<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menlu Iran: AS Sebaiknya Belajar dari Kegagalan Maksimum Trump</title><description>Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mendesak AS kembali ke JCPOA pada peringatan Hari Nasional Iran Ke-42.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump"/><item><title>Menlu Iran: AS Sebaiknya Belajar dari Kegagalan Maksimum Trump</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump</guid><pubDate>Rabu 10 Februari 2021 17:21 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump-DtGYxtGqzS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. (Foto: YouTube/IraninIndonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/10/18/2359962/menlu-iran-as-sebaiknya-belajar-dari-kegagalan-maksimum-trump-DtGYxtGqzS.jpg</image><title>Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. (Foto: YouTube/IraninIndonesia)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) seharusnya belajar dari &amp;ldquo;kegagalan maksimum&amp;rdquo; Donald Trump dalam hubungannya dengan Teheran. Hal itu disampaikan Zarif melalui pesan video peringatan Hari Nasional Iran ke-42, yang jatuh pada 10 Februari 2020.
Dalam pesannya, Zarif mengatakan, bahwa rakyat Iran telah lama menentukan nasibnya sendiri dan telah mencapai banyak hal sejak Revolusi Islam 42 tahun lalu. Dia menekankan bahwa Iran telah meraih pengembangan Industri dalam negeri yang luas dan memiliki kemampuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang mumpuni, meski mendapat rintangan dan konspirasi asing yang menghalangi.
BACA JUGA: Iran Peringatkan Pembalasan Dahsyat Jika AS Serang Fasilitas Nuklirnya
&amp;ldquo;Kami telah mencapai hal ini dan pencapaian yang lebih banyak lagi saat menghadapi kampanye terorisme ekonomi terpanjang dan terluas sepanjang sejarah manusia,&amp;rdquo; kata Zarif, merujuk pada sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat (AS).
Mengecam mantan Presiden AS, Donald Trump, Zarif mengatakan bahwa Trump telah kalah dalam taruhannya dengan Iran.
&amp;ldquo;Donald Trump bertaruh pada mitos bahwa Iran adalah negara yang dapat dipaksa untuk memilih antara runtuh dan tunduk,&amp;rdquo; katanya.
&amp;ldquo;Kita semua telah menyaksikan hasil dari taruhan tersebut.&amp;rdquo;
BACA JUGA: Biden Tak Akan Cabut Sanksi AS Terhadap Iran
Dia mengatakan bahwa Trump bukan Presiden AS pertama yang membuat taruhan tersebut, dan semuanya berakhir dengan kekalahan. Untuk itu, Zarif berpesan agar pemerintahan baru AS dapat mengambil pelajaran dari pendekatan Trump dalam berhubungan dengan Teheran, terutama terkait dengan perjanjian program nuklir atau yang dikenal dengan Rencana Aksi Bersama (JCPOA).
Berdasarkan JCPOA, AS mencabut sanksi ekonominya terhadap Iran sebagai ganti pengurangan program nuklir Teheran. Namun, Trump menarik AS keluar dari perjanjian itu pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Zarif mendesak AS di bawah Presiden Joe Biden untuk kembali ke dalam  JCPOA, atau Teheran akan mengambil tindakan tanggapan dengan  meningkatkan program nuklirnya.
&amp;ldquo;Hal ini (tindakan tanggapan Iran) dapat dihindari apabila Amerika  Serikat memutuskan belajar dari kegagalan maksimum Trump daripada  mengandalkannya,&amp;rdquo; kata Zarif mengejek kebijakan tekanan maksimum yang  digunakan Trump terhadap Iran.
Dia mengatakan bahwa Iran bersedia berinteraksi dan bekerja sama  dengan negara-negara tetangganya untuk tujuan bersama, membangun kawasan  yang stabil, damai, dan sejahtera.
Sebelumnya, Presiden Joe Biden mengatakan bahwa AS tidak akan  mencabut sanksi terhadap Iran kecuali Teheran menghentikan peningkatan  program nuklirnya. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah  Khamenei menegaskan sikap final Teheran untuk tidak mengurangi program  nuklirnya sampai sanksi AS dicabut dan Washington serta negara JCPOA  lainnya kembali pada perjanjian.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) seharusnya belajar dari &amp;ldquo;kegagalan maksimum&amp;rdquo; Donald Trump dalam hubungannya dengan Teheran. Hal itu disampaikan Zarif melalui pesan video peringatan Hari Nasional Iran ke-42, yang jatuh pada 10 Februari 2020.
Dalam pesannya, Zarif mengatakan, bahwa rakyat Iran telah lama menentukan nasibnya sendiri dan telah mencapai banyak hal sejak Revolusi Islam 42 tahun lalu. Dia menekankan bahwa Iran telah meraih pengembangan Industri dalam negeri yang luas dan memiliki kemampuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang mumpuni, meski mendapat rintangan dan konspirasi asing yang menghalangi.
BACA JUGA: Iran Peringatkan Pembalasan Dahsyat Jika AS Serang Fasilitas Nuklirnya
&amp;ldquo;Kami telah mencapai hal ini dan pencapaian yang lebih banyak lagi saat menghadapi kampanye terorisme ekonomi terpanjang dan terluas sepanjang sejarah manusia,&amp;rdquo; kata Zarif, merujuk pada sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat (AS).
Mengecam mantan Presiden AS, Donald Trump, Zarif mengatakan bahwa Trump telah kalah dalam taruhannya dengan Iran.
&amp;ldquo;Donald Trump bertaruh pada mitos bahwa Iran adalah negara yang dapat dipaksa untuk memilih antara runtuh dan tunduk,&amp;rdquo; katanya.
&amp;ldquo;Kita semua telah menyaksikan hasil dari taruhan tersebut.&amp;rdquo;
BACA JUGA: Biden Tak Akan Cabut Sanksi AS Terhadap Iran
Dia mengatakan bahwa Trump bukan Presiden AS pertama yang membuat taruhan tersebut, dan semuanya berakhir dengan kekalahan. Untuk itu, Zarif berpesan agar pemerintahan baru AS dapat mengambil pelajaran dari pendekatan Trump dalam berhubungan dengan Teheran, terutama terkait dengan perjanjian program nuklir atau yang dikenal dengan Rencana Aksi Bersama (JCPOA).
Berdasarkan JCPOA, AS mencabut sanksi ekonominya terhadap Iran sebagai ganti pengurangan program nuklir Teheran. Namun, Trump menarik AS keluar dari perjanjian itu pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Zarif mendesak AS di bawah Presiden Joe Biden untuk kembali ke dalam  JCPOA, atau Teheran akan mengambil tindakan tanggapan dengan  meningkatkan program nuklirnya.
&amp;ldquo;Hal ini (tindakan tanggapan Iran) dapat dihindari apabila Amerika  Serikat memutuskan belajar dari kegagalan maksimum Trump daripada  mengandalkannya,&amp;rdquo; kata Zarif mengejek kebijakan tekanan maksimum yang  digunakan Trump terhadap Iran.
Dia mengatakan bahwa Iran bersedia berinteraksi dan bekerja sama  dengan negara-negara tetangganya untuk tujuan bersama, membangun kawasan  yang stabil, damai, dan sejahtera.
Sebelumnya, Presiden Joe Biden mengatakan bahwa AS tidak akan  mencabut sanksi terhadap Iran kecuali Teheran menghentikan peningkatan  program nuklirnya. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah  Khamenei menegaskan sikap final Teheran untuk tidak mengurangi program  nuklirnya sampai sanksi AS dicabut dan Washington serta negara JCPOA  lainnya kembali pada perjanjian.</content:encoded></item></channel></rss>
