<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Diponegoro Dipenjara, Dijaga 200 Serdadu dan Hampir Dibuang ke Belanda</title><description>Van den Bosch cemas Diponegoro bakal melarikan diri dan kembali ke Tanah Jawa untuk memimpin suatu pemberontakan baru.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda"/><item><title>Diponegoro Dipenjara, Dijaga 200 Serdadu dan Hampir Dibuang ke Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda</guid><pubDate>Jum'at 02 April 2021 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda-732Ft6xZCs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/02/337/2388215/diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda-732Ft6xZCs.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Pada awal 1833,  tentara Prancis akan menyeberangi perbatasan Belanda-Belgia. Khawatir perang bakal meletus di Eropa, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch menjadi waspada

&quot;Ia berpikir jangan-jangan &amp;ldquo;musuh yang jahat&amp;rdquo;&amp;mdash;maksudnya, Inggris&amp;mdash;mungkin akan berusaha mencari jalan untuk memanfaatkan orang-orang di pengasingan  di daerah &amp;ldquo;jajahan wilayah terluar Belanda&amp;rdquo; untuk tujuan-tujuan politik mereka,&quot;kata sejarawan Peter Carey ,penulis buku Pangeran Diponegoro, &quot;Takdir&quot; dan &quot;Kuasa Ramalan &quot;.

Secara khusus, Van den Bosch cemas bahwa bisa jadi dalam rangka ini Diponegoro bakal melarikan diri dan kembali ke Tanah Jawa untuk memimpin suatu pemberontakan baru.

Dengan melihat kekuatan Angkatan Laut Inggris yang sulit tertandingi, dan lokasi pengasingan Pangeran yang dekat dengan jalur-jalur pelayaran yang utama, maka ini jelas berbahaya.

Van den Bosch lalu memerintahkan Pietermaat yang sangat ia percayai untuk kembali ke Manado dan merancang kepindahan Diponegoro ke suatu tempat perbentengan baru yang letaknya jauh di pedalaman Minahasa (Carey 2008:735).

Akan tetapi, begitu tiba di Manado Pietermaat sadar bahwa usul Van den Bosch itu sama sekali tidak dapat dilaksanakan. Pemerintah Hindia Belanda tidak memiliki kedaulatan hukum atas daerah pedalaman Minahasa.

Tanpa izin dari otoritas setempat, tidak ada benteng yang dapat dibangun. Di samping itu, tidak ada penguasa setempat, dalam pandangan Pietermaat, yang akan percaya perlunya ada suatu benteng  yang dibangun secara kokoh kuat hanya untuk tempat tinggal  &amp;ldquo;seorang yang tidak penting&amp;rdquo; seperti Diponegoro.

&quot;Jangan-jangan penguasa setempat malah akan curiga bahwa itu semua merupakn cara untuk menganeksasi wilayah pedalaman, dan mereka tentu akan melawan. Oleh karena itu, jalan lain harus ditemukan &quot;ucapnya.

Rencana pertama Van den Bosch adalah mengirim Diponegoro ke Belanda untuk ditahan di salah satu benteng Kerajaan, seperti di Loevestein (Gelderland) atau Woerden (Utrecht).

Untunglah Raja Belanda, Willem I, menolak usul Van den Bosch: ia merasa sudah cukup direpotkan dengan banyak masalah dalam negeri, apalagi kalau ditambah dengan seorang Ratu Adil yang ada di salah satu kastilnya (Carey 2008:736).

Di samping itu, jika Tondano saja&amp;mdash;yang bertemperatur udara 69 derajad Fahrenheit pagi hari&amp;mdash;ditolak Diponegoro dengan alasan terlalu dingin (Atlas 1990:26; Wallace 2002: paragraf 179), dengan sedikit imajinasi saja cukup untuk  membayangkan betapa Pangeran akan lebih menderita jika harus mengalami musim dingin dalam kelembaban benteng baru Belanda di  &amp;ldquo;garis sejajar  air&amp;rdquo; (Nieuwe Hollandsewaterlinie) itu.

