<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pangeran Diponegoro Kebal Tembak, Peluru Pecah Berhamburan</title><description>Pangeran Diponegoro pernah tertembak oleh pasukan Belanda, peluru yang kena dadanya pecah berhamburan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan"/><item><title>Pangeran Diponegoro Kebal Tembak, Peluru Pecah Berhamburan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan</guid><pubDate>Minggu 14 Februari 2021 05:54 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan-7LmpxffLIO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/14/337/2361635/pangeran-diponegoro-kebal-tembak-peluru-pecah-berhamburan-7LmpxffLIO.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>Dalam suatu pertempuran, Pangeran Diponegoro pernah tertembak oleh pasukan Belanda, peluru yang kena dadanya pecah berhamburan.

&quot;Kisah tertembaknya P.Diponegoro dituliskan dalam babad Diponegoro.Saat itu Pangeran sedang bersama Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Tiba-tiba sebuah tembakan mengenai dadanya, peluru itu pecah berhamburan. Kuda P.Diponegoro lalu berlari menuju tempat lain,&quot;ujar Roni Sodewo, satu diantara keturunan P.Diponegoro.

Dikatakannya, Diponegoro pernah tertembak dua kali dalam pertempuran di Gawok pada 15 Oktober 1826.  Namun di tubuh Diponegoro tak ditemukan bekas luka tembak.

Buku karya Peter Carey berjudul Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) menyatakan Belanda tak percaya dengan kekebalan Pangeran Diponegoro.

&quot;Seorang perwira pasukan Belanda dengan P.Diponegoro sedang duduk di tempat penahanannya di Makassar. Saat itu cuaca panas terik, Diponegoro melepas bajunya. Perwira tadi melihat tidak ada bekas luka tembakan di badan Diponegoro,tubuhnya bersih. Dia teringat pembicaraan dengan Jenderal De Kock bahwa tubuh Diponegoro dari besi,&quot; tutur Roni.

Tak hanya kebal senjata, Pangeran Diponegoro  juga sering lolos dari penyergapan. Diceritakan saat itu Diponegoro menyusul Basyah Mertonegoro ke Tanah Panjer melalui Bulu Bandung. Kuda Jaya Capa seolah tidak mau bergerak dan kemudian ditarik oleh seorang Gamel (Penuntun kuda) bernama Sumatali.

Keluar dari Bulu Bandhung Pangeran dicegat oleh pasukan Belanda dipimpin oleh Magilis. Para pembesar prajurit menyarankan agar pangeran kembali ke Bulu Bandhung, sebab jumlah pasukan lawan sangat besar.


Pangeran Diponegoro bergerak naik, sementara prajurit-prajuritnya  mengikuti sambil memberikan serangan balasan. Banyak kuda yang  tertinggal yang di bawah, sementara Pangeran Diponegoro telah jauh di  depan dengan mengendarai Wijaya Krisna masuk ke dalam hutan.

Pasukan Diponegoro terpecah, Pangeran Diponegoro terus dikejar dan  masuk ke dalam jurang, tetapi terus dihujani tembakan tapi luput.  Pangeran Diponegoro hanya bersama Diponegoro Anom, dan Pangeran  Abdulrahim.

Lalu menyusullah Adipati, Lurah Kasim Jamanggala, Banteng Wareng dan  Joyo Suroto yang sambil menangis menanyakan, mengapa Pangeran Diponegoro  memisahkan diri dari barisan sehingga tidak bisa dijaga oleh para  prajurit.

Tak lama pasukan Belanda sudah menyusul ke dasar jurang sehingga  Adipati memaksa Pangeran Diponegoro untuk berlari dengan cara menarik  tangan Pangeran Diponegoro dibantu oleh Pangeran abdulrahim. Segera  mereka masuk ke dalam hutan lebat.

Dalam Perang Jawa, Diponegoro mampu membuat Belanda rugi besar.  Sekitar 25 Juta Golden Belanda waktu itu habis untuk membiayai perang  melawan Diponegoro.

&amp;ldquo;Sebanyak 15.000 tentara Belanda juga tewas, sedangkan pejuang bangsa yang gugur syuhada 200.000 orang,&quot;ungkapnya.

Pangeran Diponegoro meninggal pada 8 Januari 1855, Persis saat  matahari terbit, pukul 06.30 pagi. Menurut Surat keterangan  meninggalnya, seperti dikutip Sagimun MD dalam Pahlawan Dipanegara  Berjuang (1965), Sang Pangeran meninggal karena &amp;ldquo;kondisi fisik yang  sudah menurun lantaran usia lanjut.&quot;

Peter Carey mengutip beberapa surat kabar seperti Javasche Courant  (03/02/1855) dan Niuew Rotterdamsche Courant (02/04/1855), mengenai  pemakaman Sang Pangeran. Pemakaman itu dilaksanakan dengan hak-hak penuh  menurut agama Islam dan dengan penghormatan yang pantas sesuai  martabatnya yang terlahir sebagai bangsawan dan sesuai keinginan  almarhum, agar ia dimakamkan dekat pusara putra keduanya Sarkumo.</description><content:encoded>Dalam suatu pertempuran, Pangeran Diponegoro pernah tertembak oleh pasukan Belanda, peluru yang kena dadanya pecah berhamburan.

