<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Aneh Yukio Mishima, Novelis Terkenal Jepang yang Bunuh Diri dengan Seppuku </title><description>Yukio Mishima adalah salah satu sastrawan paling terkenal dari Jepang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/08/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/08/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku"/><item><title>Kisah Aneh Yukio Mishima, Novelis Terkenal Jepang yang Bunuh Diri dengan Seppuku </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/08/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/08/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku</guid><pubDate>Selasa 08 Desember 2020 05:30 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/07/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku-VMmewxges0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Yukio Mishima. (Foto: Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/07/18/2323331/kisah-aneh-yukio-mishima-novelis-terkenal-jepang-yang-bunuh-diri-dengan-seppuku-VMmewxges0.jpg</image><title>Yukio Mishima. (Foto: Getty Images)</title></images><description>BERDIRI di balkon seperti di atas panggung, sosok kecil itu menarik perhatian pasukan yang berkumpul di bawah. Sosok tersebut adalah Yukio Mishima, yang lahir dengan nama Kimitake Hiraoka.
Kala itu, ia adalah novelis yang paling terkenal di Jepang. Pada 25 November 1970, dia pergi ke pangkalan militer di Tokyo, menculik komandannya, dan memintanya mengumpulkan garnisun. Kemudian dia mencoba untuk memulai kudeta.
Mishima mencerca negara dan konstitusi yang didukung Amerika Serikat (AS), mencaci-maki para prajurit karena kepatuhan mereka. Dia menantang para prajurit untuk mengembalikan Kaisar pada posisi sebelum perang sebagai dewa dan pemimpin nasional.
Penonton pada awalnya diam dengan sopan, atau hanya tertegun dalam keheningan, tapi kemudian menghujaninya dengan ejekan.
Mishima mundur kembali ke dalam dan berkata: &quot;Saya rasa mereka tidak mendengarkan.&quot;
Kemudian, dia berlutut dan bunuh diri dengan seppuku, ritual bunuh diri para Samurai.
Kematian Mishima mengejutkan publik Jepang. Dia adalah seorang selebriti sastra, macho, dan provokatif tetapi juga memiliki karakter yang agak konyol. Mungkin mirip dengan Norman Mailer di AS, atau Michel Houellebecq di Prancis saat ini.
Insiden itu terjadi pada pagi hari saat pembukaan sesi ke-64 Diet, parlemen Jepang. Kaisar hadir dalam acara tersebut.
Pidato perdana menteri tentang agenda pemerintah untuk tahun yang akan datang menjadi tak diperhatikan.
Sudah tidak ada lagi yang mati karena seppuku sejak hari-hari terakhir Perang Dunia Kedua.
&quot;Ada yang mengira dia sudah gila, selain bahwa ini adalah upaya terakhir dari serangkaian tindakan eksibisionistik, ekspresi keinginan membuat kejutan, yang selama ini membuatnya terkenal,&quot; tulis filsuf Jepang Hide Ishiguro dalam esai tahun 1975 untuk The New York Review.
&quot;Beberapa orang berhaluan kanan melihat kematiannya sebagai tindakan patriotik untuk memprotes kondisi Jepang saat ini.&quot;
&quot;Yang lain percaya bahwa itu adalah lelucon menyedihkan dan mengerikan yang dibuat oleh seorang pria berbakat, yang telah menjadi seorang yang sangat buruk. Dia tidak tahan hidup sampai usia paruh baya dan menjadi biasa-biasa saja,&quot; kata Hide Ishiguro.
Mishima pernah memberi tahu istrinya bahwa &quot;Meskipun sekarang saya  tidak dipahami, tidak apa-apa, karena saya akan dipahami oleh Jepang  dalam waktu 50 atau 100 tahun.&quot;
Pada 1949, Mishima hadir pada kancah sastra Jepang dengan Pengakuan  Sebuah Topeng, semacam otobiografi terselubung. Novel ini membuatnya  terkenal di awal usia dua puluhan.
Novel itu berkisah tentang seorang anak laki-laki lembut dan sensitif  yang &quot;ditawan&quot; oleh neneknya. Neneknya sakit dan anak itu dipaksa  merawatnya.
