<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2 Lempeng Aktif di Selatan Jatim, MBKG: Gempa Malang Bisa Terjadi Lagi, Perlunya Mitigasi Bencana</title><description>Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebut, gempa yang berpusat di Kabupaten Malang berpotensi terjadi lagi</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana"/><item><title>2 Lempeng Aktif di Selatan Jatim, MBKG: Gempa Malang Bisa Terjadi Lagi, Perlunya Mitigasi Bencana</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana</guid><pubDate>Senin 12 April 2021 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana-3r08a4OHyK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah roboh dihantam gempa Malang.(Foto:BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/12/337/2392995/2-lempeng-aktif-di-selatan-jatim-mbkg-gempa-malang-bisa-terjadi-lagi-perlunya-mitigasi-bencana-3r08a4OHyK.jpg</image><title>Rumah roboh dihantam gempa Malang.(Foto:BNPB)</title></images><description>MALANG - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebut, gempa yang berpusat di Kabupaten Malang berpotensi kembali terjadi lagi. Sebab, di selatan Jawa Timur (Jatim) terdapat dua lempeng aktif yang kerap beraktivitas.
&quot;Ada tiga penyebab gempa bumi di Jatim. Pertama, gempa yang bersumber pada subduksi lempeng Indo-australia dan Eurasia di wilayah Selatan Jawa,&quot; kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ma&amp;rsquo;muri melalui diskusi virtual yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada Minggu sore (11/4/2021).
Baca Juga: Jelang Ramadhan, Khofifah Minta Masjid Rusak Akibat Gempa Segera Diperbaiki
Ma'muri menambahkan, terdapat sumber-sumber sesar aktif yang bisa menimbulkan gempa bumi. Sementara penyebab ketiga gempa yang terjadi Jatim, berasal dari luar subduksi lempeng. Dalam hal ini gempa bumi yang disebabkan letusan gunung berapi.
&quot;Jatim memiliki banyak gunung berapi yang beberapa di antaranya seperti Semeru, Ijen, Bromo dan sebagainya,&quot; katanya.
Baca Juga: 7 Langkah Aman yang Harus Dilakukan jika Terjadi Gempa Besar seperti di Malang
Selain subduksi lempeng, Jatim ternyata memiliki sesar darat yang cukup aktif. Sesar ini dapat menimbulkan gempa di daratan. Meski kekuatannya kecil dan berada di kedalaman dangkal, efek kerusakan gempa ini lebih besar dibandingkan gempa subduksi.
&quot;BMKG belum menemukan sesar aktif di Malang meski wilayah ini acap mengalami gempa. Ada banyak sesar yang belum teridentifikasi, karena sesar itu cukup banyak sehingga perlu kajian khusus untuk penandaan atau pemberian namanya,&quot; jelasnya.Namun untuk wilayah Jatim, BMKG menemukan tujuh sesar aktif dan enam  segmen sesar Kendeng. Yakni, sesar naik Pati, sesar Kendeng (segmen  Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya dan Waru) dan sesar Pasuruan.  Kemudian sesar Probolinggo, sesar Wongsorejo, zona sesar RMKS  (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) dan sesar Bawean Fault.
Ma'muri menjelaskan, dari sejarahnya Jawa Timur termasuk daerah yang  memiliki gempa darat cukup banyak. Sementara di Malang pernah terjadi  pada 1958 dan 19 Februari 1967 dengan kekuatan gempa sebesar 6,2 SR.  Namun sumber gempa ini belum termasuk sebagai sesar lokal wilayah  Malang.
Adapun aktivitas kegempaan selama dua bulan terakhir di Jatim,  Ma'muri mengungkapkan, jumlahnya cukup meningkat. Situasi ini mendorong  BMKG untuk membuat beberapa langkah yang perlu ditingkatkan.
&quot;Kita sudah beberapa kali survei terutama di Pacitan, Pantai  Banyuwangi untuk melihat perkiraan gelombang dan bagaimana jalur  evakuasi,&quot; jelasnya.
Selanjutnya, Jatim juga tercatat pernah beberapa kali mengalami gempa  yang menyebabkan tsunami. Yakni, tsunami pada 1840, 1843, 1859 dengan  catatan gelombang cukup besar. &quot;Terakhir kita ingat 1994 itu tsunami di  Banyuwangi berdampak sampai ke Malang Selatan,&quot; ungkapnya.
Namun berdasarkan kajian BMKG, hampir sebagian besar wilayah di  Indonesia memiliki potensi sama. Setidaknya terdapat 127 kabupaten/kota  di Indonesia berpotensi tinggi mengalami tsunami dengan ketinggian  gelombang di atas lima meter. Potensi ini hampir terjadi di Jatim  terutama wilayah selatan.
