<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Min Aung Hlaing, Sosok Panglima di Balik Kudeta Militer Myanmar</title><description>Jenderal Min Aung Hlaing disorot setelah aksi militer yang memaksa ratusan ribu warga Rohingya mengungsi pada 2017.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar"/><item><title>Min Aung Hlaing, Sosok Panglima di Balik Kudeta Militer Myanmar</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar</guid><pubDate>Selasa 02 Februari 2021 12:06 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar-wxnQQDvUL1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/02/18/2354989/min-aung-hlaing-sosok-panglima-di-balik-kudeta-militer-myanmar-wxnQQDvUL1.jpg</image><title>Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (Foto: Reuters)</title></images><description>PANGLIMA militer Myanmar yang berkuasa, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, menjadi sorotan dunia menyusul penahanan politisi Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), termasuk pimpinannya, Aung San Suu Kyi. Sesaat setelah penahanan tersebut, militer mengeluarkan pernyataan akan mengambil alih kekuasaan di negara tersebut selama setahun.
Militer Myanmar, sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (1/2/2021), terkenal tertutup dan bahkan para pengamat hanya tahu sedikit tentang cara kerjanya.
BACA JUGA: Human Rights Watch: Junta Militer Tidak Pernah Benar-benar Mundur
Berikut adalah beberapa fakta kunci tentang kepemimpinannya dan peran yang dijalankan militer dalam sistem politik Myanmar:
Peran Militer dalam Politik
Militer memerintah secara langsung selama hampir 50 tahun setelah kudeta pada 1962. Militer menganggap dirinya sebagai penjaga persatuan nasional.
Sebagai perancang konstitusi Myanmar pada 2008, militer mengabadikan peran permanen dirinya dalam sistem politik. Militer mendapat kuota sebesar 25 persen pada kursi parlemen. Pemimpin militer mendapatkan kekuasaan untuk menunjuk menteri pertahanan, dalam negeri dan perbatasan, juga memastikan kepentingan utama dalam politik.
Banyak anggota partai, termasuk pemimpin Aung San Suu Kyi, selama bertahun-tahun mengalami penganiayaan karena menentang mantan junta.
Min Aung Hlaing: Pelan Tapi Pasti
Min Aung Hlaing, (64), menjauhi aktivisme politik yang tersebar luas pada saat ia belajar hukum di Universitas Yangon pada 1972-1974. &amp;ldquo;Dia orang yang tidak banyak bicara dan biasanya tidak menonjolkan diri,&amp;rdquo; kata seorang teman sekelasnya kepada Reuters pada 2016.
Ketika teman-teman sekolahnya melakukan demonstrasi, Min Aung Hlaing membuat aplikasi tahunan untuk bergabung dengan universitas militer utama, Akademi Layanan Pertahanan (Defence Services Academy/DSA). Ia berhasil lolos pada upaya ketiganya pada tahun 1974.
BACA JUGA: Dunia Internasional Bereaksi atas Penangkapan Aung San Suu Kyi, AS Ancam Jatuhkan Sanksi
Menurut seorang anggota kelas DSA-nya, yang berbicara kepada Reuters pada 2016 dan yang masih bertemu dengan panglima militer pada reuni kelas tahunan, dia adalah seorang kadet yang prestasinya biasa saja.
&amp;ldquo;Dia dipromosikan secara teratur dan lambat,&amp;rdquo; kata teman sekelasnya, menambahkan bahwa dia terkejut melihat Min Aung Hlaing naik melampaui pangkat menengah korps perwira.Dari Prajurit Menjadi Politisi
Min Aung Hlaing mengambil alih militer pada 2011 saat Myanmar mulai  melakukan transisi menuju demokrasi. Para diplomat di Yangon mengatakan  bahwa pada awal masa jabatan pertama Suu Kyi pada 2016, Min Aung Hlaing  telah mengubah dirinya dari tentara pendiam menjadi seorang politisi dan  tokoh masyarakat.
Pengamat mencatat ia menggunakan platform Facebook untuk  mempublikasikan kegiatan dan pertemuan dengan pejabat dan kunjungan ke  biara. Akun resminya berhasil menarik ratusan ribu pengikut sebelum  dicabut setelah serangan militer terhadap etnis minoritas Muslim  Rohingya pada 2017.
Sejumlah diplomat dan pengamat mengatakan kepada Reuters, Min Aung  Hlaing mempelajari transisi politik yang terjadi di negara lain. Dia  sudah banyak melakukan hal-hal untuk menghindari kekacauan seperti yang  terjadi di Libya dan negara-negara Timur Tengah lainnya setelah  perubahan rezim pada 2011.
Panglima Tertinggi tidak pernah menunjukkan tanda apa pun bahwa dia  siap untuk menyerahkan 25 persen kursi militer di parlemen atau  mengizinkan perubahan apa pun pada klausul dalam konstitusi yang  melarang Suu Kyi menjadi presiden.Masa jabatan Min Aung Hlaing sebagai pucuk pimpinan militer   diperpanjang selama lima tahun lagi pada Februari 2016. Ini adalah   sebuah langkah yang mengejutkan para pengamat yang mengharapkan dia   mundur pada tahun itu selama perombakan kepemimpinan militer reguler.
Sanksi
Tindakan represif militer pada 2017 di Myanmar memaksa lebih dari 730   ribu Muslim Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh.   Penyelidik PBB mengatakan operasi militer Myanmar termasuk pembunuhan   massal, pemerkosaan geng dan pembakaran yang meluas dan dieksekusi   dengan &quot;niat genosida.&amp;rdquo;
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap   Min Aung Hlaing dan tiga pemimpin militer lainnya pada 2019 dan beberapa   kasus pengadilan di berbagai pengadilan internasional, termasuk   Mahkamah Internasional, sedang berlangsung.