Alih-alih bermain di luar dengan anak laki-laki lain, dia dikurung  bersama neneknya selama bertahun-tahun dalam kegelapan kamar tidur yang  berbau tidak sedap. Pikiran si laki-laki berkembang di ruangan itu.  Fantasi dan kenyataan tidak pernah terpisahkan; fantasi bagaikan saudara  kembar yang lebih kuat, tumbuh dominan.
Pada saat nenek meninggal dan anak laki-laki itu terbebas, dia  menjadi punya ketertarikan pada permainan peran, dengan kehidupan  sebagai teaternya. Dia melapiskan fantasi pada kehidupan di sekitarnya.
Pria dan anak laki-laki, terutama yang berotot dan tegas, diberi  peran dalam lamunannya yang gamblang, dan sering kali penuh kekerasan.
Sementara itu, ia terobsesi dengan kesesatannya sendiri dan tampil  normal. Dia belajar bagaimana memainkan perannya sendiri: &quot;Penyamaran  yang kikuk telah dimulai.&quot;

Keindahan dan kehancuran
Pengakuan Sebuah Topeng berlanjut hingga akhir masa remaja anak  laki-laki tersebut, merinci evolusi yang terjalin dari kehidupan  internal dan eksternalnya, serta kebangkitan homoseksualnya.
Dalam banyak hal, ini adalah kunci untuk memahami kehidupan dan karya Mishima di kemudian hari.
Buku ini mengungkapkan akar dari sensibilitas estetika Mishima, yang  sangat terkait dengan seksualitasnya, yang terbukti menjadi obsesi yang  mengarahkan Mishima.
Narator menulis bahwa anak laki-laki itu &quot;secara sensual menerima  kredo kematian yang populer selama perang&quot;. Masa perang, ketika wajib  militer dan pengorbanan diri tampaknya pasti dan akan segera terjadi.
Mishima memang terpaku pada gagasan bahwa kecantikan itu paling indah karena fana, dan hanya selangkah dari kehancuran.
Kredo ini berbaur dengan kekaguman pada wujud laki-laki, wujud yang tidak dimiliki oleh narator yang lemah.
Gabungan keduanya menghasilkan fantasi dalam wujud pejuang pemberani   dan kematian berdarah. Dunia pribadi &quot;Malam dan Darah dan Kematian&quot; ini   dipenuhi dengan &quot;kekejaman yang paling rapi dan kejahatan yang paling   indah&quot;.
Tapi Pengakuan Sebuah Topeng juga menunjukkan pertukaran antara   penampilan dan kenyataan yang menjadi ciri semua tindakan dan tulisan   Mishima.
Penulis seperti terkunci dalam perjuangan gelap dengan dirinya   sendiri, tapi membuka kemungkinan itu hanya sebuah cara yang ahli untuk   memanipulasi media dan publisitas.

Pada 25 November 1970, Mishima berpidato di hadapan tentara yang berkumpul sebelum melakukan bunuh diri. (Foto: Getty Images).
Mishima memiliki keduanya, membuat skandal di masyarakat sambil mengesankan bantahan.
Rumusnya berhasil. Mishima menjadi sosok kontroversial dalam sastra   Jepang pascaperang, dan karyanya dibaca oleh banyak orang Jepang.
Meskipun dekaden, dia adalah penulis yang disiplin dan produktif,   menghasilkan banyak fiksi populer, sastra tingkat tinggi dan lusinan   drama Noh.
Dia berusaha masuk dalam masyarakat kelas atas Tokyo dengan fokus   yang sama, menumbuhkan citra pesolek. Wajahnya, dengan tulang kasar dan   mata lembut, difoto dengan baik.
Dia berteman dengan biro asing dan korespondennya, dan Mishima   melakukan apa pun yang dia bisa untuk memperluas ketenarannya di seluruh   Pasifik.
&quot;Jika Akio Morita dari Sony adalah orang Jepang paling terkenal di   luar negeri,&quot; tulis John Nathan, seorang penerjemah yang kemudian   menulis biografi Mishima, &quot;Mishima adalah yang kedua paling terkenal.&quot;
Novel Mishima selama tahun 50-an sebagian besar memiliki alur otobiografi sugestif yang sama dengan Pengakuan Sebuah Topeng.
Dalam Warna-Warna Terlarang (1951), seorang penulis tua memanipulasi    seorang pria gay muda yang bertunangan demi kenyamanan dan keamanan    finansial.
