<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Limun Soda dan Air Belanda Klaasesz Tjap Koetjing dari Semarang</title><description>Tillema lalu melebarkan sayap pada bisnis air kemasan botol, kebetulan pula perusahaan yang ia beli punya unit usaha dalam bidang air minum.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang"/><item><title>Kisah Limun Soda dan Air Belanda Klaasesz Tjap Koetjing dari Semarang</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang</guid><pubDate>Rabu 03 Maret 2021 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang-5y8DkLqHLH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/03/337/2371252/kisah-limun-soda-dan-air-belanda-klaasesz-tjap-koetjing-dari-semarang-5y8DkLqHLH.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Okezone)</title></images><description>DULU muncul istilah &quot;air belanda&quot; kini dikenal dengan nama  air mineral. Air mineral di Hindia Belanda dibuat oleh seorang apoteker bernama Hendrik Freerk Tillema pada 1896. Selain dikenal di Hindia Belanda karena &quot;air mineral atau air Tillema&quot;, ia juga jadi distributor brandy di Semarang.

Ia bekerja di Samarangsche-Apotheek milik R Klaasesz and Co. Ewald Vanvugt. Dalam sebuah artikel berjudul De Donkere Kant van Tempo Doeloe (Sisi Tergelap Tempo Doeloe), menulis, HF Tillema mampu membeli perusahaan Klaasesz and Co pada 1899.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Beriklan di Media Massa Muncul Sejak Hindia Belanda, Bagaimana Iklan Budak Perempuan di Batavia?
Tillema lalu melebarkan sayap pada bisnis air kemasan botol, kebetulan pula perusahaan yang ia beli punya unit  usaha dalam bidang air minum. Pabrik minuman Tillema mengembangkan usaha itu, di samping air mineral dalam kemasan, juga  memproduksi minuman soda.

Di tahun 1901, ia mendirikan pabrik di Semarang.  Tiap tahun, suami Anna Sophia Weehuizen ini memproduksi lebih dari 500.000 botol limun soda dan air mineral bermerek Hygeia dengan kucing hitam yang ekornya melambai.

Tahun 1910, produksinya meningkat menjadi 10.000 botol/hari. Di Semarang, limun itu terkenal dengan nama Limoen Klaasesz Tjap Koetjing. Hygeia (atau sebenarnya Hygieia) diambil dari mitologi Yunani, merupakan anak perempuan dari Asklepios , dewa pelindung kesehatan.

Ia mempromosikan produknya dengan iklan seperti yang gencar dilakukan di Amerika sejak tahun 1890-an, berhasil dengan minuman Coca-Cola.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kisah Kecantikan Perempuan Jawa yang Menimbulkan Pertumpahan Darah
Tillema membagikan asbak -asbak yang bermerek minuman limunnya. Di atas perempatan paling sibuk di Semarang, ia menggantungkan papan reklame yang cukup menarik perhatian.

Foto-foto dari jalan-jalan tempat ia memasang iklan dijadikannya kartu pos dan dibagikan secara gratis dengan menggunakan kalimat: &quot;Limun Hygeia memang loear biasa! &quot;

Ketika dewan kota melarang semua papan reklamenya, Tillema tak kehabusan akal, ia menggunakan balon udara yang diterbangkan ke seluruh kota Semarang, bertuliskan merek Hygeia.



Dalam buku Outward Appearances: Trends, Identitas, Kepentingan, disebutkan, Tillema adalah orang pertama dalam sejarah Hindia yang menggunakan balon gas untuk mengiklankan produk-produknya.



Tillema juga mengunakan foto-foto yang pada awal abad 20 merupakan sebuah medium. Ia membuat sebuah buku berisi foto-foto wajah kota Semarang.



Di belakang bukunya ia memasang merek Hygeia dan di pinggirnya daftar harga anggur dan wisky. Setahun ia menghabiskan dana untuk reklame yang sangat besar. Namun ia segera menikmati hasilnya.



Dana besar yang ia keluarkan untuk reklamenya menjadi bahan pembicaraan sendiri. Ia berusaha membangun citra dirinya: &quot;Tillema, apoteker yang dapat dipercaya dan bagi mereka yang percaya pada kemurnian. &quot;



Ia membuat brosur dengan foto-foto dirinya dalam berbagai pose yang memperlihatkan bagaimana cara terbaik menuang sebotol Hygeia.



