<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BNPT: 85 Persen Milenial Rentan Terpapar Radikalisme, Diperparah Pandemi Covid-19</title><description>Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan hasil survei nasional tentang potensi radikalisme tahun ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19"/><item><title>BNPT: 85 Persen Milenial Rentan Terpapar Radikalisme, Diperparah Pandemi Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Kamis 17 Desember 2020 06:20 WIB</pubDate><dc:creator>INews.id</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19-wbOJaA0tKl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dok. okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/17/337/2329112/bnpt-85-persen-milenial-rentan-terpapar-radikalisme-diperparah-pandemi-covid-19-wbOJaA0tKl.jpg</image><title>Ilustrasi (Dok. okezone)</title></images><description>DENPASAR - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan hasil survei nasional tentang potensi radikalisme tahun ini. Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu 85 persen&amp;nbsp; generasi milenial rentan terpapar faham radikal.&amp;nbsp;

Hasil survei itu diumumkan di sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.&amp;nbsp;

&quot;Dengan hasil survei ini, kita diingatkan untuk mewaspadai pergerakan spread of radicalisation di dunia maya ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia,&quot; ujar Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.&amp;nbsp;

Dia memaparkan, situasi pandemi Covid-19 yang dimanifestasikan dalam aktivitas sekolah diliburkan dan perkantoran sebagian diatur membuat masyarakat di rumah lebih banyak menggunakan waktu untuk berselancar di dunia maya.&amp;nbsp;

Menurutnya, generasi milenial yang mengakses internet ibarat masuk ke hutan belantara. Saat mencari konten keagamaan misalnya, ada kecenderungan menerima preferensi ceramah keagamaan dengan durasi singkat sehingga tidak diterima secara utuh.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xNi8xLzEyNjA3Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Di sisi lain, jaringan teroris sangat intens menyebarkan narasi radikal dan intoleran.

&quot;Pada saat yang sama, anak-anak muda yang disebut gen Z ini belum tumbuh ketertiban sosial, kepatuhan hukum dan itikad dalam menggunakan media sosial untuk tujuan yang baik,&quot; kata Boy.&amp;nbsp;

Dia meminta peserta Rakornas yang merupakan pengurus FKPT dari 32 provinsi berperan aktif mengatasi masalah tersebut.

&quot;Tidak bisa kita melarang internet, karena itu hak anak muda. Tapi bagaimana memberi edukasi yang baik, yaitu menggunakan medsos dengan cerdas,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;

FKPT juga harus bisa memberikan konten kebhinekaan, nasionalisme dan moderasi dalam beragama.

&quot;Hasil survei tahun 2019 menemukan konten pendidikan kebhinekaan memiliki skor rendah dibanding dimensi lainnya,&quot; kata mantan Kadiv Humas Polri tersebut.

Peneliti dari BNPT Lilik Purwandi mengungkapkan, survei yang dilakukan ini melibatkan 13.700 responden dari 32 provinsi dengan metode tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur.&amp;nbsp;

Selain generasi milenial yang rentan terpapar radikalisme, survei juga menemukan potensi radikalisme yang lebih tinggi di kalangan perempuan daripada laki-laki.

&quot;Perempuan memiliki potensi 12,3%, sedangkan laki-laki 12,1%,&quot; kata Lilik.

Temuan lainnya yaitu potensi radikalisme di kalangan kaum urban yang lebih tinggi dari kalangan rural.

&quot;Namun secara umum, potensi radikalisme tahun ini turun dari tahun sebelumnya,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>DENPASAR - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan hasil survei nasional tentang potensi radikalisme tahun ini. Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu 85 persen&amp;nbsp; generasi milenial rentan terpapar faham radikal.&amp;nbsp;

Hasil survei itu diumumkan di sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.&amp;nbsp;

&quot;Dengan hasil survei ini, kita diingatkan untuk mewaspadai pergerakan spread of radicalisation di dunia maya ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia,&quot; ujar Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.&amp;nbsp;

Dia memaparkan, situasi pandemi Covid-19 yang dimanifestasikan dalam aktivitas sekolah diliburkan dan perkantoran sebagian diatur membuat masyarakat di rumah lebih banyak menggunakan waktu untuk berselancar di dunia maya.&amp;nbsp;

Menurutnya, generasi milenial yang mengakses internet ibarat masuk ke hutan belantara. Saat mencari konten keagamaan misalnya, ada kecenderungan menerima preferensi ceramah keagamaan dengan durasi singkat sehingga tidak diterima secara utuh.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xNi8xLzEyNjA3Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Di sisi lain, jaringan teroris sangat intens menyebarkan narasi radikal dan intoleran.

&quot;Pada saat yang sama, anak-anak muda yang disebut gen Z ini belum tumbuh ketertiban sosial, kepatuhan hukum dan itikad dalam menggunakan media sosial untuk tujuan yang baik,&quot; kata Boy.&amp;nbsp;

Dia meminta peserta Rakornas yang merupakan pengurus FKPT dari 32 provinsi berperan aktif mengatasi masalah tersebut.

&quot;Tidak bisa kita melarang internet, karena itu hak anak muda. Tapi bagaimana memberi edukasi yang baik, yaitu menggunakan medsos dengan cerdas,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;

FKPT juga harus bisa memberikan konten kebhinekaan, nasionalisme dan moderasi dalam beragama.

&quot;Hasil survei tahun 2019 menemukan konten pendidikan kebhinekaan memiliki skor rendah dibanding dimensi lainnya,&quot; kata mantan Kadiv Humas Polri tersebut.

Peneliti dari BNPT Lilik Purwandi mengungkapkan, survei yang dilakukan ini melibatkan 13.700 responden dari 32 provinsi dengan metode tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur.&amp;nbsp;

Selain generasi milenial yang rentan terpapar radikalisme, survei juga menemukan potensi radikalisme yang lebih tinggi di kalangan perempuan daripada laki-laki.

&quot;Perempuan memiliki potensi 12,3%, sedangkan laki-laki 12,1%,&quot; kata Lilik.

Temuan lainnya yaitu potensi radikalisme di kalangan kaum urban yang lebih tinggi dari kalangan rural.

&quot;Namun secara umum, potensi radikalisme tahun ini turun dari tahun sebelumnya,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