Dalam Kuil dan Paviliun Emas (1956), seorang pembantu kuil terpesona    oleh keindahan kuil dan yakin bahwa kuil itu akan dihancurkan oleh    serangan bom. Ketika kuil itu selamat dari perang, dia malah    menghancurkannya sendiri.
Dan di Rumah Kyoko (1959), seorang petinju mengambil peran dalam    politik sayap kanan, sementara seorang aktor berada dalam hubungan    seksual sado-masokis yang berakhir dengan bunuh diri ganda.
Materi Mishima adalah dirinya sendiri, tetapi dalam gaya, setidaknya,    ia dianggap sebagai anak didik pemenang Nobel Yasunari Kawabata, yang    melihat fungsi sastra sebagai seni, bukan alat propaganda.
Sebagian besar tulisan Mishima tampaknya terikat pada keyakinan ini    secara mutlak. Gayanya formal dan hampir tradisional dan berfokus pada    deskripsi yang sangat sensual di atas segalanya.
Tubuh, pakaian, dan aroma, penggambaran selektif ini hampir seperti sebuah fetish.
&quot;Sentuhan mengagetkan nilon tipis dan kain sutera tiruan sofa itu    memberi perasaan gelisah dalam ruangan&amp;hellip; Desisan selempang yang terlepas,    seperti peringatan seekor ular, diikuti dengan desiran lembut saat    kimono jatuh ke lantai.&quot; (Dari Pelaut yang Ternoda, 1963)
Lalu ada yang berubah, dan pada tahun 60-an fase politik dalam     kehidupan Mishima bisa dikatakan dimulai. Setelah menggambarkan dirinya     sebagai estetika murni, romantis dekaden, dalam 10 tahun terakhir     hidupnya Mishima mengalami transformasi.
Saat itulah dia menjadi binaraga, berolahraga di gym selama dua jam sehari untuk menambah otot pada tubuhnya yang lemah.
Dia juga mulai menjemur dirinya di bawah sinar matahari, dan     mengumpulkan sekelompok mahasiswa pria sayap kanan yang dia pimpin     latihan rutin.
Tujuan dari &quot;Shield Society&quot; ini adalah untuk membantu tentara jika terjadi revolusi komunis.
Di balik transformasi ini ada alasan yang terakumulasi dalam sebuah     esai misterius yang diterbitkan pada tahun 1968, dua tahun sebelum     kematiannya.
Menilik ke belakang, dia melihat bahwa dia telah terkorosi dan     dilemahkan oleh khayalan dan kata-kata yang berlebihan, dan kekurangan     materialitas dan tindakan.
&quot;Pada orang biasa, saya membayangkan, tubuh mendahului bahasa,&quot; tulis Mishima.
&quot;Dalam kasus saya, kata-kata datang pertama; kemudian datanglah     daging, meskipun terlambat, dengan enggan dan sudah berselimut konsep.     Itu sudah pasti, disia-siakan oleh kata-kata.&quot;
Dia berusaha untuk menyeimbangkan dirinya dan menghidupkan kembali konsep samurai lama, &quot;harmoni pena dan pedang.&quot;
Dia ingin menjadi, atau dilihat sebagai &quot;orang yang bertindak&quot;.

Ledakan kreativitas terakhir
Mishima sampai pada usia empat puluhan dan sangat sadar akan usianya.
&quot;Yang indah harus mati muda, dan semua orang harus hidup selama     mungkin,&quot; kata dia dalam tulisan tentang kematian dini aktor James Dean.
&quot;Sayangnya, 95% orang menganggapnya terbalik. Mereka yang indah     bertahan hidup hingga usia delapan puluhan dan orang-orang bodoh yang     menyebalkan meninggal pada usia 21 tahun.&quot;
Mishima merasa waktunya telah berlalu dan mulai merencanakan tindakan terakhirnya.
Setiap orang, pada titik tertentu, melihat hidup sebagai panggung.      Tetapi hanya sedikit yang hidup dan membuat hidup mereka sebagai      koreografi teater, dan lebih jarang lagi yang menggunakan seppuku untuk      menutup pertunjukan mereka.
Bagi Mishima, itu adalah puncak dari fantasi seumur hidup.      Unsur-unsurnya telah ada sejak awal, dalam Pengakuan Sebuah Topeng:      tentara, kematian, dan darah.

