<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebengisan Amangkurat I, Kurung 60 Dayang Istana di Dalam Kamar Sampai Mati</title><description>Raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati"/><item><title>Kebengisan Amangkurat I, Kurung 60 Dayang Istana di Dalam Kamar Sampai Mati</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati</guid><pubDate>Jum'at 19 Maret 2021 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati-3qwIwsUYKx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Amangkurat I (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati-3qwIwsUYKx.jpg</image><title>Amangkurat I (Foto: Istimewa)</title></images><description>DALAM buku Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijskroniek, J.J. Meinsma menceritakan pertemuan raja Mataram, Amangkurat I dengan Ratu Wetan, putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog. Tapi putri itu telah menikah dengan Kiai Dalem (Ki Dalang Panjang Mas) yang juga dalang dan sedang mengandung dua bulan dari pernikahannya.

Peneliti HJ De Graaf dalam buku Runtuhnya Istana Mataram menyebut meski tidak membuat raja melupakan istrinya yang lain, perhatiannya jadi lebih banyak dialihkan kepada istri barunya ini. Maka ia juga disebut  Ratu Malang, orang  yang melintang di jalan.

Di dalam Babad Tanah Jawi, saat akan memperistri Ratu Malang, dituliskan bahwa Amangkurat I merebut perempuan itu dari tangan suaminya. Maka raja mengeluarkan perintah untuk membunuh Kiai Dalem.

Begitu tahu  Kiai Dalem tewas dibunuh Amangkurat I, Ratu Malang menangis meratapi kematian mantan suaminya itu. Ia jatuh sakit dan meninggal .

Amangkurat  melihat ada yang tidak beres  dalam kematiannya. Sebelum meninggal , ratu mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti keracunan.

Ia marah besar,  dayang-dayang dan pelayan istana yang dekat dengan Ratu Malang diduga telah  meracuni. Ia curiga ada orang yang sengaja membunuh istri selirnya itu. Apalagi ia   mempertimbangkan untuk memberikan takhta kepada putra Ratu Malang.

De Graaf menuliskan bahwa dapat dimengerti bahwa Sunan Amangkurat curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala keracunan   Pelaku keracunan  harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkan itu (Pangeran Dipati) untuk melawan raja.

Raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua.

Baca Juga :&amp;nbsp;Kisah 9 Istri Bung Karno: dari Kawin Gantung, Janda hingga Siswi SMA

Kematian Ratu Malang membuat Amangkurat I seperti orang gila. Jenazah  ratu dibawa ke Gunung Kelir untuk dipusarakan.

Dalam bukunya, De Graaf menulis jika selama beberapa hari liang lahat Ratu Malang tidak ditutup atas permintaan raja. Amangkurat I berhari-hari diam di dekat makam itu meratapi tubuh istrinya yang telah meninggal.

Amangkurat  menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakaman istirnya, diam-diam ia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri, dan turut membaringkan dirinya di kuburan.Kepergian raja menimbulkan kekacauan di keraton. De Graaf menggambarkan, suatu malam raja mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem.

Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Ia kembali ke keraton dan diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali tenang.

Makam Ratu Mas Malang atau Makam Gunung Kelir  dibangun pada tahun 1665 dan selesai pada tanggal 11 Juni 1668 dengan menggunakan bahan bangunan berupa batu putih untuk dinding dan tembok keliling serta batu andesit untuk nisan.

Komplek Makam Ratu Mas Malang terletak di puncak sebuah bukit yaitu Gunung kelir dengan ketinggian 99 mdpl. Pada komplek makam ini terdapat 28 nisan, yang dikelompokan dalam 3 lokasi yaitu 19 nisan berada dihalaman depan, 1 nisan berada dihalaman belakang (nisan Dalang Panjang Mas) dan 8 nisan berada di halaman inti yang salah satunya merupakan nisan dari Ratu Mas Malang.</description><content:encoded>DALAM buku Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijskroniek, J.J. Meinsma menceritakan pertemuan raja Mataram, Amangkurat I dengan Ratu Wetan, putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog. Tapi putri itu telah menikah dengan Kiai Dalem (Ki Dalang Panjang Mas) yang juga dalang dan sedang mengandung dua bulan dari pernikahannya.

Peneliti HJ De Graaf dalam buku Runtuhnya Istana Mataram menyebut meski tidak membuat raja melupakan istrinya yang lain, perhatiannya jadi lebih banyak dialihkan kepada istri barunya ini. Maka ia juga disebut  Ratu Malang, orang  yang melintang di jalan.

Di dalam Babad Tanah Jawi, saat akan memperistri Ratu Malang, dituliskan bahwa Amangkurat I merebut perempuan itu dari tangan suaminya. Maka raja mengeluarkan perintah untuk membunuh Kiai Dalem.

Begitu tahu  Kiai Dalem tewas dibunuh Amangkurat I, Ratu Malang menangis meratapi kematian mantan suaminya itu. Ia jatuh sakit dan meninggal .

Amangkurat  melihat ada yang tidak beres  dalam kematiannya. Sebelum meninggal , ratu mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti keracunan.

Ia marah besar,  dayang-dayang dan pelayan istana yang dekat dengan Ratu Malang diduga telah  meracuni. Ia curiga ada orang yang sengaja membunuh istri selirnya itu. Apalagi ia   mempertimbangkan untuk memberikan takhta kepada putra Ratu Malang.

De Graaf menuliskan bahwa dapat dimengerti bahwa Sunan Amangkurat curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala keracunan   Pelaku keracunan  harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkan itu (Pangeran Dipati) untuk melawan raja.

Raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua.

Baca Juga :&amp;nbsp;Kisah 9 Istri Bung Karno: dari Kawin Gantung, Janda hingga Siswi SMA

Kematian Ratu Malang membuat Amangkurat I seperti orang gila. Jenazah  ratu dibawa ke Gunung Kelir untuk dipusarakan.

Dalam bukunya, De Graaf menulis jika selama beberapa hari liang lahat Ratu Malang tidak ditutup atas permintaan raja. Amangkurat I berhari-hari diam di dekat makam itu meratapi tubuh istrinya yang telah meninggal.

Amangkurat  menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakaman istirnya, diam-diam ia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri, dan turut membaringkan dirinya di kuburan.Kepergian raja menimbulkan kekacauan di keraton. De Graaf menggambarkan, suatu malam raja mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem.

Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Ia kembali ke keraton dan diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali tenang.

Makam Ratu Mas Malang atau Makam Gunung Kelir  dibangun pada tahun 1665 dan selesai pada tanggal 11 Juni 1668 dengan menggunakan bahan bangunan berupa batu putih untuk dinding dan tembok keliling serta batu andesit untuk nisan.

Komplek Makam Ratu Mas Malang terletak di puncak sebuah bukit yaitu Gunung kelir dengan ketinggian 99 mdpl. Pada komplek makam ini terdapat 28 nisan, yang dikelompokan dalam 3 lokasi yaitu 19 nisan berada dihalaman depan, 1 nisan berada dihalaman belakang (nisan Dalang Panjang Mas) dan 8 nisan berada di halaman inti yang salah satunya merupakan nisan dari Ratu Mas Malang.</content:encoded></item></channel></rss>
