<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Di Balik Laris Manis Pesanan Peti Mati Covid-19, Pengusaha: Saya Sedih dan Marah</title><description>Cerita pengusaha pembuat peti jenazah pasien Covid-19, antara sedih dan marah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah"/><item><title>Di Balik Laris Manis Pesanan Peti Mati Covid-19, Pengusaha: Saya Sedih dan Marah</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah</guid><pubDate>Selasa 16 Februari 2021 13:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah-kY8eMxrGfc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: BBC News Indonesia</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/16/337/2362876/di-balik-laris-manis-pesanan-peti-mati-covid-19-pengusaha-saya-sedih-dan-marah-kY8eMxrGfc.jpg</image><title>Foto: BBC News Indonesia</title></images><description>INDONESIA menempati peringkat 1 di Asia Tenggara dari sisi jumlah kematian kasus Covid-19, situasi yang membuat pengusaha furniture terus menggenjot produksi peti jenazah.
Pemerintah Indonesia terapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) skala mikro yang melibatkan ribuan relawan sebagai pelacak kontak di tingkat desa.
Di sisi lain, epidemiolog menekankan pentingnya pelacakan kontak erat dan kedisiplinan dalam penentuan karantina rumah.
Mesin pemotong kayu menjerit-jerit. Membelah papan berukuran sekitar 0,5 x 2 meter. Serpihan kayu berterbangan membentuk kabut yang segera hilang, menerbitkan keseriusan wajah para pekerja sebuah pabrik furniture di kawasan Tangerang Selatan, Banten.
Papan-papan tersebut kemudian ditumpuk dengan ketinggian 2 meter, yang akan digunakan sebagai dasar pijakan peti mati bagi pasien Covid-19 yang meninggal.
Masih di atap pabrik yang sama, sekitar lima buruh melakukan pengerjaan akhir peti mati. Seluruh lapisan kayu ditempel stiker putih, di dalam kotak dilapisi bahan berlapis, dan setelah selesai dibungkus dengan plastik untuk mengindari debu.
Salah satu pekerja di pabrik itu, Dartim (39) mengaku kewalahan dengan orderan yang terus meningkat tiap bulannya. &quot;Sampai pada sakit bergantian, tipes, karena kelelahan dan kurang tidur,&quot; katanya saat ditemui di pabrik, Kamis (04/02).
Fans Henrik, salah satu bos di pabrik itu, mengakui produksi peti mati belakangan ini sudah &quot;kayak martabak. Bikin. Jadi. Angkat.&quot;
Dia mengatakan pesanan naik hingga 5 kali lipat dibandingkan sejak awal pandemi. Biasanya sehari memproduksi 30 peti mati, sekarang bisa mencapai 150 unit. Kemungkinan, ia akan menambah jumlah pekerja.
Baca juga: Kronologi Acara Ultah Walkot Bekasi di Puncak Dibubarkan Satgas Covid-19
&quot;Bahkan kami mau menerapkan 24 jam, 3 shift. Kalau memang sampai ke 10.000 (per bulan),&quot; kata Bos produsen peti jenazah, kargo jenazah dan layanan kedukaan, Eternity Funeral Service ini.
Saat ini pemerintah daerah yang sudah memesan secara tetap peti mati dari perusahaan ini antara lain Jakarta, Tangerang, Karawang, dan Depok, sedangkan Bogor sedang dalam proses penawaran. Hari itu, perusahaan ini juga mendapat pesanan ratusan peti mati untuk dikirim ke Timika, Papua.

Frans melanjutkan bisnis ini seperti &quot;dua sisi mata uang&quot;, di mana &quot;tetap ambil untung&quot; tapi juga membantu kebutuhan pemerintah untuk pengadaan peti mati khusus Covid-19.
Baca juga: Vaksinasi Tak Boleh Gagal, Wapres: Saya Minta Kapolri Dukung dan Kawal
Kata dia, pesanan yang diproduksi Januari 2021 kemungkinan baru akan dibayar pemda sekitar bulan Maret. &quot;Intinya kami talangin. Mungkin dari situ kita lihat sisi kemanusiaannya kita bantu talangin, bayarnya juga mundur. Kalau kita bisa bantu semaksimal mungkin, kita bantu. Ini tanggung jawab kita bersama,&quot; katanya.
Bisnis yang tak terencana
Eternity merupakan divisi bisnis dari pabrik furniture milik Lie Amin yang mulai dirintis pada awal pandemi.
