<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Untuk Pertama Kalinya, Korea Selatan Catat Lebih Banyak Kematian Dibanding Kelahiran</title><description>Korea Selatan memiliki salah satu angka kelahiran terendah di dunia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran"/><item><title>Untuk Pertama Kalinya, Korea Selatan Catat Lebih Banyak Kematian Dibanding Kelahiran</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran</guid><pubDate>Senin 04 Januari 2021 14:19 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran-OvOfyOq0lD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/04/18/2338530/untuk-pertama-kalinya-korea-selatan-catat-lebih-banyak-kematian-dibanding-kelahiran-OvOfyOq0lD.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>SEOUL &amp;ndash; Korea Selatan untuk pertama kalinya mencatat lebih banyak kematian dibandingkan kelahiran sepanjang 2020. Data ini menjadi peringatan serius bagi negara yang saat ini memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia itu.
Diwartakan BBC, hanya 275.800 bayi yang lahir di Korea Selatan pada tahun lalu. Jumlah itu  turun 10% dari 2019. Sementara itu jumlah warga Korea Selatan yang meninggal dunia tercatat sebanyak 307.764 orang.
BACA JUGA: Angka Kelahiran Menurun, Korsel Siap Terima Imigran
Angka-angka tersebut mendorong kementerian dalam negeri untuk menyerukan &quot;perubahan mendasar&quot; pada kebijakannya.
Populasi yang menurun memberikan tekanan yang sangat besar pada suatu negara.
Selain tekanan yang meningkat pada pengeluaran publik karena permintaan akan sistem perawatan kesehatan dan pensiun meningkat, penurunan populasi kaum muda juga menyebabkan kekurangan tenaga kerja yang berdampak langsung pada perekonomian.
Bulan lalu, Presiden Moon Jae-in meluncurkan beberapa kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah, termasuk insentif tunai untuk keluarga.
BACA JUGA: Pemerintah Korsel Akan Tingkatkan Angka Kelahiran Bayi
Berdasarkan skema tersebut, mulai tahun 2022, setiap anak yang lahir akan menerima bonus tunai sebesar 2 juta won (sekira Rp26 juta) untuk membantu menutupi biaya prenatal, selain pembayaran bulanan sebesar 300.000 won atau Rp 3,8 juta yang dibagikan hingga bayinya mencapai usia satu tahun. Insentif akan meningkat menjadi 500.000 won (Rp6,4 juta) setiap bulan mulai 2025.
</description><content:encoded>SEOUL &amp;ndash; Korea Selatan untuk pertama kalinya mencatat lebih banyak kematian dibandingkan kelahiran sepanjang 2020. Data ini menjadi peringatan serius bagi negara yang saat ini memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia itu.
Diwartakan BBC, hanya 275.800 bayi yang lahir di Korea Selatan pada tahun lalu. Jumlah itu  turun 10% dari 2019. Sementara itu jumlah warga Korea Selatan yang meninggal dunia tercatat sebanyak 307.764 orang.
BACA JUGA: Angka Kelahiran Menurun, Korsel Siap Terima Imigran
Angka-angka tersebut mendorong kementerian dalam negeri untuk menyerukan &quot;perubahan mendasar&quot; pada kebijakannya.
Populasi yang menurun memberikan tekanan yang sangat besar pada suatu negara.
Selain tekanan yang meningkat pada pengeluaran publik karena permintaan akan sistem perawatan kesehatan dan pensiun meningkat, penurunan populasi kaum muda juga menyebabkan kekurangan tenaga kerja yang berdampak langsung pada perekonomian.
Bulan lalu, Presiden Moon Jae-in meluncurkan beberapa kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah, termasuk insentif tunai untuk keluarga.
BACA JUGA: Pemerintah Korsel Akan Tingkatkan Angka Kelahiran Bayi
Berdasarkan skema tersebut, mulai tahun 2022, setiap anak yang lahir akan menerima bonus tunai sebesar 2 juta won (sekira Rp26 juta) untuk membantu menutupi biaya prenatal, selain pembayaran bulanan sebesar 300.000 won atau Rp 3,8 juta yang dibagikan hingga bayinya mencapai usia satu tahun. Insentif akan meningkat menjadi 500.000 won (Rp6,4 juta) setiap bulan mulai 2025.
</content:encoded></item></channel></rss>
