<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perundingan AS-China Berakhir dengan Sejumlah Ketidaksepakatan</title><description>Ketidaksepakatan itu termasuk terkait isu hak asasi manusia, Hong Kong dan Taiwan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan"/><item><title>Perundingan AS-China Berakhir dengan Sejumlah Ketidaksepakatan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan</guid><pubDate>Senin 22 Maret 2021 16:46 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan-LRWJdkVJwi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/22/18/2382084/perundingan-as-china-berakhir-dengan-sejumlah-ketidaksepakatan-LRWJdkVJwi.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>WASHINGTON, DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) dan penasihat keamanan nasional menyelesaikan pembicaraan tatap muka pertama mereka dengan pejabat tinggi China di Alaska pada Jumat (19/3/2021).
Perundingan menegangkan selama dua hari itu berakhir dengan ketidaksepakatan, termasuk terkait isu utama berkisar seputar perlakuan China terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur dan tindakan agresif China di Hong Kong, Tibet dan Taiwan.
BACA JUGA: Biden: China Akan Terima Akibat dari Tindakan Pelanggaran HAM
&amp;ldquo;Tidaklah mengherankan bahwa ketika kami mengangkat masalah itu, secara jelas dan langsung, kami mendapat tanggapan yang defensif,&amp;rdquo; kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken
Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa &amp;ldquo;China tidak punya ruang kompromi dalam masalah kedaulatan, keamanan dan kepentingan utama China. Tekad dan kemauan kami untuk melindungi kepentingan utama kami tidak tergoyahkan.&amp;rdquo;
Blinken mengatakan bahwa masalah ekonomi, perdagangan, teknologi dan serangan dunia maya, akan ditinjau bersama Kongres dan negara-negara sekutu AS untuk memajukan kepentingan bisnis dan pekerja.
BACA JUGA: Lakukan Pembicaraan Telepon Perdana, Biden dan Xi Jinping Bahas Covid-19 dan HAM
Pertemuan pertama pemerintahan Biden dengan sesama negara adidaya itu terjadi setelah perjalanan Blinken menemui sekutu AS, Korea Selatan dan Jepang, di tengah meningkatnya keagresifan China di Asia.
Blinken mengatakan tujuan pertemuan itu adalah untuk memaparkan prioritas pemerintahan Biden. Meskipun ada banyak masalah yang tidak disepakati kedua pihak. &amp;ldquo;Dalam masalah Iran, Korea Utara, Afghanistan, iklim, kepentingan kami bersinggungan,&amp;rdquo; tambah Blinken.


James Jay Carafano dari The Heritage Foundation mengatakan, meski  terlalu dini untuk mengetahui apa kebijakan Biden terkait China, ia  memperkirakan tidak akan terjadi perubahan pendekatan yang signifikan  dari yang dilakukan pemerintahan Amerika sebelumnya.
&amp;ldquo;Sejauh ini, menurut saya, saya melihat lebih banyak kelanjutan  ketimbang perubahan dalam hal kebijakan Amerika Serikat, dari  pemerintahan Trump ke pemerintahan Biden. Mari kita identifikasi area di  mana kita dan China tidak sepakat dan dorong itu semua dan tunjukkan  kesediaan kita untuk melindungi kepentingan kita. Itu jauh lebih mungkin  untuk membawa kita ke hubungan yang stabil secara lebih cepat,&amp;rdquo; kata  Carafano.
Pengamat mengatakan, bahkan terkait retorika keras China, sebagian  besar (sesungguhnya) ditujukan bagi khalayak dalam negeri. China ingin  meredakan ketegangan dengan Amerika.
Abby Bard dari Center for American Progress mengatakan, &amp;ldquo;Dalam impian  mereka, Amerika Serikat akan mundur dari keinginannya untuk menjadi  kekuatan utama di Indo-Pasifik. Saya yakin itu tidak akan terjadi.&amp;rdquo;
Terutama setelah apa yang digambarkan Michael Kugelman dari Wilson  Center sebagai &amp;ldquo;hubungan beracun&amp;rdquo; alias toxic relationship antara China  dan Amerika selama pemerintahan Trump.
