<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peter Carey: Jubah Pangeran Diponegoro Jangan Digantung Benangnya Mulai Lepas</title><description>Peter Carey menyayangkan kondisi jubah Pangeran Diponegoro yang digantung di Museum Bakorwil II Magelang.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas"/><item><title>Peter Carey: Jubah Pangeran Diponegoro Jangan Digantung Benangnya Mulai Lepas</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas</guid><pubDate>Senin 15 Maret 2021 08:35 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas-6TS0qSGINA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Doddy Handoko</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/15/337/2377785/peter-carey-jubah-pangeran-diponegoro-jangan-digantung-benangnya-mulai-lepas-6TS0qSGINA.jpg</image><title>Foto: Doddy Handoko</title></images><description>JAKARTA - Sejarawan Peter Carey, penulis buku Pangeran Diponegoro &quot; Kuasa Ramalan &quot;dan  buku berjudul &quot;Takdir &quot; menyayangkan kondisi jubah Pangeran Diponegoro yang digantung di Museum Bakorwil II Magelang.

&quot;Keadaan Sekarang sangat parah ,sebab digantung atas gantungan baju di dalam almari penuh dengan kutu. Beratnya jubah membuatnya sangat rentan, sebab semua berat. Banyak juga benang yang lepas dan kusut,&quot;ujar Peter.

Ditambahkannya,&quot; Sangat disayangkan, benda pusaka Utama dari Pahlawan Nasional nomor wahid indonesia bisa dibiarkan rusak demikian. Tapi ini kita ada urusan dengan Bakorwil yang kurang mampu merawat Benda berharga, apa boleh buat? Sebenarnya harus ditaruh di bawah yang lurus bukan digantung. Kain juga di makan rayap.&quot;

Di Jubah yang tinggi 160x110 cm itu terdapat bercak-bercak merah seperti darah. Bercak-bercak kecokelatan seperti darah yang melekat di jubah tadi menjadi tanda-tanya. Bercak itu diduga bekas darah saat Diponegoro memimpin perang Jawa atau Sabil dalam kurun waktu 1825 hingga 1830. Tapi ada yang menduga  hanya karena faktor usia, sehingga muncul bekas kecokelatan.

Di beberapa bagian ada lubang dan sobekan. Seperti di bagian dada kanan, dan bagian bawah kanan dan kiri, serta bagian belakang. yang cukup tinggi.

&quot;Tentang bercak itu, kita belum tahu, harus membuat tes DNA untuk mengetahui bercak dari  kain lama atau darah. Diponegoro memakai baju jubah di medan perang.   Jubah dan stel pakaian lain diambil setelah penyergapan di perbukitan Gowong ,sebelah barat Kedu, pada 11 November 1829 oleh Pasukan Gerak cepat dari Mayor Andreas Victor Michiel&amp;rsquo;s (1796-1849),&quot;ungkapnya.

Sedang asal-usul jubah  dari Pujokusuman (trah Mertonegaran ) , Basah  Mertonegoro menantu Pangeran.   Jubah diberikan dari Pujakusuman ke  Museum Keresidenan Lama Magelang pada 1953 waktu museum di buka.

Beberapa waktu lalu muncul wacana untuk menduplikat jubah itu.  Keturunan Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo, danPeter Carey menyambut  baik rencana itu.

Dalam sebuah wawancara  Ki Roni Sodewo, mengatakan  agar jubah asli  yang menjadi saksi perang Jawa itu dirawat dengan baik dan bisa  disatukan dengan peninggalan lain di Museum Nasional, Jakarta.

Menurutnya jika  memang harus diduplikat adalah sebuah langkah yang  baik. Sama halnya dengan bendera merah putih yang ada duplikatnya,  begitu juga dengan jubah yang usianya ratusan tahun ada duplikatnya  untuk dipamerkan.

Ia menandaskan meski jubah yang dibuat dari kain santung itu  diduplikat, namun jubah asli harus disimpan dan juga dipertahankan  dengan baik.</description><content:encoded>JAKARTA - Sejarawan Peter Carey, penulis buku Pangeran Diponegoro &quot; Kuasa Ramalan &quot;dan  buku berjudul &quot;Takdir &quot; menyayangkan kondisi jubah Pangeran Diponegoro yang digantung di Museum Bakorwil II Magelang.

&quot;Keadaan Sekarang sangat parah ,sebab digantung atas gantungan baju di dalam almari penuh dengan kutu. Beratnya jubah membuatnya sangat rentan, sebab semua berat. Banyak juga benang yang lepas dan kusut,&quot;ujar Peter.

Ditambahkannya,&quot; Sangat disayangkan, benda pusaka Utama dari Pahlawan Nasional nomor wahid indonesia bisa dibiarkan rusak demikian. Tapi ini kita ada urusan dengan Bakorwil yang kurang mampu merawat Benda berharga, apa boleh buat? Sebenarnya harus ditaruh di bawah yang lurus bukan digantung. Kain juga di makan rayap.&quot;

Di Jubah yang tinggi 160x110 cm itu terdapat bercak-bercak merah seperti darah. Bercak-bercak kecokelatan seperti darah yang melekat di jubah tadi menjadi tanda-tanya. Bercak itu diduga bekas darah saat Diponegoro memimpin perang Jawa atau Sabil dalam kurun waktu 1825 hingga 1830. Tapi ada yang menduga  hanya karena faktor usia, sehingga muncul bekas kecokelatan.

Di beberapa bagian ada lubang dan sobekan. Seperti di bagian dada kanan, dan bagian bawah kanan dan kiri, serta bagian belakang. yang cukup tinggi.

&quot;Tentang bercak itu, kita belum tahu, harus membuat tes DNA untuk mengetahui bercak dari  kain lama atau darah. Diponegoro memakai baju jubah di medan perang.   Jubah dan stel pakaian lain diambil setelah penyergapan di perbukitan Gowong ,sebelah barat Kedu, pada 11 November 1829 oleh Pasukan Gerak cepat dari Mayor Andreas Victor Michiel&amp;rsquo;s (1796-1849),&quot;ungkapnya.

Sedang asal-usul jubah  dari Pujokusuman (trah Mertonegaran ) , Basah  Mertonegoro menantu Pangeran.   Jubah diberikan dari Pujakusuman ke  Museum Keresidenan Lama Magelang pada 1953 waktu museum di buka.

Beberapa waktu lalu muncul wacana untuk menduplikat jubah itu.  Keturunan Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo, danPeter Carey menyambut  baik rencana itu.

Dalam sebuah wawancara  Ki Roni Sodewo, mengatakan  agar jubah asli  yang menjadi saksi perang Jawa itu dirawat dengan baik dan bisa  disatukan dengan peninggalan lain di Museum Nasional, Jakarta.

Menurutnya jika  memang harus diduplikat adalah sebuah langkah yang  baik. Sama halnya dengan bendera merah putih yang ada duplikatnya,  begitu juga dengan jubah yang usianya ratusan tahun ada duplikatnya  untuk dipamerkan.

Ia menandaskan meski jubah yang dibuat dari kain santung itu  diduplikat, namun jubah asli harus disimpan dan juga dipertahankan  dengan baik.</content:encoded></item></channel></rss>