Foto-foto itu disertai teks: &amp;ldquo;Ajarilah para pembantoe Anda bagaimana mereka haroes menoeang Hygeia sehingga tidak banjak air bersoda yang terboeang&amp;rdquo;.



Dalam buku &quot;Penghibur(an) Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia&quot; , menceritakan gaya hidup golongan priyayi baru di abad 20 - anggota Jong Java, Boedi Oetomo, atau Comite voor het Javaans Nationalisme - mengikuti kebiasaan Barat.



Air Belanda itu menjadi gaya hidup baru para priyayi jawa. Banyak para priyayi yang meniru gaya hidup barat, seperti pergi ke pesta, main kartu cara Eropa, juga minum air Belanda dan wiski soda.



Hendrik Freerk Tillema dilahirkan di desa Echten di tepi danau Tjeuke. Echten adalah sebuah desa di Friesland, Belanda. Ia lahir 5 Juli 1870. Sikke Tillema ayahnya adalah seorang kepala sekolah. Ketika Tillema berusia tujuh tahun, ibunya meninggal. Ayahnya yang membesarkan seorang diri dan menjadi panutannya.



Pada 1896 di usia 25 ia berangkat ke Hindia Timur. Di Semarang ia bekerja di &amp;lsquo; Samarangsche-Apotheek milik firma R. Klaasesz en Co. Setelah tahun ketiga, ia diangkat menjadi rekanan di perusahaan itu.



Pada tahun 1899 ia dapat membeli perusahaan itu. Ia tetap mempertahankan nama Klaasesz en Co. Dalam usia belum genap 30 ia menjadi satu-satunya pemilik dan pemimpin di perusahaan itu.



Tillema sempat menjadi anggota dewan dan akhirnya kembali ke Negeri Belanda. Tillema vokall dalam mengkritisi sikap pendudukan Pemerintah Belanda . Setelah menetap di Belanda, ia beberapa kali kembali ke Indonesia dan sempat menulis beberapa buku seperti &quot;Kromoblanda&quot;, &quot;Zonder Tropen - Geen Europa &quot; .



Ia membuat pula film dokumenter di Kalimantan, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1952 di salah satu Villanya di Bloomendaal-Belanda . Vila itu konon ia beri nama &quot;Semarang&quot;.

</description><content:encoded>DULU muncul istilah &quot;air belanda&quot; kini dikenal dengan nama  air mineral. Air mineral di Hindia Belanda dibuat oleh seorang apoteker bernama Hendrik Freerk Tillema pada 1896. Selain dikenal di Hindia Belanda karena &quot;air mineral atau air Tillema&quot;, ia juga jadi distributor brandy di Semarang.

Ia bekerja di Samarangsche-Apotheek milik R Klaasesz and Co. Ewald Vanvugt. Dalam sebuah artikel berjudul De Donkere Kant van Tempo Doeloe (Sisi Tergelap Tempo Doeloe), menulis, HF Tillema mampu membeli perusahaan Klaasesz and Co pada 1899.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Beriklan di Media Massa Muncul Sejak Hindia Belanda, Bagaimana Iklan Budak Perempuan di Batavia?
Tillema lalu melebarkan sayap pada bisnis air kemasan botol, kebetulan pula perusahaan yang ia beli punya unit  usaha dalam bidang air minum. Pabrik minuman Tillema mengembangkan usaha itu, di samping air mineral dalam kemasan, juga  memproduksi minuman soda.

Di tahun 1901, ia mendirikan pabrik di Semarang.  Tiap tahun, suami Anna Sophia Weehuizen ini memproduksi lebih dari 500.000 botol limun soda dan air mineral bermerek Hygeia dengan kucing hitam yang ekornya melambai.

Tahun 1910, produksinya meningkat menjadi 10.000 botol/hari. Di Semarang, limun itu terkenal dengan nama Limoen Klaasesz Tjap Koetjing. Hygeia (atau sebenarnya Hygieia) diambil dari mitologi Yunani, merupakan anak perempuan dari Asklepios , dewa pelindung kesehatan.

