<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bung Karno Ternyata Sering Pinjam Uang pada Ajudannya</title><description>Presiden Soekarno selalu berpenampilan necis dan perlente</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya"/><item><title>Bung Karno Ternyata Sering Pinjam Uang pada Ajudannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya</guid><pubDate>Jum'at 26 Februari 2021 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya-hsBbaxOpfu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Soekarno (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/26/337/2368548/bung-karno-ternyata-sering-pinjam-uang-pada-ajudannya-hsBbaxOpfu.jpg</image><title>Presiden Soekarno (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Soekarno selalu berpenampilan necis dan perlente. Sebagai tokoh kelas dunia, busana yang dikenakan berkesan gagah dan berwibawa. Apalagi jika bepergian dikawal pasukan bersenjata lengkap.

Namun di balik penampilannya yang menawan,gaya oratornya yang mampu menggoncang dunia, terselip cerita pilu. Bung Karno bisa dikatakan gaya hidupnya bersahaja bahkan secara ekonomi tidak berlimpah seperti layaknya seorang pemguasa.

Roso Daras, penulis buku &quot;Sukarno Serpihan Sejarah yang Tercecer menuliskan bahwa dalam buku &amp;ldquo;Fatmawati Sukarno, The First Lady&amp;rdquo; diceritakan, &amp;ldquo;Sukarno, mungkin satu-satunya presiden termiskin di dunia. Semasa hidupnya, ia hanya memiliki satu rumah di Batutulis, Bogor.

Untuk melukiskan &amp;ldquo;kemiskinannya&amp;rdquo;, kepada Cindy Adams, Bung Karno pernah bertutur, &amp;ldquo;Dan, adakah kepala negara lain yang lebih melarat dari aku, dan sering meminjam-minjam (uang) dari ajudannya?&quot;

Dikatakan Roso bahwa selama menjabat, Bung Karno tinggal di istana. Istana negara milik negara. Bung Karno sendiri tercatat hanya memiliki sebuah rumah di Batu Tulis, Bogor. Rumah-rumah yang lain, ia belikan untuk istri-istrinya.

&quot;Sedangkan rumah Batu Tulis pun, selengsernya Bung Karno langsung disita Sekretariat Negara. Aneh. Entah atas dasar apa, rumah milik pribadi Bung Karno satu-satunya itu diambil oleh negara. Bahkan, Gubernur DKI Ali Sadikin, pernah memberi sebuah rumah dan sebidang untuk tinggal keluarga Sukarno,&quot; papar Roso.

Semua harta pribadi milik Bung Karno yang ia tinggalkan di Istana, saat ia &amp;ldquo;diasingkan&amp;rdquo; oleh rezim baru, sebatas hanya didata, tetapi barang-barangnya raib entah kemana. Hidup prihatin dialami Bung Karno sejak masa kanak-kanak.

&quot;Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam  kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang  keluar dari keran.&quot;

&quot;Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan  demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih,&amp;rdquo;  ungkap Bung Karno, dikutip Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung  Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Bung Karno menambahkan, gaji yang diterima bapaknya, Soekemi tak  seberapa. Kata Bung Karno gaji itu hanya cukup untuk makan sehari-hari  dan sewa rumah. Kehidupan semakin sulit dirasakan saat Bung karno  berusia enam tahun.

Saat itu keluarga Bung Karno pindah ke Mojokerto. Bung Karno lalu  tinggal di lingkungan yang dihuni oleh sebagian besar orang miskin. Akan  tetapi mereka selalu punya sisa uang sedikit untuk membeli papaya atau  jajan yang lain. Sementara, Bung Karno tidak sama sekali. Ia lebih  miskin dari orang-orang yang bahkan dipandang miskin secara umum.

