<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Petani Kakao di Aceh Keluhkan Harga yang Kian Menurun   </title><description>Wabah corona tidak hanya membunuh manusia, tetapi juga menghancurkan perekonomian dari kalangan atas hingga kalangan kecil.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun"/><item><title>Petani Kakao di Aceh Keluhkan Harga yang Kian Menurun   </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun</guid><pubDate>Rabu 02 Desember 2020 13:08 WIB</pubDate><dc:creator>Jamal Pangwa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun-TtnSqTXaaq.png" expression="full" type="image/jpeg">Harga kakao menurun, petani mengeluh. (Foto: Jamal Pangwa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/02/340/2320173/petani-kakao-di-aceh-keluhkan-harga-yang-kian-menurun-TtnSqTXaaq.png</image><title>Harga kakao menurun, petani mengeluh. (Foto: Jamal Pangwa)</title></images><description>PIDIE JAYA - Wabah  corona tidak hanya  membunuh manusia, tetapi juga menghancurkan perekonomian dari kalangan atas hingga kalangan kecil. Sejumlah petani kakao di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh merasakan dampaknya. Para petani mengeluh akibat harga jual biji kakao terus menurun selama  pandemi Covid-19.
(Baca juga: Usai Dikepung Massa, Rumah Orangtua Mahfud MD Dijaga Banser)&amp;nbsp;
Abdulrahman, salah satu petani di Desa Tunong, Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh mengatakan, dampak pandemi sangat terasa bagi perani seperti dirinya. Karena harga kakao terus terus menurun.
&amp;ldquo;Perawatan tanaman kakao lebih banyak mengeluarkan modalnya ketimbang pemasukan dari hasil panen selama ini,&amp;rdquo; tutur  Abdulrahman, Rabu (2/12/2020).
Abdulrahman mengaku, dirinya memiliki sekitar satu hektar lebih tanaman kakao dengan jumlah batang sekitar dua ratus lebih. Biaya perawatannya, kata dia tidak sebanding dengan pendapatan.
(Baca juga: Habib Rizieq: Penegakan Hukum Sudah Darurat, Penuh Rekayasa &amp;amp; Tumpul ke Buzzer)
&amp;ldquo;Selama pandemi harga kakao kering per kilo dijual ke agen pengumpul hanya Rp27 ribu. Sedangkan biji basah dijual  Rp19 ribu per kilogramnya,&amp;rdquo; tambah petani kakao ini.
Sebelum pandemi, lanjutnya harga biji kakao stabil dan para petani bisa menikmati hasilnya. &amp;ldquo;Dibeli oleh agen pengumpul dari harga Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram,&amp;rdquo; pungkas Abdulrahman seraya berharap pemerintah bisa  menstabilkan harga biji kakao






</description><content:encoded>PIDIE JAYA - Wabah  corona tidak hanya  membunuh manusia, tetapi juga menghancurkan perekonomian dari kalangan atas hingga kalangan kecil. Sejumlah petani kakao di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh merasakan dampaknya. Para petani mengeluh akibat harga jual biji kakao terus menurun selama  pandemi Covid-19.
(Baca juga: Usai Dikepung Massa, Rumah Orangtua Mahfud MD Dijaga Banser)&amp;nbsp;
Abdulrahman, salah satu petani di Desa Tunong, Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh mengatakan, dampak pandemi sangat terasa bagi perani seperti dirinya. Karena harga kakao terus terus menurun.
&amp;ldquo;Perawatan tanaman kakao lebih banyak mengeluarkan modalnya ketimbang pemasukan dari hasil panen selama ini,&amp;rdquo; tutur  Abdulrahman, Rabu (2/12/2020).
Abdulrahman mengaku, dirinya memiliki sekitar satu hektar lebih tanaman kakao dengan jumlah batang sekitar dua ratus lebih. Biaya perawatannya, kata dia tidak sebanding dengan pendapatan.
(Baca juga: Habib Rizieq: Penegakan Hukum Sudah Darurat, Penuh Rekayasa &amp;amp; Tumpul ke Buzzer)
&amp;ldquo;Selama pandemi harga kakao kering per kilo dijual ke agen pengumpul hanya Rp27 ribu. Sedangkan biji basah dijual  Rp19 ribu per kilogramnya,&amp;rdquo; tambah petani kakao ini.
Sebelum pandemi, lanjutnya harga biji kakao stabil dan para petani bisa menikmati hasilnya. &amp;ldquo;Dibeli oleh agen pengumpul dari harga Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram,&amp;rdquo; pungkas Abdulrahman seraya berharap pemerintah bisa  menstabilkan harga biji kakao






</content:encoded></item></channel></rss>
