<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Mahkota Binokasih Pusaka Pajajaran Untuk Penobatan Raja Sumedanglarang</title><description>Pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri Raja Sumedang Larang ke 9 , pengaruh kekuatan Pajajaran sudah melemah</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang"/><item><title>Kisah Mahkota Binokasih Pusaka Pajajaran Untuk Penobatan Raja Sumedanglarang</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang</guid><pubDate>Kamis 01 April 2021 06:06 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang-iYJGBdMDN1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dody Handoko</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/01/337/2387540/kisah-mahkota-binokasih-pusaka-pajajaran-untuk-penobatan-raja-sumedanglarang-iYJGBdMDN1.jpg</image><title>Foto: Dody Handoko</title></images><description>JAKARTA - Pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri Raja Sumedang Larang ke 9 , pengaruh kekuatan Pajajaran sudah melemah di beberapa daerah termasuk Sumedang.

Melemahnya Pajajaran akibat serangan Banten.  Beberapa daerah dulunya kekuasaan Pajajaran sudah direbut oleh pasukan Surasowan Banten .

Kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran sudah tidak terawasi dan secara de facto menjadi merdeka. Setelah melihat keadaan Pajajaran yang sudah tak menentu Prabu Ragamulya Suryakancana memerintahkan empat Senapati Pajajaran untuk menyelamatan Pusaka Pajajaran sebagai lambang eksistensi kekuasaan Pajajaran di Tatar Sunda ke Sumedang,

Berangkatlah empat Senapati Pajajaran yang menyamar sebagai Kandaga Lante bersama rakyat Pajajaran yang mengungsi.

&quot;Di tengah perjalanan rombongan dibagi dua, ronbongan pertama meneruskan perjalanan ke Sumedang dan rombongan lainnya menuju ke arah pantai selatan,&quot; kata  Latif Kabid Cagar Budaya Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara (MCKN)  Jabar .

Latif yang juga kerabat Keraton Sumedang menerangkan bahwa pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum&amp;rsquo;at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya  Sumedanglarang, Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante.

Mereka dipimpin oleh Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa. Mereka adalah  Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan),  Sangyang Kondanghapa,    dan Batara Pancar  Buana Terong Peot yang membawa pusaka Pajajaran &amp;ldquo;Mahkota Binokasih&amp;rdquo;  yang dibuat pada masa Prabu Bunisora Suradipati (1357 &amp;ndash; 1371).

Mahkota tersebut kemudian di serahkan kepada penguasa Sumedanglarang.   Pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai  raja Sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 &amp;ndash; 1601), sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran.

Sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kertabhumi I/2 (h. 69) yang  berbunyi; &amp;ldquo;Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus  pralaya, ya ta sirnz, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu  Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedangmandala&amp;rdquo; (Geusan Ulun memerintah  wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahiyangan.  Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang). .

Selanjutnya diberitakan &amp;ldquo;Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara  ring sira Pangeran Ghesan Ulun&amp;rdquo; (Para penguasa lain di Parahiyangan  merestui  Pangeran Geusan Ulun).

&amp;ldquo;Anyakrawartti&amp;rdquo; biasanya digunakan kepada pemerintahan seorang raja yang merdeka dan cukup luas kekuasaannya,&quot;ucapnya.

Dalam hal ini  istilah &amp;ldquo;nyakrawartti&amp;rdquo; maupun &amp;ldquo;samanta&amp;rdquo; sebagai  bawahan, cukup layak dikenakan kepada Prabu Geusan Ulun, hal ini  terlihat dari luas daerah yang dikuasainya, dengan wilayahnya meliputi  seluruh Pajajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa,  dengan  batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah  timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan  dan Laut Jawa sebelah utara.

Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedanglarang yaitu Kesultanan  Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah  kekuasaannya, wilayah Sumedanglarang dulu hampir sama dengan wilayah  Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali  wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat.

Pada saat penobatannya Pangeran Angkawijaya berusia 22 tahun lebih 4  bulan, sebenarnya Pangeran Angkawijaya terlalu muda untuk menjadi raja,  sedangkan tradisi yang berlaku bahwa untuk menjadi raja adalah 23 tahun.

