<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Sepasang Pemulung Renta yang Bertekad Sehidup Semati, Kisahnya Bikin Haru</title><description>Meskipun hendak dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun Supadmi terus meronta tak mau pindah</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/28/512/2352153/cerita-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/01/28/512/2352153/cerita-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru"/><item><title>Cerita Sepasang Pemulung Renta yang Bertekad Sehidup Semati, Kisahnya Bikin Haru</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/01/28/512/2352153/cerita-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/01/28/512/2352153/cerita-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru</guid><pubDate>Kamis 28 Januari 2021 08:58 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/28/512/2352153/kisah-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru-v1tQzJVgXT.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Supadmi saat dipindahkan ke rumah sakit (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/28/512/2352153/kisah-sepasang-pemulung-renta-yang-bertekad-sehidup-semati-kisahnya-bikin-haru-v1tQzJVgXT.JPG</image><title>Supadmi saat dipindahkan ke rumah sakit (Foto: Istimewa)</title></images><description>KARANGANYAR - Supadmi (71) menolak keras untuk dievakuasi oleh Dinas Sosial dari tempat tinggalnya diantara dua bak sampah milik Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang ada di Pasar Palur, Jaten, Karanganyar. Meskipun hendak dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun Supadmi terus meronta tak mau pindah dari tempat itu.
Ditempat inilah, selama 30 tahun, dirinya hidup bersama sang suami, Janto (76) yang baru saja meninggal dunia. Siapapun yang melihat tak akan kuasa menahan air mata.
Bagaimana tidak, rasa cinta Supadmi terhadap sang suami begitu besar. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet. Sehingga Supadmi tak mau meninggalkan tempat dimana dirinya hidup bersama sang suami dalam keadaan suka dan duka bersama, apapun alasannya.
Ya, ditempat inilah, selama tiga puluh tahun, Supadmi dan Janto hidup bersama. Meski hanya tidur beralaskan kasur lusuh dan dua bantal yang juga lusuh, keduanya tanpak bahagia menjalani hidup.
Baca Juga: Diamputasi Terkena Ranjau, Prajurit TNI Ini Sukses Jadi Pengusaha
Biarpun seng yang menjadi atapnya dan dindingnya dari triplek tak mampu menahan derasnya hujan membuat keduannya basah kuyup bila hujan turun, tak begitu mereka pedulikan.
Rasa cinta dan sayang Janto terhadap Supadmi begitu besar. Meskipun sang istri termasuk penyandang disabilitas dan tak bisa melihat dan mendengar, tak diperdulikannya. Keduannya tanpa hidup bahagia dari hasil jerih payah yang didapat oleh Janto dari profesinya sebagai pemulung.
Bahkan meski hidup diantara dua buah bak sampah, memanfaatkan ruang empat meter ini, keduanya cukup dikenal sangat baik. Karena kebaikan keduanya, warga Dusun Palur RT 06/03 sangat menyayangi keduanya dan menganggap keduanya bagian dari keluarga mereka sendiri.
Meskipun Janto sendiri berasal dari Boyolali. Tak ada yang tahu pasti, kapan Janto tiba di Palur, Jaten, Karanganyar. Awalnya, Janto bekerja serabutan. Hingga akhirnya bekerja sebagai tukang sapu pasar Palur.Sedangkan Supadmi sendiri, karena keterbatasan fisiknya, hanyalah ibu  rumah tangga. Sebelum akhirnya, Janto pun berhenti menjadi tukang sapu  pasar Palur karena kondisi fisiknya yang menurun. Sejak saat itulah,  untuk menyambung hidup, Janto pun mencari rejeki dengan menjadi seorang  pemulung.
Hingga akhirnya sang pencipta berkehendak lain. Setelah menderita  sakit selama lima hari, akhirnya pada hari Selasa 25 Januari 2021,  sekira pukul 21.00 WIB, Janto pun meninggalkan istri tercinta untuk  selama-lamanya. Tangisan Supadmi malam itu cukup menyayat siapapun yang  mendengar.
Wargapun berbondong-bondong datang ketempat dimana Supadmi dan Janto  tinggal. Saat warga datang, mereka melihat Supadmi duduk menangis  disamping jenazah suaminya yang sudah terbujur kaku. Karena tak memiliki  sanak keluarga, atas inisiatif salah satu tokoh masyarakat setempat,  Suprapto Koting, malam itu juga, Jenazah pemilik nama lengkap Harjanto  Muhammad Mucjid inipun dimakamkan.