Juga pada 2019, penyelidik PBB mendesak para pemimpin dunia untuk   menjatuhkan sanksi keuangan pada perusahaan yang terkait dengan militer.</description><content:encoded>PANGLIMA militer Myanmar yang berkuasa, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, menjadi sorotan dunia menyusul penahanan politisi Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), termasuk pimpinannya, Aung San Suu Kyi. Sesaat setelah penahanan tersebut, militer mengeluarkan pernyataan akan mengambil alih kekuasaan di negara tersebut selama setahun.
Militer Myanmar, sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (1/2/2021), terkenal tertutup dan bahkan para pengamat hanya tahu sedikit tentang cara kerjanya.
BACA JUGA: Human Rights Watch: Junta Militer Tidak Pernah Benar-benar Mundur
Berikut adalah beberapa fakta kunci tentang kepemimpinannya dan peran yang dijalankan militer dalam sistem politik Myanmar:
Peran Militer dalam Politik
Militer memerintah secara langsung selama hampir 50 tahun setelah kudeta pada 1962. Militer menganggap dirinya sebagai penjaga persatuan nasional.
Sebagai perancang konstitusi Myanmar pada 2008, militer mengabadikan peran permanen dirinya dalam sistem politik. Militer mendapat kuota sebesar 25 persen pada kursi parlemen. Pemimpin militer mendapatkan kekuasaan untuk menunjuk menteri pertahanan, dalam negeri dan perbatasan, juga memastikan kepentingan utama dalam politik.
Banyak anggota partai, termasuk pemimpin Aung San Suu Kyi, selama bertahun-tahun mengalami penganiayaan karena menentang mantan junta.
Min Aung Hlaing: Pelan Tapi Pasti
Min Aung Hlaing, (64), menjauhi aktivisme politik yang tersebar luas pada saat ia belajar hukum di Universitas Yangon pada 1972-1974. &amp;ldquo;Dia orang yang tidak banyak bicara dan biasanya tidak menonjolkan diri,&amp;rdquo; kata seorang teman sekelasnya kepada Reuters pada 2016.
Ketika teman-teman sekolahnya melakukan demonstrasi, Min Aung Hlaing membuat aplikasi tahunan untuk bergabung dengan universitas militer utama, Akademi Layanan Pertahanan (Defence Services Academy/DSA). Ia berhasil lolos pada upaya ketiganya pada tahun 1974.
BACA JUGA: Dunia Internasional Bereaksi atas Penangkapan Aung San Suu Kyi, AS Ancam Jatuhkan Sanksi
Menurut seorang anggota kelas DSA-nya, yang berbicara kepada Reuters pada 2016 dan yang masih bertemu dengan panglima militer pada reuni kelas tahunan, dia adalah seorang kadet yang prestasinya biasa saja.
&amp;ldquo;Dia dipromosikan secara teratur dan lambat,&amp;rdquo; kata teman sekelasnya, menambahkan bahwa dia terkejut melihat Min Aung Hlaing naik melampaui pangkat menengah korps perwira.Dari Prajurit Menjadi Politisi
Min Aung Hlaing mengambil alih militer pada 2011 saat Myanmar mulai  melakukan transisi menuju demokrasi. Para diplomat di Yangon mengatakan  bahwa pada awal masa jabatan pertama Suu Kyi pada 2016, Min Aung Hlaing  telah mengubah dirinya dari tentara pendiam menjadi seorang politisi dan  tokoh masyarakat.
Pengamat mencatat ia menggunakan platform Facebook untuk  mempublikasikan kegiatan dan pertemuan dengan pejabat dan kunjungan ke  biara. Akun resminya berhasil menarik ratusan ribu pengikut sebelum  dicabut setelah serangan militer terhadap etnis minoritas Muslim  Rohingya pada 2017.
Sejumlah diplomat dan pengamat mengatakan kepada Reuters, Min Aung  Hlaing mempelajari transisi politik yang terjadi di negara lain. Dia  sudah banyak melakukan hal-hal untuk menghindari kekacauan seperti yang  terjadi di Libya dan negara-negara Timur Tengah lainnya setelah  perubahan rezim pada 2011.
Panglima Tertinggi tidak pernah menunjukkan tanda apa pun bahwa dia  siap untuk menyerahkan 25 persen kursi militer di parlemen atau  mengizinkan perubahan apa pun pada klausul dalam konstitusi yang  melarang Suu Kyi menjadi presiden.Masa jabatan Min Aung Hlaing sebagai pucuk pimpinan militer   diperpanjang selama lima tahun lagi pada Februari 2016. Ini adalah   sebuah langkah yang mengejutkan para pengamat yang mengharapkan dia   mundur pada tahun itu selama perombakan kepemimpinan militer reguler.
Sanksi
Tindakan represif militer pada 2017 di Myanmar memaksa lebih dari 730   ribu Muslim Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh.   Penyelidik PBB mengatakan operasi militer Myanmar termasuk pembunuhan   massal, pemerkosaan geng dan pembakaran yang meluas dan dieksekusi   dengan &quot;niat genosida.&amp;rdquo;
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap   Min Aung Hlaing dan tiga pemimpin militer lainnya pada 2019 dan beberapa   kasus pengadilan di berbagai pengadilan internasional, termasuk   Mahkamah Internasional, sedang berlangsung.
Juga pada 2019, penyelidik PBB mendesak para pemimpin dunia untuk   menjatuhkan sanksi keuangan pada perusahaan yang terkait dengan militer.</content:encoded></item></channel></rss>