Tetapi Pangeran Angkawijaya mendapat dukungan dari empat orang  bersaudara bekas Senapati dan pembesar Pajajaran, keempat bersaudara  tersebut merupakan keturunan dari Prabu Bunisora Suradipati.

</description><content:encoded>JAKARTA - Pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri Raja Sumedang Larang ke 9 , pengaruh kekuatan Pajajaran sudah melemah di beberapa daerah termasuk Sumedang.

Melemahnya Pajajaran akibat serangan Banten.  Beberapa daerah dulunya kekuasaan Pajajaran sudah direbut oleh pasukan Surasowan Banten .

Kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran sudah tidak terawasi dan secara de facto menjadi merdeka. Setelah melihat keadaan Pajajaran yang sudah tak menentu Prabu Ragamulya Suryakancana memerintahkan empat Senapati Pajajaran untuk menyelamatan Pusaka Pajajaran sebagai lambang eksistensi kekuasaan Pajajaran di Tatar Sunda ke Sumedang,

Berangkatlah empat Senapati Pajajaran yang menyamar sebagai Kandaga Lante bersama rakyat Pajajaran yang mengungsi.

&quot;Di tengah perjalanan rombongan dibagi dua, ronbongan pertama meneruskan perjalanan ke Sumedang dan rombongan lainnya menuju ke arah pantai selatan,&quot; kata  Latif Kabid Cagar Budaya Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara (MCKN)  Jabar .

Latif yang juga kerabat Keraton Sumedang menerangkan bahwa pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum&amp;rsquo;at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya  Sumedanglarang, Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante.

Mereka dipimpin oleh Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa. Mereka adalah  Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan),  Sangyang Kondanghapa,    dan Batara Pancar  Buana Terong Peot yang membawa pusaka Pajajaran &amp;ldquo;Mahkota Binokasih&amp;rdquo;  yang dibuat pada masa Prabu Bunisora Suradipati (1357 &amp;ndash; 1371).

Mahkota tersebut kemudian di serahkan kepada penguasa Sumedanglarang.   Pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai  raja Sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 &amp;ndash; 1601), sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran.

Sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kertabhumi I/2 (h. 69) yang  berbunyi; &amp;ldquo;Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus  pralaya, ya ta sirnz, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu  Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedangmandala&amp;rdquo; (Geusan Ulun memerintah  wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahiyangan.  Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang). .

Selanjutnya diberitakan &amp;ldquo;Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara  ring sira Pangeran Ghesan Ulun&amp;rdquo; (Para penguasa lain di Parahiyangan  merestui  Pangeran Geusan Ulun).

&amp;ldquo;Anyakrawartti&amp;rdquo; biasanya digunakan kepada pemerintahan seorang raja yang merdeka dan cukup luas kekuasaannya,&quot;ucapnya.

Dalam hal ini  istilah &amp;ldquo;nyakrawartti&amp;rdquo; maupun &amp;ldquo;samanta&amp;rdquo; sebagai  bawahan, cukup layak dikenakan kepada Prabu Geusan Ulun, hal ini  terlihat dari luas daerah yang dikuasainya, dengan wilayahnya meliputi  seluruh Pajajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa,  dengan  batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah  timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan  dan Laut Jawa sebelah utara.

Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedanglarang yaitu Kesultanan  Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah  kekuasaannya, wilayah Sumedanglarang dulu hampir sama dengan wilayah  Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali  wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat.

Pada saat penobatannya Pangeran Angkawijaya berusia 22 tahun lebih 4  bulan, sebenarnya Pangeran Angkawijaya terlalu muda untuk menjadi raja,  sedangkan tradisi yang berlaku bahwa untuk menjadi raja adalah 23 tahun.

Tetapi Pangeran Angkawijaya mendapat dukungan dari empat orang  bersaudara bekas Senapati dan pembesar Pajajaran, keempat bersaudara  tersebut merupakan keturunan dari Prabu Bunisora Suradipati.

</content:encoded></item></channel></rss>
