<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PBB: Politisasi Covid-19 Menimbulkan Banyak Pelanggaran HAM</title><description>Virus corona menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian ratusan juta warga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham"/><item><title>PBB: Politisasi Covid-19 Menimbulkan Banyak Pelanggaran HAM</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham</guid><pubDate>Jum'at 11 Desember 2020 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham-YZK48oTRsX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/11/18/2325587/pbb-politisasi-covid-19-menimbulkan-banyak-pelanggaran-ham-YZK48oTRsX.jpg</image><title>Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet (Foto: Reuters)</title></images><description>KETIKA dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember, Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet memperingatkan politisasi pandemi virus corona merusak berbagai hak asasi manusia termasuk hak sosial ekonomi dan budaya hingga hak sipil dan politik.

Virus corona menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian ratusan juta warga. Pada skala global, sedikitnya 68 juta orang terinfeksi dan menewaskan lebih dari 1,5 juta orang selama pandemi, menurut Universitas Johns Hopkins.

Vaksin yang aman dan efektif sudah di depan mata, sehingga memberi harapan pandemi Covid-19 sudah bukan kenyataan lagi melainkan sekedar catatan sejarah.

Baca Juga: Epidemolog Ingatkan Vaksinasi Covid-19 Harus Setelah Uji Klinis Fase 3
 

Akan tetapi Michelle Bachelet mengemukakan vaksin medis tidak akan mencegah atau menyembuhkan kerusakan sosial ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Ia menjelaskan satu-satunya hal yang dapat mencapai itu adalah &quot;vaksin hak asasi manusia.&quot; Prinsip dasarnya, menurut ketua HAM PBB itu, tercantum dalam Deklarasi Universal HAM, yang dirayakan pada Hari Hak Asasi Manusia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8wNy81LzEyNTY4Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Deklarasi itu berisi perjanjian internasional penting untuk melindungi hak-hak kelompok marjinal termasuk anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas dan pekerja migran.

Sayangnya, Bachelet menambahkan, kegagalan banyak negara dalam menangani virus corona dengan serius dan bertindak cepat untuk mencegah penyebarannya telah mengikis perlindungan dan hak-hak mendasar tersebut.



&amp;ldquo;Yang mengherankan, bahkan hingga hari ini, beberapa politisi masih  mengecilkan dampak pandemi, meremehkan pemberlakuan tindakan sederhana,  seperti mengenakan masker dan menghindari pertemuan besar ...  Mempolitisasi pandemi dengan cara ini tidaklah bertanggung jawab - itu  benar-benar tercela ... Bukti dan proses ilmiah telah diabaikan, teori  konspirasi dan disinformasi tersebar, dibiarkan - atau didorong - untuk  berkembang,&amp;rdquo; ujarnya.

Bachelet menilai beberapa tindakan tersebut merusak kepercayaan antar  negara dan di dalam negara itu sendiri terjadi diskriminasi, rasisme  secara sistemik bahkan marginalisasi bagi mereka yang paling rentan di  dunia untuk mendapatkan kemajuan dalam hidup.

&amp;ldquo;Di sejumlah negara yang terlibat konflik, Covid-19 menambah bencana  hak asasi manusia yang sudah beraneka ragam. Di Yaman selama lima tahun  bergejolak dipenuhi konflik dan pelanggaran, penyakit, blokade, dan  kekurangan dana kemanusiaan, berlatar-belakang kemiskinan yang ada  sebelumnya, pemerintahan yang buruk dan kurangnya pembangunan sehingga  kelaparan parah melanda negara tersebut,&amp;rdquo; tambah Bachelet.

Bachelet memaparkan pandemi telah membuka dunia yang rentan dan  semakin lemah. Namun ia menegaskan pemerintah dapat mengubah situasi itu  lewat kemauan politik yang kuat untuk menerapkan kebijakan yang tepat  sasaran.

Bachelet menyampaikan para pemimpin di negara-negara maju harus  menyadari tantangan global hanya dapat ditangani melalui kerjasama  global. Ia juga mencatat tidak seorang pun merasa aman hingga semua  orang menjadi aman.

