<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puncak Musim Hujan di Tengah Perubahan Iklim: Potensi Bencana Hidrometeorologi</title><description>BMKG mencatat perubahan iklim jangka panjang telah terjadi di Indonesia dengan beberapa indikator sebagai berikut:
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi"/><item><title>Puncak Musim Hujan di Tengah Perubahan Iklim: Potensi Bencana Hidrometeorologi</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi</guid><pubDate>Minggu 14 Februari 2021 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Komaruddin Bagja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi-nlBNCJT1jH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/14/337/2361649/puncak-musim-hujan-di-tengah-perubahan-iklim-potensi-bencana-hidrometeorologi-nlBNCJT1jH.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, berdasarkan data sejak tahun 1900 serta monitoring iklim oleh BMKG selama lebih dari 70 tahun, perubahan Iklim Global adalah nyata dan berdampak pada peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem, baik berupa kejadian cuaca atau hujan ekstrem, iklim ekstrem, ataupun kejadian anomali iklim global seperti La Nina dan El Nino.
Ia juga menjelaskan, pada tahun 2020 yang lalu merupakan tahun terpanas kedua di sepanjang sejarah, setelah tahun 2016 (anomali +0,80 derajat Celcius), mengungguli tahun 2019 (anomali +0,60 derajat Celcius).
&quot;Kondisi ini mirip dengan perubahan suhu global sebagaimana dilaporkan World Meteorological Organization (WMO) pada awal Desember 2020,&quot; ujar Dwikorita.
Selanjutnya Herizal, Deputi Klimatologi BMKG, menjelaskan bahwa BMKG mencatat perubahan iklim jangka panjang telah terjadi di Indonesia dengan beberapa indikator sebagai berikut:
Baca juga: Waspada, 17 Daerah Ini Berpotensi Terdampak Banjir Bandang
Tren konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang diukur di udara bersih (background) Indonesia pada Stasiun Pemantau Atmosfer Global (Global Atmosphere Watch-GAW) BMKG Bukit Kototabang, menunjukan laju peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), dan sulfur heksafluorida (SF6) berturut-turut sebagai berikut: 1,6 ppm/tahun, 0,089 ppm/tahun, 0,012 ppm/tahun, dan 0,000004 ppm/tahun.
Hasil pengukuran CO2 pada Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang menunjukkan tren peningkatan CO2 yang sama dengan Stasiun GAW lainnya di dunia, seperti di Mauna Loa, Hawaii dan Baring Head, Selandia Baru.
Awal pengukuran GRK background di Indonesia, pada tahun 2004, konsentrasi CO2 di Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang adalah 372 ppm (baseline), selanjutnya hasil pengukuran pada akhir bulan Oktober 2020, konsentrasi CO2 di GAW Bukit Kototabang telah meningkat menjadi 408 ppm, sementara rerata global adalah 415 ppm.



&amp;ldquo;Analisis perubahan suhu udara rata-rata untuk seluruh wilayah Indonesia selama 71 tahun terakhir (1948 &amp;ndash; 2019) menunjukan laju peningkatan suhu sebesar 0,030 derajat Celcius/tahun. Berdasarkan data dari 91 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata tahun 2020 adalah 27,30 derajat Celcius, lebih panas dibanding normal suhu udara rata-rata periode 1981-2010 yaitu 26,60 derajat Celcius,&amp;rdquo; kata Herizal.
Tahun 2020 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 (anomali + 0,80 derajat Celcius), mengungguli tahun 2019 (anomali + 0,60 derajat Celcius), seperti yg disampaikan Dwikorita dan mirip dengan perubahan suhu global sebagaimana dilaporkan World Meteorological Organization (WMO) pada awal Desember 2020.
Dwikorita kembali menjelaskan soal perkembangan musim hujan dan potensi ekstrem di puncak musim hujan. Menurutnya, musim hujan yang ada tidak lepas dari pengaruh dampak perubahan iklim global.
&amp;ldquo;Perkembangan musim hujan saat ini tidak lepas dari pengaruh Dampak Perubahan Iklim Global, juga pengaruh kondisi iklim regional dan kondisi iklim/cuaca setempat (lokal),&amp;rdquo; sambung Dwikorita.Dwikorita juga menambahkan, untuk keadaan iklim terkini, BMKG  mencatat sebagian besar wilayah Indonesia yaitu 94 persen dari 342 Zona  Musim saat ini telah memasuki musim hujan, seperti yang telah  diprediksikan sejak Oktober 2020 lalu, dimana Puncak Musim Hujan  diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2021.