Amin mengaku tak pernah merencanakan membuka divisi untuk memproduksi peti mati. Pembukaan divisi usaha menyusul kematian adik ipar dan seorang besan karena Covid-19. Ia yang mengurus pemularasan saat itu kesulitan mendapatkan peti jenazah.&quot;Cari peti, tunggu dua jam, tidak ada peti,&quot; kata Amin mengenang masa itu.
Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya ia memutuskan untuk membeli  peti dan segera mengirim jenazah. &quot;Saya marah dan sedih karena dua  keluarga dalam sebulan meninggal,&quot; kata Amin.
Sehari kemudian, pihak covid center menelponnya, dan mengatakan  pihaknya meminta maaf karena kehabisan peti jenazah. Dari sini, Amin  kemudian mulai mendapat permintaan untuk membuat peti jenazah.
&quot;Saya pengusaha furniture sudah 25 tahun. Saya mengerti bagaimana  membuat peti yang lebih efisien, dan lebih cepat dengan mesin yang kita  ada. Saya sedih sekali, saya tidak senang melihat masyarakat Indonesia  begitu banyak korban&quot;.
&quot;Saya tidak suka cita dalam kematian orang ini dan bisnis ini laris.  Karena kita pabrik furniture, kita income dari furniture, ini adalah  buka line, buka produksi baru untuk membantu,&quot; kata Amin.
Kematian nomor 1 di Asia Tenggara
Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 15 Februari 2021,  angka kematian yang dipicu Covid-19 di Indonesia menempati peringkat  satu di Asia Tenggara. Persentase kematian dari total kasus Covid-19  mencapai 2,72%. Kematian kumulatif selama pandemi sebanyak 32.936 dari  total 1.210.703 kasus positif Covid-19.
Jumlah kematian yang dipicu Covid-19 ini berada di atas Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam dan Bangladesh.
Sementara di kawasan Asia, jumlah kematian yang dipicu Covid-19  Indonesia menempati posisi ke-5 di bawah Yaman, Afghanistan, Iran, dan  China.
Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian kebijakan. Terakhir  adalah penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang  telah diperpanjang dua pekan, dan berakhir 8 Februari 2021.
PPKM skala mikro
Ketua bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 pusat, Alexander  Kaliaga Ginting mengatakan mulai 9 Februari 2021, pemerintah menerapkan  kebijakan PPKM skala mikro. Hal ini dikarenakan penularan virus sudah  berada pada kluster keluarga.&quot;Artinya, harus ada posko di desa. Posko yang mendampingi puskesmas,   yang mendampingi tim pelacak. Sehingga mereka yang diisolasi,   dikarantina harus 14 hari dikurung,&quot; kata Alexander dalam diskusi yang   disiarkan YouTube BNPB, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Alex mengungkapkan pemerintah juga menggencarkan   pelacakan kontak, selain sosialisasi protokol kesehatan 3M. Sejauh ini   pemerintah mencatat sudah terdapat 4.000 relawan yang menjadi tim   pelacak. &quot;Tracer ini akan didampingi oleh pemerintah, dan juga polisi   desa. Untuk bisa bersama-sama, sekaligus mengawasi yang diisolasi, dan   juga dikarantina,&quot; katanya.
Akan tetap melonjak tanpa penanganan di bagian hulu
Pakar epidemiolog, Masdalina Pane, menilai angka kematian yang tinggi   di Indonesia disebabkan keterlambatan mendeteksi kasus, dan rumah  sakit  yang penuh sehingga pasien Covid-19 tak bisa mendapat perawatan  yang  baik.
&quot;Mengatasi pandemi di hilir saja, itu tidak akan menyelesaikan   masalah. Itu seperti menggarami lautan, nggak akan ada habisnya kalau di   hulunya tidak kita perbaiki,&quot; kata kepala bidang pengembangan profesi   dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) ini.
Menanggapi kebijakan teranyar untuk PPKM skala mikro, Masdalina   menyoroti tentang kemampuan pelacakan kontak erat terhadap orang dengan   Covid-19. Menurutnya, kontak erat ini memiliki kemungkinan besar untuk   mendapat orang terinfeksi virus corona.
&quot;Hampir 65% dari kontak itu, dalam waktu tertentu mereka akan jadi positif juga,&quot; katanya.
Masdalina memperkirakan penambahan kasus semakin besar seiring dengan   penelusuran kontak erat dalam kebijakan PPKM skala mikro, karena data   yang ada saat ini hanya penampakan &quot;gunung es&quot;, yang bagian bawahnya   terus terjadi &quot;penularan&quot;.
