<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram</title><description>Kebocoran pembangkit Fukushima dinilai sebagai bencana nuklir terburuk setelah Chernobyl.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram"/><item><title>10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram</guid><pubDate>Selasa 09 Maret 2021 13:11 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram-zp3GIVVykP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Antara via Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/09/18/2374851/10-tahun-bencana-nuklir-fukushima-nasib-energi-nuklir-jepang-dinilai-suram-zp3GIVVykP.jpg</image><title>Foto: Antara via Reuters.</title></images><description>TOKYO - Gempa bumi besar dan tsunami yang melanda Jepang pada 11 Maret 2011 telah menghancurkan kota-kota dan memicu kebocoran nuklir di Fukushima. Dunia terpana menyaksikan perjuangan kacau balau dalam penanganan bencana nuklir terburuk dunia itu sejak Chernobyl.
Terpaan gelombang yang dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0 magnitudo menghantam pantai timur laut, menewaskan hampir 20.000 orang dan melumpuhkan pembangkit Fukushima Dai-ichi. Lebih dari 160.000 penduduk lari menyelamatkan diri saat radiasi menyembur ke udara.
BACA JUGA: Jepang Akan Buang Air Radioaktif dari Fukushima ke Laut
Pada saat itu, beberapa pihak --termasuk Perdana Menteri Naoto Kan-- khawatir Tokyo perlu dikosongkan, atau lebih buruk lagi.
&quot;Fukushima tercatat dalam sejarah energi nuklir,&quot; kata Kiyoshi Kurokawa, kepala tim investigasi yang menyimpulkan bahwa bencana itu &quot;betul-betul buatan manusia&quot;.
Pemerintah telah menghabiskan sekitar USD300 miliar (Rp4,3 kuadriliun) untuk membangun kembali wilayah Tohoku yang hancur akibat tsunami.
Tetapi, daerah di sekitar pembangkit listrik Fukushima tetap terlarang. Kekhawatiran atas tingkat radiasi tetap ada. Banyak orang yang pergi dari daerah itu menetap di tempat lain.
Penutupan pembangkit yang rusak untuk menetralkan radiasi itu akan memakan waktu puluhan tahun dan menelan miliaran dolar.
Jepang kembali memperdebatkan peran tenaga nuklir dalam pembauran energinya karena negara miskin sumber daya itu bermaksud mencapai netralitas karbon bersih pada 2050 untuk melawan pemanasan global. Tetapi, survei TV publik NHK menunjukkan 85 persen kekhawatiran publik atas kecelakaan nuklir.
BACA JUGA: Lalai dalam Bencana 2011, Tiga Pejabat Reaktor Fukushima Didakwa
Kebijakan energi mengalami ketidakpastian setelah Shinzo Abe memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), yang pro energi nuklir, kembali berkuasa setahun setelah bencana. LDP mendepak Partai Demokrat Jepang yang belum berpengalaman, yang citranya dinodai oleh penanganannya di Fukushima.
&quot;Mereka membiarkan hal-hal yang tertinggal terkatung-katung,&quot; kata Tobias Harris, wakil kepala senior di lembaga konsultan Teneo, dan penulis buku tentang Abe.


'Hasil Kolusi'
Komisi Kurokawa, yang ditunjuk parlemen, menyimpulkan pada 2012 bahwa  kecelakaan Fukushima adalah &quot;hasil kolusi antara pemerintah, regulator,  dan Tokyo Electric Power Co&quot; dan kurangnya tata kelola.
Abe mengundurkan diri pada 2020, dengan alasan kesehatan yang buruk.  Penggantinya, Yoshihide Suga, telah mengumumkan sasaran netralitas  karbon bersih pada 2050.
Para pendukung mengatakan tenaga nuklir sangat penting untuk  dekarbonisasi. Kritikus mengatakan biaya, keamanan, dan tantangan  menyimpan limbah nuklir adalah alasan untuk menghindarinya.