&quot;Untuk itu tetap perlu terus diwaspadai terjadinya cuaca ekstrem  hingga bulan Februari, bahkan masih mungkin terjadi pula hingga bulan  Maret 2021 nanti,&quot; terangnya.
Dari faktor-faktor pengendali iklim di wilayah Indonesia, saat ini  yang sedang aktif berpengaruh adalah Monsoon Asia serta Daerah  Konvergensi Antar Tropis (ITCZ) atau Zona Pertemuan Angin dari arah Asia  dan dari arah Australia yang memperlihatkan anomali yang mengarah pada  penguatan curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Fenomena La Nina saat ini juga masih aktif dengan Indeks moderat yang  mengarah ke kondisi lemah dan diprediksi menjadi normal pada bulan Mei  2021. Bahkan, MJO yang merupakan pergerakan kumpulan awan-awan hujan  dari Samudra Hindia sebelah Timur Afrika yang saat ini sedang melintasi  wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik, juga berpengaruh dalam  meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.
Analisis terhadap frekuensi hujan lebat (&amp;gt; 50 mm/hari) menunjukkan  kecenderungan tren meningkat (semakin sering terjadi) di banyak  wilayah. Hal itu terindikasikan dari data-data dalam 40 tahun terakhir  seperti di Jakarta, Surabaya, Mataram-Lombok, Ujung Pandang, Jayapura,  Biak, Lhokseumawe, dan Medan, kata dia.
&quot;Kami mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus  mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat di dalam  periode Puncak Musim Hujan ini,&quot; kata Dwikorita Karnawati.
Adapun Herizal juga menambahkan, pada bulan Februari 2021 sebagian  wilayah Indonesia diprediksi masih berada pada Puncak Musim Hujan,  sehingga masih berpeluang mendapatkan curah hujan tinggi terutama di  bagian timur Lampung, bagian tengah dan selatan DKI, bagian timur Jawa  Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, bagian tengah  Kalimantan, bagian utara Sulawesi Selatan, bagian utara Sulawesi  Tenggara, serta bagian tengah Papua Barat dan Papua.Analisis data iklim menunjukkan variabilitas spasial hujan yang cukup   tinggi di wilayah Indonesia. Walaupun saat ini di sebagian besar   wilayah Indonesia berada pada periode curah hujan tinggi, namun beberapa   wilayah tercatat mengalami curah hujan kriteria rendah, dan sebagian   diantaranya diprediksi masih rendah pada bulan Februari 2021, seperti di   pesisir timur Aceh, bagian tengah dan timur Sumatera Utara, sebagian   besar Riau, bagian tengah dan timur Jambi, bagian timur Sumatera   Selatan, bagian timur Kalimantan Timur, sebagian Nusa Tenggara Barat,   bagian tengah Sulawesi Selatan, bagian selatan Sulawesi Tenggara, dan   pesisir utara Papua.
Deputi Bidang Meteorologi Guswanto mengatakan, peningkatan trend   curah hujan ekstrem ini selain dipicu oleh fenomena dan/atau gangguan   skala iklim, dikaitkan juga sebagai dampak perubahan iklim.
&quot;Dari pengamatan BMKG walaupun curah hujan berada pada tingkat   sedang, namun masih berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Hal   ini tergantung pada daya dukung lingkungan dalam merespon kondisi  curah  hujan,&quot; kata Guswanto.
Misal jika terjadi banjir bandang, dikarenakan adanya tumpukan   endapan longsor yg masuk ke lembah sungai dan juga adanya sisa-sisa   penebangan pohon dibagian hulu, yang dapat menahan/membendung air. Jika   hujan terus berlangsung, kemudian akan menjebol bendung tumpukan  endapan  longsor dan ranting kayu tersebut, sehingga endapan dan ranting  kayu  hanyut dengan kecepatan tinggi, mengakibatkan banjir bandang di  bagian  hilirnya.
Demikian pula banjir dan genangan, selain akibat curah hujan tinggi,   juga dapat diakibatkan kondisi permukaan yang tidak mendukung air   meresap ke dalam tanah atau mengalir dengan cepat ke saluran-saluran   yang semestinya.
Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi dinamika atmosfer yang tidak   stabil dalam beberapa hari ke depan dapat berpotensi meningkatkan   pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Ditambah Kombinasi antara MJO dari Samodra Hindia yang saat   ininsedang melintasi wilayah Indonesia, gelombang Rossby Ekuator,   gelombang Kelvin, dan gelombang Low Frequency di wilayah dan periode   yang sama yakni di Laut China Selatan, Samudera Pasifik utara Papua,   Samudera Hindia barat Lampung hingga selatan NTT, sebagian besar Jawa,   Bali, NTT bagian barat, Laut Bali, Laut Sumbawa, mampu meningkatkan   aktivitas konvektif dan pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah   tersebut.
encana banjir, longsor,   dan banjir bandang,&quot; kata Deputi Bidang Klimatologi Herizal.BMKG memantau adanya bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia    sebelah Barat Daya Sumatera dimana posisi sistem yang cukup jauh dari    wilayah Indonesia dan arah gerak menjauhi wilayah Indonesia sehingga    tidak memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia    namun memberikan pengaruh berupa potensi hujan lebat, peningkatan    kecepatan angin dan tinggi gelombang di Samudera Hindia Selatan Sumatera    - Jawa Barat.
Selain itu juga terpantau sirkulasi siklonik di Teluk Carpentaria    bagian barat yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan    angin (konvergensi) yang memanjang dari Sulawesi Tengah bagian selatan,    perairan barat Sulawesi Tenggara, Laut Banda hingga Laut Arafura  bagian   barat.
Sirkulasi siklonik lainnya terpantau di Laut Cina Selatan sebelah    barat Palawan. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan    awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah    konvergensi tersebut.
Daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi)    lainnya terpantau memanjang dari Thailand bagian selatan hingga perairan    utara Kepulauan Mentawai, di Jawa Barat hingga Jawa Timur bagian   barat,  di perairan utara pulau Kalimantan hingga perairan timur   Kalimantan  Timur, di Bandar Seri Begawan bagian selatan hingga   Kalimantan Selatan  bagian utara, perairan utara Papua Barat hingga   Papua Barat bagian timur  dan di Papua bagian barat hingga Papua Nugini   bagian barat yang mampu  meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di   sepanjang daerah  konvergensi tersebut.
Intrusi udara kering (dry air intrusion) di BBU terpantau melintasi    Samudera Hindia barat Aceh hingga perairan utara Aceh yang mampu    mengangkat massa yang lebih hangat dan lembab di depan batas intrusi    yakni di Aceh dan Sumatera Utara bagian utara, sehingga mampu    meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di daerah depan batas    intrusi tersebut.
Labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal    terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera    Selatan bagian barat, Lampung bagian barat, sebagian besar Jawa, NTB,    NTT, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan    Utara, Kalimantan Selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara,  Papua   Barat dan Papua.
Terkait Bencana Hidrometeorologi, Hujan ekstrem tersebut sangat    berpotensi menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir,    banjir bandang, tanah longsor yang dapat membahayakan bagi publik,  serta   hujan lebat disertai kilat/petir dan gelombang tinggi yang   membahayakan  pelayaran dan penerbangan.
Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, lebih lanjut    menjelaskan dengan adanya potensi cuaca ekstrem tersebut, berdasarkan    analisis terintegrasi dari data BMKG, PUPR dan BIG, perlu diwaspadai    daerah yang diprediksi berpotensi banjir kategori menengah pada Dasarian    I Februari (sepuluh hari ke-1) di bulan Februari 2021 yaitu sebagian    kecil Bengkulu, Banten bagian selatan, Sebagian kecil Jawa Barat  bagian   timur dan selatan, sebagian besar Jawa Tengah bagian Barat dan  timur,   sebagian kecil selatan DI Yogyakarta, Jawa Timur bagian timur,  tengah   dan selatan.
Bali bagian utara dan selatan, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat    bagian barat dan timur, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur bagian barat    dan timur, sebagian kecil Kalimantan Barat bagian utara, sebagian  kecil   Kalimantan Tengah bagian utara, sebagian kecil Kalimantan  Selatan  bagian  timur, Sebagian kecil Kalimantan Timur bagian barat,  sebagian  kecil  Sulawesi Tengah bagian utara dan selatan, Sulawesi  Selatan bagian   selatan dan utara, Sulawesi Tenggara bagian utara,  sebagian kecil  Maluku  bagian selatan, sebagian kecil Papua Barat  bagian timur dan  Provinsi  Papua bagian utara.
