<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Lapan Pastikan Tidak Ada Cuaca Ekstrem saat Pesawat Sriwijaya Air Jatuh   </title><description>Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) menyatakan tidak ada cuaca ekstrem, saat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh"/><item><title> Lapan Pastikan Tidak Ada Cuaca Ekstrem saat Pesawat Sriwijaya Air Jatuh   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh</guid><pubDate>Selasa 12 Januari 2021 11:33 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh-BQLnIB0wYn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/12/337/2342984/lapan-pastikan-tidak-ada-cuaca-ekstrem-saat-pesawat-sriwijaya-air-jatuh-BQLnIB0wYn.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) menyatakan tidak ada cuaca ekstrem, saat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Kepulauan Seribu.
&quot;Tampak berawan, tetapi tidak ada indikasi kondisi ekstrem,&quot; kata Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin kepada ANTARA, Jakarta, Selasa (12/1/2021).
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Personel KRI RGL 933 Mulai Evakuasi Korban Sriwijaya Air&amp;nbsp;
Berdasarkan pantuan Sadewa (Satellite-based Disaster Early Warning System) Lapan, tidak ada kondisi awan atau hujan ekstrem di titik kejadian.
Perkiraan kondisi atmosfer dari aplikasi Sadewa Lapan menggunakan Satelit Himawari-8 9 (awan tumbuh) dan model WRF (angin dan hujan) menunjukkan di sekitar titik kejadian tidak ada kondisi atmosfer ekstrem.
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sudah Ada 56 Kantong Jenazah Korban Pesawat Sriwijaya di RS Polri&amp;nbsp;
Thomas mengatakan, walau ada proses pembentukan sistem konveksi di sekitar titik kejadian, tetapi tidak ada indikasi kondisi ekstrem.
&quot;Dinamika atmosfer ini mempengaruhi pesawat yang melintas, tetapi belum tentu menjadi penyebab jatuhnya pesawat,&quot; ujarnya.
Analisis dinamika atmosfer menunjukkan sistem konveksi skala meso telah terbentuk di atas Lampung dan Laut Jawa di sekitarnya sejak pukul 11.00 WIB pada 9 Januari 2021. Sistem itu kemudian pecah dan berpropagasi ke selatan, yang berasosiasi dengan pertumbuhan sistem konveksi skala meso lain di atas Jawa bagian barat selama rentang waktu 13.00-15.00 WIB.
Pada 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak mengalami hilang kontak di sekitar Pulau Lancang, Kepulauan Seribu. Pesawat itu membawa 50 penumpang dan 12 awak kabin.


</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) menyatakan tidak ada cuaca ekstrem, saat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Kepulauan Seribu.
&quot;Tampak berawan, tetapi tidak ada indikasi kondisi ekstrem,&quot; kata Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin kepada ANTARA, Jakarta, Selasa (12/1/2021).
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Personel KRI RGL 933 Mulai Evakuasi Korban Sriwijaya Air&amp;nbsp;
Berdasarkan pantuan Sadewa (Satellite-based Disaster Early Warning System) Lapan, tidak ada kondisi awan atau hujan ekstrem di titik kejadian.
Perkiraan kondisi atmosfer dari aplikasi Sadewa Lapan menggunakan Satelit Himawari-8 9 (awan tumbuh) dan model WRF (angin dan hujan) menunjukkan di sekitar titik kejadian tidak ada kondisi atmosfer ekstrem.
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sudah Ada 56 Kantong Jenazah Korban Pesawat Sriwijaya di RS Polri&amp;nbsp;
Thomas mengatakan, walau ada proses pembentukan sistem konveksi di sekitar titik kejadian, tetapi tidak ada indikasi kondisi ekstrem.
&quot;Dinamika atmosfer ini mempengaruhi pesawat yang melintas, tetapi belum tentu menjadi penyebab jatuhnya pesawat,&quot; ujarnya.
Analisis dinamika atmosfer menunjukkan sistem konveksi skala meso telah terbentuk di atas Lampung dan Laut Jawa di sekitarnya sejak pukul 11.00 WIB pada 9 Januari 2021. Sistem itu kemudian pecah dan berpropagasi ke selatan, yang berasosiasi dengan pertumbuhan sistem konveksi skala meso lain di atas Jawa bagian barat selama rentang waktu 13.00-15.00 WIB.
Pada 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak mengalami hilang kontak di sekitar Pulau Lancang, Kepulauan Seribu. Pesawat itu membawa 50 penumpang dan 12 awak kabin.


</content:encoded></item></channel></rss>