Foto: Getty Images.
Transformasi diri menjadi seorang pejuang telah membuatnya menjadi      objek keinginannya: sesuatu yang indah, sesuatu yang layak untuk      dihancurkan. Dan fiksasi pada seppuku telah tumbuh di sana.
Mishima bahkan menulis dan membintangi sebuah film pendek,      Patriotisme, di mana ia memerankannya secara detail. Mungkin tindakan      terakhir Mishima adalah protes politik juga, kematian sebagai seni.
Pada pagi hari di hari terakhirnya, Mishima menyerahkan buku      tetraloginya, Lautan Kesuburan, kepada penerbitnya. Keempat buku ini,      yang ditulis dalam ledakan kreativitas yang luar biasa, adalah sesuatu      yang baru.
Dimulai pada 1912, tak lama setelah Perang Rusia-Jepang, dan       berakhir pada 1975, tetralogi itu mencatat periode perubahan yang luar  biasa:      dari kebangkitan Kekaisaran Jepang, melalui kehancuran di  Perang   Dunia    Kedua, dan munculnya Jepang yang kapitalis dan  konsumeris.
Semuanya disatukan oleh satu karakter, Honda, mungkin pengganti       Mishima, dan reinkarnasi berulang dari teman masa kecilnya, jiwa abadi       yang dikelilingi oleh perubahan dan penurunan.
Dibandingkan  dengan karya-karya awal Mishima, Lautan Kesuburan      mengandung  filosofi yang sangat padat. Dan, setelah yang kedua,      tulisannya  terasa terburu-buru, menjadi semakin tipis.
Mishima menulis sebagian besar jilid terakhir, Membusuknya Sang       Malaikat, selama liburan keluarga di tepi pantai pada Agustus 1970.
Dalam sepucuk surat tertanggal 18 November 1970, Mishima menulis       kepada mentornya, Fumio Kiyomizu. &quot;Bagiku, menyelesaikan (buku) ini       tidak lebih dari akhir dunia.&quot;
Baris terakhir Membusuknya Sang Malaikat sangat tenang.
&quot;Taman ini cerah dan tenang, tanpa fitur yang mencolok. Seperti       rosario yang digosokkan di antara kedua tangan, suara jangkrik       terdengar.
Tidak ada suara lain. Taman itu kosong. Honda berpikir, dia telah       datang ke tempat yang tidak memiliki kenangan, tidak ada apa-apa.
Matahari siang musim panas mengalir di atas taman yang tenang.&quot;
</description><content:encoded>BERDIRI di balkon seperti di atas panggung, sosok kecil itu menarik perhatian pasukan yang berkumpul di bawah. Sosok tersebut adalah Yukio Mishima, yang lahir dengan nama Kimitake Hiraoka.
Kala itu, ia adalah novelis yang paling terkenal di Jepang. Pada 25 November 1970, dia pergi ke pangkalan militer di Tokyo, menculik komandannya, dan memintanya mengumpulkan garnisun. Kemudian dia mencoba untuk memulai kudeta.
Mishima mencerca negara dan konstitusi yang didukung Amerika Serikat (AS), mencaci-maki para prajurit karena kepatuhan mereka. Dia menantang para prajurit untuk mengembalikan Kaisar pada posisi sebelum perang sebagai dewa dan pemimpin nasional.
Penonton pada awalnya diam dengan sopan, atau hanya tertegun dalam keheningan, tapi kemudian menghujaninya dengan ejekan.
Mishima mundur kembali ke dalam dan berkata: &quot;Saya rasa mereka tidak mendengarkan.&quot;
Kemudian, dia berlutut dan bunuh diri dengan seppuku, ritual bunuh diri para Samurai.
Kematian Mishima mengejutkan publik Jepang. Dia adalah seorang selebriti sastra, macho, dan provokatif tetapi juga memiliki karakter yang agak konyol. Mungkin mirip dengan Norman Mailer di AS, atau Michel Houellebecq di Prancis saat ini.
Insiden itu terjadi pada pagi hari saat pembukaan sesi ke-64 Diet, parlemen Jepang. Kaisar hadir dalam acara tersebut.
Pidato perdana menteri tentang agenda pemerintah untuk tahun yang akan datang menjadi tak diperhatikan.