&quot;Informasi potensi banjir kategori menengah hingga tinggi untuk 10    hari ke depan ini sebagai upaya mitigasi agar menjadi perhatian dan    kewaspadaan bagi masyarakat terhadap potensi b</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, berdasarkan data sejak tahun 1900 serta monitoring iklim oleh BMKG selama lebih dari 70 tahun, perubahan Iklim Global adalah nyata dan berdampak pada peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem, baik berupa kejadian cuaca atau hujan ekstrem, iklim ekstrem, ataupun kejadian anomali iklim global seperti La Nina dan El Nino.
Ia juga menjelaskan, pada tahun 2020 yang lalu merupakan tahun terpanas kedua di sepanjang sejarah, setelah tahun 2016 (anomali +0,80 derajat Celcius), mengungguli tahun 2019 (anomali +0,60 derajat Celcius).
&quot;Kondisi ini mirip dengan perubahan suhu global sebagaimana dilaporkan World Meteorological Organization (WMO) pada awal Desember 2020,&quot; ujar Dwikorita.
Selanjutnya Herizal, Deputi Klimatologi BMKG, menjelaskan bahwa BMKG mencatat perubahan iklim jangka panjang telah terjadi di Indonesia dengan beberapa indikator sebagai berikut:
Baca juga: Waspada, 17 Daerah Ini Berpotensi Terdampak Banjir Bandang
Tren konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang diukur di udara bersih (background) Indonesia pada Stasiun Pemantau Atmosfer Global (Global Atmosphere Watch-GAW) BMKG Bukit Kototabang, menunjukan laju peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), dan sulfur heksafluorida (SF6) berturut-turut sebagai berikut: 1,6 ppm/tahun, 0,089 ppm/tahun, 0,012 ppm/tahun, dan 0,000004 ppm/tahun.
Hasil pengukuran CO2 pada Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang menunjukkan tren peningkatan CO2 yang sama dengan Stasiun GAW lainnya di dunia, seperti di Mauna Loa, Hawaii dan Baring Head, Selandia Baru.
Awal pengukuran GRK background di Indonesia, pada tahun 2004, konsentrasi CO2 di Stasiun GAW BMKG Bukit Kototabang adalah 372 ppm (baseline), selanjutnya hasil pengukuran pada akhir bulan Oktober 2020, konsentrasi CO2 di GAW Bukit Kototabang telah meningkat menjadi 408 ppm, sementara rerata global adalah 415 ppm.



&amp;ldquo;Analisis perubahan suhu udara rata-rata untuk seluruh wilayah Indonesia selama 71 tahun terakhir (1948 &amp;ndash; 2019) menunjukan laju peningkatan suhu sebesar 0,030 derajat Celcius/tahun. Berdasarkan data dari 91 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata tahun 2020 adalah 27,30 derajat Celcius, lebih panas dibanding normal suhu udara rata-rata periode 1981-2010 yaitu 26,60 derajat Celcius,&amp;rdquo; kata Herizal.
Tahun 2020 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 (anomali + 0,80 derajat Celcius), mengungguli tahun 2019 (anomali + 0,60 derajat Celcius), seperti yg disampaikan Dwikorita dan mirip dengan perubahan suhu global sebagaimana dilaporkan World Meteorological Organization (WMO) pada awal Desember 2020.
Dwikorita kembali menjelaskan soal perkembangan musim hujan dan potensi ekstrem di puncak musim hujan. Menurutnya, musim hujan yang ada tidak lepas dari pengaruh dampak perubahan iklim global.
&amp;ldquo;Perkembangan musim hujan saat ini tidak lepas dari pengaruh Dampak Perubahan Iklim Global, juga pengaruh kondisi iklim regional dan kondisi iklim/cuaca setempat (lokal),&amp;rdquo; sambung Dwikorita.Dwikorita juga menambahkan, untuk keadaan iklim terkini, BMKG  mencatat sebagian besar wilayah Indonesia yaitu 94 persen dari 342 Zona  Musim saat ini telah memasuki musim hujan, seperti yang telah  diprediksikan sejak Oktober 2020 lalu, dimana Puncak Musim Hujan  diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2021.
&quot;Untuk itu tetap perlu terus diwaspadai terjadinya cuaca ekstrem  hingga bulan Februari, bahkan masih mungkin terjadi pula hingga bulan  Maret 2021 nanti,&quot; terangnya.
