<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mahfud MD: Pemerintah Harus Solid Mencegah Bibit Radikalisme</title><description>Hal itu disampaikan Menkopolhukam menyusul temuan mengejutkan dari kepolisian terkait pelatihan oleh kelompok teroris.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme"/><item><title>Mahfud MD: Pemerintah Harus Solid Mencegah Bibit Radikalisme</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme</guid><pubDate>Minggu 20 Desember 2020 07:24 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme-x8TmqQ4lsw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkopolhukam Mahfud MD. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/20/337/2330870/mahfud-md-pemerintah-harus-solid-mencegah-bibit-radikalisme-x8TmqQ4lsw.jpg</image><title>Menkopolhukam Mahfud MD. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Menko Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyerukan sinergi antar instansi pemerintah dalam mencegah dan melawan bibit radikalisme. Hal itu diungkap Mahfud terkait dengan fenomena di Indonesia belakangan ini, termasuk sebuah temuan yang mengejutkan.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memperoleh foto-foto mengenai pelatihan sekelompok pemuda untuk melakukan teror terhadap orang-orang yang sangat penting atau VVIP. Namun, Mahfud tidak menjelaskan dengan gamblang lokasi latihan dan organisasi yang melatih para pemuda tersebut.
BACA JUGA: Artis Terlibat Prostitusi hingga 23 Teroris JI Ditangkap dalam Sepekan Ini
&quot;Radikalisme sedang ada di tingkat kita, yang kalau diberi tingkat, ada tiga. Satu intoleran yang tidak suka dengan orang yang berbeda. Kedua dalam bentuk teror,&quot; jelas Mahfud dalam acara &quot;Penyerahan Hasil Evaluasi &amp;amp; Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa&quot; yang disiarkan daring pada Kamis (17/12/2020).
Mahfud menambahkan radikalisme juga dapat berbentuk wacana yang juga masuk ke dalam tubuh kementerian dan lembaga pemerintah, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, informasi tentang masuknya wacana radikalisme di pemerintahan bersumber dari laporan masyarakat. Karena itu, ia meminta kementerian dan lembaga berbagi peran dalam mencegah radikalisme di internal pemerintah dan masyarakat.
Pembagian peran dalam tubuh pemerintah bisa dilakukan dengan membagi tugas antar instansi negara. Misalnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan polisi adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan teroris, sementara Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan menjadi pihak yang menjaga teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kementerian Pendidikan dan Budaya, serta Kementerian Agama akan menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga ideologi Pancasila.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xOS8xLzEyNjIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan penargetan kelompok muda untuk direkrut sebagai teroris sudah lama dilakukan oleh semua kelompok teroris. Namun, ia menduga kelompok teroris yang melatih pemuda untuk melakukan teror terhadap orang penting di Indonesia merupakan jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al Qaeda.
Ia beralasan kelompok ini memiliki sistem rekrutmen dan pelatihan  yang rapi, serta tersembunyi dibandingkan dengan kelompok Jamaah  Ansharut Daulah (JAD) yang bertindak sporadis.
&quot;JAD tidak serapi itu dan dia mudah sekali dideteksi seharusnya. Jadi  kalau lihat karakteristik dan afiliasi, jika pelatihan itu di  Indonesia, kemungkinan besar adalah JI,&quot; jelas Stanislaus Riyanta kepada  VOA, Jumat (18/12).
Riyanta menjelaskan jaringan JI terlihat sedang tertidur setelah  kematian gembong al-Qaeda Osama Bin Laden dan dr Azhari. Namun, kata  dia, berdasarkan penelitian RAND Corporation, setidaknya ada 3.000 orang  Indonesia yang menjadi alumni al-Qaeda. Para alumni ini berpotensi  melakukan konsolidasi kembali dan merekrut kader-kader baru.
BACA JUGA: Polri : 91 Anggota Jamaah Islamiyah Dilatih untuk Melawan Negara!
Menurutnya, mobilitas jaringan JI di Indonesia juga cukup tinggi dan  sebagian besar memiliki daerah pengumpan. Semisal untuk daerah target  Jakarta, maka daerah pengumpannya berasal dari wilayah Bekasi, Bogor dan  Tangerang.