Sudah tidak ada lagi yang mati karena seppuku sejak hari-hari terakhir Perang Dunia Kedua.
&quot;Ada yang mengira dia sudah gila, selain bahwa ini adalah upaya terakhir dari serangkaian tindakan eksibisionistik, ekspresi keinginan membuat kejutan, yang selama ini membuatnya terkenal,&quot; tulis filsuf Jepang Hide Ishiguro dalam esai tahun 1975 untuk The New York Review.
&quot;Beberapa orang berhaluan kanan melihat kematiannya sebagai tindakan patriotik untuk memprotes kondisi Jepang saat ini.&quot;
&quot;Yang lain percaya bahwa itu adalah lelucon menyedihkan dan mengerikan yang dibuat oleh seorang pria berbakat, yang telah menjadi seorang yang sangat buruk. Dia tidak tahan hidup sampai usia paruh baya dan menjadi biasa-biasa saja,&quot; kata Hide Ishiguro.
Mishima pernah memberi tahu istrinya bahwa &quot;Meskipun sekarang saya  tidak dipahami, tidak apa-apa, karena saya akan dipahami oleh Jepang  dalam waktu 50 atau 100 tahun.&quot;
Pada 1949, Mishima hadir pada kancah sastra Jepang dengan Pengakuan  Sebuah Topeng, semacam otobiografi terselubung. Novel ini membuatnya  terkenal di awal usia dua puluhan.
Novel itu berkisah tentang seorang anak laki-laki lembut dan sensitif  yang &quot;ditawan&quot; oleh neneknya. Neneknya sakit dan anak itu dipaksa  merawatnya.
Alih-alih bermain di luar dengan anak laki-laki lain, dia dikurung  bersama neneknya selama bertahun-tahun dalam kegelapan kamar tidur yang  berbau tidak sedap. Pikiran si laki-laki berkembang di ruangan itu.  Fantasi dan kenyataan tidak pernah terpisahkan; fantasi bagaikan saudara  kembar yang lebih kuat, tumbuh dominan.
Pada saat nenek meninggal dan anak laki-laki itu terbebas, dia  menjadi punya ketertarikan pada permainan peran, dengan kehidupan  sebagai teaternya. Dia melapiskan fantasi pada kehidupan di sekitarnya.
Pria dan anak laki-laki, terutama yang berotot dan tegas, diberi  peran dalam lamunannya yang gamblang, dan sering kali penuh kekerasan.
Sementara itu, ia terobsesi dengan kesesatannya sendiri dan tampil  normal. Dia belajar bagaimana memainkan perannya sendiri: &quot;Penyamaran  yang kikuk telah dimulai.&quot;

Keindahan dan kehancuran
Pengakuan Sebuah Topeng berlanjut hingga akhir masa remaja anak  laki-laki tersebut, merinci evolusi yang terjalin dari kehidupan  internal dan eksternalnya, serta kebangkitan homoseksualnya.
Dalam banyak hal, ini adalah kunci untuk memahami kehidupan dan karya Mishima di kemudian hari.
Buku ini mengungkapkan akar dari sensibilitas estetika Mishima, yang  sangat terkait dengan seksualitasnya, yang terbukti menjadi obsesi yang  mengarahkan Mishima.
Narator menulis bahwa anak laki-laki itu &quot;secara sensual menerima  kredo kematian yang populer selama perang&quot;. Masa perang, ketika wajib  militer dan pengorbanan diri tampaknya pasti dan akan segera terjadi.
Mishima memang terpaku pada gagasan bahwa kecantikan itu paling indah karena fana, dan hanya selangkah dari kehancuran.
Kredo ini berbaur dengan kekaguman pada wujud laki-laki, wujud yang tidak dimiliki oleh narator yang lemah.
Gabungan keduanya menghasilkan fantasi dalam wujud pejuang pemberani   dan kematian berdarah. Dunia pribadi &quot;Malam dan Darah dan Kematian&quot; ini   dipenuhi dengan &quot;kekejaman yang paling rapi dan kejahatan yang paling   indah&quot;.
Tapi Pengakuan Sebuah Topeng juga menunjukkan pertukaran antara   penampilan dan kenyataan yang menjadi ciri semua tindakan dan tulisan   Mishima.
