<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banjir Pesisir Manado Disebabkan Gelombang Tinggi dan Pasang Air Laut</title><description>Ini penjelasan BMKG terkait banjir di Manado.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut"/><item><title>Banjir Pesisir Manado Disebabkan Gelombang Tinggi dan Pasang Air Laut</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut</guid><pubDate>Senin 18 Januari 2021 08:21 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut-QDz1U8IlGa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Antara.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/18/340/2346144/banjir-pesisir-manado-disebabkan-gelombang-tinggi-dan-pasang-air-laut-QDz1U8IlGa.jpg</image><title>Foto: Antara.</title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan banjir di pesisir Kota Manado, Sulawesi Utara diduga disebabkan superposisi gelombang tinggi dan pasang air laut.
&quot;Naiknya air laut ke daratan yang terjadi di Manado pada Minggu sore diduga karena adanya kombinasi dari gelombang tinggi, angin kencang serta kondisi laut yang sedang pasang,&quot; kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo di Jakarta, Minggu (16/1/2021).
BACA JUGA: Ombak Besar Terjang Manado, Pusat Perbelanjaan Tergenang Air Laut.
Eko mengatakan, data pemodelan BMKG Ocean Forecast System (OFS) di Laut Sulawesi hingga pesisir Sulawesi Utara menunjukkan gelombang tinggi yang berkisar antara 2.5- 4 meter.
Kondis ini terjadi saat air laut pasang yang mengakibatkan massa air yang masuk ke darat semakin tinggi. Data pasang surut BIG menunjukkan pada waktu kejadian terjadi pasang dengan ketinggian mencapai 2,5 meter. Kondisi ini diperparah dengan adanya angin kencang yang juga terjadi saat itu.
Sebelumnya diberitakan ombak besar menghantam pesisir pantai Manado, Ahad sore sampai malam, dan menyebabkan air laut masuk dan membanjiri kawasan bisnis Megamas dan Manado Town Square (Mantos).
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga lebih dari 6 meter di sejumlah perairan di Indonesia yang berlaku dari 17 Januari pukul 07.00 WIB sampai dengan 19 Januari 2021 pukul 07.00 WIB.
BACA JUGA: Mantan Menteri Lingkungan Hidup: Bertubi-tubi Ditimpa Bencana, Jangan Cari-Cari Kesalahan
Berdasarkan rilis data BMKG, tekanan rendah sebesar 1007 hPa terjadi di Laut Arafuru dan sirkulasi udara teridentifkasi di Samudra Hindia utara Aceh.
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari utara ke timur dengan kecepatan angin berkisar 6 - 30 knot. Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan pola angin umumnya bergerak dari barat daya - barat laut dengan kecepatan angin berkisar 5 - 25 knot.Lebih lanjut, kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Natuna  Utara, Perairan Kep. Anambas hingga Kepulauan Natuna, Laut Jawa,  Perairan utara dan selatan Jawa, Perairan Kepulauan Sangihe hingga  Talaud, Perairan Kepulauan Sitaro hingga Bitung, Laut Halmahera, Samudra  Pasifik utara Halmahera. Dan kondisi tersebut dapat mengakibatkan  peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.
BMKG memperkirakan tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang  terjadi di perairan barat Aceh, perairan barat Lampung, Samudera Hindia  bagian barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan dan barat, perairan  selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia selatan Banten dan  Jawa Barat, Selat Bali - Lombok hingga Alas bagian selatan, perairan  selatan Sumbawa hingga Pulau Sumba, Selat Sumba bagian barat dan  perairan selatan Pulau Sawu.
Berikutnya, gelombang tinggi dengan tinggi gelombang yang sama juga  terjadi di perairan selatan Pulau Sawu, Laut Sawu, Selat Sape bagiam  selatan, Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, perairan timur  Kepulauan Lingga, perairan utara Kepulauan Bangka Belitung, Selat  Karimata, perairan utara Jawa.
