<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Benarkah Suntikan Vaksin Covid-19 ke Jokowi Harus Diulang? Ini Jawaban Ketua Satgas IDI</title><description>Merebaknya isu vaksinasi Presiden Jokowi gagal dan harus diulang itu berawal dari pesan seorang dokter di daerah Cirebon.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi"/><item><title>Benarkah Suntikan Vaksin Covid-19 ke Jokowi Harus Diulang? Ini Jawaban Ketua Satgas IDI</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi</guid><pubDate>Selasa 19 Januari 2021 09:44 WIB</pubDate><dc:creator>Bima Setiyadi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi-Q25StW06Xt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi saat divaksinasi. (Foto: Biro Pers Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/19/337/2346821/benarkah-suntikan-vaksin-covid-19-ke-jokowi-harus-diulang-ini-jawaban-ketua-satgas-idi-Q25StW06Xt.jpg</image><title>Presiden Jokowi saat divaksinasi. (Foto: Biro Pers Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban resah dengan munculnya pesan berantai di media sosial tentang anggapan vaksinasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal dan perlu diulang. Benarkah begitu?
Merebaknya isu vaksinasi Presiden Jokowi gagal dan harus diulang itu berawal dari pesan seorang dokter di daerah Cirebon, Jawa Barat, yang menyatakan injeksi vaksin Sinovac seharusnya intramuskular (menembus otot), sehingga penyuntikannya harus dilakukan dengan tegak lurus 90 derajat.
&quot;Menurut dokter itu, vaksin yang diterima @jokowi tidak menembus otot, karena tidak 90 derajat. Sehingga, dianggapnya, vaksin tersebut tidak masuk ke dalam darah dan hanya sampai di kulit (intrakutan) atau di bawah kulit (subkutan). Apakah benar?,&quot; tulis akun Twitter resminya, @ProfesorZubairi yang dikutip Selasa (19/1/2021).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8xMy8xLzEyNzMwOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Zubairi menegaskan bahwa jawabannya tidak benar. Sebab, menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Hal itu, kata dia, merupakan pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya dalam penelitian berjudul &quot;Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat&amp;rdquo;.
Baca juga: Tinjau Lokasi Banjir Kalsel di Tengah Guyuran Hujan, Jokowi Sampaikan Duka Cita pada Korban
Penelitian itu ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma, yang diterbitkan di National Library of Medicine pada edisi Januari-Februari 2000. Intinya, persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis.
Pasalnya, trigonometri menunjukkan, suntikan yang diberikan pada 72 derajat, hasilnya itu mencapai 95 persen dari kedalaman suntikan yang diberikan pada derajat 90. Artinya, apa yang dilakukan Profesor Abdul Muthalib sudah benar.&quot;Pertanyaan selanjutnya, apakah ada risiko terjadi Antibody Dependent  Enhancement (ADE), kondisi di mana virus mati yang ada di dalam vaksin  masuk ke jaringan tubuh lain dan menyebabkan masalah kesehatan?,&quot;  sambung cuitanya.
Zubairi menyatakan semua itu tidak terbukti di uji klinis satu, dua  dan tiga bahwa ADE itu terjadi pada vaksin Sinovac. Dahulu pernah diduga  terjadi pada vaksin demam berdarah. Namun dia tidak tahu lagi  perkembangannya.
&quot;Lebih jauh lagi. Apakah tubuh kurus dan tidak punya pengaruh dengan  ukuran jarum suntik? Ya kalau obesitas berlebihan tentu jaringan  lemaknya banyak. Jadi untuk masuk ke otot jadi lebih sulit. Dokter yang  nantinya bisa menilai ukuran jarum suntik itu ketika akan divaksin,&quot;  pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban resah dengan munculnya pesan berantai di media sosial tentang anggapan vaksinasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal dan perlu diulang. Benarkah begitu?
Merebaknya isu vaksinasi Presiden Jokowi gagal dan harus diulang itu berawal dari pesan seorang dokter di daerah Cirebon, Jawa Barat, yang menyatakan injeksi vaksin Sinovac seharusnya intramuskular (menembus otot), sehingga penyuntikannya harus dilakukan dengan tegak lurus 90 derajat.
&quot;Menurut dokter itu, vaksin yang diterima @jokowi tidak menembus otot, karena tidak 90 derajat. Sehingga, dianggapnya, vaksin tersebut tidak masuk ke dalam darah dan hanya sampai di kulit (intrakutan) atau di bawah kulit (subkutan). Apakah benar?,&quot; tulis akun Twitter resminya, @ProfesorZubairi yang dikutip Selasa (19/1/2021).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8xMy8xLzEyNzMwOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Zubairi menegaskan bahwa jawabannya tidak benar. Sebab, menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Hal itu, kata dia, merupakan pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya dalam penelitian berjudul &quot;Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat&amp;rdquo;.
Baca juga: Tinjau Lokasi Banjir Kalsel di Tengah Guyuran Hujan, Jokowi Sampaikan Duka Cita pada Korban
Penelitian itu ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma, yang diterbitkan di National Library of Medicine pada edisi Januari-Februari 2000. Intinya, persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis.
Pasalnya, trigonometri menunjukkan, suntikan yang diberikan pada 72 derajat, hasilnya itu mencapai 95 persen dari kedalaman suntikan yang diberikan pada derajat 90. Artinya, apa yang dilakukan Profesor Abdul Muthalib sudah benar.&quot;Pertanyaan selanjutnya, apakah ada risiko terjadi Antibody Dependent  Enhancement (ADE), kondisi di mana virus mati yang ada di dalam vaksin  masuk ke jaringan tubuh lain dan menyebabkan masalah kesehatan?,&quot;  sambung cuitanya.
Zubairi menyatakan semua itu tidak terbukti di uji klinis satu, dua  dan tiga bahwa ADE itu terjadi pada vaksin Sinovac. Dahulu pernah diduga  terjadi pada vaksin demam berdarah. Namun dia tidak tahu lagi  perkembangannya.
&quot;Lebih jauh lagi. Apakah tubuh kurus dan tidak punya pengaruh dengan  ukuran jarum suntik? Ya kalau obesitas berlebihan tentu jaringan  lemaknya banyak. Jadi untuk masuk ke otot jadi lebih sulit. Dokter yang  nantinya bisa menilai ukuran jarum suntik itu ketika akan divaksin,&quot;  pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