Sebagai gantinya, Van den Bosch diperintahkan untuk mencari tempat  lain di Hindia Belanda. Ia pun bertindak cepat: Pangeran akan  dipindahkan secara sangat rahasia ke selatan, tepatnya ke Makassar. Di  sana ia akan ditahan hingga ajal menjemputnya di Fort Rotterdam, benteng  besar yang dibangun Admiral Speelman (1628-84).

Bila garnisun pengawal di Manado hanya berkekuatan 40 orang, pasukan  penjaga benteng di Sulawesi Selatan ini berkekuatan 200 serdadu dan  didukung beberapa meriam besar yang ditaruh di beberapa tempat,  menghadap ke setiap penjuru dari arah mana ancaman kemungkinan akan  datang, dari laut maupun darat. Secara keseluruhan, struktur bangunannya  pun lebih kokoh.

Maka, demikianlah, dalam suatu perjalanan rahasia selama 21 hari yang  menyiksa antara tanggal 20 Juni dan 11 Juli 1833, Diponegoro, istri,  kedua anaknya, dan 23 pengikutnya diangkut dari &amp;ldquo;penjara ke penjara&amp;rdquo;  Belanda di Sulawesi, dari Fort Nieuw Amsterdam ke Fort Rotterdam.

&quot;Ini adalah sebuah perjalanan rahasiayang terasa makin pedih karena  nama kapal yang ditugaskan membawa mereka adalah kapal angkut Angkatan  Laut Belanda, Circe, nama seorang dewi Yunani berlidah perak dalam epos  Homerus, yang dapat mengubah manusia menjadi hewan,&quot;terangnya.

Repotnya, para awak kapal yang pribumi di kapal angkut itu bereaksi  negatif saat mengetahui mantan pemimpin Perang Jawa ada di tengah-tengah  mereka.

J.I. van Sevenhoven (1782-1841; menjabat, 1832-9), yang kemudian  bertugas sebagai Raad van Indi&amp;euml; (Dewan Hindia), menyarankan agar  Diponegoro jangan pernah lagi di angkut dalam kapal Angkatan Laut  Belanda yang memberi kemungkinan timbulnya kerusuhan di antara awak  kapal pribumi.

Langkah pemindahan berikut, kalau ada lagi nanti, menurut dia,  hendaknya dilakukan  dengan memakai &amp;ldquo;kapal dagang kolonial&amp;rdquo;, yaitu kapal  dagang  biasa (Carey 2008:738-9).

Penjagaan Pangeran dan keluarganya saat ditahan di Makassar jauh  lebih ketat ketimbang di Manado: baik Pangeran maupun pengikutnya tidak  diizinkan berkeliaran di luar tembok Fort Rotterdam.

Diponegoro dan keluarganya ditahan di ruangan perwira yang dekat  dengan pos jaga utama, dengan pemandangan dari lotengnya mengarah ke  Teluk Makassar; namun tembok bagian dalam yang tinggi menghalangi  pandangan kearah kota (Eerdmans 1922: I.2:355-6;Peta 7).

Pangeran diizinkan untuk berolahraga di bawah penjagaan di dalam  benteng, tetapi hal itu hanya boleh dilakukan siang hari. Saat matahari  terbenam, komandan pengawal akan memeriksa ulang untuk memastikan  Pangeran dan para pengikutnya sudah kembali ke kamar mereka  masing-masing (Carey 2008:739).

Terlepas dari semua pembatasan ruang gerak ini, Diponegoro dan para  pengikutnya tetap  dapat menemukan cara-cara untuk mengirim pesan atau  surat. Hal ini terlihat dalam korespondensi dengan pejabat yang belum  lama dipromosikan, Mayor-Jenderal Cleerens (Bab 11).

