<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jelang Puncak Musim Hujan, BNPB Ingatkan Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi</title><description>Puncak musim hujan akan terjadi pada Januari dan Februari mendatang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi"/><item><title>Jelang Puncak Musim Hujan, BNPB Ingatkan Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi</guid><pubDate>Sabtu 12 Desember 2020 14:21 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi-Ov2yMBZ6pc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/12/337/2326374/jelang-puncak-musim-hujan-bnpb-ingatkan-masyarakat-waspada-bencana-hidrometeorologi-Ov2yMBZ6pc.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan siap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya jelang puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2021. Masyarakat mempersiapkan diri dan anggota keluarga dengan mulai mengenali risiko di sekitar.
Puncak musim hujan kembali disampaikan oleh BMKG pada awal Desember 2020, bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari 2021.
BACA JUGA: 5 Fakta Fenomena La Nina dan Dampaknya di Indonesia
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 8 Desember 2020 lalu menyebutkan, anomali iklim La Nina terpantau masih berlangsung di Samudera Pasifik dengan intensitas level &quot;moderat&quot;.
&amp;ldquo;Suhu muka laut Samudera Pasifik bagian tengah daerah Nino 3.4 menunjukkan anomali sebesar -1.4&amp;deg;C, sehingga perkembangan saat ini menunjukkan Intensitas La Nina moderat yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Januari &amp;ndash; Maret 2021, dan kemudian akan melemah pada bulan Mei 2021,&amp;rdquo; ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam rilis yang diterima Sindo Media, Sabtu (12/12/2020).
Lebih lanjut, Herizal menambahkan bahwa musim hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksikan akan berlangsung hingga bulan April 2021. Peningkatan kewaspadaan diperlukan pada daerah-daerah yang diprediksi akan mendapatkan akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga  sangat tinggi  atau lebih besar 300 mm per bulan pada bulan Desember 2020 &amp;ndash; Januari 2021.
BACA JUGA: Pemetaan BMKG, Wilayah Ini yang Paling Terdampak Fenomena La Nina
Daerah-daerah yang dimaksud antara lain berpeluang terjadi di pesisir barat Sumatera, sebagian besar pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan Papua.
&amp;ldquo;Puncak musim hujan 2020/2021 diprediksikan untuk sebagian besar wilayah akan terjadi pada bulan Januari &amp;ndash; Februari 2021 yang umumnya bertepatan dengan puncak Monsun Asia,&amp;rdquo; ujar Herizal.
Sedangkan melihat kejadian bencana hidrometeorologi, Data Badan  Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari 1 Januari hingga 11 Desember  2020 mencatat bencana banjir mengakibatkan sebanyak 795.563 rumah  terendam, serta rumah rusak berat 7.224 unit, rusak sedang 3.479 dan  rusak ringan 12.735.
Bencana hidrometeorologi juga berdampak pada jatuhnya korban  meninggal 224 jiwa, hilang 26, luka-luka 271 dan mengungsi atau  terdampak mencapai 4,19 juta.
Terkait dengan peristiwa bencana hidrometeorologi, BNPB mengharapkan  kewaspadaan dan kesiapsiagaan bersama, baik pemerintah dan masyarakat,  dalam mencegah dan mengantisipasi dampak bencana yang mungkin terjadi.
Dampak La Nina dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi  dibandingkan kondisi normal sehingga potensi banjir, banjir bandang dan  tanah longsor ke depan perlu diwaspadai. Di samping itu, BMKG  memprediksikan puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2021.  Sekali lagi, kondisi ini membutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan  setiap individu, setiap anggota keluarga dan komunitas.
Menyikapi potensi bencana ini, BNPB telah menyampaikan arahan  kesiapsiagaan kepada seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  di seluruh provinsi. Tentu hal ini diteruskan hingga BPBD di tingkat  kabupaten dan kota di seluruh Tanah Air. Upaya dini pencegahan dan  mitigasi harus dilakukan untuk mengurangi atau pun menghindari dampak  bencana.
Pada September 2020 lalu, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan Lilik  Kurniawan memberikan arahan kepada pemerintah daerah untuk melakukan  koordinasi secara berkala dengan dinas terkait dan aparatur kabupaten  dan kota di daerah setempat.
Ia berharap pemerintah daerah untuk melakukan monitoring terhadap   informasi peringatan dini cuaca dan potensi ancaman bencana melalui   beberapa situs dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),   Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta BNPB.
