<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pangeran Diponegoro Mabuk Laut &amp; Deman saat Berlayar</title><description>Terbaring lemah karena demam malaria, ditambah muntah-muntah karena mabuk laut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar"/><item><title>Kisah Pangeran Diponegoro Mabuk Laut &amp; Deman saat Berlayar</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar</guid><pubDate>Minggu 04 April 2021 06:49 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar-E4mASfH46k.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro (Foto : Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/04/337/2388998/kisah-pangeran-diponegoro-mabuk-laut-deman-saat-berlayar-E4mASfH46k.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro (Foto : Istimewa)</title></images><description>PERJALANAN Pangeran Diponegoro  dikawal oleh ajudan Van den Bosch, Letnan Dua  Knoerle, perwira berdarah Jerman. Duka derita yang dialami Pangeran Diponegoro dan para peserta lain pelayaran itu terekam dengan rinci dalam catatan harian Knoerle.
Dalam lima hari pertama pelayaran empat dari 50 anggota pasukan yang ditugaskan mengawal Diponegoro meninggal dunia. Upacara penguburan dengan  pasukan kehormatan berjalan lambat. Bunyi genderang pengiring upacara terdengar dengan jelas di kamar Pangeran yang letaknya di bawah geladak belakang kapal.
&quot;Terbaring lemah karena demam malaria, ditambah muntah-muntah karena mabuk laut, menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Pangeran semakin memburuk. Setelah seminggu berlayar, Pangeran berkata kepada Knoerle bahwa ia sudah ikhlas untuk mati,&quot;kata Sejarawan Peter Carey, penulis buku P.Diponegoro, Takdir dan Kuasa Ramalan.
Akan tetapi Pangeran belum berada di ambang maut. Setelah demamnya mereda, Pangeran menunjukkan minat pada apa saja yang ia lihat di kapal. Ilmu bumi kawasan Indonesia timur  sangat menarik perhatiannya.
Ia bertanya, seberapa jauh Ambon dari Manado? Apakah Manado jauh dari Makassar atau &amp;ldquo;Tanah Bugis&amp;rdquo;? Bolehkah dia melihat peta &amp;ldquo;Makassar&amp;rdquo;, yang sempat ia lihat dari dek  depan, sehingga ia bisa lebih memahami lagi bentuk pulau Sulawesi.
Saat Knoerle berkeberatan dan mengatakan bahwa satu-satunya peta yang ada di kapal hanya diperuntukkan bagi keperluan navigasi pelayaran, Pangeran tetap gigih bertanya. Ia ingin tahu tentang rute laut ke Jeddah; apakah pantai-pantai Sulawesi dapat dilayari; dan bagaimana penduduknya?
Berondongan pertanyaan Pangeran, yang kadang menarik kadang menjengkelkan, jelas menguji kesabaran Knoerle. Pada pukul dua dinihari, tanggal 14 Mei, ketika badai hebat sedang melintasi gunung Muria di Jepara menuju ke laut,
&amp;ldquo;Diponegoro tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya dan berteriak-teriak memanggil saya agar datang menghampiri; [memerintahkan agar] komandan kapal korvet seharusnya segera membuang jangkar!&amp;rdquo;.
Baca Juga :&amp;nbsp;Kisah Bung Karno Dilempar Granat oleh Teroris Anak Buah Kartosoewirjo
Hari berikutnya Pangeran &amp;ldquo;mengomel terus dengan permintaan yang bukan-bukan, padahal laut sangat tenang namun hari terasa sangat panas, kami sedang berada dekat pantai Lasem&amp;rdquo;  Pemandangan garis pantai Laut Jawa itu rupanya mengiris-iris hati Pangeran.
Namun, Pangeran yang sama ini jugalah  yang setiap hari tetap mengiriminya nasi dari meja makannya dan mengundangnya untuk sarapan pagi bersama dengan menu kentang, sambal, teh hitam, dan biskuit kapal sambil duduk-duduk di tikar jerami yang lebar.
Pangeran yang sama ini pun tertarik dengan gambar-gambar dalam buku-buku dan almanak yang dipinjamkan Knoerle, dengan ditemani anggur Sungai Rhine (Jerman) dan anggur dari Tanjung Harapan yang didapat para pengawal dari para perwira kapal, yang memberikannya dengan enggan sebagai &amp;ldquo;obat&amp;rdquo; untuk keinginan yang mendadak timbul untuk mencicipi anggur.Dalam pertemuan-pertemuan ini&amp;mdash;&amp;ldquo;percakapan di atas tikar jerami&amp;rdquo; menurut pengakuan Knoerle, Pangeran mengajaknya  bercerita tentang banyak hal, di antaranya tentang sejarah dan mitologi Jawa hingga sejarah Eropa terkini.
&amp;ldquo;Apakah sudah menjadi kebiasaan di Eropa&amp;rdquo;, tanya Diponegoro, &amp;ldquo;untuk mengasingkan seorang pemimpin yang kalah perang ke sebuah pulau terpencil dan memutus hubungannya dengan semua kaum kerabatnya?&amp;rdquo;
Knoerle menjawab dengan mengutip contoh Napoleon (1769-1821), yang seperti Pangeran persis berusia 44 tahun saat pertama kali diasingkan (Maret 1814), tetapi dilakukan &amp;ldquo;dengan cara yang baik, sehingga tidak meninggalkan kenangan yang menyakitkan&amp;rdquo;.
