<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pentingnya Sinergi Komunitas Agama dan Ormas Dalam Tangani Covid-19</title><description>Sejak awal Satgas berusaha melakukan komunikasi publik yang spesifik terhadap karakteristik masyarakat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19"/><item><title>Pentingnya Sinergi Komunitas Agama dan Ormas Dalam Tangani Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19</guid><pubDate>Rabu 25 November 2020 05:40 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19-MBvfRW3qd9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/25/337/2315598/pentingnya-sinergi-komunitas-agama-dan-ormas-dalam-tangani-covid-19-MBvfRW3qd9.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Sinergi antara komunitas agama maupun organisasi masyarakat (ormas) adalah prinsip utama bagi pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19. Peran sertanya dibutuhkan bagi Satgas Penanganan Covid-19 dalam melakukan komunikasi publik.
&quot;Sejak awal Satgas berusaha melakukan komunikasi publik yang spesifik terhadap karakteristik masyarakat. Akan tetapi hal ini tidak akan mudah jika prosesnya tidak melibatkan gate keeper komunitas tersebut,&quot; kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (24/11/2020).
Oleh karena itu, Satgas menyampaikan apresiasi seting-tingginya kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serta beberapa ormas lainnya yang membantu meringankan beban pemerintah dengan menyampaikan satu narasi.
&quot;Yaitu tekan penularan Covid-19 dengan protokol kesehatan, yang disesuaikan dengan rincian kegiatannya masing-masing,&quot; ujarnya.
Satgas Covid-19 berharap semakin banyak komunitas di masyarakat yang bisa tergerak untuk bekerjasama dengan pemerintah, untuk sama-sama membangun kedisiplinan masyarakat yang dapat dimulai dari lingkungannya masing-masing.
&quot;Kami tekankan, Satgas Covid-19 terbuka dengan semua kerjasama, khususnya terkait untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan,&quot; ucapnya.
Baca Juga :&amp;nbsp;Satgas Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 di Libur Akhir Tahun
Selain itu, secara rutin Satgas Covid-19 pusat berkomunikasi dengan satgas Covid-19 di setiap daerah dan selalu menekankan prinsip non diskriminatif, sebagaimana tertuang dalam UU  Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam melakukan penanganan pandemi Covid-19
Satgas daerah harus berprinsip teguh untuk melakukan upaya pengendalian tanpa pandang bulu, termasuk saat melakukan penjaringan kasus dengan melakukan testing dan tracing terhadap siapapun yang mengikuti kegiatan kerumunan.
&quot;Saat ini beberapa daerah sedang melakukan penjaringan, dan kami masih memantau perkembangannya. Bukti konkrit kami membantu memenuhi ketersediaan rapid test swab antigen,&quot; katanya.Selain itu, diketahui pula peserta kerumunan-kerumunan diikuti masyarakat yang berusia muda. Bahwa kebanyakan penderita Covid-19 tidak bergejala, adalah usia muda dan memiliki potensi menularkan kepada orang disekitarnya termasuk di rumahnya.

Untuk itu, Wiku mengajak para orang tua, pihak RT/RW setempat untuk dapat menyampaikan pesan terhadap kaum muda yang berpartisipasi dalam kegiatan kerumunan agar mau mengikuti tes pemeriksaan.

&quot;Ingat, bahwa apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas dari Covid-19. Karena adanya kasus positif yang tidak menampakkan gejala apapun,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Sinergi antara komunitas agama maupun organisasi masyarakat (ormas) adalah prinsip utama bagi pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19. Peran sertanya dibutuhkan bagi Satgas Penanganan Covid-19 dalam melakukan komunikasi publik.
&quot;Sejak awal Satgas berusaha melakukan komunikasi publik yang spesifik terhadap karakteristik masyarakat. Akan tetapi hal ini tidak akan mudah jika prosesnya tidak melibatkan gate keeper komunitas tersebut,&quot; kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (24/11/2020).
Oleh karena itu, Satgas menyampaikan apresiasi seting-tingginya kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serta beberapa ormas lainnya yang membantu meringankan beban pemerintah dengan menyampaikan satu narasi.
&quot;Yaitu tekan penularan Covid-19 dengan protokol kesehatan, yang disesuaikan dengan rincian kegiatannya masing-masing,&quot; ujarnya.
Satgas Covid-19 berharap semakin banyak komunitas di masyarakat yang bisa tergerak untuk bekerjasama dengan pemerintah, untuk sama-sama membangun kedisiplinan masyarakat yang dapat dimulai dari lingkungannya masing-masing.
&quot;Kami tekankan, Satgas Covid-19 terbuka dengan semua kerjasama, khususnya terkait untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan,&quot; ucapnya.
Baca Juga :&amp;nbsp;Satgas Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 di Libur Akhir Tahun
Selain itu, secara rutin Satgas Covid-19 pusat berkomunikasi dengan satgas Covid-19 di setiap daerah dan selalu menekankan prinsip non diskriminatif, sebagaimana tertuang dalam UU  Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam melakukan penanganan pandemi Covid-19
Satgas daerah harus berprinsip teguh untuk melakukan upaya pengendalian tanpa pandang bulu, termasuk saat melakukan penjaringan kasus dengan melakukan testing dan tracing terhadap siapapun yang mengikuti kegiatan kerumunan.
&quot;Saat ini beberapa daerah sedang melakukan penjaringan, dan kami masih memantau perkembangannya. Bukti konkrit kami membantu memenuhi ketersediaan rapid test swab antigen,&quot; katanya.Selain itu, diketahui pula peserta kerumunan-kerumunan diikuti masyarakat yang berusia muda. Bahwa kebanyakan penderita Covid-19 tidak bergejala, adalah usia muda dan memiliki potensi menularkan kepada orang disekitarnya termasuk di rumahnya.

Untuk itu, Wiku mengajak para orang tua, pihak RT/RW setempat untuk dapat menyampaikan pesan terhadap kaum muda yang berpartisipasi dalam kegiatan kerumunan agar mau mengikuti tes pemeriksaan.

&quot;Ingat, bahwa apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas dari Covid-19. Karena adanya kasus positif yang tidak menampakkan gejala apapun,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