&amp;ldquo;Melakukan penyebarluasan informasi peringatan dini bahaya banjir,   banjir bandang dan tanah longsor kepada masyarakat, khususnya yang   bermukim di wilayah yang berisiko tinggi,&amp;rdquo; ujar Lilik melalui surat yang   dikirimkan kepada 27 kepala pelaksana badan penanggulangan bencana di   tingkat provinsi pada Rabu, 23 September 2020 lalu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xMi8xLzEyNTg5NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Langkah  selanjutnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan melakukan   sosialisasi dan edukasi terkait potensi pencegahan banjir, banjir   bandang dan tanah longsor dengan media elektronik dan media sosial,   khususnya di tengah pandemi Covid-19.
Masih dalam situasi pandemi, BPBD dapat menyiapkan dan   mensosialisasikan tempat evakuasi yang berbeda antara masyarakat yang   sehat dengan terkonfirmasi positif Covid-19.
&quot;Melaksanakan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan dengan tetap   menjalankan protokol Kesehatan dan peraturan lain yang telah dikeluarkan   pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19 seperti jaga jarak,   menggunakan masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun,&amp;rdquo; kata   Lilik.

Kemudian, arahan selanjutnya yaitu mengaktivasi rencana kontinjensi    menjadi rencana operasi dan dimutakhirkan dengan situasi terkini serta    pengaktifan pos komando (posko) penanganan darurat bencana.
BNPB  juga mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya kesiapsiagaan,    khususnya di lingkup keluarga. Setiap keluarga dapat memonitor dan    menganalisis secara sederhana potensi bahaya yang ada di sekitar.    Melalui aplikasi berbasis teknologi informasi, InaRISK personal, kita    dapat melihat ancaman bahaya di sekitar kita. Kemudian, diskusikan di    antara anggota keluarga langkah-langkah mengantisipasi ancaman yang    mungkin terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen    penting di tempat aman atau menyiapkan tas siaga bencana.
Apabila di tengah genangan air, pastikan langkah evakuasi secara    tepat dan aman. Kenali lingkungan dengan baik, misal hindari saluran air    di sekitar rumah atau saat evakuasi. Masyarakat dituntut untuk lebih    waspada apabila melakukan langkah evakuasi atau mengungsi untuk    sementara waktu. Protokol kesehatan harus diterapkan dengan baik    sehingga tidak ada bahaya lain yang justru bisa berdampak lebih buruk.
Per 11 Desember 2020, BNPB mencatat total jumlah kejadian bencana    mencapai 2.779 kejadian, dengan jumlah bencana hidrologi dominan    dibandingkan bencana lain. Tercatat bencana banjir mencapai 1.015    kejadian, disusul angin puting beliung 842, tanah longsor 535 dan    kekeringan 29. Bencana masih berpotensi terjadi mengingat saat ini masih    berlangsung musim hujan yang dipengaruhi fenomena La Nina.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan siap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya jelang puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2021. Masyarakat mempersiapkan diri dan anggota keluarga dengan mulai mengenali risiko di sekitar.
Puncak musim hujan kembali disampaikan oleh BMKG pada awal Desember 2020, bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari 2021.
BACA JUGA: 5 Fakta Fenomena La Nina dan Dampaknya di Indonesia
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 8 Desember 2020 lalu menyebutkan, anomali iklim La Nina terpantau masih berlangsung di Samudera Pasifik dengan intensitas level &quot;moderat&quot;.
&amp;ldquo;Suhu muka laut Samudera Pasifik bagian tengah daerah Nino 3.4 menunjukkan anomali sebesar -1.4&amp;deg;C, sehingga perkembangan saat ini menunjukkan Intensitas La Nina moderat yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Januari &amp;ndash; Maret 2021, dan kemudian akan melemah pada bulan Mei 2021,&amp;rdquo; ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam rilis yang diterima Sindo Media, Sabtu (12/12/2020).
Lebih lanjut, Herizal menambahkan bahwa musim hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksikan akan berlangsung hingga bulan April 2021. Peningkatan kewaspadaan diperlukan pada daerah-daerah yang diprediksi akan mendapatkan akumulasi curah hujan dengan kriteria tinggi hingga  sangat tinggi  atau lebih besar 300 mm per bulan pada bulan Desember 2020 &amp;ndash; Januari 2021.
BACA JUGA: Pemetaan BMKG, Wilayah Ini yang Paling Terdampak Fenomena La Nina
Daerah-daerah yang dimaksud antara lain berpeluang terjadi di pesisir barat Sumatera, sebagian besar pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan Papua.
&amp;ldquo;Puncak musim hujan 2020/2021 diprediksikan untuk sebagian besar wilayah akan terjadi pada bulan Januari &amp;ndash; Februari 2021 yang umumnya bertepatan dengan puncak Monsun Asia,&amp;rdquo; ujar Herizal.
