<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemlu RI Bantah Indonesia Isyaratkan Akui Pemerintahan Junta di Myanmar</title><description>Menlu RI melakukan pertemuan dengan Menlu Myanmar U Wunna Maung Lwin pada 24 Februari 2021.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar"/><item><title>Kemlu RI Bantah Indonesia Isyaratkan Akui Pemerintahan Junta di Myanmar</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar</guid><pubDate>Jum'at 26 Februari 2021 11:07 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar-BRRMtkw2Qu.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bertemu dengan Menlu Myanmar U Wunna Maung Lwin, dan Menlu Thailand Don Pramudwinai di Bangkok, Thailand, 24 Februari 2021. (Foto: Dok. Kemlu RI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/26/18/2368697/kemlu-ri-bantah-indonesia-isyaratkan-akui-pemerintahan-junta-di-myanmar-BRRMtkw2Qu.jpeg</image><title>Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bertemu dengan Menlu Myanmar U Wunna Maung Lwin, dan Menlu Thailand Don Pramudwinai di Bangkok, Thailand, 24 Februari 2021. (Foto: Dok. Kemlu RI)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) Teuku Faizasyah menegaskan pertemuan pertama seorang diplomat tinggi negara dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin, menteri yang ditunjuk pemerintah junta militer, di Bangkok pada Rabu (24/2/2021), tidak bisa diartikan sebagai pengakuan Indonesia atas pemerintahan baru di negara Pagoda Emas itu.
Menurutnya, pertemuan itu hanya bagian dari upaya membangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari upaya penyelesaian krisis di negara itu.
BACA JUGA: Bertemu Menlu Myanmar, Menlu RI Tekankan Pentingnya Keselamatan Rakyat
&quot;Kalau kita ikuti dari jumpa pers yang Ibu sampaikan kemarin, Ibu tidak menyebut Menlu. Beliau hanya menyebut nama. Dengan demikian itu yang perlu kita catat bahwa pembicaraannya lebih antara dua orang. Satu Ibu Menlu sebagai orang Indonesia dan yang bersangkutan sebagai orang Myanmar,&quot; kata Faizasyah ketika diwawancarai VOA pada Kamis (25/2/2021).
Ketika ditanya mengapa dalam pertemuan itu Retno tidak membahas soal penangkapan dan penahanan para pemimpin sipil dan aktivis demokrasi di Myanmar, Faizasyah mengatakan waktu pertemuan antara Retno dan Maung Lwin sangat singkat sehingga Retno hanya menyampaikan posisi prinsip Indonesia terkait perkembangan situasi di Myanmar.
Faizasyah menekankan aspek-aspek penting terkait situasi terkini di Myanmar diharapkan dapat dibahas dalam pertemuan darurat para menteri luar negeri ASEAN yang tengah direncanakan. Namun waktu dan tempatnya belum bisa dipastikan.
BACA JUGA: Terkendala Situasi, Menlu RI Belum Bisa Lakukan Kunjungan ke Myanmar
Selain berkomunikasi dengan pihak junta, Faizasyah memastikan Indonesia juga berkomunikasi dengan pihak-pihak yang telah menjadi korban kudeta. Namun ia tidak merinci pihak yang dimaksud.
Sebagaimana diketahui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Rabu melangsungkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin &amp;ndash; menteri yang ditunjuk pemerintahan junta militer pasca kudeta 1 Februari.
Maung Lwin, purnawirawan tentara berpangkat kolonel yang juga mantan menteri luar negeri pada tahun 2011-2016, merupakan tokoh yang baru ditunjuk junta militer Myanmar sebagai menteri luar negeri.

Pertemuan di bandara Don Muang, Bangkok, yang juga dihadiri oleh  Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai itu merupakan pertemuan  pertama seorang pejabat tinggi asing dengan pejabat yang ditunjuk  pemerintahan junta hasil kudeta. Oleh karena itu tak heran banyak pihak  yang menilai pertemuan itu mengisyaratkan bahwa Indonesia mengakui  pemerintahan hasil kudeta itu.
Dihubungi terpisah, pakar ASEAN di Human Rights Working Group (HRWG)  Rafendi Jamin mengatakan pertemuan Retno dan Maung Lwin adalah langkah  yang benar karena sebelumnya Retno telah berkomunikasi dengan para  mitranya di ASEAN.
Ditambahkannya, suka atau tidak suka pihak Myanmar yang harus diajak  bicara oleh Indonesia adalah pemerintahan yang sekarang, yakni junta  militer.
&quot;Sebuah upaya untuk bertemu dengan pihak yang de facto sedang  berkuasa, mau tidak mau harus dilakukan. Kalau nggak, bagaimana kita  akan membuat sebuah dialog dalam konteks ASEAN? Karena negara yang  diajak dialog itu harus setuju dulu,&quot; ujar Rafendi.
Rafendi menegaskan jangan terburu-buru mengambil kesimpulan dialog   yang dilakukan antara Retno dengan Maung Lwin merupakan pengakuan   terhadap sebuah kudeta. Apalagi dalam pernyataan persnya, Retno cuma   menggunakan nama saja tidak menambahkan jabatan menteri luar negeri   kepada Maung Lwin.