&quot;Awalnya, Ibu Supadmi tak mau dibawa ke RSUD Moewardi. Beliau tak mau  keluar dari tempatnya. Alhamdulilah setelah kami bujuk, Ibu Supadmi  akhirnya mau dibawa kerumah sakit oleh Dinas Sosial,&quot; papar Suprapto,  pada MNC Portal Indonesia, Rabu (27/1/2021) malam.
Menurut Prapto, pasangan ini sebenarnya pernah mengangkat seorang  anak perempuan. Bahkan kala masih duduk dibangku sekolah, anak angkat  pasangan Janto dan Supadmi ini aktif di Karangtaruna. Namun saat duduk  dibangku SMA dan dinikahkan, hingga saat ini anak angkat Janto dan  Supadmi ini tidak lagi diketahui dimana tempat tinggalnya.
&quot;Mbah Janto dan Supadmi ini pernah ngangkat anak, disekolahkan sampai  SMA. Terus habis dinikahkan, sampai sekarang tidak tahu dimana tempat  tinggalnya,&quot;ungkap Prapto.
Atas inisiatip warga, berdasarkan rapat koordinasi Rw 03 yang juga  melibatkan Dinas Sosial, disepakati, untuk membersihkan tempat tinggal  dari Supadmi. Keputusan warga itu didasari karena keterbatasan fisik  dari Supadmi. Sehingga dikhawatirkan, bila dipindahkan jauh dari pasar,  terlalu membahayakan keselamatannya.
&quot;Kalau tetap tinggal disitu itukan mbah Supadmi sudah hapal jalan  kepasar, meski tak bisa melihat. Kalau dipindah dari situ, kasihan. Jadi  warga sepakat membersihkan tempat tinggal mbah Supadmi biar lebih layak  dan nyaman untuk ditinggali,&quot; ungkapnya.
Prapto yang juga mengatakan bila warga telah memberikan uang untuk  dipergunakan memperingati tujuh hari meninggalnya Janto. Terpisah,  Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar Waluyo Dwi basuki mengatakan  pihaknya tidak mungkin membawa Supadmi ke panti jompo.Karena dengan keterbatasan fisik, tak mungkin bagi Supadmi untuk   hidup mandiri di panti jompo. Saat ini, ungkap Basuki, Supadmi sudah   dibawa ke RSUD Moewardi Solo untuk mendapatkan perawatan.
&quot;Di Panti Jompo itukan harus mandiri, mengurusi dirinya sendiri.   Dengan keterbatasan fisik, sulit bagi Supadmi untuk melayani dirinya   sendiri bila tak titipkan di Panti Jompo,&quot; terang Basuki pada MNC Portal   Indonesia.
Sehingga, dari hasil koordinasi, setelah kembali dari rumah sakit,   Supadmi kembali ketempat dimana dahulu dirinya tinggal besama almarhum   Suaminya.
&quot;Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Karanganyar   tentang penempatan Supadmi pasca pulang dari rumah sakit,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>KARANGANYAR - Supadmi (71) menolak keras untuk dievakuasi oleh Dinas Sosial dari tempat tinggalnya diantara dua bak sampah milik Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang ada di Pasar Palur, Jaten, Karanganyar. Meskipun hendak dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun Supadmi terus meronta tak mau pindah dari tempat itu.
Ditempat inilah, selama 30 tahun, dirinya hidup bersama sang suami, Janto (76) yang baru saja meninggal dunia. Siapapun yang melihat tak akan kuasa menahan air mata.
Bagaimana tidak, rasa cinta Supadmi terhadap sang suami begitu besar. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet. Sehingga Supadmi tak mau meninggalkan tempat dimana dirinya hidup bersama sang suami dalam keadaan suka dan duka bersama, apapun alasannya.
Ya, ditempat inilah, selama tiga puluh tahun, Supadmi dan Janto hidup bersama. Meski hanya tidur beralaskan kasur lusuh dan dua bantal yang juga lusuh, keduanya tanpak bahagia menjalani hidup.
Baca Juga: Diamputasi Terkena Ranjau, Prajurit TNI Ini Sukses Jadi Pengusaha
Biarpun seng yang menjadi atapnya dan dindingnya dari triplek tak mampu menahan derasnya hujan membuat keduannya basah kuyup bila hujan turun, tak begitu mereka pedulikan.
Rasa cinta dan sayang Janto terhadap Supadmi begitu besar. Meskipun sang istri termasuk penyandang disabilitas dan tak bisa melihat dan mendengar, tak diperdulikannya. Keduannya tanpa hidup bahagia dari hasil jerih payah yang didapat oleh Janto dari profesinya sebagai pemulung.
