<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Curhat Relawan Pemulasaran Jenazah Covid-19 : Pernah Dilempar Sampah oleh Warga</title><description>Di tengah kesibukan kuliah daring mahasiswa di Malang aktif berperan menguburkan jenazah - jenazah pasien Covid-19.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga"/><item><title>Curhat Relawan Pemulasaran Jenazah Covid-19 : Pernah Dilempar Sampah oleh Warga</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga</guid><pubDate>Jum'at 15 Januari 2021 13:55 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga-C2sRY5dA1Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Proses Pemulasaran Jenazah Covid-19 (Foto: Okezone/avirista)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/15/519/2344961/curhat-relawan-pemulasaran-jenazah-covid-19-pernah-dilempar-sampah-oleh-warga-C2sRY5dA1Q.jpg</image><title>Proses Pemulasaran Jenazah Covid-19 (Foto: Okezone/avirista)</title></images><description>MALANG - Di tengah kesibukan kuliah daring mahasiswa di Malang aktif berperan menguburkan jenazah - jenazah pasien Covid-19. Mahasiswa bernama Rizvan Nanda Irianto menjadi satu dari sejumlah relawan tim pemulasaran jenazah Covid-19 yang berjuang di garda terdepan.

Pemuda berusia 19 tahun ini telah menjadi relawan pemulasaran jenazah Covid-19 sejak tiga bulan lalu. Menurutnya, ia terpanggil ikut mengurusi jenazah - jenazah pasien Covid-19 lantaran prihatin melihat kondisi tim pemulasaran yang terlalu letih karena banyaknya jumlah kematian baik pasien suspek maupun terkonfirmasi positif Covid-19.

&quot;Sudah tiga bulan lalu menjadi relawan. Memang panggilan hatinya kebetulan sejak SMP saya sudah jadi relawan sosial,&quot; ungkap Rizvan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Saat ditemui Rizvan tengah bersiap melakukan pemakaman salah satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dari kawasan Jalan Bunga Srigading, di pemakaman Tembelangan, Kelurahan Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang.

Rizvan bersama teman - teman relawan lainnya menggunakan pakaian hazmat satu per satu. Sambil sesekali meminum air mineral yang disiapkan warga para relawan ini perlahan menggunakan hazmat yang menjadi pelindung dirinya.

&quot;Ya memang ribet harus pakai hazmat, tapi saya ikhlas, saya itu selalu ingin membantu orang, kalau tidak membantu rasanya ada yang berbeda,&quot; ungkapnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8wNS8xLzEyNjk1MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Dirinya mengisahkan selama tiga bulan menjadi relawan pemulasaran jenazah pasien Covid-19, sejumlah cerita pernah dialaminya. Mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan UMM ini pernah ditolak warga sekitar lokasi pemakaman karena takut bila jasad pasien Covid-19 ini akan menularkan virus.

&quot;Pernah ditolak saat mengantarkan jenazah korban Covid-19, padahal sudah sesuai protokol kesehatan. Pernah dilempari sampah, dilempari batu bata, pernah. Tapi ya kita tahu mereka mungkin karena belum paham,&quot; jelasnya.
Di tengah angka kematian Covid-19 yang tinggi Rizvan juga terus berjibaku bersama relawan lainnya. Dirinya dan timnya pernah mengaku memakamkan setidaknya 17 jenazah Covid-19 baik yang berstatus suspek maupun terkonfirmasi positif dalam seharinya.

&quot;Pernah kami memakamkan jenazah covid-19 dalam sehari hingga 17 jenazah, di awal Januari itu,&quot; ucapnya.

Bahkan ia pun harus bersiap bila waktu istirahatnya di tengah malam terpotong untuk melakukan pemulasaran jenazah Covid-19 saat tengah malam tiba. &quot;Tengah malam hingga menjelang pagi pun harus kami laksanakan tugas ini. Kami lakukan sepenuh hati dengan rasa ikhlas membantu karena panggilan jiwa sebagai relawan,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>MALANG - Di tengah kesibukan kuliah daring mahasiswa di Malang aktif berperan menguburkan jenazah - jenazah pasien Covid-19. Mahasiswa bernama Rizvan Nanda Irianto menjadi satu dari sejumlah relawan tim pemulasaran jenazah Covid-19 yang berjuang di garda terdepan.

Pemuda berusia 19 tahun ini telah menjadi relawan pemulasaran jenazah Covid-19 sejak tiga bulan lalu. Menurutnya, ia terpanggil ikut mengurusi jenazah - jenazah pasien Covid-19 lantaran prihatin melihat kondisi tim pemulasaran yang terlalu letih karena banyaknya jumlah kematian baik pasien suspek maupun terkonfirmasi positif Covid-19.

&quot;Sudah tiga bulan lalu menjadi relawan. Memang panggilan hatinya kebetulan sejak SMP saya sudah jadi relawan sosial,&quot; ungkap Rizvan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Saat ditemui Rizvan tengah bersiap melakukan pemakaman salah satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dari kawasan Jalan Bunga Srigading, di pemakaman Tembelangan, Kelurahan Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang.

Rizvan bersama teman - teman relawan lainnya menggunakan pakaian hazmat satu per satu. Sambil sesekali meminum air mineral yang disiapkan warga para relawan ini perlahan menggunakan hazmat yang menjadi pelindung dirinya.

&quot;Ya memang ribet harus pakai hazmat, tapi saya ikhlas, saya itu selalu ingin membantu orang, kalau tidak membantu rasanya ada yang berbeda,&quot; ungkapnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8wNS8xLzEyNjk1MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Dirinya mengisahkan selama tiga bulan menjadi relawan pemulasaran jenazah pasien Covid-19, sejumlah cerita pernah dialaminya. Mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan UMM ini pernah ditolak warga sekitar lokasi pemakaman karena takut bila jasad pasien Covid-19 ini akan menularkan virus.

&quot;Pernah ditolak saat mengantarkan jenazah korban Covid-19, padahal sudah sesuai protokol kesehatan. Pernah dilempari sampah, dilempari batu bata, pernah. Tapi ya kita tahu mereka mungkin karena belum paham,&quot; jelasnya.
Di tengah angka kematian Covid-19 yang tinggi Rizvan juga terus berjibaku bersama relawan lainnya. Dirinya dan timnya pernah mengaku memakamkan setidaknya 17 jenazah Covid-19 baik yang berstatus suspek maupun terkonfirmasi positif dalam seharinya.

&quot;Pernah kami memakamkan jenazah covid-19 dalam sehari hingga 17 jenazah, di awal Januari itu,&quot; ucapnya.

Bahkan ia pun harus bersiap bila waktu istirahatnya di tengah malam terpotong untuk melakukan pemulasaran jenazah Covid-19 saat tengah malam tiba. &quot;Tengah malam hingga menjelang pagi pun harus kami laksanakan tugas ini. Kami lakukan sepenuh hati dengan rasa ikhlas membantu karena panggilan jiwa sebagai relawan,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