&quot;Mereka yang berbicara tentang tenaga atom adalah orang-orang di  'desa nuklir', yang ingin melindungi kepentingan pribadi mereka,&quot; kata  mantan Perdana Menteri Kan pada konferensi pers pekan lalu.
Demonstrasi massa yang menentang tenaga nuklir, setelah tragedi 3/11, nuklir telah memudar, tetapi ketidakpercayaan tetap ada.
Sebuah survei surat kabar Asahi Februari menemukan bahwa secara    nasional, 53 persen responden menentang reaktor untuk dijalankan lagi    sementara 32 persen mendukung. Di Fukushima, hanya 16 persen yang    mendukung unit-unit reaktor dimulai kembali..
&quot;Sepuluh tahun telah berlalu dan beberapa orang telah melupakannya.    Semangat itu hilang,&quot; kata Yu Uchiyama, seorang profesor ilmu politik    Universitas Tokyo. &quot;Memulai kembali ( tenaga nuklir) tidak terjadi,  jadi   orang berpikir jika mereka cuma menunggu, tenaga nuklir akan  hilang.&quot;
&amp;nbsp;
 
Masa Depan Nuklir Suram?
Hanya sembilan dari 33 reaktor komersial Jepang yang tersisa telah    disetujui untuk dimulai kembali di bawah standar keselamatan    pasca-Fukushima dan hanya empat yang beroperasi, dibandingkan dengan 54    sebelum bencana.Tenaga nuklir hanya memasok enam persen dari kebutuhan energi Jepang   pada paruh pertama 2020 dibandingkan dengan 23,1 persen untuk sumber   terbarukan -- jauh di belakang Jerman yang mencapai 46,3 persen-- dan   hampir 70 persen untuk bahan bakar fosil.
Dengan memperpanjang umur 33 reaktor komersial Jepang yang ada   menjadi 60 tahun, akan ada hanya 18 reaktor pada 2050 dan habis pada   2069, kata Takeo Kikkawa, penasihat pemerintah untuk kebijakan energi.   Lobi bisnis mutakhir mendorong penggunaan energi terbarukan.
&quot;Jepang adalah negara miskin sumber daya maka kami tidak boleh begitu   saja meninggalkan nuklir sebagai pilihan,&quot; kata Kikkawa dalam acara   jumpa pers. &quot;Namun sebenarnya, masa depan tenaga nuklir suram.&quot;</description><content:encoded>TOKYO - Gempa bumi besar dan tsunami yang melanda Jepang pada 11 Maret 2011 telah menghancurkan kota-kota dan memicu kebocoran nuklir di Fukushima. Dunia terpana menyaksikan perjuangan kacau balau dalam penanganan bencana nuklir terburuk dunia itu sejak Chernobyl.
Terpaan gelombang yang dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0 magnitudo menghantam pantai timur laut, menewaskan hampir 20.000 orang dan melumpuhkan pembangkit Fukushima Dai-ichi. Lebih dari 160.000 penduduk lari menyelamatkan diri saat radiasi menyembur ke udara.
BACA JUGA: Jepang Akan Buang Air Radioaktif dari Fukushima ke Laut
Pada saat itu, beberapa pihak --termasuk Perdana Menteri Naoto Kan-- khawatir Tokyo perlu dikosongkan, atau lebih buruk lagi.
&quot;Fukushima tercatat dalam sejarah energi nuklir,&quot; kata Kiyoshi Kurokawa, kepala tim investigasi yang menyimpulkan bahwa bencana itu &quot;betul-betul buatan manusia&quot;.
Pemerintah telah menghabiskan sekitar USD300 miliar (Rp4,3 kuadriliun) untuk membangun kembali wilayah Tohoku yang hancur akibat tsunami.
Tetapi, daerah di sekitar pembangkit listrik Fukushima tetap terlarang. Kekhawatiran atas tingkat radiasi tetap ada. Banyak orang yang pergi dari daerah itu menetap di tempat lain.
Penutupan pembangkit yang rusak untuk menetralkan radiasi itu akan memakan waktu puluhan tahun dan menelan miliaran dolar.