Bahkan meski hidup diantara dua buah bak sampah, memanfaatkan ruang empat meter ini, keduanya cukup dikenal sangat baik. Karena kebaikan keduanya, warga Dusun Palur RT 06/03 sangat menyayangi keduanya dan menganggap keduanya bagian dari keluarga mereka sendiri.
Meskipun Janto sendiri berasal dari Boyolali. Tak ada yang tahu pasti, kapan Janto tiba di Palur, Jaten, Karanganyar. Awalnya, Janto bekerja serabutan. Hingga akhirnya bekerja sebagai tukang sapu pasar Palur.Sedangkan Supadmi sendiri, karena keterbatasan fisiknya, hanyalah ibu  rumah tangga. Sebelum akhirnya, Janto pun berhenti menjadi tukang sapu  pasar Palur karena kondisi fisiknya yang menurun. Sejak saat itulah,  untuk menyambung hidup, Janto pun mencari rejeki dengan menjadi seorang  pemulung.
Hingga akhirnya sang pencipta berkehendak lain. Setelah menderita  sakit selama lima hari, akhirnya pada hari Selasa 25 Januari 2021,  sekira pukul 21.00 WIB, Janto pun meninggalkan istri tercinta untuk  selama-lamanya. Tangisan Supadmi malam itu cukup menyayat siapapun yang  mendengar.
Wargapun berbondong-bondong datang ketempat dimana Supadmi dan Janto  tinggal. Saat warga datang, mereka melihat Supadmi duduk menangis  disamping jenazah suaminya yang sudah terbujur kaku. Karena tak memiliki  sanak keluarga, atas inisiatif salah satu tokoh masyarakat setempat,  Suprapto Koting, malam itu juga, Jenazah pemilik nama lengkap Harjanto  Muhammad Mucjid inipun dimakamkan.
&quot;Awalnya, Ibu Supadmi tak mau dibawa ke RSUD Moewardi. Beliau tak mau  keluar dari tempatnya. Alhamdulilah setelah kami bujuk, Ibu Supadmi  akhirnya mau dibawa kerumah sakit oleh Dinas Sosial,&quot; papar Suprapto,  pada MNC Portal Indonesia, Rabu (27/1/2021) malam.
Menurut Prapto, pasangan ini sebenarnya pernah mengangkat seorang  anak perempuan. Bahkan kala masih duduk dibangku sekolah, anak angkat  pasangan Janto dan Supadmi ini aktif di Karangtaruna. Namun saat duduk  dibangku SMA dan dinikahkan, hingga saat ini anak angkat Janto dan  Supadmi ini tidak lagi diketahui dimana tempat tinggalnya.
&quot;Mbah Janto dan Supadmi ini pernah ngangkat anak, disekolahkan sampai  SMA. Terus habis dinikahkan, sampai sekarang tidak tahu dimana tempat  tinggalnya,&quot;ungkap Prapto.
Atas inisiatip warga, berdasarkan rapat koordinasi Rw 03 yang juga  melibatkan Dinas Sosial, disepakati, untuk membersihkan tempat tinggal  dari Supadmi. Keputusan warga itu didasari karena keterbatasan fisik  dari Supadmi. Sehingga dikhawatirkan, bila dipindahkan jauh dari pasar,  terlalu membahayakan keselamatannya.
&quot;Kalau tetap tinggal disitu itukan mbah Supadmi sudah hapal jalan  kepasar, meski tak bisa melihat. Kalau dipindah dari situ, kasihan. Jadi  warga sepakat membersihkan tempat tinggal mbah Supadmi biar lebih layak  dan nyaman untuk ditinggali,&quot; ungkapnya.
Prapto yang juga mengatakan bila warga telah memberikan uang untuk  dipergunakan memperingati tujuh hari meninggalnya Janto. Terpisah,  Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar Waluyo Dwi basuki mengatakan  pihaknya tidak mungkin membawa Supadmi ke panti jompo.Karena dengan keterbatasan fisik, tak mungkin bagi Supadmi untuk   hidup mandiri di panti jompo. Saat ini, ungkap Basuki, Supadmi sudah   dibawa ke RSUD Moewardi Solo untuk mendapatkan perawatan.
&quot;Di Panti Jompo itukan harus mandiri, mengurusi dirinya sendiri.   Dengan keterbatasan fisik, sulit bagi Supadmi untuk melayani dirinya   sendiri bila tak titipkan di Panti Jompo,&quot; terang Basuki pada MNC Portal   Indonesia.
Sehingga, dari hasil koordinasi, setelah kembali dari rumah sakit,   Supadmi kembali ketempat dimana dahulu dirinya tinggal besama almarhum   Suaminya.
&quot;Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Karanganyar   tentang penempatan Supadmi pasca pulang dari rumah sakit,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