Sedangkan melihat kejadian bencana hidrometeorologi, Data Badan  Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari 1 Januari hingga 11 Desember  2020 mencatat bencana banjir mengakibatkan sebanyak 795.563 rumah  terendam, serta rumah rusak berat 7.224 unit, rusak sedang 3.479 dan  rusak ringan 12.735.
Bencana hidrometeorologi juga berdampak pada jatuhnya korban  meninggal 224 jiwa, hilang 26, luka-luka 271 dan mengungsi atau  terdampak mencapai 4,19 juta.
Terkait dengan peristiwa bencana hidrometeorologi, BNPB mengharapkan  kewaspadaan dan kesiapsiagaan bersama, baik pemerintah dan masyarakat,  dalam mencegah dan mengantisipasi dampak bencana yang mungkin terjadi.
Dampak La Nina dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi  dibandingkan kondisi normal sehingga potensi banjir, banjir bandang dan  tanah longsor ke depan perlu diwaspadai. Di samping itu, BMKG  memprediksikan puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2021.  Sekali lagi, kondisi ini membutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan  setiap individu, setiap anggota keluarga dan komunitas.
Menyikapi potensi bencana ini, BNPB telah menyampaikan arahan  kesiapsiagaan kepada seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  di seluruh provinsi. Tentu hal ini diteruskan hingga BPBD di tingkat  kabupaten dan kota di seluruh Tanah Air. Upaya dini pencegahan dan  mitigasi harus dilakukan untuk mengurangi atau pun menghindari dampak  bencana.
Pada September 2020 lalu, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan Lilik  Kurniawan memberikan arahan kepada pemerintah daerah untuk melakukan  koordinasi secara berkala dengan dinas terkait dan aparatur kabupaten  dan kota di daerah setempat.
Ia berharap pemerintah daerah untuk melakukan monitoring terhadap   informasi peringatan dini cuaca dan potensi ancaman bencana melalui   beberapa situs dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),   Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta BNPB.
&amp;ldquo;Melakukan penyebarluasan informasi peringatan dini bahaya banjir,   banjir bandang dan tanah longsor kepada masyarakat, khususnya yang   bermukim di wilayah yang berisiko tinggi,&amp;rdquo; ujar Lilik melalui surat yang   dikirimkan kepada 27 kepala pelaksana badan penanggulangan bencana di   tingkat provinsi pada Rabu, 23 September 2020 lalu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xMi8xLzEyNTg5NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Langkah  selanjutnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan melakukan   sosialisasi dan edukasi terkait potensi pencegahan banjir, banjir   bandang dan tanah longsor dengan media elektronik dan media sosial,   khususnya di tengah pandemi Covid-19.
Masih dalam situasi pandemi, BPBD dapat menyiapkan dan   mensosialisasikan tempat evakuasi yang berbeda antara masyarakat yang   sehat dengan terkonfirmasi positif Covid-19.
&quot;Melaksanakan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan dengan tetap   menjalankan protokol Kesehatan dan peraturan lain yang telah dikeluarkan   pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19 seperti jaga jarak,   menggunakan masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun,&amp;rdquo; kata   Lilik.

Kemudian, arahan selanjutnya yaitu mengaktivasi rencana kontinjensi    menjadi rencana operasi dan dimutakhirkan dengan situasi terkini serta    pengaktifan pos komando (posko) penanganan darurat bencana.
BNPB  juga mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya kesiapsiagaan,    khususnya di lingkup keluarga. Setiap keluarga dapat memonitor dan    menganalisis secara sederhana potensi bahaya yang ada di sekitar.    Melalui aplikasi berbasis teknologi informasi, InaRISK personal, kita    dapat melihat ancaman bahaya di sekitar kita. Kemudian, diskusikan di    antara anggota keluarga langkah-langkah mengantisipasi ancaman yang    mungkin terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen    penting di tempat aman atau menyiapkan tas siaga bencana.
Apabila di tengah genangan air, pastikan langkah evakuasi secara    tepat dan aman. Kenali lingkungan dengan baik, misal hindari saluran air    di sekitar rumah atau saat evakuasi. Masyarakat dituntut untuk lebih    waspada apabila melakukan langkah evakuasi atau mengungsi untuk    sementara waktu. Protokol kesehatan harus diterapkan dengan baik    sehingga tidak ada bahaya lain yang justru bisa berdampak lebih buruk.
Per 11 Desember 2020, BNPB mencatat total jumlah kejadian bencana    mencapai 2.779 kejadian, dengan jumlah bencana hidrologi dominan    dibandingkan bencana lain. Tercatat bencana banjir mencapai 1.015    kejadian, disusul angin puting beliung 842, tanah longsor 535 dan    kekeringan 29. Bencana masih berpotensi terjadi mengingat saat ini masih    berlangsung musim hujan yang dipengaruhi fenomena La Nina.</content:encoded></item></channel></rss>