&quot;Kisah tertembaknya P.Diponegoro dituliskan dalam babad Diponegoro.Saat itu Pangeran sedang bersama Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Tiba-tiba sebuah tembakan mengenai dadanya, peluru itu pecah berhamburan. Kuda P.Diponegoro lalu berlari menuju tempat lain,&quot;ujar Roni Sodewo, satu diantara keturunan P.Diponegoro.

Dikatakannya, Diponegoro pernah tertembak dua kali dalam pertempuran di Gawok pada 15 Oktober 1826.  Namun di tubuh Diponegoro tak ditemukan bekas luka tembak.

Buku karya Peter Carey berjudul Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) menyatakan Belanda tak percaya dengan kekebalan Pangeran Diponegoro.

&quot;Seorang perwira pasukan Belanda dengan P.Diponegoro sedang duduk di tempat penahanannya di Makassar. Saat itu cuaca panas terik, Diponegoro melepas bajunya. Perwira tadi melihat tidak ada bekas luka tembakan di badan Diponegoro,tubuhnya bersih. Dia teringat pembicaraan dengan Jenderal De Kock bahwa tubuh Diponegoro dari besi,&quot; tutur Roni.

Tak hanya kebal senjata, Pangeran Diponegoro  juga sering lolos dari penyergapan. Diceritakan saat itu Diponegoro menyusul Basyah Mertonegoro ke Tanah Panjer melalui Bulu Bandung. Kuda Jaya Capa seolah tidak mau bergerak dan kemudian ditarik oleh seorang Gamel (Penuntun kuda) bernama Sumatali.

Keluar dari Bulu Bandhung Pangeran dicegat oleh pasukan Belanda dipimpin oleh Magilis. Para pembesar prajurit menyarankan agar pangeran kembali ke Bulu Bandhung, sebab jumlah pasukan lawan sangat besar.


Pangeran Diponegoro bergerak naik, sementara prajurit-prajuritnya  mengikuti sambil memberikan serangan balasan. Banyak kuda yang  tertinggal yang di bawah, sementara Pangeran Diponegoro telah jauh di  depan dengan mengendarai Wijaya Krisna masuk ke dalam hutan.

Pasukan Diponegoro terpecah, Pangeran Diponegoro terus dikejar dan  masuk ke dalam jurang, tetapi terus dihujani tembakan tapi luput.  Pangeran Diponegoro hanya bersama Diponegoro Anom, dan Pangeran  Abdulrahim.

Lalu menyusullah Adipati, Lurah Kasim Jamanggala, Banteng Wareng dan  Joyo Suroto yang sambil menangis menanyakan, mengapa Pangeran Diponegoro  memisahkan diri dari barisan sehingga tidak bisa dijaga oleh para  prajurit.

Tak lama pasukan Belanda sudah menyusul ke dasar jurang sehingga  Adipati memaksa Pangeran Diponegoro untuk berlari dengan cara menarik  tangan Pangeran Diponegoro dibantu oleh Pangeran abdulrahim. Segera  mereka masuk ke dalam hutan lebat.

Dalam Perang Jawa, Diponegoro mampu membuat Belanda rugi besar.  Sekitar 25 Juta Golden Belanda waktu itu habis untuk membiayai perang  melawan Diponegoro.

&amp;ldquo;Sebanyak 15.000 tentara Belanda juga tewas, sedangkan pejuang bangsa yang gugur syuhada 200.000 orang,&quot;ungkapnya.

Pangeran Diponegoro meninggal pada 8 Januari 1855, Persis saat  matahari terbit, pukul 06.30 pagi. Menurut Surat keterangan  meninggalnya, seperti dikutip Sagimun MD dalam Pahlawan Dipanegara  Berjuang (1965), Sang Pangeran meninggal karena &amp;ldquo;kondisi fisik yang  sudah menurun lantaran usia lanjut.&quot;

Peter Carey mengutip beberapa surat kabar seperti Javasche Courant  (03/02/1855) dan Niuew Rotterdamsche Courant (02/04/1855), mengenai  pemakaman Sang Pangeran. Pemakaman itu dilaksanakan dengan hak-hak penuh  menurut agama Islam dan dengan penghormatan yang pantas sesuai  martabatnya yang terlahir sebagai bangsawan dan sesuai keinginan  almarhum, agar ia dimakamkan dekat pusara putra keduanya Sarkumo.</content:encoded></item></channel></rss>