Kemudian di perairan Kepulauan Enggano, perairan Kotabaru, Selat  Makassar tengah dan utara, Laut Sulawesi Barat, Teluk Tolo, Perairan  Banggai hingga Sula, perairan selatan Ambon, perairan Kepulauan Kai  hingga Aru, perairan utara Kepulauan Tanimbar, perairan Wakatobi, Laut  Banda, Laut Arafuru timur dan tengah, perairan utara dan timur  Halmahera, Laut Maluku bagian selatan, perairan utara Papua dan Samudera  Pasifik utara Papua.
Selanjutnya, tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter diperkirakan  berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan utara Sulawesi  Utara, Selat Malaka utara, Perairan Bitung hingga Kepulauan Sitaro,  Perairan Kepulauan Bintan bagian utara, Perairan Halmahera barat,  perairan selatan Jawa, Laut Halmahera.

Lalu di Samudera Hindia selatan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara   Barat, Laut Maluku bagian utara, Perairan Kalimantan Tengah bagian   timur, Perairan Morotai, Selat Makassar bagian selatan, Samudera Pasifik   utara Halmahera hingga Papua Barat, Perairan Kepulauan Sangihe hingga   Talaud, Laut Arafuru timur Kepulauan Aru dan Laut Sulawesi tengah dan   timur.
Sementara itu, tinggi gelombang 4,0 hingga 6,0 meter diperkirakan   berpeluang terjadi di perairan utara Kepulauan Anambas hingga Kepulauan   Natuna, Perairan Kepulauan Subi hingga Kepulauan Serasan, dan perairan   utara Singkawan hingga Sambas.
Sedangkan tinggi gelombang lebih dari 6,0 meter diperkirakan berpeluang terjadi di Laut Natuna utara.
BMKG mengimbau para nelayan untuk mewaspadai risiko tinggi gelombang   tinggi tersebut terhadap keselamatan pelayaran pada perahu nelayan   berkecepatan lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter,   kapal tongkang berkecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi   gelombang di atas 1,5 meter, kapal ferry dengan kecepatan angin lebih   dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, kapal ukuran besar   seperti kapal kargo atau kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari   27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.
BMKG meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir   sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu   waspada.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan banjir di pesisir Kota Manado, Sulawesi Utara diduga disebabkan superposisi gelombang tinggi dan pasang air laut.
&quot;Naiknya air laut ke daratan yang terjadi di Manado pada Minggu sore diduga karena adanya kombinasi dari gelombang tinggi, angin kencang serta kondisi laut yang sedang pasang,&quot; kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo di Jakarta, Minggu (16/1/2021).
BACA JUGA: Ombak Besar Terjang Manado, Pusat Perbelanjaan Tergenang Air Laut.
Eko mengatakan, data pemodelan BMKG Ocean Forecast System (OFS) di Laut Sulawesi hingga pesisir Sulawesi Utara menunjukkan gelombang tinggi yang berkisar antara 2.5- 4 meter.
Kondis ini terjadi saat air laut pasang yang mengakibatkan massa air yang masuk ke darat semakin tinggi. Data pasang surut BIG menunjukkan pada waktu kejadian terjadi pasang dengan ketinggian mencapai 2,5 meter. Kondisi ini diperparah dengan adanya angin kencang yang juga terjadi saat itu.
Sebelumnya diberitakan ombak besar menghantam pesisir pantai Manado, Ahad sore sampai malam, dan menyebabkan air laut masuk dan membanjiri kawasan bisnis Megamas dan Manado Town Square (Mantos).
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga lebih dari 6 meter di sejumlah perairan di Indonesia yang berlaku dari 17 Januari pukul 07.00 WIB sampai dengan 19 Januari 2021 pukul 07.00 WIB.