&quot;Beberapa data pernah terjadi pelatihan-pelatihan dari  kelompok-kelompok teroris di Gunung Salak Bogor. Tidak menutup  kemungkinan juga Gunung Lawu, Jawa Tengah, yang pernah menjadi tempat  latihan,&quot; tambahnya.
Sedangkan terkait target VVIP, Riyanta menduga orang penting yang  dimaksud oleh kelompok teroris itu adalah merupakan pejabat pemerintah  yang dianggap melemahkan gerakan mereka, seperti pejabat Kemenko  Polhukam. Namun, kata dia, kelompok teroris ini biasanya membagi target  menjadi tiga bagian, yaitu target reguler, alternatif dan darurat atau  emergency. Karena itu, mereka akan mencari target alternatif atau  lainnya jika targetnya reguler atau utamanya, seperti pejabat pemerintah  atau aparat, tidak terpenuhi.

Polri: Ada 6.000 Anggota JI di Indonesia
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan  saat ini ada sekitar 6.000 anggota JI yang masih aktif di Indonesia.  Menurut Argo, jumlah tersebut terungkap dari hasil pemeriksaan terhadap  23 terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror  Polri sepanjang November-Desember 2020.
&quot;Data dari penjelasan beberapa tersangka, sekitar 6.000 sel jaringan  JI  masih aktif. Ini menjadi perhatian bagi kita sekalian,&quot; ujar Argo   dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (18/12/2020).
Argo menambahkan 23 terduga teroris tersebut ditangkap di sejumlah   wilayah, antara lain Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pringsewu dan   Palembang. Para terduga teroris ini telah dibawa ke Mabes Polri di   Jakarta untuk menjalani pemeriksaan. Dua di antaranya yang ditangkap   merupakan petinggi JI, yaitu Upik Lawanga dan Zulkarnain. Kedua petinggi   JI ini memiliki keahlian dalam merakit bom dan senjata. Adapun target   operasi kelompok ini tidak hanya di Indonesia, melainkan juga Malaysia   dan Australia.
Lebih lanjut ia mengatakan, kelompok JI memiliki tiga sumber   pendanaan, yaitu dana kotak amal, yayasan dan iuran anggota sebesar lima   persen. Sebagian dari anggota JI bekerja sebagai penjual makanan,   seperti bebek dan pisang. Hasil dari iuran anggota tersebut kemudian   disalurkan untuk membantu bagi anggota mereka yang belum bekerja.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Menko Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyerukan sinergi antar instansi pemerintah dalam mencegah dan melawan bibit radikalisme. Hal itu diungkap Mahfud terkait dengan fenomena di Indonesia belakangan ini, termasuk sebuah temuan yang mengejutkan.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memperoleh foto-foto mengenai pelatihan sekelompok pemuda untuk melakukan teror terhadap orang-orang yang sangat penting atau VVIP. Namun, Mahfud tidak menjelaskan dengan gamblang lokasi latihan dan organisasi yang melatih para pemuda tersebut.
BACA JUGA: Artis Terlibat Prostitusi hingga 23 Teroris JI Ditangkap dalam Sepekan Ini
&quot;Radikalisme sedang ada di tingkat kita, yang kalau diberi tingkat, ada tiga. Satu intoleran yang tidak suka dengan orang yang berbeda. Kedua dalam bentuk teror,&quot; jelas Mahfud dalam acara &quot;Penyerahan Hasil Evaluasi &amp;amp; Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa&quot; yang disiarkan daring pada Kamis (17/12/2020).
Mahfud menambahkan radikalisme juga dapat berbentuk wacana yang juga masuk ke dalam tubuh kementerian dan lembaga pemerintah, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, informasi tentang masuknya wacana radikalisme di pemerintahan bersumber dari laporan masyarakat. Karena itu, ia meminta kementerian dan lembaga berbagi peran dalam mencegah radikalisme di internal pemerintah dan masyarakat.
