<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kerajaan Demak Kalahkan Portugis, Sunda Kalapa Dirubah Jadi Jayakarta   </title><description>Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di ujung sebelah utara kota Jakarta, di teluk Jakarta, atau tepatnya terletak di jalan Baruna Raya No. 2</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta"/><item><title>Kisah Kerajaan Demak Kalahkan Portugis, Sunda Kalapa Dirubah Jadi Jayakarta   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta</guid><pubDate>Senin 12 April 2021 05:53 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta-8ch8VlOVSs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.(Foto:Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/12/337/2393008/kisah-kerajaan-demak-kalahkan-portugis-sunda-kalapa-dirubah-jadi-jayakarta-8ch8VlOVSs.jpg</image><title>Ilustrasi.(Foto:Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di ujung sebelah utara kota Jakarta, di teluk Jakarta, atau tepatnya terletak di jalan Baruna Raya No. 2 Jakarta Utara, lebih kurang 8 Km sebelah barat pelabuhan laut Tanjung Priok.
Luas area pelabuhan Sunda Kelapa adalah 631.000 m2, sedangkan luas perairannya adalah 12.090.000 m2. Alur pelabuhannya sepanjang 2 mil dan lebar 100 m2 dibatasi dengan beton. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527.
Baca Juga: Siapa Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan yang Legendaris?
Kala itu Sunda Kelapa milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon.
Baca Juga: Jayabaya Bisa Disejajarkan dengan Archimedes atau Isaac newton
Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Kerajaan Sunda, yaitu kerajaan Tarumanagara.
Nama Pelabuhan Sunda Kelapa sudah terdengar sejak abad ke-12 masehi. Pada masa itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu Sunda terakhir di Jawa Barat, Pakuan Pajajaran, yang berpusat di sekitar Kota Bogor sekarang.Para pedagang nusantara kerap singgah di Sunda Kalapa di antaranya  berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar dan Madura dan  bahkan kapal-kapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/ India Selatan, dan  Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini.
Kapal itu membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain,  wangi-wangian, kemenyan, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar  dengan lada dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan pada saat  itu.
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Para pelaut Cina menyebut Sunda Kalapa dengan nama Kota Ye-cheng  yang berarti kota Kelapa. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya pohon  kelapa yang tumbuh di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa kala itu,&amp;rdquo; ujar  budayawan Ridwan Saidi.
Bangsa Eropa pertama asal Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba  pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal pada tahun  1513, sekitar dua tahun setelah menaklukkan kota Malaka.
Mereka datang untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan  dunia barat. Karena dari Malaka mereka mendengar kabar bahwa Sunda  Kalapa merupakan pelabuhan lada yang utama di kawasan ini.
&quot;Menurut catatan perjalanan Tome Pires pada masa itu Sunda Kalapa  merupakan pelabuhan yang sibuk namun diatur dengan baik,&quot; ucapnya.
Beberapa tahun kemudian Portugis datang kembali dibawah pimpinan  Enrique Leme dengan membawa hadiah bagi Raja Sunda Pajajaran. Mereka  diterima dengan baik .
Pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara  Portugis dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Perjanjian diabadikan pada  prasasti batu Padrao yang kini dapat dilihat di Museum Nasional.
&quot;Dengan perjanjian tersebut Portugis berhak membangun pos dagang dan  benteng di Sunda Kalapa. Pajajaran berharap Portugis dapat membantu  menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon  seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa yang mengancam  keberadaan kerajaan Hindu Sunda Pajajaran,&quot; bebernya.
Pada tahun 1527 saat armada kapal Portugis kembali di bawah pimpinan  Francesco de Sa dengan persiapan untuk membangun benteng di Sunda  Kalapa.
Ternyata gabungan kekuatan muslim Cirebon dan Demak berjumlah 1.452  prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, sudah menguasai Sunda Kelapa.
&quot;Sehingga pada saat berlabuh, armada Portugis diserang dan berhasil  dikalahkan. Atas kemenangannya terhadap Kerajaan Sunda Pajajaran dan  Portugis, pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengganti nama kota  pelabuhan Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti &amp;ldquo;kemenangan yang  nyata,&quot; paparnya.Armada kapal asal Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba  pertama kali di Sunda Kalapa (Jayakarta) pada 13 November 1596 dengan  tujuan yang sama, mencari rempah-rempah. Rempah-rempah pada saat itu  menjadi komoditas unggulan di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti  obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian.
Para pedagang Belanda (yang kemudian tergabung dalam VOC) pada tahun  1610 mendapat sambutan hangat dari Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta  penguasa Jayakarta yang merupakan pengikut Sultan Banten.
Mereka membuat perjanjian, Belanda diijinkan membangun gudang dan pos  dagang yang terbuat dari kayu di sebelah timur muara sungai Ciliwung.
Melihat potensi pendapatan yang tinggi dari penjualan rempah-rempah  di negara asalnya, VOC mengingkari perjanjian, bangunan gudang yang  terbuat dari kayu tersebut dibangun kembali dengan material yang kuat  dan mendirikan pos dagang sekaligus benteng di selatan Pelabuhan Sunda  Kelapa pada tahun 1613.