Penulis seperti terkunci dalam perjuangan gelap dengan dirinya   sendiri, tapi membuka kemungkinan itu hanya sebuah cara yang ahli untuk   memanipulasi media dan publisitas.

Pada 25 November 1970, Mishima berpidato di hadapan tentara yang berkumpul sebelum melakukan bunuh diri. (Foto: Getty Images).
Mishima memiliki keduanya, membuat skandal di masyarakat sambil mengesankan bantahan.
Rumusnya berhasil. Mishima menjadi sosok kontroversial dalam sastra   Jepang pascaperang, dan karyanya dibaca oleh banyak orang Jepang.
Meskipun dekaden, dia adalah penulis yang disiplin dan produktif,   menghasilkan banyak fiksi populer, sastra tingkat tinggi dan lusinan   drama Noh.
Dia berusaha masuk dalam masyarakat kelas atas Tokyo dengan fokus   yang sama, menumbuhkan citra pesolek. Wajahnya, dengan tulang kasar dan   mata lembut, difoto dengan baik.
Dia berteman dengan biro asing dan korespondennya, dan Mishima   melakukan apa pun yang dia bisa untuk memperluas ketenarannya di seluruh   Pasifik.
&quot;Jika Akio Morita dari Sony adalah orang Jepang paling terkenal di   luar negeri,&quot; tulis John Nathan, seorang penerjemah yang kemudian   menulis biografi Mishima, &quot;Mishima adalah yang kedua paling terkenal.&quot;
Novel Mishima selama tahun 50-an sebagian besar memiliki alur otobiografi sugestif yang sama dengan Pengakuan Sebuah Topeng.
Dalam Warna-Warna Terlarang (1951), seorang penulis tua memanipulasi    seorang pria gay muda yang bertunangan demi kenyamanan dan keamanan    finansial.
Dalam Kuil dan Paviliun Emas (1956), seorang pembantu kuil terpesona    oleh keindahan kuil dan yakin bahwa kuil itu akan dihancurkan oleh    serangan bom. Ketika kuil itu selamat dari perang, dia malah    menghancurkannya sendiri.
Dan di Rumah Kyoko (1959), seorang petinju mengambil peran dalam    politik sayap kanan, sementara seorang aktor berada dalam hubungan    seksual sado-masokis yang berakhir dengan bunuh diri ganda.
Materi Mishima adalah dirinya sendiri, tetapi dalam gaya, setidaknya,    ia dianggap sebagai anak didik pemenang Nobel Yasunari Kawabata, yang    melihat fungsi sastra sebagai seni, bukan alat propaganda.
Sebagian besar tulisan Mishima tampaknya terikat pada keyakinan ini    secara mutlak. Gayanya formal dan hampir tradisional dan berfokus pada    deskripsi yang sangat sensual di atas segalanya.
Tubuh, pakaian, dan aroma, penggambaran selektif ini hampir seperti sebuah fetish.
&quot;Sentuhan mengagetkan nilon tipis dan kain sutera tiruan sofa itu    memberi perasaan gelisah dalam ruangan&amp;hellip; Desisan selempang yang terlepas,    seperti peringatan seekor ular, diikuti dengan desiran lembut saat    kimono jatuh ke lantai.&quot; (Dari Pelaut yang Ternoda, 1963)
Lalu ada yang berubah, dan pada tahun 60-an fase politik dalam     kehidupan Mishima bisa dikatakan dimulai. Setelah menggambarkan dirinya     sebagai estetika murni, romantis dekaden, dalam 10 tahun terakhir     hidupnya Mishima mengalami transformasi.
Saat itulah dia menjadi binaraga, berolahraga di gym selama dua jam sehari untuk menambah otot pada tubuhnya yang lemah.
Dia juga mulai menjemur dirinya di bawah sinar matahari, dan     mengumpulkan sekelompok mahasiswa pria sayap kanan yang dia pimpin     latihan rutin.
Tujuan dari &quot;Shield Society&quot; ini adalah untuk membantu tentara jika terjadi revolusi komunis.
Di balik transformasi ini ada alasan yang terakumulasi dalam sebuah     esai misterius yang diterbitkan pada tahun 1968, dua tahun sebelum     kematiannya.
Menilik ke belakang, dia melihat bahwa dia telah terkorosi dan     dilemahkan oleh khayalan dan kata-kata yang berlebihan, dan kekurangan     materialitas dan tindakan.