Dari faktor-faktor pengendali iklim di wilayah Indonesia, saat ini  yang sedang aktif berpengaruh adalah Monsoon Asia serta Daerah  Konvergensi Antar Tropis (ITCZ) atau Zona Pertemuan Angin dari arah Asia  dan dari arah Australia yang memperlihatkan anomali yang mengarah pada  penguatan curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Fenomena La Nina saat ini juga masih aktif dengan Indeks moderat yang  mengarah ke kondisi lemah dan diprediksi menjadi normal pada bulan Mei  2021. Bahkan, MJO yang merupakan pergerakan kumpulan awan-awan hujan  dari Samudra Hindia sebelah Timur Afrika yang saat ini sedang melintasi  wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik, juga berpengaruh dalam  meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.
Analisis terhadap frekuensi hujan lebat (&amp;gt; 50 mm/hari) menunjukkan  kecenderungan tren meningkat (semakin sering terjadi) di banyak  wilayah. Hal itu terindikasikan dari data-data dalam 40 tahun terakhir  seperti di Jakarta, Surabaya, Mataram-Lombok, Ujung Pandang, Jayapura,  Biak, Lhokseumawe, dan Medan, kata dia.
&quot;Kami mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus  mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat di dalam  periode Puncak Musim Hujan ini,&quot; kata Dwikorita Karnawati.
Adapun Herizal juga menambahkan, pada bulan Februari 2021 sebagian  wilayah Indonesia diprediksi masih berada pada Puncak Musim Hujan,  sehingga masih berpeluang mendapatkan curah hujan tinggi terutama di  bagian timur Lampung, bagian tengah dan selatan DKI, bagian timur Jawa  Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, bagian tengah  Kalimantan, bagian utara Sulawesi Selatan, bagian utara Sulawesi  Tenggara, serta bagian tengah Papua Barat dan Papua.Analisis data iklim menunjukkan variabilitas spasial hujan yang cukup   tinggi di wilayah Indonesia. Walaupun saat ini di sebagian besar   wilayah Indonesia berada pada periode curah hujan tinggi, namun beberapa   wilayah tercatat mengalami curah hujan kriteria rendah, dan sebagian   diantaranya diprediksi masih rendah pada bulan Februari 2021, seperti di   pesisir timur Aceh, bagian tengah dan timur Sumatera Utara, sebagian   besar Riau, bagian tengah dan timur Jambi, bagian timur Sumatera   Selatan, bagian timur Kalimantan Timur, sebagian Nusa Tenggara Barat,   bagian tengah Sulawesi Selatan, bagian selatan Sulawesi Tenggara, dan   pesisir utara Papua.
Deputi Bidang Meteorologi Guswanto mengatakan, peningkatan trend   curah hujan ekstrem ini selain dipicu oleh fenomena dan/atau gangguan   skala iklim, dikaitkan juga sebagai dampak perubahan iklim.
&quot;Dari pengamatan BMKG walaupun curah hujan berada pada tingkat   sedang, namun masih berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Hal   ini tergantung pada daya dukung lingkungan dalam merespon kondisi  curah  hujan,&quot; kata Guswanto.
Misal jika terjadi banjir bandang, dikarenakan adanya tumpukan   endapan longsor yg masuk ke lembah sungai dan juga adanya sisa-sisa   penebangan pohon dibagian hulu, yang dapat menahan/membendung air. Jika   hujan terus berlangsung, kemudian akan menjebol bendung tumpukan  endapan  longsor dan ranting kayu tersebut, sehingga endapan dan ranting  kayu  hanyut dengan kecepatan tinggi, mengakibatkan banjir bandang di  bagian  hilirnya.
Demikian pula banjir dan genangan, selain akibat curah hujan tinggi,   juga dapat diakibatkan kondisi permukaan yang tidak mendukung air   meresap ke dalam tanah atau mengalir dengan cepat ke saluran-saluran   yang semestinya.
Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi dinamika atmosfer yang tidak   stabil dalam beberapa hari ke depan dapat berpotensi meningkatkan   pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Ditambah Kombinasi antara MJO dari Samodra Hindia yang saat   ininsedang melintasi wilayah Indonesia, gelombang Rossby Ekuator,   gelombang Kelvin, dan gelombang Low Frequency di wilayah dan periode   yang sama yakni di Laut China Selatan, Samudera Pasifik utara Papua,   Samudera Hindia barat Lampung hingga selatan NTT, sebagian besar Jawa,   Bali, NTT bagian barat, Laut Bali, Laut Sumbawa, mampu meningkatkan   aktivitas konvektif dan pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah   tersebut.
encana banjir, longsor,   dan banjir bandang,&quot; kata Deputi Bidang Klimatologi Herizal.BMKG memantau adanya bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia    sebelah Barat Daya Sumatera dimana posisi sistem yang cukup jauh dari    wilayah Indonesia dan arah gerak menjauhi wilayah Indonesia sehingga    tidak memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia    namun memberikan pengaruh berupa potensi hujan lebat, peningkatan    kecepatan angin dan tinggi gelombang di Samudera Hindia Selatan Sumatera    - Jawa Barat.
Selain itu juga terpantau sirkulasi siklonik di Teluk Carpentaria    bagian barat yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan    angin (konvergensi) yang memanjang dari Sulawesi Tengah bagian selatan,    perairan barat Sulawesi Tenggara, Laut Banda hingga Laut Arafura  bagian   barat.
Sirkulasi siklonik lainnya terpantau di Laut Cina Selatan sebelah    barat Palawan. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan    awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah    konvergensi tersebut.
Daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi)    lainnya terpantau memanjang dari Thailand bagian selatan hingga perairan    utara Kepulauan Mentawai, di Jawa Barat hingga Jawa Timur bagian   barat,  di perairan utara pulau Kalimantan hingga perairan timur   Kalimantan  Timur, di Bandar Seri Begawan bagian selatan hingga   Kalimantan Selatan  bagian utara, perairan utara Papua Barat hingga   Papua Barat bagian timur  dan di Papua bagian barat hingga Papua Nugini   bagian barat yang mampu  meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di   sepanjang daerah  konvergensi tersebut.
Intrusi udara kering (dry air intrusion) di BBU terpantau melintasi    Samudera Hindia barat Aceh hingga perairan utara Aceh yang mampu    mengangkat massa yang lebih hangat dan lembab di depan batas intrusi    yakni di Aceh dan Sumatera Utara bagian utara, sehingga mampu    meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di daerah depan batas    intrusi tersebut.
Labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal    terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera    Selatan bagian barat, Lampung bagian barat, sebagian besar Jawa, NTB,    NTT, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan    Utara, Kalimantan Selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara,  Papua   Barat dan Papua.
Terkait Bencana Hidrometeorologi, Hujan ekstrem tersebut sangat    berpotensi menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir,    banjir bandang, tanah longsor yang dapat membahayakan bagi publik,  serta   hujan lebat disertai kilat/petir dan gelombang tinggi yang   membahayakan  pelayaran dan penerbangan.
Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, lebih lanjut    menjelaskan dengan adanya potensi cuaca ekstrem tersebut, berdasarkan    analisis terintegrasi dari data BMKG, PUPR dan BIG, perlu diwaspadai    daerah yang diprediksi berpotensi banjir kategori menengah pada Dasarian    I Februari (sepuluh hari ke-1) di bulan Februari 2021 yaitu sebagian    kecil Bengkulu, Banten bagian selatan, Sebagian kecil Jawa Barat  bagian   timur dan selatan, sebagian besar Jawa Tengah bagian Barat dan  timur,   sebagian kecil selatan DI Yogyakarta, Jawa Timur bagian timur,  tengah   dan selatan.
Bali bagian utara dan selatan, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat    bagian barat dan timur, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur bagian barat    dan timur, sebagian kecil Kalimantan Barat bagian utara, sebagian  kecil   Kalimantan Tengah bagian utara, sebagian kecil Kalimantan  Selatan  bagian  timur, Sebagian kecil Kalimantan Timur bagian barat,  sebagian  kecil  Sulawesi Tengah bagian utara dan selatan, Sulawesi  Selatan bagian   selatan dan utara, Sulawesi Tenggara bagian utara,  sebagian kecil  Maluku  bagian selatan, sebagian kecil Papua Barat  bagian timur dan  Provinsi  Papua bagian utara.
&quot;Informasi potensi banjir kategori menengah hingga tinggi untuk 10    hari ke depan ini sebagai upaya mitigasi agar menjadi perhatian dan    kewaspadaan bagi masyarakat terhadap potensi b</content:encoded></item></channel></rss>
