<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PPKM Buat Kasus Covid-19 di Indonesia Melandai, Ini Data dan Faktanya</title><description>Hasil analisis data dari PPKM dalam 2 Minggu terakhir, kasus aktif masih menunjukkan tren yang fluktuatif, namun grafiknya terlihat melandai</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya"/><item><title>PPKM Buat Kasus Covid-19 di Indonesia Melandai, Ini Data dan Faktanya</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya</guid><pubDate>Jum'at 05 Februari 2021 07:33 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya-cQyPH7Ofzy.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito (Foto: Satgas Covid-19)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/05/337/2356824/ppkm-buat-kasus-covid-19-di-indonesia-melandai-ini-data-dan-faktanya-cQyPH7Ofzy.jpeg</image><title>Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito (Foto: Satgas Covid-19)</title></images><description>JAKARTA - Perkembangan terkini pada kasus positif Covid-19 per 4 Februari 2021 terjadi penambahan pasien terkonfirmasi positif sebanyak 11.434 kasus dengan jumlah kasus aktif 175.068 kasus atau persentasenya 15,5% dibandingkan rata-rata dunia 24,76%.

Jumlah kesembuhan sebanyak 917.306 kasus atau 81,7% dibandingkan rata-rata dunia 73,07%. Pada kasus meninggal sebanyak 31.001 kasus atau 2,8% dibandingkan rata-rata dunia 2,17%.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengajak masyarakat melihat analisis data dampak dari kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal itu disampaikan saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/2/2021) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

&quot;Penting untuk memahami data dengan analisis yang mendalam. Karena hasil analisis data yang tajam, dapat menjadi dasar pembuatan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran,&quot; jelasnya.

Hasil analisis data dari PPKM dalam 2 Minggu terakhir, pada kasus aktif masih menunjukkan tren yang fluktuatif, namun grafiknya terlihat melandai. Perbandingannya, pada 2 minggu pertama Januari 2021 atau sebelum PPKM, terdapat selisih sebesar 1,76%. Sedangkan pada 2 minggu periode PPKM, selisih kasus aktif sebesar 0,45%.

Lalu, melihat perkembangan tren keterisian tempat tidur ruang isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 secara nasional, maka terjadi penurunan persentase keterisian yang cukup drastis sejak awal pelaksaanaan PPKM hingga 31 Januari 2021. Selisihnya, pada 2 minggu pertama Januari, sebesar 0,72%. Sedangkan setelah PPKM, penurunannya jauh lebih besar menjadi 8,1%. &quot;Bahkan angka ini hampir 12 kali lipat dari selisih sebelumnya,&quot; imbuh Wiku.

Baca Juga: Bertemu 5 Gubernur, Jokowi Kembali Sampaikan Pembatasan Mikro

Pada perkembangan tren keterisian tempat tidur di ruang ICU, terdapat perbedaan dari 2 indikator sebelumnya. Keterisian tempat tidur di ruang ICU, memperlihatkan tren yang cukup stagnan, pada 2 minggu pertama Januari, dan sempat meningkat tajam pada minggu pertama PPKM atau Minggu ketiga Januari. Dan terus turun perlahan pada minggu kedua.

Meski demikian terdapat peningkatan tajam pada hari kesembilan pelaksanaan PPKM, yaitu mencapai 69,19%. Namun angkanya kembali menurun menjadi 6,23% hingga berada di angka 62,96% pada akhir minggu kedua PPKM atau akhir bulan Januari. &quot;Data menunjukkan bahwa, intervensi pemerintah dalam menambah tempat tidur di ruang isolasi dan ruang ICU rumah sakit rujukan, cukup berhasil dalam menurunkan angka keterisian tempat tidur,&quot; Wiku menekankan.