Jepang kembali memperdebatkan peran tenaga nuklir dalam pembauran energinya karena negara miskin sumber daya itu bermaksud mencapai netralitas karbon bersih pada 2050 untuk melawan pemanasan global. Tetapi, survei TV publik NHK menunjukkan 85 persen kekhawatiran publik atas kecelakaan nuklir.
BACA JUGA: Lalai dalam Bencana 2011, Tiga Pejabat Reaktor Fukushima Didakwa
Kebijakan energi mengalami ketidakpastian setelah Shinzo Abe memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), yang pro energi nuklir, kembali berkuasa setahun setelah bencana. LDP mendepak Partai Demokrat Jepang yang belum berpengalaman, yang citranya dinodai oleh penanganannya di Fukushima.
&quot;Mereka membiarkan hal-hal yang tertinggal terkatung-katung,&quot; kata Tobias Harris, wakil kepala senior di lembaga konsultan Teneo, dan penulis buku tentang Abe.


'Hasil Kolusi'
Komisi Kurokawa, yang ditunjuk parlemen, menyimpulkan pada 2012 bahwa  kecelakaan Fukushima adalah &quot;hasil kolusi antara pemerintah, regulator,  dan Tokyo Electric Power Co&quot; dan kurangnya tata kelola.
Abe mengundurkan diri pada 2020, dengan alasan kesehatan yang buruk.  Penggantinya, Yoshihide Suga, telah mengumumkan sasaran netralitas  karbon bersih pada 2050.
Para pendukung mengatakan tenaga nuklir sangat penting untuk  dekarbonisasi. Kritikus mengatakan biaya, keamanan, dan tantangan  menyimpan limbah nuklir adalah alasan untuk menghindarinya.
&quot;Mereka yang berbicara tentang tenaga atom adalah orang-orang di  'desa nuklir', yang ingin melindungi kepentingan pribadi mereka,&quot; kata  mantan Perdana Menteri Kan pada konferensi pers pekan lalu.
Demonstrasi massa yang menentang tenaga nuklir, setelah tragedi 3/11, nuklir telah memudar, tetapi ketidakpercayaan tetap ada.
Sebuah survei surat kabar Asahi Februari menemukan bahwa secara    nasional, 53 persen responden menentang reaktor untuk dijalankan lagi    sementara 32 persen mendukung. Di Fukushima, hanya 16 persen yang    mendukung unit-unit reaktor dimulai kembali..
&quot;Sepuluh tahun telah berlalu dan beberapa orang telah melupakannya.    Semangat itu hilang,&quot; kata Yu Uchiyama, seorang profesor ilmu politik    Universitas Tokyo. &quot;Memulai kembali ( tenaga nuklir) tidak terjadi,  jadi   orang berpikir jika mereka cuma menunggu, tenaga nuklir akan  hilang.&quot;
&amp;nbsp;
 
Masa Depan Nuklir Suram?
Hanya sembilan dari 33 reaktor komersial Jepang yang tersisa telah    disetujui untuk dimulai kembali di bawah standar keselamatan    pasca-Fukushima dan hanya empat yang beroperasi, dibandingkan dengan 54    sebelum bencana.Tenaga nuklir hanya memasok enam persen dari kebutuhan energi Jepang   pada paruh pertama 2020 dibandingkan dengan 23,1 persen untuk sumber   terbarukan -- jauh di belakang Jerman yang mencapai 46,3 persen-- dan   hampir 70 persen untuk bahan bakar fosil.
Dengan memperpanjang umur 33 reaktor komersial Jepang yang ada   menjadi 60 tahun, akan ada hanya 18 reaktor pada 2050 dan habis pada   2069, kata Takeo Kikkawa, penasihat pemerintah untuk kebijakan energi.   Lobi bisnis mutakhir mendorong penggunaan energi terbarukan.
&quot;Jepang adalah negara miskin sumber daya maka kami tidak boleh begitu   saja meninggalkan nuklir sebagai pilihan,&quot; kata Kikkawa dalam acara   jumpa pers. &quot;Namun sebenarnya, masa depan tenaga nuklir suram.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