Pembagian peran dalam tubuh pemerintah bisa dilakukan dengan membagi tugas antar instansi negara. Misalnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan polisi adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan teroris, sementara Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan menjadi pihak yang menjaga teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kementerian Pendidikan dan Budaya, serta Kementerian Agama akan menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga ideologi Pancasila.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xOS8xLzEyNjIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan penargetan kelompok muda untuk direkrut sebagai teroris sudah lama dilakukan oleh semua kelompok teroris. Namun, ia menduga kelompok teroris yang melatih pemuda untuk melakukan teror terhadap orang penting di Indonesia merupakan jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al Qaeda.
Ia beralasan kelompok ini memiliki sistem rekrutmen dan pelatihan  yang rapi, serta tersembunyi dibandingkan dengan kelompok Jamaah  Ansharut Daulah (JAD) yang bertindak sporadis.
&quot;JAD tidak serapi itu dan dia mudah sekali dideteksi seharusnya. Jadi  kalau lihat karakteristik dan afiliasi, jika pelatihan itu di  Indonesia, kemungkinan besar adalah JI,&quot; jelas Stanislaus Riyanta kepada  VOA, Jumat (18/12).
Riyanta menjelaskan jaringan JI terlihat sedang tertidur setelah  kematian gembong al-Qaeda Osama Bin Laden dan dr Azhari. Namun, kata  dia, berdasarkan penelitian RAND Corporation, setidaknya ada 3.000 orang  Indonesia yang menjadi alumni al-Qaeda. Para alumni ini berpotensi  melakukan konsolidasi kembali dan merekrut kader-kader baru.
BACA JUGA: Polri : 91 Anggota Jamaah Islamiyah Dilatih untuk Melawan Negara!
Menurutnya, mobilitas jaringan JI di Indonesia juga cukup tinggi dan  sebagian besar memiliki daerah pengumpan. Semisal untuk daerah target  Jakarta, maka daerah pengumpannya berasal dari wilayah Bekasi, Bogor dan  Tangerang.
&quot;Beberapa data pernah terjadi pelatihan-pelatihan dari  kelompok-kelompok teroris di Gunung Salak Bogor. Tidak menutup  kemungkinan juga Gunung Lawu, Jawa Tengah, yang pernah menjadi tempat  latihan,&quot; tambahnya.
Sedangkan terkait target VVIP, Riyanta menduga orang penting yang  dimaksud oleh kelompok teroris itu adalah merupakan pejabat pemerintah  yang dianggap melemahkan gerakan mereka, seperti pejabat Kemenko  Polhukam. Namun, kata dia, kelompok teroris ini biasanya membagi target  menjadi tiga bagian, yaitu target reguler, alternatif dan darurat atau  emergency. Karena itu, mereka akan mencari target alternatif atau  lainnya jika targetnya reguler atau utamanya, seperti pejabat pemerintah  atau aparat, tidak terpenuhi.

Polri: Ada 6.000 Anggota JI di Indonesia
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan  saat ini ada sekitar 6.000 anggota JI yang masih aktif di Indonesia.  Menurut Argo, jumlah tersebut terungkap dari hasil pemeriksaan terhadap  23 terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror  Polri sepanjang November-Desember 2020.
&quot;Data dari penjelasan beberapa tersangka, sekitar 6.000 sel jaringan  JI  masih aktif. Ini menjadi perhatian bagi kita sekalian,&quot; ujar Argo   dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (18/12/2020).
Argo menambahkan 23 terduga teroris tersebut ditangkap di sejumlah   wilayah, antara lain Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pringsewu dan   Palembang. Para terduga teroris ini telah dibawa ke Mabes Polri di   Jakarta untuk menjalani pemeriksaan. Dua di antaranya yang ditangkap   merupakan petinggi JI, yaitu Upik Lawanga dan Zulkarnain. Kedua petinggi   JI ini memiliki keahlian dalam merakit bom dan senjata. Adapun target   operasi kelompok ini tidak hanya di Indonesia, melainkan juga Malaysia   dan Australia.
Lebih lanjut ia mengatakan, kelompok JI memiliki tiga sumber   pendanaan, yaitu dana kotak amal, yayasan dan iuran anggota sebesar lima   persen. Sebagian dari anggota JI bekerja sebagai penjual makanan,   seperti bebek dan pisang. Hasil dari iuran anggota tersebut kemudian   disalurkan untuk membantu bagi anggota mereka yang belum bekerja.</content:encoded></item></channel></rss>
