<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alat Sensor Pendeteksi Gempa di Bengkulu Dicuri</title><description>Sensor pendeteksi gempa itu hilang satu perangkat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri"/><item><title>Alat Sensor Pendeteksi Gempa di Bengkulu Dicuri</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri</guid><pubDate>Jum'at 18 Desember 2020 08:05 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri-g8OSzB4F4G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/18/340/2329877/alat-sensor-pendeteksi-gempa-di-bengkulu-dicuri-g8OSzB4F4G.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>BENGKULU - Sensor pendeteksi gempa bumi milik Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, yang dipasang di gedung sensor Desa Taba Renah, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, hilang diembat pencuri.

Sensor pendeteksi gempa itu hilang satu perangkat. Mulai dari 1 set parabola, 1 unit regulator, 1 buah sensor dan 1 set sistem penangkal petir. Akibatnya, Stasiun Geofisika Kelas III, Kepahiang, BMKG Bengkulu mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp159 juta.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, Litman mengatakan, alat sensor pendeteksi gempa dan seluruh perangkat pendukung diduga dicuri.  Di mana kejadian tersebut diketahui pada Kamis 12 November 2020.

Saat itu, kata Litman, salah satu petugas Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, hendak mengecat gedung sensor guna pemeliharaan. Namun, ketika dicek alat sensos dan pendukungnya sudah tidak ada di dalam gedung.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xMy8xLzEyMzMzMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

''Alat kita yang di Curup (Taba Renah) hilang, diduga dicuri. Sehingga kita tidak mendapatkan rekaman dari sensor terdekat dalam pendeteksi gempa. Kejadian ini sudah kita laporkan ke pihak berwajib,'' kata Litman, Kamis (17/12/2020).

Rejang Lebong Diguncang 13 Gempa

Sejak Rabu 16 Desember 2020, pukul 23.19 WIB hingga Kamis, 17 Desember 2020, pukul 14.07 WIB, di Kabupaten Rejang Lebong, diguncang 13 kali gempa dengan Magnitudo (M=) 2,8 hingga M=4,2.

Di mana gempa ke 13 terjadi pada pukul 14.07 WIB, hari ini. Di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, berkekuatan M=3.0. Di mana episenter gempa itu terletak pada koordinat 3.41 Lintang Selatan dan 102.57 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di Darat berjarak 8 Kilometer (Km) Timur Laut, Kabupaten Rejang Lebong, pada kedalaman 3 Km.

''Dari 13 gempa itu 6 diantaranya dirasakan masyarakat setempat,'' jelas Litman.

Dilihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, lanjut  Litman, gempa di Kabupaten Rejang Lebong merupakan jenis gempa dangkal  akibat aktivitas Sesar Ketahun. Gempa itu, kata Litman, dirasakan  masyarakat setempat dengan skala intensitas II MMI.

Litman mengimbau, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak  terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan  kebenarannya.

''Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa tersebut,'' jelas Litman.

Bentuk Tim Siaga Bencana

Daerah Pantai Barat Provinsi Bengkulu, memiliki risiko bencana alam  gempa bumi disusul dengan gelombang tsunami cukup tinggi. Di mana  wilayah ini berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust di  Samudera Hindia.

Sebagai langkah antisipasi dan mitigsi bencana, kata Litman, BMKG  selalu memberikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang cepat  dan akurat.

Di mana peringatan dini tsunami yang disebarluaskan BMKG, terang  Litman, akan diterima oleh pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan  masyarakat melalui beragam moda diseminasi. Mulai dari Warning Receiver  System (WRS), aplikasi android WRS mobile dan Info BMKG, SMS, Email,  Fax, Website, dan media Sosial.

Hal tersebut, sampai Litman, dalam rangka upaya mitigasi bencana  tsunami yang bertujuan untuk memperkecil risiko bencana yang mungkin  terjadi.

''Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun  kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami dari  BMKG, pemasangan sirene tsunami, penyiapan jalur dan rambu evakuasi,  serta membangun tempat evakuasi sementara,'' sampai Litman.

