<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wapres: Perlu Pendekatan Multisektoral untuk Tangani TBC   </title><description>Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin mengatakan bahwa masalah tuberkulosis atau TBC tidaklah mudah diselesaikan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc"/><item><title>Wapres: Perlu Pendekatan Multisektoral untuk Tangani TBC   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc</guid><pubDate>Rabu 24 Maret 2021 13:39 WIB</pubDate><dc:creator>Dita Angga R</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc-oIL6TkJfyb.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Presiden Maruf Amin (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/24/337/2383235/wapres-perlu-pendekatan-multisektoral-untuk-tangani-tbc-oIL6TkJfyb.jpeg</image><title>Wakil Presiden Maruf Amin (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin mengatakan bahwa masalah tuberkulosis atau TBC tidaklah mudah diselesaikan. Meskipun memang TBC masuk dalam penyakit menular klasik yang dapat diobati.
&amp;ldquo;Masalah TB tidak mudah diselesaikan karena dipengaruhi faktor sosial seperti kepadatan penduduk, permasalahan gizi, kemiskinan, dan kesadaran hidup sehat,&amp;rdquo; katanya pada Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021, Rabu (24/3/2021).
Dia mengungkapkan, dampak dari tingginya kasus TBC di Indonesia jauh lebih besar daripada beban akibat biaya pengobatannya.
Baca juga:&amp;nbsp;Wapres Ma'ruf Amin: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia
&amp;ldquo;Beban utama bagi negara akibat TB ini adalah hilangnya produktivitas karena kelompok usia yang paling terdampak tuberkulosis adalah kelompok usia produktif,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Target Eliminasi Tuberkulosis 2030 Terancam Gagal Akibat Pandemi Covid-19
Terkait hal tersebut, Maruf mengatakan bahwa pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Ia pun memberikan mepat arahan penting untuk mengeliminasi TBC.
Pertama, meningkatkan intensitas edukasi, komunikasi, dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit TBC. Kedua, meningkatkan intensitas penjangkauan ke masyarakat untuk menemukan pasien TBC dan memastikannya masuk ke dalam sistem pengobatan tuberkulosis melalui layanan kesehatan yang tersedia.
Ketiga, melakukan penguatan fasilitas kesehatan, baik di Puskesmas, klinik, atau layanan kesehatan masyarakat lainnya.
&amp;ldquo;Penguatan fasilitas kesehatan ini juga harus disertai dengan peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam melakukan diagnosa dan pengobatan TBC. Serta memastikan ketersediaan obat-obatan TBC,&amp;rdquo; lanjutnya.
Keempat, memperkuat sistem informasi dan pemantauan untuk memastikan pasien tuberkulosis menjalani pengobatan sampai mencapai kesembuhan. Hal untuk memutus rantai penularan dan menghindari kemungkinan kebal atau resisten terhadap obat TBC .
Maruf menekankan bahwa dalam hal penanganan TBC ini diperlukan pendekatan multisektoral. Di mana upaya penanganan TBC harus didukung seluruh jajaran pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat agar tidak ada hambatan sosial dan ekonomi apa pun dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas.
&amp;ldquo;Pendekatan multisektoral dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, harus diperkuat,&amp;rdquo; tuturnya
Dia berharap, dunia usaha dan akademisi berperan lebih aktif. Salah satunya dalam menghasilkan terobosan-terobosan inovatif untuk penyediaan alat-alat kesehatan dan pengobatan dengan harga yang lebih terjangkau.
&amp;ldquo;Ini agar penanggulangan tuberkulosis berkelanjutan secara efektif dan efisien,&amp;rdquo; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin mengatakan bahwa masalah tuberkulosis atau TBC tidaklah mudah diselesaikan. Meskipun memang TBC masuk dalam penyakit menular klasik yang dapat diobati.
&amp;ldquo;Masalah TB tidak mudah diselesaikan karena dipengaruhi faktor sosial seperti kepadatan penduduk, permasalahan gizi, kemiskinan, dan kesadaran hidup sehat,&amp;rdquo; katanya pada Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021, Rabu (24/3/2021).
Dia mengungkapkan, dampak dari tingginya kasus TBC di Indonesia jauh lebih besar daripada beban akibat biaya pengobatannya.
Baca juga:&amp;nbsp;Wapres Ma'ruf Amin: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia
&amp;ldquo;Beban utama bagi negara akibat TB ini adalah hilangnya produktivitas karena kelompok usia yang paling terdampak tuberkulosis adalah kelompok usia produktif,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Target Eliminasi Tuberkulosis 2030 Terancam Gagal Akibat Pandemi Covid-19
Terkait hal tersebut, Maruf mengatakan bahwa pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Ia pun memberikan mepat arahan penting untuk mengeliminasi TBC.
Pertama, meningkatkan intensitas edukasi, komunikasi, dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit TBC. Kedua, meningkatkan intensitas penjangkauan ke masyarakat untuk menemukan pasien TBC dan memastikannya masuk ke dalam sistem pengobatan tuberkulosis melalui layanan kesehatan yang tersedia.
Ketiga, melakukan penguatan fasilitas kesehatan, baik di Puskesmas, klinik, atau layanan kesehatan masyarakat lainnya.
&amp;ldquo;Penguatan fasilitas kesehatan ini juga harus disertai dengan peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam melakukan diagnosa dan pengobatan TBC. Serta memastikan ketersediaan obat-obatan TBC,&amp;rdquo; lanjutnya.
Keempat, memperkuat sistem informasi dan pemantauan untuk memastikan pasien tuberkulosis menjalani pengobatan sampai mencapai kesembuhan. Hal untuk memutus rantai penularan dan menghindari kemungkinan kebal atau resisten terhadap obat TBC .
Maruf menekankan bahwa dalam hal penanganan TBC ini diperlukan pendekatan multisektoral. Di mana upaya penanganan TBC harus didukung seluruh jajaran pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat agar tidak ada hambatan sosial dan ekonomi apa pun dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas.
&amp;ldquo;Pendekatan multisektoral dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, harus diperkuat,&amp;rdquo; tuturnya
Dia berharap, dunia usaha dan akademisi berperan lebih aktif. Salah satunya dalam menghasilkan terobosan-terobosan inovatif untuk penyediaan alat-alat kesehatan dan pengobatan dengan harga yang lebih terjangkau.
&amp;ldquo;Ini agar penanggulangan tuberkulosis berkelanjutan secara efektif dan efisien,&amp;rdquo; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