Menurut Rafendi, yang ditunggu saat ini adalah jawaban dari pihak   junta Myanmar apakah setuju dengan pertemuan darurat para menteri luar   negeri ASEAN untuk membahas krisis politik yang tengah terjadi di   negaranya.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Maung Lwin,   Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali menyampaikan secara tegas   posisi Indonesia yang konsisten terhadap krisis politik di Myanmar sejak   meletupnya kudeta.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) Teuku Faizasyah menegaskan pertemuan pertama seorang diplomat tinggi negara dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin, menteri yang ditunjuk pemerintah junta militer, di Bangkok pada Rabu (24/2/2021), tidak bisa diartikan sebagai pengakuan Indonesia atas pemerintahan baru di negara Pagoda Emas itu.
Menurutnya, pertemuan itu hanya bagian dari upaya membangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari upaya penyelesaian krisis di negara itu.
BACA JUGA: Bertemu Menlu Myanmar, Menlu RI Tekankan Pentingnya Keselamatan Rakyat
&quot;Kalau kita ikuti dari jumpa pers yang Ibu sampaikan kemarin, Ibu tidak menyebut Menlu. Beliau hanya menyebut nama. Dengan demikian itu yang perlu kita catat bahwa pembicaraannya lebih antara dua orang. Satu Ibu Menlu sebagai orang Indonesia dan yang bersangkutan sebagai orang Myanmar,&quot; kata Faizasyah ketika diwawancarai VOA pada Kamis (25/2/2021).
Ketika ditanya mengapa dalam pertemuan itu Retno tidak membahas soal penangkapan dan penahanan para pemimpin sipil dan aktivis demokrasi di Myanmar, Faizasyah mengatakan waktu pertemuan antara Retno dan Maung Lwin sangat singkat sehingga Retno hanya menyampaikan posisi prinsip Indonesia terkait perkembangan situasi di Myanmar.
Faizasyah menekankan aspek-aspek penting terkait situasi terkini di Myanmar diharapkan dapat dibahas dalam pertemuan darurat para menteri luar negeri ASEAN yang tengah direncanakan. Namun waktu dan tempatnya belum bisa dipastikan.
BACA JUGA: Terkendala Situasi, Menlu RI Belum Bisa Lakukan Kunjungan ke Myanmar
Selain berkomunikasi dengan pihak junta, Faizasyah memastikan Indonesia juga berkomunikasi dengan pihak-pihak yang telah menjadi korban kudeta. Namun ia tidak merinci pihak yang dimaksud.
Sebagaimana diketahui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Rabu melangsungkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin &amp;ndash; menteri yang ditunjuk pemerintahan junta militer pasca kudeta 1 Februari.
Maung Lwin, purnawirawan tentara berpangkat kolonel yang juga mantan menteri luar negeri pada tahun 2011-2016, merupakan tokoh yang baru ditunjuk junta militer Myanmar sebagai menteri luar negeri.

Pertemuan di bandara Don Muang, Bangkok, yang juga dihadiri oleh  Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai itu merupakan pertemuan  pertama seorang pejabat tinggi asing dengan pejabat yang ditunjuk  pemerintahan junta hasil kudeta. Oleh karena itu tak heran banyak pihak  yang menilai pertemuan itu mengisyaratkan bahwa Indonesia mengakui  pemerintahan hasil kudeta itu.
Dihubungi terpisah, pakar ASEAN di Human Rights Working Group (HRWG)  Rafendi Jamin mengatakan pertemuan Retno dan Maung Lwin adalah langkah  yang benar karena sebelumnya Retno telah berkomunikasi dengan para  mitranya di ASEAN.
Ditambahkannya, suka atau tidak suka pihak Myanmar yang harus diajak  bicara oleh Indonesia adalah pemerintahan yang sekarang, yakni junta  militer.
&quot;Sebuah upaya untuk bertemu dengan pihak yang de facto sedang  berkuasa, mau tidak mau harus dilakukan. Kalau nggak, bagaimana kita  akan membuat sebuah dialog dalam konteks ASEAN? Karena negara yang  diajak dialog itu harus setuju dulu,&quot; ujar Rafendi.
Rafendi menegaskan jangan terburu-buru mengambil kesimpulan dialog   yang dilakukan antara Retno dengan Maung Lwin merupakan pengakuan   terhadap sebuah kudeta. Apalagi dalam pernyataan persnya, Retno cuma   menggunakan nama saja tidak menambahkan jabatan menteri luar negeri   kepada Maung Lwin.
Menurut Rafendi, yang ditunggu saat ini adalah jawaban dari pihak   junta Myanmar apakah setuju dengan pertemuan darurat para menteri luar   negeri ASEAN untuk membahas krisis politik yang tengah terjadi di   negaranya.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Maung Lwin,   Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali menyampaikan secara tegas   posisi Indonesia yang konsisten terhadap krisis politik di Myanmar sejak   meletupnya kudeta.</content:encoded></item></channel></rss>
