>Selasa 24 November 2020 14:10 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme-dcXqaipk3O.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Neta S Pane. (Foto: Dok Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/24/337/2315202/marak-kerumunan-massa-ipw-ingatkan-polri-antisipasi-terorisme-dcXqaipk3O.JPG</image><title>Neta S Pane. (Foto: Dok Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan jajaran kepolisian, khususnya Densus 88 dan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) mewaspadai munculnya aksi terorisme di Indonesia.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane menilai maraknya aksi kerumunan dapat memberikan peluang bagi pelaku terorisme memanfaatkan situasi.
&quot;Sebab dengan maraknya aksi kerumunan massa dan meluasnya gerakan intoleransi akhir-akhir ini telah membuat kalangan radikal dan jaringan terorisme, seakan mendapat angin untuk beraksi, terutama saat menjelang akhir tahun,&quot; kata Neta saat dikonfirmasi Okezone, Selasa (24/11/2020).
Neta mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, ada simpatisan ormas yang terlibat dengan aksi terorisme. Kendati demikian Neta tak menyebut ormas yang dimaksudkan.
Dalam catatan IPW pula, pada tahun 2017 Polri telah menangkap 37 orang teroris dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah. Beberapa di antaranya sempat ditahan di Nusa Kambangan, Gunung Sindur Bogor dan LP lainnya.

&quot;Namun kini mereka sudah bebas dan tidak terlacak keberadaannya. Keterlibatan mereka dalam aksi terorisme mulai dari menyembunyikan buronan terorisme hingga melakukan aksi teror itu sendiri,&quot; ujarnya.
Baca juga: IPW Ingatkan Habib Rizieq Tak Memecah Belah Umat &amp;amp; NKRI untuk Kekuasaan
Karena itu tambah Neta, dengan meluasnya aksi-aksi kerumunan massa dan gerakan intoleransi belakangan ini, mereka kembali bermanuver dan melakukan aksi teror.
Saat ini jumlah narapidana terorisme yang tersebar di sejumlah lembaga pemasyarakat lebih dari 500 orang. Ratusan napi terorisme yang sudah bebas dan selesai menjalani hukuman dibina pemerintah melalui program deradikalisasi.&quot;Namun para mantan napi yang tidak terlacak keberadaannya memang  perlu diwaspadai agar tidak bermanuver untuk melakukan aksi teror  kembali,&quot; tambahnya.
Karena itu, Kabaintelkam Polri perlu bekerja ekstra keras mencermati  hal ini agar jajaran kepolisian tidak kecolongan. Sebab dalam kerumunan  massa akhir-akhir ini Baintelkam Polri seperti kecolongan.
Menurutnya, aksi-aksi kerumunan massa seperti dibiarkan dan tidak  terantisipasi, bahkan aksi kerumunan massa sempat mengganggu jadwal  penerbangan di Bandara Soetta dan kemacetan di berbagai tempat.
&quot;Menjelang akhir tahun ini Baintelkam Polri perlu memetakan situasi  dan kondisi yang ada sehingga situasi Kamtibmas benar benar terkendali,&quot;  ujar dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan jajaran kepolisian, khususnya Densus 88 dan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) mewaspadai munculnya aksi terorisme di Indonesia.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane menilai maraknya aksi kerumunan dapat memberikan peluang bagi pelaku terorisme memanfaatkan situasi.
&quot;Sebab dengan maraknya aksi kerumunan massa dan meluasnya gerakan intoleransi akhir-akhir ini telah membuat kalangan radikal dan jaringan terorisme, seakan mendapat angin untuk beraksi, terutama saat menjelang akhir tahun,&quot; kata Neta saat dikonfirmasi Okezone, Selasa (24/11/2020).
Neta mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, ada simpatisan ormas yang terlibat dengan aksi terorisme. Kendati demikian Neta tak menyebut ormas yang dimaksudkan.
Dalam catatan IPW pula, pada tahun 2017 Polri telah menangkap 37 orang teroris dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah. Beberapa di antaranya sempat ditahan di Nusa Kambangan, Gunung Sindur Bogor dan LP lainnya.

&quot;Namun kini mereka sudah bebas dan tidak terlacak keberadaannya. Keterlibatan mereka dalam aksi terorisme mulai dari menyembunyikan buronan terorisme hingga melakukan aksi teror itu sendiri,&quot; ujarnya.
Baca juga: IPW Ingatkan Habib Rizieq Tak Memecah Belah Umat &amp;amp; NKRI untuk Kekuasaan
Karena itu tambah Neta, dengan meluasnya aksi-aksi kerumunan massa dan gerakan intoleransi belakangan ini, mereka kembali bermanuver dan melakukan aksi teror.
Saat ini jumlah narapidana terorisme yang tersebar di sejumlah lembaga pemasyarakat lebih dari 500 orang. Ratusan napi terorisme yang sudah bebas dan selesai menjalani hukuman dibina pemerintah melalui program deradikalisasi.&quot;Namun para mantan napi yang tidak terlacak keberadaannya memang  perlu diwaspadai agar tidak bermanuver untuk melakukan aksi teror  kembali,&quot; tambahnya.
Karena itu, Kabaintelkam Polri perlu bekerja ekstra keras mencermati  hal ini agar jajaran kepolisian tidak kecolongan. Sebab dalam kerumunan  massa akhir-akhir ini Baintelkam Polri seperti kecolongan.
Menurutnya, aksi-aksi kerumunan massa seperti dibiarkan dan tidak  terantisipasi, bahkan aksi kerumunan massa sempat mengganggu jadwal  penerbangan di Bandara Soetta dan kemacetan di berbagai tempat.
&quot;Menjelang akhir tahun ini Baintelkam Polri perlu memetakan situasi  dan kondisi yang ada sehingga situasi Kamtibmas benar benar terkendali,&quot;  ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