Ma'muri memastikan kajian ini sifatnya informatif agar nantinya bisa  menciptakan mitigasi bencana di masyarakat. &quot;Artinya ini bukan  menghantui atau menakuti masyarakat. Faktanya ini kemungkinan potensinya  ada. Dengan adanya potensi ini, manusia harus menyiapkan mitigasinya,&quot;  tuturnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten  Malang, Sadono menyatakan, pihaknya telah berupaya menerapkan menerapkan  manajemen bencana. Dalam hal ini termasuk bencana gempa bumi dan  tsunami di Kabupaten Malang. Kegiatan manajemen bencana sendiri dimulai  dari prabencana, saat bencana sampai pasca bencana.
Sadono mengaku, telah banyak kegiatan telah dilaksanakan BPBD  Kabupaten Malang. Satu di antaranya dengan membuat peta rawan bencana  per ancaman. Hal ini berarti termasuk ancaman gempa bumi, banjir,  tsunami dan sebagainya.
Ada pula program kesiapsiagaan dengan membentuk desa tangguh bencana.  Pembentukan desa ini lebih diprioritaskan untuk desa yang memiliki  kerawanan tinggi. Terutama dalam potensi gempa dan tsunami.
Untuk kegiatan pencegahan, BPBD sudah membuat kegiatan mitigasi  struktural berupa fisik. Kemudian juga mitigasi nonstruktural dalam  bentuk produk, dokumen dan lain-lain.
&quot;Kami dari 2020 kalau bicara gempa dan tsunami bersama pada 2020  sudah berhasil membuat rencana kontijensi gempa. Kalau memungkinkan  tahun ini akan membuat rencana kontijensi gempa dan tsunami,&quot; katanya.
Lebih detail, Sadono mengungkapkan, BPBD setiap tahun selalu memasang  100 titik rambu evakuasi di sepanjang pesisir pantai Malang Selatan.  Jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan luas panjang pantai  apalagi dengan terbukanya jalur lingkar selatan. Kondisi ini menyebabkan  semakin banyak pantai selatan terbuka, baik untuk wisata dan  sebagainya.
Selain itu, BPBD Kabupaten Malang juga telah memasang alat peringatan  dini di beberapa lokasi. Beberapa di antaranya di Desa Tambakrejo dan  Pantai Balekambang pada tahun lalu. Namun alat di Balekambang ternyata  tidak bisa bertahan lama karena tidak tahan cuaca sehingga menimbulkan  korosi.
&quot;Jadi daripada keluarkan ratusan juta, lebih baik kita meningkatkan  kapasitas masyarakat salah satunya kampung tangguh bencana. Sering juga  gladi lapangan terhadap ancaman di pesisir pantai,&quot; kata dia.
Hal yang pasti, Sadono menegaskan, penanggulangan bencana tidak hanya  urusan pemerintah tapi bersama-sama. Setidaknya ada empat pilar yang  memiliki tanggung jawab serupa dalam hal ini. Yakni, pemerintah,  masyarakat, dunia usaha dan media sebagai penyebar informasi  kebencanaan.</description><content:encoded>MALANG - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebut, gempa yang berpusat di Kabupaten Malang berpotensi kembali terjadi lagi. Sebab, di selatan Jawa Timur (Jatim) terdapat dua lempeng aktif yang kerap beraktivitas.
&quot;Ada tiga penyebab gempa bumi di Jatim. Pertama, gempa yang bersumber pada subduksi lempeng Indo-australia dan Eurasia di wilayah Selatan Jawa,&quot; kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ma&amp;rsquo;muri melalui diskusi virtual yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada Minggu sore (11/4/2021).
Baca Juga: Jelang Ramadhan, Khofifah Minta Masjid Rusak Akibat Gempa Segera Diperbaiki
Ma'muri menambahkan, terdapat sumber-sumber sesar aktif yang bisa menimbulkan gempa bumi. Sementara penyebab ketiga gempa yang terjadi Jatim, berasal dari luar subduksi lempeng. Dalam hal ini gempa bumi yang disebabkan letusan gunung berapi.
&quot;Jatim memiliki banyak gunung berapi yang beberapa di antaranya seperti Semeru, Ijen, Bromo dan sebagainya,&quot; katanya.
Baca Juga: 7 Langkah Aman yang Harus Dilakukan jika Terjadi Gempa Besar seperti di Malang
Selain subduksi lempeng, Jatim ternyata memiliki sesar darat yang cukup aktif. Sesar ini dapat menimbulkan gempa di daratan. Meski kekuatannya kecil dan berada di kedalaman dangkal, efek kerusakan gempa ini lebih besar dibandingkan gempa subduksi.
&quot;BMKG belum menemukan sesar aktif di Malang meski wilayah ini acap mengalami gempa. Ada banyak sesar yang belum teridentifikasi, karena sesar itu cukup banyak sehingga perlu kajian khusus untuk penandaan atau pemberian namanya,&quot; jelasnya.Namun untuk wilayah Jatim, BMKG menemukan tujuh sesar aktif dan enam  segmen sesar Kendeng. Yakni, sesar naik Pati, sesar Kendeng (segmen  Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya dan Waru) dan sesar Pasuruan.  Kemudian sesar Probolinggo, sesar Wongsorejo, zona sesar RMKS  (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) dan sesar Bawean Fault.