Saat lebaran tiba, segenap umat Islam berpesta. Namun tidak bagi  keluarga Bung Karno. Keluarganya bahkan tak pernah berpesta maupun  mengeluarkan fitrah.
Keluarganya, kata Bung Karno tak punya uang untuk itu.
Jangankan untuk berpesta di hari Lebaran, untuk main petasan saja  Bung Karno nyaris tak pernah merasakannya. Ia tak pernah punya uang  jajan. Bung Karno hanya bisa mengintip anak-anak lain main petasan lewat  lubang udara di kamar tidurnya.

&amp;ldquo;Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh  sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur luluh rasa  hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan  jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu, dan  aku tidak!&amp;rdquo; , ucap Bung Karno.

Ketika Bung Karno tidak memjabat sebagai Presiden, anak-anaknya tidak  pernah mewarisi harta Bung Karno yang berlebihan. Mereka juga harus  bekerja untuk menopang hidupnya.

&quot;Guntur dipaksa berhenti sekolah, dan bekerja membantu ibunya. Mega,  Rachma, Sukma hidup bersama suaminya. Mereka masih sering berkumpul di  rumah ibunya, di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan,&quot;ujar Roso.

Kehidupan Fatmawati sendiri jauh dari kemewahan, sekalipun ia janda  presiden, mantan first lady negara ini. &quot;Manakala hujan turun deras, air  masuk karena atap yang bocor. Beberapa bagian langit-langit rumahnya  bahkan tampak rapuh dan rusak. Sebagai janda presiden, Fatmawati tidak  menerima tunjangan barang sepeser. Ia, baru menerima tunjangan resmi  pada Juni 1979, sembilan tahun setelah kematian Sukarno,&quot;beber Roso.

Tahun 1972, rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya harus ditinggalkan  karena tak kuat menanggung biaya perawatan rutin. Fatma mengontrakan  rumah itu. Rumah yang telah menemaninya dalam kesedihan dan kesepiannya.  Uang kontrakan dipakai antara lain membiayai Guruh kuliah di Belanda.

Fatma sendiri hidup bersama ibunya, Khadijah di Jalan Cilandak V,  Jakarta Selatan, tak jauh dari lokasi yang sekarang terkenal dengan  Rumah Sakit Fatmawati. Namun saat itu, jalan menuju rumahnya sempit dan  berlumpur.

</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Soekarno selalu berpenampilan necis dan perlente. Sebagai tokoh kelas dunia, busana yang dikenakan berkesan gagah dan berwibawa. Apalagi jika bepergian dikawal pasukan bersenjata lengkap.

Namun di balik penampilannya yang menawan,gaya oratornya yang mampu menggoncang dunia, terselip cerita pilu. Bung Karno bisa dikatakan gaya hidupnya bersahaja bahkan secara ekonomi tidak berlimpah seperti layaknya seorang pemguasa.

Roso Daras, penulis buku &quot;Sukarno Serpihan Sejarah yang Tercecer menuliskan bahwa dalam buku &amp;ldquo;Fatmawati Sukarno, The First Lady&amp;rdquo; diceritakan, &amp;ldquo;Sukarno, mungkin satu-satunya presiden termiskin di dunia. Semasa hidupnya, ia hanya memiliki satu rumah di Batutulis, Bogor.

Untuk melukiskan &amp;ldquo;kemiskinannya&amp;rdquo;, kepada Cindy Adams, Bung Karno pernah bertutur, &amp;ldquo;Dan, adakah kepala negara lain yang lebih melarat dari aku, dan sering meminjam-minjam (uang) dari ajudannya?&quot;

Dikatakan Roso bahwa selama menjabat, Bung Karno tinggal di istana. Istana negara milik negara. Bung Karno sendiri tercatat hanya memiliki sebuah rumah di Batu Tulis, Bogor. Rumah-rumah yang lain, ia belikan untuk istri-istrinya.

