<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenang 71 Tahun Mosi Integral Natsir, Terobosan Brilian Perkokoh NKRI</title><description>Mosi Integral Natsir mendapat dukungan luas dan ditandatangani seluruh fraksi DPR-RIS saat itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri"/><item><title>Mengenang 71 Tahun Mosi Integral Natsir, Terobosan Brilian Perkokoh NKRI</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri</guid><pubDate>Sabtu 03 April 2021 10:54 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri-jG9AWEeI6R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mohammad Natsir. (Foto: Dok. Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/03/337/2388702/mengenang-71-tahun-mosi-integral-natsir-terobosan-brilian-perkokoh-nkri-jG9AWEeI6R.jpg</image><title>Mohammad Natsir. (Foto: Dok. Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Tujuh puluh satu tahun yang lalu tepatnya 3 April 1950, Mosi Integral Mohammad Natsir berhasil mempersatukan Indonesia yang telah tercerai-berai menjadi beberapa Negara Bagian akibat rekayasa pihak Belanda yang ingin kembali menjajah Tanah Air kita.
Belanda dengan bantuan para komprador-nya sejak lama memainkan politik devide et impera (pecah-belah dan taklukkan) di kepulauan Nusantara. Benih-benih &amp;ldquo;separatisme&amp;rdquo; yang bisa menjadi &amp;ldquo;bom waktu&amp;rdquo; bagi Indonesia, sengaja ditaburkan oleh pihak Belanda dengan cara yang halus dalam masa revolusi.
BACA JUGA: Kisah Mistis Bung Karno dan Parfum Favoritnya
Sejarah mencatat pada 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag berlangsung perundingan antara delegasi Republik Indonesia, delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) beranggotakan para  pemimpin negara federal dan delegasi Kerajaan Belanda yang dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar (KMB).
Sesuai hasil KMB, kedaulatan diserahkan oleh Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Nasional Federal Sementara daripada Negara Indonesia Serikat (RIS). Pihak Indonesia menerima hasil perundingan yang maksimal bisa dicapai dalam perjuangan diplomasi demi kemenangan jangka panjang yang diharapkan.
Negara Republik Indonesia dengan ibukota sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta hanya salah satu dari Negara Bagian RIS. Adapun wilayah Republik Indonesia sendiri berada di sebagian pulau Jawa, Sumatera dan Madura.
BACA JUGA: Korban Kecelakaan Kereta Taiwan Bertambah, Setidaknya 50 Tewas
Mosi Integral yang dicetuskan oleh Pemimpin Masyumi Mohammad Natsir di parlemen mendapat dukungan luas dan ditandatangani oleh seluruh fraksi di DPR-RIS pada waktu itu. Situasi dan gejolak di berbagai daerah mulai menunjukkan adanya keinginan untuk kembali bersatu, namun bagaimana caranya sampai saat itu belum ditemukan.
Mosi Integral benar-benar sebuah terobosan brilian yang menjadi pembuka jalan bagi pulihnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui jalan demokratis dan cara yang terhormat.Mohammad Natsir melalui Mosi Integral mengajak semua pemimpin  negara-negara bagian, waktu itu ada 15 (lima belas) &amp;ldquo;negara boneka  bikinan Van Mook&amp;rdquo; yakni: Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur,  Negara Borneo Tenggara, Negara Borneo Timur, Negara Borneo Barat, Negara  Bengkulu, Negara Biliton, Negara Riau, Negara Sumatera Timur, Negara  Banjar, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatera Selatan, Negara  Jawa Timur dan Negara Jawa Tengah, supaya membubarkan diri secara damai  dan bersama-sama pula mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia  melalui prosedur parlementer.
Pada 17 Agustus 1950 yang diawali oleh Mosi Integral Natsir di  Parlemen (DPR-RIS) tanggal 3 April 1950 sebagai prolognya, Republik  Indonesia untuk kedua kalinya diproklamirkan menjadi Negara Kesatuan  oleh Presiden Soekarno dalam sebuah pidato kenegaraan di Istana Merdeka  Jakarta. Itulah &amp;ldquo;Hari Proklamasi Kemerdekaan RI&amp;rdquo; yang kedua setelah  Proklamasi 17 Agustus 1945.
Semenjak itu resmi pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS). Dua  hari sebelumnya, tanggal 15 Agustus 1950 Presiden Soekarno membacakan  Piagam Pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di  muka rapat gabungan DPR-RIS dan Senat di Jakarta. Republik Indonesia  Serikat hanya berumur tujuh bulan.Seminggu kemudian, Presiden Soekarno menunjuk Mohammad Natsir menjadi   formatur untuk membentuk Kabinet Republik Indonesia dibawah pimpinan   Perdana Menteri Mohammad Natsir.
Dari fakta sejarah ini, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian   Agama, Muhammad Fuad Nasar menegaskan bahwa Mosi Integral Mohammad   Natsir, sebuah fakta sejarah yang penting dan tak boleh dilupakan.   &amp;ldquo;Karena Mosi Integral itulah, dengan kehendak Allah, yang menyelamatkan   kesinambungan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia,&amp;rdquo; dalam   keterangannya, Sabtu (3/4/2021).
&amp;ldquo;Negara yang diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta atas   nama bangsa Indonesia pada Jumat 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan, di   Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta dipersatukan kembali melalui Mosi   Integral Mohammad Natsir,&amp;rdquo; kata Fuad.