Diponegoro tidak hanya diberitahu tentang kembalinya pejabat asal  daerah Flam itu ke Tanah Jawa dalam minggu-minggu kedatangannya di  Batavia pada 13 Oktober 1835, tetapi Pangeran juga dapat mendiktekan dan  mengirim sepucuk surat resmi kepadanya lengkap dengan  sampul sutra  kuning dan cap (Carey 2008:826-7), dengan menembus blokade prosedur   keamanan yang ditetapkan Van den Bosch.(dody)</description><content:encoded>JAKARTA - Pada awal 1833,  tentara Prancis akan menyeberangi perbatasan Belanda-Belgia. Khawatir perang bakal meletus di Eropa, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch menjadi waspada

&quot;Ia berpikir jangan-jangan &amp;ldquo;musuh yang jahat&amp;rdquo;&amp;mdash;maksudnya, Inggris&amp;mdash;mungkin akan berusaha mencari jalan untuk memanfaatkan orang-orang di pengasingan  di daerah &amp;ldquo;jajahan wilayah terluar Belanda&amp;rdquo; untuk tujuan-tujuan politik mereka,&quot;kata sejarawan Peter Carey ,penulis buku Pangeran Diponegoro, &quot;Takdir&quot; dan &quot;Kuasa Ramalan &quot;.

Secara khusus, Van den Bosch cemas bahwa bisa jadi dalam rangka ini Diponegoro bakal melarikan diri dan kembali ke Tanah Jawa untuk memimpin suatu pemberontakan baru.

Dengan melihat kekuatan Angkatan Laut Inggris yang sulit tertandingi, dan lokasi pengasingan Pangeran yang dekat dengan jalur-jalur pelayaran yang utama, maka ini jelas berbahaya.

Van den Bosch lalu memerintahkan Pietermaat yang sangat ia percayai untuk kembali ke Manado dan merancang kepindahan Diponegoro ke suatu tempat perbentengan baru yang letaknya jauh di pedalaman Minahasa (Carey 2008:735).

Akan tetapi, begitu tiba di Manado Pietermaat sadar bahwa usul Van den Bosch itu sama sekali tidak dapat dilaksanakan. Pemerintah Hindia Belanda tidak memiliki kedaulatan hukum atas daerah pedalaman Minahasa.

Tanpa izin dari otoritas setempat, tidak ada benteng yang dapat dibangun. Di samping itu, tidak ada penguasa setempat, dalam pandangan Pietermaat, yang akan percaya perlunya ada suatu benteng  yang dibangun secara kokoh kuat hanya untuk tempat tinggal  &amp;ldquo;seorang yang tidak penting&amp;rdquo; seperti Diponegoro.

&quot;Jangan-jangan penguasa setempat malah akan curiga bahwa itu semua merupakn cara untuk menganeksasi wilayah pedalaman, dan mereka tentu akan melawan. Oleh karena itu, jalan lain harus ditemukan &quot;ucapnya.

Rencana pertama Van den Bosch adalah mengirim Diponegoro ke Belanda untuk ditahan di salah satu benteng Kerajaan, seperti di Loevestein (Gelderland) atau Woerden (Utrecht).

Untunglah Raja Belanda, Willem I, menolak usul Van den Bosch: ia merasa sudah cukup direpotkan dengan banyak masalah dalam negeri, apalagi kalau ditambah dengan seorang Ratu Adil yang ada di salah satu kastilnya (Carey 2008:736).

Di samping itu, jika Tondano saja&amp;mdash;yang bertemperatur udara 69 derajad Fahrenheit pagi hari&amp;mdash;ditolak Diponegoro dengan alasan terlalu dingin (Atlas 1990:26; Wallace 2002: paragraf 179), dengan sedikit imajinasi saja cukup untuk  membayangkan betapa Pangeran akan lebih menderita jika harus mengalami musim dingin dalam kelembaban benteng baru Belanda di  &amp;ldquo;garis sejajar  air&amp;rdquo; (Nieuwe Hollandsewaterlinie) itu.

Sebagai gantinya, Van den Bosch diperintahkan untuk mencari tempat  lain di Hindia Belanda. Ia pun bertindak cepat: Pangeran akan  dipindahkan secara sangat rahasia ke selatan, tepatnya ke Makassar. Di  sana ia akan ditahan hingga ajal menjemputnya di Fort Rotterdam, benteng  besar yang dibangun Admiral Speelman (1628-84).

