<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ma'ruf Amin: Angka Kematian Ibu Melahirkan Indonesia Lebih Tinggi dari Negara Tetangga</title><description>Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia masih jauh lebih tinggi ketimbang negara tetangga.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga"/><item><title>Ma'ruf Amin: Angka Kematian Ibu Melahirkan Indonesia Lebih Tinggi dari Negara Tetangga</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga</guid><pubDate>Kamis 25 Maret 2021 15:34 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga-o6mJijnQRJ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Presiden, Maruf Amin (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/25/337/2383932/ma-ruf-amin-angka-kematian-ibu-melahirkan-indonesia-lebih-tinggi-dari-negara-tetangga-o6mJijnQRJ.jpeg</image><title>Wakil Presiden, Maruf Amin (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia masih jauh lebih tinggi ketimbang negara tetangga.
Tak hanya itu, indikator kematian balita dan stunting juga berada pada kondisi serupa. Kemudian, prevalensi penyakit seperti tuberkulosis (TBC) dan Malaria masih menjangkiti Tanah Air.
&quot;Laporan World Health Statistics 2020 yang diterbitkan oleh WHO menunjukkan bahwa angka kematian ibu melahirkan kita masih 177 per 100.000 kelahiran hidup, ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia yaitu 29, Thailand 37, dan Vietnam 43 per 100.000 kelahiran hidup,&quot; katanya saat menjadi keynote speech pada webinar Universitas Indonesia bertajuk 'Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Menuju Indonesia Emas 2045', Kamis (25/3/2021).
Ma'ruf menambahkan, indikator tingkat kematian balita di Indonesia masih 25 per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan Malaysia yaitu 8, Thailand 9, dan Vietnam 21. Berbagai prevalensi penyakit seperti TBC dan Malaria juga masih menempati tingkat teratas dibandingkan negara tetangga.
Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia
&quot;Begitu pula prevalensi balita stunting kita yang masih tinggi. Saat ini, kita masih terus berusaha untuk mencapai target RPJMN 2020-2024, dalam menurunkan prevalensi stunting balita dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 14% pada tahun 2024,&quot; ujarnya.
Ma'ruf berujar, ketahanan kesehatan suatu negara ditunjukkan dengan berfungsinya sistem layanan kesehatan dengan baik. Sistem ini harus mampu menangani sejumlah tantangan permasalahan. Untuk mencapainya diperlukan kemampuan adaptasi dengan cepat guna memenuhi tuntutan layanan kesehatan yang berubah dengan cepat, seperti munculnya pandemi yang tak terduga, serta kemampuan kolaborasi antar berbagai pihak terkait.Secara garis besar, lanjut Ma'ruf, sistem layanan kesehatan dapat  dibagi menjadi dua. Pertama, adalah pemberian layanan pemberdayaan  masyarakat dalam rangka upaya promotif dan preventif. Kedua, adalah  pemberian layanan pengobatan atau layanan kesehatan kuratif.
Kata Ma'ruf, kehadiran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah  berhasil memperluas dan mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh  layanan pengobatan yang terjangkau. Saat ini, berbagai penyakit mulai  dari yang bersifat gawat darurat, infeksi, hingga penyakit kronis dan  tidak menular dapat dilayani melalui JKN. Perluasan dan kemudahan akses  layanan kesehatan juga memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang  kondisi kesehatan masyarakat.
&quot;Salah satu proporsi pembiayaan tertinggi dalam JKN ialah pembiayaan  Penyakit Tidak Menular (PTM) Katastropik. Data Riset Kesehatan Dasar  2013 dan 2018 menunjukkan peningkatan signifikan untuk prevalensi  penyakit tidak menular yakni hipertensi dan diabetes melitus (DM).  Prevalensi hipertensi naik dari 25.8% menjadi 34.10%, sementara  prevalensi DM naik dari 6.9% menjadi 10.9%,&quot; ungkapnya.
Data BPJS Kesehatan, kata Ma'ruf, menunjukkan pada 2019 total biaya  yang dikeluarkan untuk menangani PTM katastropik mencapai Rp.20,27  triliun. Selain tingginya beban penyakit tidak menular, Indonesia masih  menghadapi tantangan berbagai penyakit menular.
&quot;Indonesia merupakan negara dengan kasus tertinggi tuberkulosis ke-3  di dunia, setelah India dan China, dengan estimasi kasus sebanyak  842.000 per tahun. Kasus kumulatif HIV sendiri dilaporkan mencapai  338.363 kasus, dan kasus kumulatif AIDS sebanyak 115.601 kasus per Maret  2019. Tantangan penyakit malaria juga masih ditemui di 214  kabupaten/kota,&quot; paparnya.