Selain itu, sambung Litman, akan dibentuknya Tim Siaga Bencana di  Kelurahan Penurunan, Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu, dengan  melibatkan masyarakat yang mampu dan aktif sebagai pengerak dalam  penanggulangan bencana tsunami.

</description><content:encoded>BENGKULU - Sensor pendeteksi gempa bumi milik Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, yang dipasang di gedung sensor Desa Taba Renah, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, hilang diembat pencuri.

Sensor pendeteksi gempa itu hilang satu perangkat. Mulai dari 1 set parabola, 1 unit regulator, 1 buah sensor dan 1 set sistem penangkal petir. Akibatnya, Stasiun Geofisika Kelas III, Kepahiang, BMKG Bengkulu mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp159 juta.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, Litman mengatakan, alat sensor pendeteksi gempa dan seluruh perangkat pendukung diduga dicuri.  Di mana kejadian tersebut diketahui pada Kamis 12 November 2020.

Saat itu, kata Litman, salah satu petugas Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, hendak mengecat gedung sensor guna pemeliharaan. Namun, ketika dicek alat sensos dan pendukungnya sudah tidak ada di dalam gedung.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xMy8xLzEyMzMzMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

''Alat kita yang di Curup (Taba Renah) hilang, diduga dicuri. Sehingga kita tidak mendapatkan rekaman dari sensor terdekat dalam pendeteksi gempa. Kejadian ini sudah kita laporkan ke pihak berwajib,'' kata Litman, Kamis (17/12/2020).

Rejang Lebong Diguncang 13 Gempa

Sejak Rabu 16 Desember 2020, pukul 23.19 WIB hingga Kamis, 17 Desember 2020, pukul 14.07 WIB, di Kabupaten Rejang Lebong, diguncang 13 kali gempa dengan Magnitudo (M=) 2,8 hingga M=4,2.

Di mana gempa ke 13 terjadi pada pukul 14.07 WIB, hari ini. Di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, berkekuatan M=3.0. Di mana episenter gempa itu terletak pada koordinat 3.41 Lintang Selatan dan 102.57 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di Darat berjarak 8 Kilometer (Km) Timur Laut, Kabupaten Rejang Lebong, pada kedalaman 3 Km.

''Dari 13 gempa itu 6 diantaranya dirasakan masyarakat setempat,'' jelas Litman.

Dilihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, lanjut  Litman, gempa di Kabupaten Rejang Lebong merupakan jenis gempa dangkal  akibat aktivitas Sesar Ketahun. Gempa itu, kata Litman, dirasakan  masyarakat setempat dengan skala intensitas II MMI.

Litman mengimbau, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak  terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan  kebenarannya.

''Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa tersebut,'' jelas Litman.

Bentuk Tim Siaga Bencana

Daerah Pantai Barat Provinsi Bengkulu, memiliki risiko bencana alam  gempa bumi disusul dengan gelombang tsunami cukup tinggi. Di mana  wilayah ini berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust di  Samudera Hindia.

Sebagai langkah antisipasi dan mitigsi bencana, kata Litman, BMKG  selalu memberikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang cepat  dan akurat.

Di mana peringatan dini tsunami yang disebarluaskan BMKG, terang  Litman, akan diterima oleh pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan  masyarakat melalui beragam moda diseminasi. Mulai dari Warning Receiver  System (WRS), aplikasi android WRS mobile dan Info BMKG, SMS, Email,  Fax, Website, dan media Sosial.

Hal tersebut, sampai Litman, dalam rangka upaya mitigasi bencana  tsunami yang bertujuan untuk memperkecil risiko bencana yang mungkin  terjadi.

''Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun  kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami dari  BMKG, pemasangan sirene tsunami, penyiapan jalur dan rambu evakuasi,  serta membangun tempat evakuasi sementara,'' sampai Litman.

Selain itu, sambung Litman, akan dibentuknya Tim Siaga Bencana di  Kelurahan Penurunan, Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu, dengan  melibatkan masyarakat yang mampu dan aktif sebagai pengerak dalam  penanggulangan bencana tsunami.

</content:encoded></item></channel></rss>