Fuad juga mengatakan bahwa sejarah bukan sekadar romantisme masa   lalu. &amp;ldquo;Sejarah adalah ingatan kolektif suatu bangsa dan kekayaan moral   yang menjadi modal bersama dalam menghadapi kompleksitas kondisi masa   kini dan tantangan masa depan,&amp;rdquo; paparnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Tujuh puluh satu tahun yang lalu tepatnya 3 April 1950, Mosi Integral Mohammad Natsir berhasil mempersatukan Indonesia yang telah tercerai-berai menjadi beberapa Negara Bagian akibat rekayasa pihak Belanda yang ingin kembali menjajah Tanah Air kita.
Belanda dengan bantuan para komprador-nya sejak lama memainkan politik devide et impera (pecah-belah dan taklukkan) di kepulauan Nusantara. Benih-benih &amp;ldquo;separatisme&amp;rdquo; yang bisa menjadi &amp;ldquo;bom waktu&amp;rdquo; bagi Indonesia, sengaja ditaburkan oleh pihak Belanda dengan cara yang halus dalam masa revolusi.
BACA JUGA: Kisah Mistis Bung Karno dan Parfum Favoritnya
Sejarah mencatat pada 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag berlangsung perundingan antara delegasi Republik Indonesia, delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) beranggotakan para  pemimpin negara federal dan delegasi Kerajaan Belanda yang dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar (KMB).
Sesuai hasil KMB, kedaulatan diserahkan oleh Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Nasional Federal Sementara daripada Negara Indonesia Serikat (RIS). Pihak Indonesia menerima hasil perundingan yang maksimal bisa dicapai dalam perjuangan diplomasi demi kemenangan jangka panjang yang diharapkan.
Negara Republik Indonesia dengan ibukota sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta hanya salah satu dari Negara Bagian RIS. Adapun wilayah Republik Indonesia sendiri berada di sebagian pulau Jawa, Sumatera dan Madura.
BACA JUGA: Korban Kecelakaan Kereta Taiwan Bertambah, Setidaknya 50 Tewas
Mosi Integral yang dicetuskan oleh Pemimpin Masyumi Mohammad Natsir di parlemen mendapat dukungan luas dan ditandatangani oleh seluruh fraksi di DPR-RIS pada waktu itu. Situasi dan gejolak di berbagai daerah mulai menunjukkan adanya keinginan untuk kembali bersatu, namun bagaimana caranya sampai saat itu belum ditemukan.
Mosi Integral benar-benar sebuah terobosan brilian yang menjadi pembuka jalan bagi pulihnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui jalan demokratis dan cara yang terhormat.Mohammad Natsir melalui Mosi Integral mengajak semua pemimpin  negara-negara bagian, waktu itu ada 15 (lima belas) &amp;ldquo;negara boneka  bikinan Van Mook&amp;rdquo; yakni: Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur,  Negara Borneo Tenggara, Negara Borneo Timur, Negara Borneo Barat, Negara  Bengkulu, Negara Biliton, Negara Riau, Negara Sumatera Timur, Negara  Banjar, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatera Selatan, Negara  Jawa Timur dan Negara Jawa Tengah, supaya membubarkan diri secara damai  dan bersama-sama pula mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia  melalui prosedur parlementer.
Pada 17 Agustus 1950 yang diawali oleh Mosi Integral Natsir di  Parlemen (DPR-RIS) tanggal 3 April 1950 sebagai prolognya, Republik  Indonesia untuk kedua kalinya diproklamirkan menjadi Negara Kesatuan  oleh Presiden Soekarno dalam sebuah pidato kenegaraan di Istana Merdeka  Jakarta. Itulah &amp;ldquo;Hari Proklamasi Kemerdekaan RI&amp;rdquo; yang kedua setelah  Proklamasi 17 Agustus 1945.
Semenjak itu resmi pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS). Dua  hari sebelumnya, tanggal 15 Agustus 1950 Presiden Soekarno membacakan  Piagam Pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di  muka rapat gabungan DPR-RIS dan Senat di Jakarta. Republik Indonesia  Serikat hanya berumur tujuh bulan.Seminggu kemudian, Presiden Soekarno menunjuk Mohammad Natsir menjadi   formatur untuk membentuk Kabinet Republik Indonesia dibawah pimpinan   Perdana Menteri Mohammad Natsir.
Dari fakta sejarah ini, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian   Agama, Muhammad Fuad Nasar menegaskan bahwa Mosi Integral Mohammad   Natsir, sebuah fakta sejarah yang penting dan tak boleh dilupakan.   &amp;ldquo;Karena Mosi Integral itulah, dengan kehendak Allah, yang menyelamatkan   kesinambungan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia,&amp;rdquo; dalam   keterangannya, Sabtu (3/4/2021).
&amp;ldquo;Negara yang diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta atas   nama bangsa Indonesia pada Jumat 17 Agustus 1945, bulan Ramadhan, di   Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta dipersatukan kembali melalui Mosi   Integral Mohammad Natsir,&amp;rdquo; kata Fuad.
Fuad juga mengatakan bahwa sejarah bukan sekadar romantisme masa   lalu. &amp;ldquo;Sejarah adalah ingatan kolektif suatu bangsa dan kekayaan moral   yang menjadi modal bersama dalam menghadapi kompleksitas kondisi masa   kini dan tantangan masa depan,&amp;rdquo; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