Selain itu, PPKM skala mikro yang Masdalina sebut sebagai &quot;karantina   rumah&quot; juga perlu memperhatikan kebutuhan logistik orang yang sedang   menjalani karantina atau isolasi. Ia memperkirakan pemerintah perlu   membantu kebutuhan logistik 20% keluarga yang melakukan karantina rumah.   &quot;Ini harus dibantu,&quot; katanya.</description><content:encoded>INDONESIA menempati peringkat 1 di Asia Tenggara dari sisi jumlah kematian kasus Covid-19, situasi yang membuat pengusaha furniture terus menggenjot produksi peti jenazah.
Pemerintah Indonesia terapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) skala mikro yang melibatkan ribuan relawan sebagai pelacak kontak di tingkat desa.
Di sisi lain, epidemiolog menekankan pentingnya pelacakan kontak erat dan kedisiplinan dalam penentuan karantina rumah.
Mesin pemotong kayu menjerit-jerit. Membelah papan berukuran sekitar 0,5 x 2 meter. Serpihan kayu berterbangan membentuk kabut yang segera hilang, menerbitkan keseriusan wajah para pekerja sebuah pabrik furniture di kawasan Tangerang Selatan, Banten.
Papan-papan tersebut kemudian ditumpuk dengan ketinggian 2 meter, yang akan digunakan sebagai dasar pijakan peti mati bagi pasien Covid-19 yang meninggal.
Masih di atap pabrik yang sama, sekitar lima buruh melakukan pengerjaan akhir peti mati. Seluruh lapisan kayu ditempel stiker putih, di dalam kotak dilapisi bahan berlapis, dan setelah selesai dibungkus dengan plastik untuk mengindari debu.
Salah satu pekerja di pabrik itu, Dartim (39) mengaku kewalahan dengan orderan yang terus meningkat tiap bulannya. &quot;Sampai pada sakit bergantian, tipes, karena kelelahan dan kurang tidur,&quot; katanya saat ditemui di pabrik, Kamis (04/02).
Fans Henrik, salah satu bos di pabrik itu, mengakui produksi peti mati belakangan ini sudah &quot;kayak martabak. Bikin. Jadi. Angkat.&quot;
Dia mengatakan pesanan naik hingga 5 kali lipat dibandingkan sejak awal pandemi. Biasanya sehari memproduksi 30 peti mati, sekarang bisa mencapai 150 unit. Kemungkinan, ia akan menambah jumlah pekerja.
Baca juga: Kronologi Acara Ultah Walkot Bekasi di Puncak Dibubarkan Satgas Covid-19
&quot;Bahkan kami mau menerapkan 24 jam, 3 shift. Kalau memang sampai ke 10.000 (per bulan),&quot; kata Bos produsen peti jenazah, kargo jenazah dan layanan kedukaan, Eternity Funeral Service ini.
Saat ini pemerintah daerah yang sudah memesan secara tetap peti mati dari perusahaan ini antara lain Jakarta, Tangerang, Karawang, dan Depok, sedangkan Bogor sedang dalam proses penawaran. Hari itu, perusahaan ini juga mendapat pesanan ratusan peti mati untuk dikirim ke Timika, Papua.

Frans melanjutkan bisnis ini seperti &quot;dua sisi mata uang&quot;, di mana &quot;tetap ambil untung&quot; tapi juga membantu kebutuhan pemerintah untuk pengadaan peti mati khusus Covid-19.
Baca juga: Vaksinasi Tak Boleh Gagal, Wapres: Saya Minta Kapolri Dukung dan Kawal
Kata dia, pesanan yang diproduksi Januari 2021 kemungkinan baru akan dibayar pemda sekitar bulan Maret. &quot;Intinya kami talangin. Mungkin dari situ kita lihat sisi kemanusiaannya kita bantu talangin, bayarnya juga mundur. Kalau kita bisa bantu semaksimal mungkin, kita bantu. Ini tanggung jawab kita bersama,&quot; katanya.
Bisnis yang tak terencana
Eternity merupakan divisi bisnis dari pabrik furniture milik Lie Amin yang mulai dirintis pada awal pandemi.
Amin mengaku tak pernah merencanakan membuka divisi untuk memproduksi peti mati. Pembukaan divisi usaha menyusul kematian adik ipar dan seorang besan karena Covid-19. Ia yang mengurus pemularasan saat itu kesulitan mendapatkan peti jenazah.&quot;Cari peti, tunggu dua jam, tidak ada peti,&quot; kata Amin mengenang masa itu.
Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya ia memutuskan untuk membeli  peti dan segera mengirim jenazah. &quot;Saya marah dan sedih karena dua  keluarga dalam sebulan meninggal,&quot; kata Amin.
Sehari kemudian, pihak covid center menelponnya, dan mengatakan  pihaknya meminta maaf karena kehabisan peti jenazah. Dari sini, Amin  kemudian mulai mendapat permintaan untuk membuat peti jenazah.
&quot;Saya pengusaha furniture sudah 25 tahun. Saya mengerti bagaimana  membuat peti yang lebih efisien, dan lebih cepat dengan mesin yang kita  ada. Saya sedih sekali, saya tidak senang melihat masyarakat Indonesia  begitu banyak korban&quot;.
&quot;Saya tidak suka cita dalam kematian orang ini dan bisnis ini laris.  Karena kita pabrik furniture, kita income dari furniture, ini adalah  buka line, buka produksi baru untuk membantu,&quot; kata Amin.
Kematian nomor 1 di Asia Tenggara
Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 15 Februari 2021,  angka kematian yang dipicu Covid-19 di Indonesia menempati peringkat  satu di Asia Tenggara. Persentase kematian dari total kasus Covid-19  mencapai 2,72%. Kematian kumulatif selama pandemi sebanyak 32.936 dari  total 1.210.703 kasus positif Covid-19.
Jumlah kematian yang dipicu Covid-19 ini berada di atas Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam dan Bangladesh.
Sementara di kawasan Asia, jumlah kematian yang dipicu Covid-19  Indonesia menempati posisi ke-5 di bawah Yaman, Afghanistan, Iran, dan  China.
Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian kebijakan. Terakhir  adalah penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang  telah diperpanjang dua pekan, dan berakhir 8 Februari 2021.
PPKM skala mikro
Ketua bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 pusat, Alexander  Kaliaga Ginting mengatakan mulai 9 Februari 2021, pemerintah menerapkan  kebijakan PPKM skala mikro. Hal ini dikarenakan penularan virus sudah  berada pada kluster keluarga.&quot;Artinya, harus ada posko di desa. Posko yang mendampingi puskesmas,   yang mendampingi tim pelacak. Sehingga mereka yang diisolasi,   dikarantina harus 14 hari dikurung,&quot; kata Alexander dalam diskusi yang   disiarkan YouTube BNPB, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Alex mengungkapkan pemerintah juga menggencarkan   pelacakan kontak, selain sosialisasi protokol kesehatan 3M. Sejauh ini   pemerintah mencatat sudah terdapat 4.000 relawan yang menjadi tim   pelacak. &quot;Tracer ini akan didampingi oleh pemerintah, dan juga polisi   desa. Untuk bisa bersama-sama, sekaligus mengawasi yang diisolasi, dan   juga dikarantina,&quot; katanya.
Akan tetap melonjak tanpa penanganan di bagian hulu
Pakar epidemiolog, Masdalina Pane, menilai angka kematian yang tinggi   di Indonesia disebabkan keterlambatan mendeteksi kasus, dan rumah  sakit  yang penuh sehingga pasien Covid-19 tak bisa mendapat perawatan  yang  baik.
&quot;Mengatasi pandemi di hilir saja, itu tidak akan menyelesaikan   masalah. Itu seperti menggarami lautan, nggak akan ada habisnya kalau di   hulunya tidak kita perbaiki,&quot; kata kepala bidang pengembangan profesi   dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) ini.
Menanggapi kebijakan teranyar untuk PPKM skala mikro, Masdalina   menyoroti tentang kemampuan pelacakan kontak erat terhadap orang dengan   Covid-19. Menurutnya, kontak erat ini memiliki kemungkinan besar untuk   mendapat orang terinfeksi virus corona.
&quot;Hampir 65% dari kontak itu, dalam waktu tertentu mereka akan jadi positif juga,&quot; katanya.
Masdalina memperkirakan penambahan kasus semakin besar seiring dengan   penelusuran kontak erat dalam kebijakan PPKM skala mikro, karena data   yang ada saat ini hanya penampakan &quot;gunung es&quot;, yang bagian bawahnya   terus terjadi &quot;penularan&quot;.
Selain itu, PPKM skala mikro yang Masdalina sebut sebagai &quot;karantina   rumah&quot; juga perlu memperhatikan kebutuhan logistik orang yang sedang   menjalani karantina atau isolasi. Ia memperkirakan pemerintah perlu   membantu kebutuhan logistik 20% keluarga yang melakukan karantina rumah.   &quot;Ini harus dibantu,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
