<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Thailand Bangkitkan Kembali Lese Majeste untuk Tuntut Demonstran  </title><description>Lese majeste melarang penghinaan apa pun terhadap monarki Thailand.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran"/><item><title>Thailand Bangkitkan Kembali Lese Majeste untuk Tuntut Demonstran  </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran</guid><pubDate>Rabu 25 November 2020 14:33 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran-B0JGCWOHkY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Demonstrasi anti-pemerintahan di Bangkok, Thailand, 21 November 2020. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/25/18/2315930/thailand-bangkitkan-kembali-lese-majeste-untuk-tuntut-demonstran-B0JGCWOHkY.jpg</image><title>Demonstrasi anti-pemerintahan di Bangkok, Thailand, 21 November 2020. (Foto: Reuters)</title></images><description>BANGKOK &amp;ndash; Para aktivis yang ikut serta dalam demonstrasi anti-monarki di Thailand telah dipanggil untuk menghadapi dakwaan berdasarkan l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute;, yang mengkriminalisasi penghinaan terhadap kerajaan. Para aktivis terancam hukuman hingga 15 tahun penjara untuk setiap dakwaan terkait undang-undang tersebut.
Ini adalah pertama kalinya l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; digunakan dalam lebih dari dua tahun, yang memicu kritik terhadap Pemerintah Thailand.
BACA JUGA: Demonstran Thailand Tuntut Perdana Menteri Mengundurkan Diri dalam 3 Hari
Thailand telah diguncang oleh aksi protes yang dipimpin mahasiswa selama berbulan-bulan, dengan para demonstran menuntut perubahan pada sistem monarki. Para pengunjuk rasa juga menyerukan reformasi konstitusi dan pencopotan perdana menteri negara itu.
Pada Selasa (24/11/2020), Parit Chiwarak, seorang aktivis mahasiswa terkemuka, mengatakan bahwa dia telah menerima panggilan untuk l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute;, di antara dakwaan lainnya. Tetapi  pria berusia 22 tahun itu mengatakan bahwa dia &quot;tidak takut&quot;.
&quot;Langit-langit telah rusak. Tidak ada yang bisa menahan kita lagi,&quot; ungkapnya sebagaimana dilansir BBC.
BACA JUGA: Demonstran Thailand Lempari Markas Polisi dengan Cat
Setidaknya enam pemimpin protes utama lainnya, termasuk pengacara hak asasi manusia Anon Nampa dan Panusaya Sithijirawattanakul, diperkirakan akan menghadapi tuduhan yang sama.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8yNC8xMC8xMjUwNDMvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Hukum l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; Thailand, yang melarang penghinaan apa pun terhadap monarki, termasuk yang paling ketat di dunia. Pekan lalu, setidaknya 41 orang terluka setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di ibu kota Thailand, Bangkok.

Para pengunjuk rasa berusaha mencapai parlemen, di mana anggota  parlemen memperdebatkan kemungkinan perubahan pada konstitusi.  Demonstran melemparkan bom asap dan kantong cat ke arah polisi, yang  membalas dengan meriam air dan gas air mata.
Definisi dari apa yang merupakan penghinaan terhadap monarki di  Thailand tidak jelas dan kelompok hak asasi manusia mengatakan hukum  l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; sering digunakan sebagai alat politik untuk mengekang  kebebasan berbicara dan menolak seruan oposisi untuk reformasi dan  perubahan.
Para pendukung monarki telah turun ke jalan menentang demonstrasi  yang dipimpin mahasiswa - dan mengatakan para pengunjuk rasa ingin  penghapusan monarki, sesuatu yang mereka tolak.
(Bernadus Melkianus Danomira)</description><content:encoded>BANGKOK &amp;ndash; Para aktivis yang ikut serta dalam demonstrasi anti-monarki di Thailand telah dipanggil untuk menghadapi dakwaan berdasarkan l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute;, yang mengkriminalisasi penghinaan terhadap kerajaan. Para aktivis terancam hukuman hingga 15 tahun penjara untuk setiap dakwaan terkait undang-undang tersebut.
Ini adalah pertama kalinya l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; digunakan dalam lebih dari dua tahun, yang memicu kritik terhadap Pemerintah Thailand.
BACA JUGA: Demonstran Thailand Tuntut Perdana Menteri Mengundurkan Diri dalam 3 Hari
Thailand telah diguncang oleh aksi protes yang dipimpin mahasiswa selama berbulan-bulan, dengan para demonstran menuntut perubahan pada sistem monarki. Para pengunjuk rasa juga menyerukan reformasi konstitusi dan pencopotan perdana menteri negara itu.
Pada Selasa (24/11/2020), Parit Chiwarak, seorang aktivis mahasiswa terkemuka, mengatakan bahwa dia telah menerima panggilan untuk l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute;, di antara dakwaan lainnya. Tetapi  pria berusia 22 tahun itu mengatakan bahwa dia &quot;tidak takut&quot;.
&quot;Langit-langit telah rusak. Tidak ada yang bisa menahan kita lagi,&quot; ungkapnya sebagaimana dilansir BBC.
BACA JUGA: Demonstran Thailand Lempari Markas Polisi dengan Cat
Setidaknya enam pemimpin protes utama lainnya, termasuk pengacara hak asasi manusia Anon Nampa dan Panusaya Sithijirawattanakul, diperkirakan akan menghadapi tuduhan yang sama.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8yNC8xMC8xMjUwNDMvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Hukum l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; Thailand, yang melarang penghinaan apa pun terhadap monarki, termasuk yang paling ketat di dunia. Pekan lalu, setidaknya 41 orang terluka setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di ibu kota Thailand, Bangkok.

Para pengunjuk rasa berusaha mencapai parlemen, di mana anggota  parlemen memperdebatkan kemungkinan perubahan pada konstitusi.  Demonstran melemparkan bom asap dan kantong cat ke arah polisi, yang  membalas dengan meriam air dan gas air mata.
Definisi dari apa yang merupakan penghinaan terhadap monarki di  Thailand tidak jelas dan kelompok hak asasi manusia mengatakan hukum  l&amp;egrave;se-majest&amp;eacute; sering digunakan sebagai alat politik untuk mengekang  kebebasan berbicara dan menolak seruan oposisi untuk reformasi dan  perubahan.
Para pendukung monarki telah turun ke jalan menentang demonstrasi  yang dipimpin mahasiswa - dan mengatakan para pengunjuk rasa ingin  penghapusan monarki, sesuatu yang mereka tolak.
(Bernadus Melkianus Danomira)</content:encoded></item></channel></rss>