Diponegoro juga mengenang masa silam hidupnya, terutama pengalamannya di masa Perang Jawa, yang didorong oleh arahan pertanyaan Knoerle, sebab catatan harian itu memang disusun sebagai laporan intelijen bagi gubernur jenderal (Knoerle 1835:135-80).</description><content:encoded>PERJALANAN Pangeran Diponegoro  dikawal oleh ajudan Van den Bosch, Letnan Dua  Knoerle, perwira berdarah Jerman. Duka derita yang dialami Pangeran Diponegoro dan para peserta lain pelayaran itu terekam dengan rinci dalam catatan harian Knoerle.
Dalam lima hari pertama pelayaran empat dari 50 anggota pasukan yang ditugaskan mengawal Diponegoro meninggal dunia. Upacara penguburan dengan  pasukan kehormatan berjalan lambat. Bunyi genderang pengiring upacara terdengar dengan jelas di kamar Pangeran yang letaknya di bawah geladak belakang kapal.
&quot;Terbaring lemah karena demam malaria, ditambah muntah-muntah karena mabuk laut, menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Pangeran semakin memburuk. Setelah seminggu berlayar, Pangeran berkata kepada Knoerle bahwa ia sudah ikhlas untuk mati,&quot;kata Sejarawan Peter Carey, penulis buku P.Diponegoro, Takdir dan Kuasa Ramalan.
Akan tetapi Pangeran belum berada di ambang maut. Setelah demamnya mereda, Pangeran menunjukkan minat pada apa saja yang ia lihat di kapal. Ilmu bumi kawasan Indonesia timur  sangat menarik perhatiannya.
Ia bertanya, seberapa jauh Ambon dari Manado? Apakah Manado jauh dari Makassar atau &amp;ldquo;Tanah Bugis&amp;rdquo;? Bolehkah dia melihat peta &amp;ldquo;Makassar&amp;rdquo;, yang sempat ia lihat dari dek  depan, sehingga ia bisa lebih memahami lagi bentuk pulau Sulawesi.
Saat Knoerle berkeberatan dan mengatakan bahwa satu-satunya peta yang ada di kapal hanya diperuntukkan bagi keperluan navigasi pelayaran, Pangeran tetap gigih bertanya. Ia ingin tahu tentang rute laut ke Jeddah; apakah pantai-pantai Sulawesi dapat dilayari; dan bagaimana penduduknya?
Berondongan pertanyaan Pangeran, yang kadang menarik kadang menjengkelkan, jelas menguji kesabaran Knoerle. Pada pukul dua dinihari, tanggal 14 Mei, ketika badai hebat sedang melintasi gunung Muria di Jepara menuju ke laut,
&amp;ldquo;Diponegoro tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya dan berteriak-teriak memanggil saya agar datang menghampiri; [memerintahkan agar] komandan kapal korvet seharusnya segera membuang jangkar!&amp;rdquo;.
Baca Juga :&amp;nbsp;Kisah Bung Karno Dilempar Granat oleh Teroris Anak Buah Kartosoewirjo
Hari berikutnya Pangeran &amp;ldquo;mengomel terus dengan permintaan yang bukan-bukan, padahal laut sangat tenang namun hari terasa sangat panas, kami sedang berada dekat pantai Lasem&amp;rdquo;  Pemandangan garis pantai Laut Jawa itu rupanya mengiris-iris hati Pangeran.
Namun, Pangeran yang sama ini jugalah  yang setiap hari tetap mengiriminya nasi dari meja makannya dan mengundangnya untuk sarapan pagi bersama dengan menu kentang, sambal, teh hitam, dan biskuit kapal sambil duduk-duduk di tikar jerami yang lebar.
Pangeran yang sama ini pun tertarik dengan gambar-gambar dalam buku-buku dan almanak yang dipinjamkan Knoerle, dengan ditemani anggur Sungai Rhine (Jerman) dan anggur dari Tanjung Harapan yang didapat para pengawal dari para perwira kapal, yang memberikannya dengan enggan sebagai &amp;ldquo;obat&amp;rdquo; untuk keinginan yang mendadak timbul untuk mencicipi anggur.Dalam pertemuan-pertemuan ini&amp;mdash;&amp;ldquo;percakapan di atas tikar jerami&amp;rdquo; menurut pengakuan Knoerle, Pangeran mengajaknya  bercerita tentang banyak hal, di antaranya tentang sejarah dan mitologi Jawa hingga sejarah Eropa terkini.
&amp;ldquo;Apakah sudah menjadi kebiasaan di Eropa&amp;rdquo;, tanya Diponegoro, &amp;ldquo;untuk mengasingkan seorang pemimpin yang kalah perang ke sebuah pulau terpencil dan memutus hubungannya dengan semua kaum kerabatnya?&amp;rdquo;
Knoerle menjawab dengan mengutip contoh Napoleon (1769-1821), yang seperti Pangeran persis berusia 44 tahun saat pertama kali diasingkan (Maret 1814), tetapi dilakukan &amp;ldquo;dengan cara yang baik, sehingga tidak meninggalkan kenangan yang menyakitkan&amp;rdquo;.
Diponegoro juga mengenang masa silam hidupnya, terutama pengalamannya di masa Perang Jawa, yang didorong oleh arahan pertanyaan Knoerle, sebab catatan harian itu memang disusun sebagai laporan intelijen bagi gubernur jenderal (Knoerle 1835:135-80).</content:encoded></item></channel></rss>