Kemudian pada tahun 1618 Belanda membangun benteng. Benteng ini  berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai  benteng perlawanan dari pasukan Inggris yang juga berniat untuk  menguasai perdagangan di Nusantara. Benteng tersebut dibangun kawasan  Pelabuhan Sunda Kelapa.
&amp;ldquo;Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar (Uitkijk  atau outlook post) yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau  pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan,&amp;rdquo; ucap  Ridwan.</description><content:encoded>JAKARTA - Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di ujung sebelah utara kota Jakarta, di teluk Jakarta, atau tepatnya terletak di jalan Baruna Raya No. 2 Jakarta Utara, lebih kurang 8 Km sebelah barat pelabuhan laut Tanjung Priok.
Luas area pelabuhan Sunda Kelapa adalah 631.000 m2, sedangkan luas perairannya adalah 12.090.000 m2. Alur pelabuhannya sepanjang 2 mil dan lebar 100 m2 dibatasi dengan beton. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527.
Baca Juga: Siapa Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan yang Legendaris?
Kala itu Sunda Kelapa milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon.
Baca Juga: Jayabaya Bisa Disejajarkan dengan Archimedes atau Isaac newton
Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Kerajaan Sunda, yaitu kerajaan Tarumanagara.
Nama Pelabuhan Sunda Kelapa sudah terdengar sejak abad ke-12 masehi. Pada masa itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu Sunda terakhir di Jawa Barat, Pakuan Pajajaran, yang berpusat di sekitar Kota Bogor sekarang.Para pedagang nusantara kerap singgah di Sunda Kalapa di antaranya  berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar dan Madura dan  bahkan kapal-kapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/ India Selatan, dan  Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini.
Kapal itu membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain,  wangi-wangian, kemenyan, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar  dengan lada dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan pada saat  itu.
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Para pelaut Cina menyebut Sunda Kalapa dengan nama Kota Ye-cheng  yang berarti kota Kelapa. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya pohon  kelapa yang tumbuh di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa kala itu,&amp;rdquo; ujar  budayawan Ridwan Saidi.
Bangsa Eropa pertama asal Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba  pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal pada tahun  1513, sekitar dua tahun setelah menaklukkan kota Malaka.
Mereka datang untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan  dunia barat. Karena dari Malaka mereka mendengar kabar bahwa Sunda  Kalapa merupakan pelabuhan lada yang utama di kawasan ini.
&quot;Menurut catatan perjalanan Tome Pires pada masa itu Sunda Kalapa  merupakan pelabuhan yang sibuk namun diatur dengan baik,&quot; ucapnya.
Beberapa tahun kemudian Portugis datang kembali dibawah pimpinan  Enrique Leme dengan membawa hadiah bagi Raja Sunda Pajajaran. Mereka  diterima dengan baik .
Pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara  Portugis dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Perjanjian diabadikan pada  prasasti batu Padrao yang kini dapat dilihat di Museum Nasional.
&quot;Dengan perjanjian tersebut Portugis berhak membangun pos dagang dan  benteng di Sunda Kalapa. Pajajaran berharap Portugis dapat membantu  menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon  seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa yang mengancam  keberadaan kerajaan Hindu Sunda Pajajaran,&quot; bebernya.
Pada tahun 1527 saat armada kapal Portugis kembali di bawah pimpinan  Francesco de Sa dengan persiapan untuk membangun benteng di Sunda  Kalapa.
Ternyata gabungan kekuatan muslim Cirebon dan Demak berjumlah 1.452  prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, sudah menguasai Sunda Kelapa.
&quot;Sehingga pada saat berlabuh, armada Portugis diserang dan berhasil  dikalahkan. Atas kemenangannya terhadap Kerajaan Sunda Pajajaran dan  Portugis, pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengganti nama kota  pelabuhan Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti &amp;ldquo;kemenangan yang  nyata,&quot; paparnya.Armada kapal asal Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba  pertama kali di Sunda Kalapa (Jayakarta) pada 13 November 1596 dengan  tujuan yang sama, mencari rempah-rempah. Rempah-rempah pada saat itu  menjadi komoditas unggulan di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti  obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian.
Para pedagang Belanda (yang kemudian tergabung dalam VOC) pada tahun  1610 mendapat sambutan hangat dari Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta  penguasa Jayakarta yang merupakan pengikut Sultan Banten.
Mereka membuat perjanjian, Belanda diijinkan membangun gudang dan pos  dagang yang terbuat dari kayu di sebelah timur muara sungai Ciliwung.
Melihat potensi pendapatan yang tinggi dari penjualan rempah-rempah  di negara asalnya, VOC mengingkari perjanjian, bangunan gudang yang  terbuat dari kayu tersebut dibangun kembali dengan material yang kuat  dan mendirikan pos dagang sekaligus benteng di selatan Pelabuhan Sunda  Kelapa pada tahun 1613.
Kemudian pada tahun 1618 Belanda membangun benteng. Benteng ini  berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai  benteng perlawanan dari pasukan Inggris yang juga berniat untuk  menguasai perdagangan di Nusantara. Benteng tersebut dibangun kawasan  Pelabuhan Sunda Kelapa.
&amp;ldquo;Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar (Uitkijk  atau outlook post) yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau  pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan,&amp;rdquo; ucap  Ridwan.</content:encoded></item></channel></rss>