BACA JUGA: Mantan Menteri Lingkungan Hidup: Bertubi-tubi Ditimpa Bencana, Jangan Cari-Cari Kesalahan
Berdasarkan rilis data BMKG, tekanan rendah sebesar 1007 hPa terjadi di Laut Arafuru dan sirkulasi udara teridentifkasi di Samudra Hindia utara Aceh.
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari utara ke timur dengan kecepatan angin berkisar 6 - 30 knot. Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan pola angin umumnya bergerak dari barat daya - barat laut dengan kecepatan angin berkisar 5 - 25 knot.Lebih lanjut, kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Natuna  Utara, Perairan Kep. Anambas hingga Kepulauan Natuna, Laut Jawa,  Perairan utara dan selatan Jawa, Perairan Kepulauan Sangihe hingga  Talaud, Perairan Kepulauan Sitaro hingga Bitung, Laut Halmahera, Samudra  Pasifik utara Halmahera. Dan kondisi tersebut dapat mengakibatkan  peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.
BMKG memperkirakan tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang  terjadi di perairan barat Aceh, perairan barat Lampung, Samudera Hindia  bagian barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan dan barat, perairan  selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia selatan Banten dan  Jawa Barat, Selat Bali - Lombok hingga Alas bagian selatan, perairan  selatan Sumbawa hingga Pulau Sumba, Selat Sumba bagian barat dan  perairan selatan Pulau Sawu.
Berikutnya, gelombang tinggi dengan tinggi gelombang yang sama juga  terjadi di perairan selatan Pulau Sawu, Laut Sawu, Selat Sape bagiam  selatan, Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, perairan timur  Kepulauan Lingga, perairan utara Kepulauan Bangka Belitung, Selat  Karimata, perairan utara Jawa.
Kemudian di perairan Kepulauan Enggano, perairan Kotabaru, Selat  Makassar tengah dan utara, Laut Sulawesi Barat, Teluk Tolo, Perairan  Banggai hingga Sula, perairan selatan Ambon, perairan Kepulauan Kai  hingga Aru, perairan utara Kepulauan Tanimbar, perairan Wakatobi, Laut  Banda, Laut Arafuru timur dan tengah, perairan utara dan timur  Halmahera, Laut Maluku bagian selatan, perairan utara Papua dan Samudera  Pasifik utara Papua.
Selanjutnya, tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter diperkirakan  berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan utara Sulawesi  Utara, Selat Malaka utara, Perairan Bitung hingga Kepulauan Sitaro,  Perairan Kepulauan Bintan bagian utara, Perairan Halmahera barat,  perairan selatan Jawa, Laut Halmahera.

Lalu di Samudera Hindia selatan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara   Barat, Laut Maluku bagian utara, Perairan Kalimantan Tengah bagian   timur, Perairan Morotai, Selat Makassar bagian selatan, Samudera Pasifik   utara Halmahera hingga Papua Barat, Perairan Kepulauan Sangihe hingga   Talaud, Laut Arafuru timur Kepulauan Aru dan Laut Sulawesi tengah dan   timur.
Sementara itu, tinggi gelombang 4,0 hingga 6,0 meter diperkirakan   berpeluang terjadi di perairan utara Kepulauan Anambas hingga Kepulauan   Natuna, Perairan Kepulauan Subi hingga Kepulauan Serasan, dan perairan   utara Singkawan hingga Sambas.
Sedangkan tinggi gelombang lebih dari 6,0 meter diperkirakan berpeluang terjadi di Laut Natuna utara.
BMKG mengimbau para nelayan untuk mewaspadai risiko tinggi gelombang   tinggi tersebut terhadap keselamatan pelayaran pada perahu nelayan   berkecepatan lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter,   kapal tongkang berkecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi   gelombang di atas 1,5 meter, kapal ferry dengan kecepatan angin lebih   dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, kapal ukuran besar   seperti kapal kargo atau kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari   27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.
BMKG meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir   sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu   waspada.</content:encoded></item></channel></rss>