Bachelet menyatakan pemerintah sejumlah negara harus mengesampingkan  tanggapan nasionalis yang sempit bagi kebaikan seluruh umat. Tes pertama  dari ini, katanya, adalah kesediaan mereka untuk memastikan alat dan  vaksin baru COVID-19 terjangkau untuk semua orang yang membutuhkannya &amp;mdash;  baik miskin maupun kaya.
</description><content:encoded>KETIKA dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember, Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet memperingatkan politisasi pandemi virus corona merusak berbagai hak asasi manusia termasuk hak sosial ekonomi dan budaya hingga hak sipil dan politik.

Virus corona menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian ratusan juta warga. Pada skala global, sedikitnya 68 juta orang terinfeksi dan menewaskan lebih dari 1,5 juta orang selama pandemi, menurut Universitas Johns Hopkins.

Vaksin yang aman dan efektif sudah di depan mata, sehingga memberi harapan pandemi Covid-19 sudah bukan kenyataan lagi melainkan sekedar catatan sejarah.

Baca Juga: Epidemolog Ingatkan Vaksinasi Covid-19 Harus Setelah Uji Klinis Fase 3
 

Akan tetapi Michelle Bachelet mengemukakan vaksin medis tidak akan mencegah atau menyembuhkan kerusakan sosial ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Ia menjelaskan satu-satunya hal yang dapat mencapai itu adalah &quot;vaksin hak asasi manusia.&quot; Prinsip dasarnya, menurut ketua HAM PBB itu, tercantum dalam Deklarasi Universal HAM, yang dirayakan pada Hari Hak Asasi Manusia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8wNy81LzEyNTY4Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Deklarasi itu berisi perjanjian internasional penting untuk melindungi hak-hak kelompok marjinal termasuk anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas dan pekerja migran.

Sayangnya, Bachelet menambahkan, kegagalan banyak negara dalam menangani virus corona dengan serius dan bertindak cepat untuk mencegah penyebarannya telah mengikis perlindungan dan hak-hak mendasar tersebut.



&amp;ldquo;Yang mengherankan, bahkan hingga hari ini, beberapa politisi masih  mengecilkan dampak pandemi, meremehkan pemberlakuan tindakan sederhana,  seperti mengenakan masker dan menghindari pertemuan besar ...  Mempolitisasi pandemi dengan cara ini tidaklah bertanggung jawab - itu  benar-benar tercela ... Bukti dan proses ilmiah telah diabaikan, teori  konspirasi dan disinformasi tersebar, dibiarkan - atau didorong - untuk  berkembang,&amp;rdquo; ujarnya.

Bachelet menilai beberapa tindakan tersebut merusak kepercayaan antar  negara dan di dalam negara itu sendiri terjadi diskriminasi, rasisme  secara sistemik bahkan marginalisasi bagi mereka yang paling rentan di  dunia untuk mendapatkan kemajuan dalam hidup.

&amp;ldquo;Di sejumlah negara yang terlibat konflik, Covid-19 menambah bencana  hak asasi manusia yang sudah beraneka ragam. Di Yaman selama lima tahun  bergejolak dipenuhi konflik dan pelanggaran, penyakit, blokade, dan  kekurangan dana kemanusiaan, berlatar-belakang kemiskinan yang ada  sebelumnya, pemerintahan yang buruk dan kurangnya pembangunan sehingga  kelaparan parah melanda negara tersebut,&amp;rdquo; tambah Bachelet.

Bachelet memaparkan pandemi telah membuka dunia yang rentan dan  semakin lemah. Namun ia menegaskan pemerintah dapat mengubah situasi itu  lewat kemauan politik yang kuat untuk menerapkan kebijakan yang tepat  sasaran.

Bachelet menyampaikan para pemimpin di negara-negara maju harus  menyadari tantangan global hanya dapat ditangani melalui kerjasama  global. Ia juga mencatat tidak seorang pun merasa aman hingga semua  orang menjadi aman.

Bachelet menyatakan pemerintah sejumlah negara harus mengesampingkan  tanggapan nasionalis yang sempit bagi kebaikan seluruh umat. Tes pertama  dari ini, katanya, adalah kesediaan mereka untuk memastikan alat dan  vaksin baru COVID-19 terjangkau untuk semua orang yang membutuhkannya &amp;mdash;  baik miskin maupun kaya.
</content:encoded></item></channel></rss>