&amp;ldquo;Ada harapan bahwa pemerintahan Biden akan mampu mendorong  detoksifikasi hubungan tersebut. Tapi yang kita lihat, hubungan itu  justru semakin diracuni pada tahap ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Pertemuan di Alaska itu hanyalah langkah pertama dan para pengamat  mengatakan bahwa Amerika dan China akan terus bergerak maju. Meski  demikian, butuh waktu bagi pemimpin kedua negara untuk menentukan  seperti apa hubungan yang berkelanjutan di antara keduanya.</description><content:encoded>WASHINGTON, DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) dan penasihat keamanan nasional menyelesaikan pembicaraan tatap muka pertama mereka dengan pejabat tinggi China di Alaska pada Jumat (19/3/2021).
Perundingan menegangkan selama dua hari itu berakhir dengan ketidaksepakatan, termasuk terkait isu utama berkisar seputar perlakuan China terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur dan tindakan agresif China di Hong Kong, Tibet dan Taiwan.
BACA JUGA: Biden: China Akan Terima Akibat dari Tindakan Pelanggaran HAM
&amp;ldquo;Tidaklah mengherankan bahwa ketika kami mengangkat masalah itu, secara jelas dan langsung, kami mendapat tanggapan yang defensif,&amp;rdquo; kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken
Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa &amp;ldquo;China tidak punya ruang kompromi dalam masalah kedaulatan, keamanan dan kepentingan utama China. Tekad dan kemauan kami untuk melindungi kepentingan utama kami tidak tergoyahkan.&amp;rdquo;
Blinken mengatakan bahwa masalah ekonomi, perdagangan, teknologi dan serangan dunia maya, akan ditinjau bersama Kongres dan negara-negara sekutu AS untuk memajukan kepentingan bisnis dan pekerja.
BACA JUGA: Lakukan Pembicaraan Telepon Perdana, Biden dan Xi Jinping Bahas Covid-19 dan HAM
Pertemuan pertama pemerintahan Biden dengan sesama negara adidaya itu terjadi setelah perjalanan Blinken menemui sekutu AS, Korea Selatan dan Jepang, di tengah meningkatnya keagresifan China di Asia.
Blinken mengatakan tujuan pertemuan itu adalah untuk memaparkan prioritas pemerintahan Biden. Meskipun ada banyak masalah yang tidak disepakati kedua pihak. &amp;ldquo;Dalam masalah Iran, Korea Utara, Afghanistan, iklim, kepentingan kami bersinggungan,&amp;rdquo; tambah Blinken.


James Jay Carafano dari The Heritage Foundation mengatakan, meski  terlalu dini untuk mengetahui apa kebijakan Biden terkait China, ia  memperkirakan tidak akan terjadi perubahan pendekatan yang signifikan  dari yang dilakukan pemerintahan Amerika sebelumnya.
&amp;ldquo;Sejauh ini, menurut saya, saya melihat lebih banyak kelanjutan  ketimbang perubahan dalam hal kebijakan Amerika Serikat, dari  pemerintahan Trump ke pemerintahan Biden. Mari kita identifikasi area di  mana kita dan China tidak sepakat dan dorong itu semua dan tunjukkan  kesediaan kita untuk melindungi kepentingan kita. Itu jauh lebih mungkin  untuk membawa kita ke hubungan yang stabil secara lebih cepat,&amp;rdquo; kata  Carafano.
Pengamat mengatakan, bahkan terkait retorika keras China, sebagian  besar (sesungguhnya) ditujukan bagi khalayak dalam negeri. China ingin  meredakan ketegangan dengan Amerika.
Abby Bard dari Center for American Progress mengatakan, &amp;ldquo;Dalam impian  mereka, Amerika Serikat akan mundur dari keinginannya untuk menjadi  kekuatan utama di Indo-Pasifik. Saya yakin itu tidak akan terjadi.&amp;rdquo;
Terutama setelah apa yang digambarkan Michael Kugelman dari Wilson  Center sebagai &amp;ldquo;hubungan beracun&amp;rdquo; alias toxic relationship antara China  dan Amerika selama pemerintahan Trump.
&amp;ldquo;Ada harapan bahwa pemerintahan Biden akan mampu mendorong  detoksifikasi hubungan tersebut. Tapi yang kita lihat, hubungan itu  justru semakin diracuni pada tahap ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Pertemuan di Alaska itu hanyalah langkah pertama dan para pengamat  mengatakan bahwa Amerika dan China akan terus bergerak maju. Meski  demikian, butuh waktu bagi pemimpin kedua negara untuk menentukan  seperti apa hubungan yang berkelanjutan di antara keduanya.</content:encoded></item></channel></rss>