&quot;Pada orang biasa, saya membayangkan, tubuh mendahului bahasa,&quot; tulis Mishima.
&quot;Dalam kasus saya, kata-kata datang pertama; kemudian datanglah     daging, meskipun terlambat, dengan enggan dan sudah berselimut konsep.     Itu sudah pasti, disia-siakan oleh kata-kata.&quot;
Dia berusaha untuk menyeimbangkan dirinya dan menghidupkan kembali konsep samurai lama, &quot;harmoni pena dan pedang.&quot;
Dia ingin menjadi, atau dilihat sebagai &quot;orang yang bertindak&quot;.

Ledakan kreativitas terakhir
Mishima sampai pada usia empat puluhan dan sangat sadar akan usianya.
&quot;Yang indah harus mati muda, dan semua orang harus hidup selama     mungkin,&quot; kata dia dalam tulisan tentang kematian dini aktor James Dean.
&quot;Sayangnya, 95% orang menganggapnya terbalik. Mereka yang indah     bertahan hidup hingga usia delapan puluhan dan orang-orang bodoh yang     menyebalkan meninggal pada usia 21 tahun.&quot;
Mishima merasa waktunya telah berlalu dan mulai merencanakan tindakan terakhirnya.
Setiap orang, pada titik tertentu, melihat hidup sebagai panggung.      Tetapi hanya sedikit yang hidup dan membuat hidup mereka sebagai      koreografi teater, dan lebih jarang lagi yang menggunakan seppuku untuk      menutup pertunjukan mereka.
Bagi Mishima, itu adalah puncak dari fantasi seumur hidup.      Unsur-unsurnya telah ada sejak awal, dalam Pengakuan Sebuah Topeng:      tentara, kematian, dan darah.

Foto: Getty Images.
Transformasi diri menjadi seorang pejuang telah membuatnya menjadi      objek keinginannya: sesuatu yang indah, sesuatu yang layak untuk      dihancurkan. Dan fiksasi pada seppuku telah tumbuh di sana.
Mishima bahkan menulis dan membintangi sebuah film pendek,      Patriotisme, di mana ia memerankannya secara detail. Mungkin tindakan      terakhir Mishima adalah protes politik juga, kematian sebagai seni.
Pada pagi hari di hari terakhirnya, Mishima menyerahkan buku      tetraloginya, Lautan Kesuburan, kepada penerbitnya. Keempat buku ini,      yang ditulis dalam ledakan kreativitas yang luar biasa, adalah sesuatu      yang baru.
Dimulai pada 1912, tak lama setelah Perang Rusia-Jepang, dan       berakhir pada 1975, tetralogi itu mencatat periode perubahan yang luar  biasa:      dari kebangkitan Kekaisaran Jepang, melalui kehancuran di  Perang   Dunia    Kedua, dan munculnya Jepang yang kapitalis dan  konsumeris.
Semuanya disatukan oleh satu karakter, Honda, mungkin pengganti       Mishima, dan reinkarnasi berulang dari teman masa kecilnya, jiwa abadi       yang dikelilingi oleh perubahan dan penurunan.
Dibandingkan  dengan karya-karya awal Mishima, Lautan Kesuburan      mengandung  filosofi yang sangat padat. Dan, setelah yang kedua,      tulisannya  terasa terburu-buru, menjadi semakin tipis.
Mishima menulis sebagian besar jilid terakhir, Membusuknya Sang       Malaikat, selama liburan keluarga di tepi pantai pada Agustus 1970.
Dalam sepucuk surat tertanggal 18 November 1970, Mishima menulis       kepada mentornya, Fumio Kiyomizu. &quot;Bagiku, menyelesaikan (buku) ini       tidak lebih dari akhir dunia.&quot;
Baris terakhir Membusuknya Sang Malaikat sangat tenang.
&quot;Taman ini cerah dan tenang, tanpa fitur yang mencolok. Seperti       rosario yang digosokkan di antara kedua tangan, suara jangkrik       terdengar.
Tidak ada suara lain. Taman itu kosong. Honda berpikir, dia telah       datang ke tempat yang tidak memiliki kenangan, tidak ada apa-apa.
Matahari siang musim panas mengalir di atas taman yang tenang.&quot;
</content:encoded></item></channel></rss>