&quot;Sedangkan rumah Batu Tulis pun, selengsernya Bung Karno langsung disita Sekretariat Negara. Aneh. Entah atas dasar apa, rumah milik pribadi Bung Karno satu-satunya itu diambil oleh negara. Bahkan, Gubernur DKI Ali Sadikin, pernah memberi sebuah rumah dan sebidang untuk tinggal keluarga Sukarno,&quot; papar Roso.

Semua harta pribadi milik Bung Karno yang ia tinggalkan di Istana, saat ia &amp;ldquo;diasingkan&amp;rdquo; oleh rezim baru, sebatas hanya didata, tetapi barang-barangnya raib entah kemana. Hidup prihatin dialami Bung Karno sejak masa kanak-kanak.

&quot;Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam  kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang  keluar dari keran.&quot;

&quot;Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan  demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih,&amp;rdquo;  ungkap Bung Karno, dikutip Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung  Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Bung Karno menambahkan, gaji yang diterima bapaknya, Soekemi tak  seberapa. Kata Bung Karno gaji itu hanya cukup untuk makan sehari-hari  dan sewa rumah. Kehidupan semakin sulit dirasakan saat Bung karno  berusia enam tahun.

Saat itu keluarga Bung Karno pindah ke Mojokerto. Bung Karno lalu  tinggal di lingkungan yang dihuni oleh sebagian besar orang miskin. Akan  tetapi mereka selalu punya sisa uang sedikit untuk membeli papaya atau  jajan yang lain. Sementara, Bung Karno tidak sama sekali. Ia lebih  miskin dari orang-orang yang bahkan dipandang miskin secara umum.

Saat lebaran tiba, segenap umat Islam berpesta. Namun tidak bagi  keluarga Bung Karno. Keluarganya bahkan tak pernah berpesta maupun  mengeluarkan fitrah.
Keluarganya, kata Bung Karno tak punya uang untuk itu.
Jangankan untuk berpesta di hari Lebaran, untuk main petasan saja  Bung Karno nyaris tak pernah merasakannya. Ia tak pernah punya uang  jajan. Bung Karno hanya bisa mengintip anak-anak lain main petasan lewat  lubang udara di kamar tidurnya.

&amp;ldquo;Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh  sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur luluh rasa  hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan  jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu, dan  aku tidak!&amp;rdquo; , ucap Bung Karno.

Ketika Bung Karno tidak memjabat sebagai Presiden, anak-anaknya tidak  pernah mewarisi harta Bung Karno yang berlebihan. Mereka juga harus  bekerja untuk menopang hidupnya.

&quot;Guntur dipaksa berhenti sekolah, dan bekerja membantu ibunya. Mega,  Rachma, Sukma hidup bersama suaminya. Mereka masih sering berkumpul di  rumah ibunya, di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan,&quot;ujar Roso.

Kehidupan Fatmawati sendiri jauh dari kemewahan, sekalipun ia janda  presiden, mantan first lady negara ini. &quot;Manakala hujan turun deras, air  masuk karena atap yang bocor. Beberapa bagian langit-langit rumahnya  bahkan tampak rapuh dan rusak. Sebagai janda presiden, Fatmawati tidak  menerima tunjangan barang sepeser. Ia, baru menerima tunjangan resmi  pada Juni 1979, sembilan tahun setelah kematian Sukarno,&quot;beber Roso.

Tahun 1972, rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya harus ditinggalkan  karena tak kuat menanggung biaya perawatan rutin. Fatma mengontrakan  rumah itu. Rumah yang telah menemaninya dalam kesedihan dan kesepiannya.  Uang kontrakan dipakai antara lain membiayai Guruh kuliah di Belanda.

Fatma sendiri hidup bersama ibunya, Khadijah di Jalan Cilandak V,  Jakarta Selatan, tak jauh dari lokasi yang sekarang terkenal dengan  Rumah Sakit Fatmawati. Namun saat itu, jalan menuju rumahnya sempit dan  berlumpur.

</content:encoded></item></channel></rss>