&quot;Gambaran tingginya biaya kesehatan memberikan kesadaran kepada kita  bahwa keberadaan jaminan kesehatan nasional kita selama ini masih  terpaku pada upaya kuratif dan rehabilitatif yang cenderung bertumpu  pada rumah sakit dibandingkan dengan memberdayakan masyarakat agar hidup  sehat melalui upaya promotif dan preventif,&quot; pungkas Ma'ruf.</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia masih jauh lebih tinggi ketimbang negara tetangga.
Tak hanya itu, indikator kematian balita dan stunting juga berada pada kondisi serupa. Kemudian, prevalensi penyakit seperti tuberkulosis (TBC) dan Malaria masih menjangkiti Tanah Air.
&quot;Laporan World Health Statistics 2020 yang diterbitkan oleh WHO menunjukkan bahwa angka kematian ibu melahirkan kita masih 177 per 100.000 kelahiran hidup, ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia yaitu 29, Thailand 37, dan Vietnam 43 per 100.000 kelahiran hidup,&quot; katanya saat menjadi keynote speech pada webinar Universitas Indonesia bertajuk 'Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Menuju Indonesia Emas 2045', Kamis (25/3/2021).
Ma'ruf menambahkan, indikator tingkat kematian balita di Indonesia masih 25 per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan Malaysia yaitu 8, Thailand 9, dan Vietnam 21. Berbagai prevalensi penyakit seperti TBC dan Malaria juga masih menempati tingkat teratas dibandingkan negara tetangga.
Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia
&quot;Begitu pula prevalensi balita stunting kita yang masih tinggi. Saat ini, kita masih terus berusaha untuk mencapai target RPJMN 2020-2024, dalam menurunkan prevalensi stunting balita dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 14% pada tahun 2024,&quot; ujarnya.
Ma'ruf berujar, ketahanan kesehatan suatu negara ditunjukkan dengan berfungsinya sistem layanan kesehatan dengan baik. Sistem ini harus mampu menangani sejumlah tantangan permasalahan. Untuk mencapainya diperlukan kemampuan adaptasi dengan cepat guna memenuhi tuntutan layanan kesehatan yang berubah dengan cepat, seperti munculnya pandemi yang tak terduga, serta kemampuan kolaborasi antar berbagai pihak terkait.Secara garis besar, lanjut Ma'ruf, sistem layanan kesehatan dapat  dibagi menjadi dua. Pertama, adalah pemberian layanan pemberdayaan  masyarakat dalam rangka upaya promotif dan preventif. Kedua, adalah  pemberian layanan pengobatan atau layanan kesehatan kuratif.
Kata Ma'ruf, kehadiran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah  berhasil memperluas dan mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh  layanan pengobatan yang terjangkau. Saat ini, berbagai penyakit mulai  dari yang bersifat gawat darurat, infeksi, hingga penyakit kronis dan  tidak menular dapat dilayani melalui JKN. Perluasan dan kemudahan akses  layanan kesehatan juga memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang  kondisi kesehatan masyarakat.
&quot;Salah satu proporsi pembiayaan tertinggi dalam JKN ialah pembiayaan  Penyakit Tidak Menular (PTM) Katastropik. Data Riset Kesehatan Dasar  2013 dan 2018 menunjukkan peningkatan signifikan untuk prevalensi  penyakit tidak menular yakni hipertensi dan diabetes melitus (DM).  Prevalensi hipertensi naik dari 25.8% menjadi 34.10%, sementara  prevalensi DM naik dari 6.9% menjadi 10.9%,&quot; ungkapnya.
Data BPJS Kesehatan, kata Ma'ruf, menunjukkan pada 2019 total biaya  yang dikeluarkan untuk menangani PTM katastropik mencapai Rp.20,27  triliun. Selain tingginya beban penyakit tidak menular, Indonesia masih  menghadapi tantangan berbagai penyakit menular.
&quot;Indonesia merupakan negara dengan kasus tertinggi tuberkulosis ke-3  di dunia, setelah India dan China, dengan estimasi kasus sebanyak  842.000 per tahun. Kasus kumulatif HIV sendiri dilaporkan mencapai  338.363 kasus, dan kasus kumulatif AIDS sebanyak 115.601 kasus per Maret  2019. Tantangan penyakit malaria juga masih ditemui di 214  kabupaten/kota,&quot; paparnya.
&quot;Gambaran tingginya biaya kesehatan memberikan kesadaran kepada kita  bahwa keberadaan jaminan kesehatan nasional kita selama ini masih  terpaku pada upaya kuratif dan rehabilitatif yang cenderung bertumpu  pada rumah sakit dibandingkan dengan memberdayakan masyarakat agar hidup  sehat melalui upaya promotif dan preventif,&quot; pungkas Ma'ruf.</content:encoded></item></channel></rss>