Namun, bukan berarti hal ini menjadi alasan untuk berpuas diri. Karena melihat perkembangan kasus aktif harian belum menurun dan hanya menunjukkan pelandaian. Kesimpulannya, dari analisis data PPKM, dampak yang dirasakan yaitu melandainya kasus aktif harian. Dan hal ini dinilai belum cukup menurunkan penularan di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu diharapkan PPKM yang masih berjalan hingga 2 Minggu kedepan  dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan disiplin sehingga dapat  menekan penularan-penularan. Cara terbaik memastikannya, dengan  pembatasan mobilitas dan penegakan kedisiplinan protokol kesehatan yang  tegas.

Selanjutnya, melihat perkembangan kasus positif mingguan,  penambahannya terus meningkat, tidak terkecuali selama PPKM. Tetapi,  secara mingguan kenaikannya lebih rendah dibandingkan sebelum PPKM,  yakni sebelum PPKM sebesar 27,5% dan setelah PPKM kenaikannya menjadi  9,5%. &quot;Namun, seharusnya pembatasan kegiatan baru bisa dikatakan  berhasil apabila mampu menurunkan angka kasus positif mingguan,&quot;  tegasnya.

Wiku lanjut menyandingkan dengan  data kepatuhan memakai masker,  kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan selama PPKM. Pada  kepatuhan memakai masker, jumlah kabupaten/kota menurun pada masa awal  PPKM. Yaitu dari 263 kabupaten/kota menjadi 250 kabupaten/kota atau  sebesar 5,2%. Namun, pada minggu kedua PPKM angka ini bertahan sehingga  tidak ada penurunan lebih lanjut.

Hasil berbeda pada kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan.  Sebelum PPKM Januari, jumlah kabupaten/kota meningkat dari 250 menjadi  258 kabupaten/kota atau naik 3,2%. Meski demikian sempat mengalami  penurunan pada minggu pertama PPKM, namun kembali meningkat bahkan lebih  besar mencapai 15 kabupaten/kota atau sebesar 6,2%. Untuk bisa  berhasil, peningkatan ini harus tinggi dan konsisten.

&quot;Terlihat dalam 2 minggu ini (PPKM), memang ada perubahan namun belum  dapat dikatakan berhasil. Namun kami optimis PPKM akan berdampak  signifikan lagi pada perkembangan kasus positif serta kepatuhan protokol  kesehatan apabila terus dilakukan secara disiplin oleh seluruh lapisan  masyarakat,&quot; pungkas Wiku.</description><content:encoded>JAKARTA - Perkembangan terkini pada kasus positif Covid-19 per 4 Februari 2021 terjadi penambahan pasien terkonfirmasi positif sebanyak 11.434 kasus dengan jumlah kasus aktif 175.068 kasus atau persentasenya 15,5% dibandingkan rata-rata dunia 24,76%.

Jumlah kesembuhan sebanyak 917.306 kasus atau 81,7% dibandingkan rata-rata dunia 73,07%. Pada kasus meninggal sebanyak 31.001 kasus atau 2,8% dibandingkan rata-rata dunia 2,17%.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengajak masyarakat melihat analisis data dampak dari kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal itu disampaikan saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/2/2021) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

&quot;Penting untuk memahami data dengan analisis yang mendalam. Karena hasil analisis data yang tajam, dapat menjadi dasar pembuatan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran,&quot; jelasnya.

Hasil analisis data dari PPKM dalam 2 Minggu terakhir, pada kasus aktif masih menunjukkan tren yang fluktuatif, namun grafiknya terlihat melandai. Perbandingannya, pada 2 minggu pertama Januari 2021 atau sebelum PPKM, terdapat selisih sebesar 1,76%. Sedangkan pada 2 minggu periode PPKM, selisih kasus aktif sebesar 0,45%.