Bila garnisun pengawal di Manado hanya berkekuatan 40 orang, pasukan  penjaga benteng di Sulawesi Selatan ini berkekuatan 200 serdadu dan  didukung beberapa meriam besar yang ditaruh di beberapa tempat,  menghadap ke setiap penjuru dari arah mana ancaman kemungkinan akan  datang, dari laut maupun darat. Secara keseluruhan, struktur bangunannya  pun lebih kokoh.

Maka, demikianlah, dalam suatu perjalanan rahasia selama 21 hari yang  menyiksa antara tanggal 20 Juni dan 11 Juli 1833, Diponegoro, istri,  kedua anaknya, dan 23 pengikutnya diangkut dari &amp;ldquo;penjara ke penjara&amp;rdquo;  Belanda di Sulawesi, dari Fort Nieuw Amsterdam ke Fort Rotterdam.

&quot;Ini adalah sebuah perjalanan rahasiayang terasa makin pedih karena  nama kapal yang ditugaskan membawa mereka adalah kapal angkut Angkatan  Laut Belanda, Circe, nama seorang dewi Yunani berlidah perak dalam epos  Homerus, yang dapat mengubah manusia menjadi hewan,&quot;terangnya.

Repotnya, para awak kapal yang pribumi di kapal angkut itu bereaksi  negatif saat mengetahui mantan pemimpin Perang Jawa ada di tengah-tengah  mereka.

J.I. van Sevenhoven (1782-1841; menjabat, 1832-9), yang kemudian  bertugas sebagai Raad van Indi&amp;euml; (Dewan Hindia), menyarankan agar  Diponegoro jangan pernah lagi di angkut dalam kapal Angkatan Laut  Belanda yang memberi kemungkinan timbulnya kerusuhan di antara awak  kapal pribumi.

Langkah pemindahan berikut, kalau ada lagi nanti, menurut dia,  hendaknya dilakukan  dengan memakai &amp;ldquo;kapal dagang kolonial&amp;rdquo;, yaitu kapal  dagang  biasa (Carey 2008:738-9).

Penjagaan Pangeran dan keluarganya saat ditahan di Makassar jauh  lebih ketat ketimbang di Manado: baik Pangeran maupun pengikutnya tidak  diizinkan berkeliaran di luar tembok Fort Rotterdam.

Diponegoro dan keluarganya ditahan di ruangan perwira yang dekat  dengan pos jaga utama, dengan pemandangan dari lotengnya mengarah ke  Teluk Makassar; namun tembok bagian dalam yang tinggi menghalangi  pandangan kearah kota (Eerdmans 1922: I.2:355-6;Peta 7).

Pangeran diizinkan untuk berolahraga di bawah penjagaan di dalam  benteng, tetapi hal itu hanya boleh dilakukan siang hari. Saat matahari  terbenam, komandan pengawal akan memeriksa ulang untuk memastikan  Pangeran dan para pengikutnya sudah kembali ke kamar mereka  masing-masing (Carey 2008:739).

Terlepas dari semua pembatasan ruang gerak ini, Diponegoro dan para  pengikutnya tetap  dapat menemukan cara-cara untuk mengirim pesan atau  surat. Hal ini terlihat dalam korespondensi dengan pejabat yang belum  lama dipromosikan, Mayor-Jenderal Cleerens (Bab 11).

Diponegoro tidak hanya diberitahu tentang kembalinya pejabat asal  daerah Flam itu ke Tanah Jawa dalam minggu-minggu kedatangannya di  Batavia pada 13 Oktober 1835, tetapi Pangeran juga dapat mendiktekan dan  mengirim sepucuk surat resmi kepadanya lengkap dengan  sampul sutra  kuning dan cap (Carey 2008:826-7), dengan menembus blokade prosedur   keamanan yang ditetapkan Van den Bosch.(dody)</content:encoded></item></channel></rss>