Ia mempromosikan produknya dengan iklan seperti yang gencar dilakukan di Amerika sejak tahun 1890-an, berhasil dengan minuman Coca-Cola.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kisah Kecantikan Perempuan Jawa yang Menimbulkan Pertumpahan Darah
Tillema membagikan asbak -asbak yang bermerek minuman limunnya. Di atas perempatan paling sibuk di Semarang, ia menggantungkan papan reklame yang cukup menarik perhatian.

Foto-foto dari jalan-jalan tempat ia memasang iklan dijadikannya kartu pos dan dibagikan secara gratis dengan menggunakan kalimat: &quot;Limun Hygeia memang loear biasa! &quot;

Ketika dewan kota melarang semua papan reklamenya, Tillema tak kehabusan akal, ia menggunakan balon udara yang diterbangkan ke seluruh kota Semarang, bertuliskan merek Hygeia.



Dalam buku Outward Appearances: Trends, Identitas, Kepentingan, disebutkan, Tillema adalah orang pertama dalam sejarah Hindia yang menggunakan balon gas untuk mengiklankan produk-produknya.



Tillema juga mengunakan foto-foto yang pada awal abad 20 merupakan sebuah medium. Ia membuat sebuah buku berisi foto-foto wajah kota Semarang.



Di belakang bukunya ia memasang merek Hygeia dan di pinggirnya daftar harga anggur dan wisky. Setahun ia menghabiskan dana untuk reklame yang sangat besar. Namun ia segera menikmati hasilnya.



Dana besar yang ia keluarkan untuk reklamenya menjadi bahan pembicaraan sendiri. Ia berusaha membangun citra dirinya: &quot;Tillema, apoteker yang dapat dipercaya dan bagi mereka yang percaya pada kemurnian. &quot;



Ia membuat brosur dengan foto-foto dirinya dalam berbagai pose yang memperlihatkan bagaimana cara terbaik menuang sebotol Hygeia.



Foto-foto itu disertai teks: &amp;ldquo;Ajarilah para pembantoe Anda bagaimana mereka haroes menoeang Hygeia sehingga tidak banjak air bersoda yang terboeang&amp;rdquo;.



Dalam buku &quot;Penghibur(an) Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia&quot; , menceritakan gaya hidup golongan priyayi baru di abad 20 - anggota Jong Java, Boedi Oetomo, atau Comite voor het Javaans Nationalisme - mengikuti kebiasaan Barat.



Air Belanda itu menjadi gaya hidup baru para priyayi jawa. Banyak para priyayi yang meniru gaya hidup barat, seperti pergi ke pesta, main kartu cara Eropa, juga minum air Belanda dan wiski soda.



Hendrik Freerk Tillema dilahirkan di desa Echten di tepi danau Tjeuke. Echten adalah sebuah desa di Friesland, Belanda. Ia lahir 5 Juli 1870. Sikke Tillema ayahnya adalah seorang kepala sekolah. Ketika Tillema berusia tujuh tahun, ibunya meninggal. Ayahnya yang membesarkan seorang diri dan menjadi panutannya.



Pada 1896 di usia 25 ia berangkat ke Hindia Timur. Di Semarang ia bekerja di &amp;lsquo; Samarangsche-Apotheek milik firma R. Klaasesz en Co. Setelah tahun ketiga, ia diangkat menjadi rekanan di perusahaan itu.



Pada tahun 1899 ia dapat membeli perusahaan itu. Ia tetap mempertahankan nama Klaasesz en Co. Dalam usia belum genap 30 ia menjadi satu-satunya pemilik dan pemimpin di perusahaan itu.



Tillema sempat menjadi anggota dewan dan akhirnya kembali ke Negeri Belanda. Tillema vokall dalam mengkritisi sikap pendudukan Pemerintah Belanda . Setelah menetap di Belanda, ia beberapa kali kembali ke Indonesia dan sempat menulis beberapa buku seperti &quot;Kromoblanda&quot;, &quot;Zonder Tropen - Geen Europa &quot; .



Ia membuat pula film dokumenter di Kalimantan, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1952 di salah satu Villanya di Bloomendaal-Belanda . Vila itu konon ia beri nama &quot;Semarang&quot;.

</content:encoded></item></channel></rss>