Lalu, melihat perkembangan tren keterisian tempat tidur ruang isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 secara nasional, maka terjadi penurunan persentase keterisian yang cukup drastis sejak awal pelaksaanaan PPKM hingga 31 Januari 2021. Selisihnya, pada 2 minggu pertama Januari, sebesar 0,72%. Sedangkan setelah PPKM, penurunannya jauh lebih besar menjadi 8,1%. &quot;Bahkan angka ini hampir 12 kali lipat dari selisih sebelumnya,&quot; imbuh Wiku.

Baca Juga: Bertemu 5 Gubernur, Jokowi Kembali Sampaikan Pembatasan Mikro

Pada perkembangan tren keterisian tempat tidur di ruang ICU, terdapat perbedaan dari 2 indikator sebelumnya. Keterisian tempat tidur di ruang ICU, memperlihatkan tren yang cukup stagnan, pada 2 minggu pertama Januari, dan sempat meningkat tajam pada minggu pertama PPKM atau Minggu ketiga Januari. Dan terus turun perlahan pada minggu kedua.

Meski demikian terdapat peningkatan tajam pada hari kesembilan pelaksanaan PPKM, yaitu mencapai 69,19%. Namun angkanya kembali menurun menjadi 6,23% hingga berada di angka 62,96% pada akhir minggu kedua PPKM atau akhir bulan Januari. &quot;Data menunjukkan bahwa, intervensi pemerintah dalam menambah tempat tidur di ruang isolasi dan ruang ICU rumah sakit rujukan, cukup berhasil dalam menurunkan angka keterisian tempat tidur,&quot; Wiku menekankan.

Namun, bukan berarti hal ini menjadi alasan untuk berpuas diri. Karena melihat perkembangan kasus aktif harian belum menurun dan hanya menunjukkan pelandaian. Kesimpulannya, dari analisis data PPKM, dampak yang dirasakan yaitu melandainya kasus aktif harian. Dan hal ini dinilai belum cukup menurunkan penularan di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu diharapkan PPKM yang masih berjalan hingga 2 Minggu kedepan  dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan disiplin sehingga dapat  menekan penularan-penularan. Cara terbaik memastikannya, dengan  pembatasan mobilitas dan penegakan kedisiplinan protokol kesehatan yang  tegas.

Selanjutnya, melihat perkembangan kasus positif mingguan,  penambahannya terus meningkat, tidak terkecuali selama PPKM. Tetapi,  secara mingguan kenaikannya lebih rendah dibandingkan sebelum PPKM,  yakni sebelum PPKM sebesar 27,5% dan setelah PPKM kenaikannya menjadi  9,5%. &quot;Namun, seharusnya pembatasan kegiatan baru bisa dikatakan  berhasil apabila mampu menurunkan angka kasus positif mingguan,&quot;  tegasnya.

Wiku lanjut menyandingkan dengan  data kepatuhan memakai masker,  kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan selama PPKM. Pada  kepatuhan memakai masker, jumlah kabupaten/kota menurun pada masa awal  PPKM. Yaitu dari 263 kabupaten/kota menjadi 250 kabupaten/kota atau  sebesar 5,2%. Namun, pada minggu kedua PPKM angka ini bertahan sehingga  tidak ada penurunan lebih lanjut.

Hasil berbeda pada kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan.  Sebelum PPKM Januari, jumlah kabupaten/kota meningkat dari 250 menjadi  258 kabupaten/kota atau naik 3,2%. Meski demikian sempat mengalami  penurunan pada minggu pertama PPKM, namun kembali meningkat bahkan lebih  besar mencapai 15 kabupaten/kota atau sebesar 6,2%. Untuk bisa  berhasil, peningkatan ini harus tinggi dan konsisten.

&quot;Terlihat dalam 2 minggu ini (PPKM), memang ada perubahan namun belum  dapat dikatakan berhasil. Namun kami optimis PPKM akan berdampak  signifikan lagi pada perkembangan kasus positif serta kepatuhan protokol  kesehatan apabila terus dilakukan secara disiplin oleh seluruh lapisan  masyarakat,&quot; pungkas Wiku.</content:encoded></item></channel></rss>