Ma'muri menjelaskan, dari sejarahnya Jawa Timur termasuk daerah yang  memiliki gempa darat cukup banyak. Sementara di Malang pernah terjadi  pada 1958 dan 19 Februari 1967 dengan kekuatan gempa sebesar 6,2 SR.  Namun sumber gempa ini belum termasuk sebagai sesar lokal wilayah  Malang.
Adapun aktivitas kegempaan selama dua bulan terakhir di Jatim,  Ma'muri mengungkapkan, jumlahnya cukup meningkat. Situasi ini mendorong  BMKG untuk membuat beberapa langkah yang perlu ditingkatkan.
&quot;Kita sudah beberapa kali survei terutama di Pacitan, Pantai  Banyuwangi untuk melihat perkiraan gelombang dan bagaimana jalur  evakuasi,&quot; jelasnya.
Selanjutnya, Jatim juga tercatat pernah beberapa kali mengalami gempa  yang menyebabkan tsunami. Yakni, tsunami pada 1840, 1843, 1859 dengan  catatan gelombang cukup besar. &quot;Terakhir kita ingat 1994 itu tsunami di  Banyuwangi berdampak sampai ke Malang Selatan,&quot; ungkapnya.
Namun berdasarkan kajian BMKG, hampir sebagian besar wilayah di  Indonesia memiliki potensi sama. Setidaknya terdapat 127 kabupaten/kota  di Indonesia berpotensi tinggi mengalami tsunami dengan ketinggian  gelombang di atas lima meter. Potensi ini hampir terjadi di Jatim  terutama wilayah selatan.
Ma'muri memastikan kajian ini sifatnya informatif agar nantinya bisa  menciptakan mitigasi bencana di masyarakat. &quot;Artinya ini bukan  menghantui atau menakuti masyarakat. Faktanya ini kemungkinan potensinya  ada. Dengan adanya potensi ini, manusia harus menyiapkan mitigasinya,&quot;  tuturnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten  Malang, Sadono menyatakan, pihaknya telah berupaya menerapkan menerapkan  manajemen bencana. Dalam hal ini termasuk bencana gempa bumi dan  tsunami di Kabupaten Malang. Kegiatan manajemen bencana sendiri dimulai  dari prabencana, saat bencana sampai pasca bencana.
Sadono mengaku, telah banyak kegiatan telah dilaksanakan BPBD  Kabupaten Malang. Satu di antaranya dengan membuat peta rawan bencana  per ancaman. Hal ini berarti termasuk ancaman gempa bumi, banjir,  tsunami dan sebagainya.
Ada pula program kesiapsiagaan dengan membentuk desa tangguh bencana.  Pembentukan desa ini lebih diprioritaskan untuk desa yang memiliki  kerawanan tinggi. Terutama dalam potensi gempa dan tsunami.
Untuk kegiatan pencegahan, BPBD sudah membuat kegiatan mitigasi  struktural berupa fisik. Kemudian juga mitigasi nonstruktural dalam  bentuk produk, dokumen dan lain-lain.
&quot;Kami dari 2020 kalau bicara gempa dan tsunami bersama pada 2020  sudah berhasil membuat rencana kontijensi gempa. Kalau memungkinkan  tahun ini akan membuat rencana kontijensi gempa dan tsunami,&quot; katanya.
Lebih detail, Sadono mengungkapkan, BPBD setiap tahun selalu memasang  100 titik rambu evakuasi di sepanjang pesisir pantai Malang Selatan.  Jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan luas panjang pantai  apalagi dengan terbukanya jalur lingkar selatan. Kondisi ini menyebabkan  semakin banyak pantai selatan terbuka, baik untuk wisata dan  sebagainya.
Selain itu, BPBD Kabupaten Malang juga telah memasang alat peringatan  dini di beberapa lokasi. Beberapa di antaranya di Desa Tambakrejo dan  Pantai Balekambang pada tahun lalu. Namun alat di Balekambang ternyata  tidak bisa bertahan lama karena tidak tahan cuaca sehingga menimbulkan  korosi.
&quot;Jadi daripada keluarkan ratusan juta, lebih baik kita meningkatkan  kapasitas masyarakat salah satunya kampung tangguh bencana. Sering juga  gladi lapangan terhadap ancaman di pesisir pantai,&quot; kata dia.
Hal yang pasti, Sadono menegaskan, penanggulangan bencana tidak hanya  urusan pemerintah tapi bersama-sama. Setidaknya ada empat pilar yang  memiliki tanggung jawab serupa dalam hal ini. Yakni, pemerintah,  masyarakat, dunia usaha dan media sebagai penyebar informasi  kebencanaan.</content:encoded></item></channel></rss>
