<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ramadhan di Betawi Tempo Doeloe Diumumkan dengan Bedug dan Petasan</title><description>Jakarta tahun 1940 sampai 1950-an, sungai Ciliwung dulu lebarnya masih 4 kali lipat dari sekarang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan"/><item><title>Ramadhan di Betawi Tempo Doeloe Diumumkan dengan Bedug dan Petasan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan</guid><pubDate>Rabu 14 April 2021 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan-NXr3MDGMgm.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/14/337/2394274/ramadhan-di-betawi-tempo-doeloe-diumumkan-dengan-bedug-dan-petasan-NXr3MDGMgm.JPG</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Sejarawan Sehari sebelum puasa,  Alwi Shahab menulis bahwa tradisi kemeriahan menyambut datangnya bulan Ramadan  di Betawi , yang terjadi pada masa kolonial tidak kalah meriahnya dengan yang terjadi saat ini.

Jakarta tahun 1940 sampai 1950-an,  sungai Ciliwung dulu lebarnya masih 4 kali lipat dari sekarang. Kalau mau puasa, para ibu-ibu sibuk semuanya menyambut bulan Ramadan.

Satu hari menjelang bulan Ramadan, para ibu melakukan siraman atau mandi di sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung pada saat itu menjadi pusat kegiatan warga Jakarta. Bahkan, kapal pengangkut barang yang berlayar dari Bogor ke Muara Besar banyak lalu lalang melalui sungai ini.

Jaman dulu belum ada shampo atau sabun. Mereka pakainya merang. Sampai di rumah, sibuk masak makanan macam-macam, seperti kue talam dan pacar cina.

Sementara untuk penetapan 1 Ramadan, di Betawi pada masa kolonial dilakukan oleh mufti. Tahun 1940-an ada mufti yang namanya Habib Usman bin Yahya.

Mufti itu kalau sekarang mungkin MUI. Dan yang lebih dipakai metode rukyat, belum ada atau jarang sekali yang pakai hisab. Sehari sebelum puasa,  diumumkan dengan bedug yang ditabuh dari siang sampai malam.


Selain bedug, alat komunikasi yang lazim digunakan saat itu untuk memberi tanda masuknya bulan Ramadan adalah petasan. Petasan digunakan sebagai alat komunikasi saat itu karena belum ada alat komunikasi canggih seperti sekarang.  Petasan digunakan sebagai pengumuman.

Menurut ceritanya, akan sulit menemukan masjid di pinggir jalan di Jakarta tempo dulu. Masjid besar mungkin hanya ada di Kwitang atau Kepoja. Kalau di kampung, banyak masjid.

Namun akan sulit mencari masjid di pinggir jalan. Abah mengungkapkan,  bangunan tempat ibadah yang banyak terdapat di pinggir jalan adalah  gereja. Belanda memang melarang mendirikan gereja di dalam kampung.

Tentang takbiran, anak-anak muda Betawi saat itu pun berpawai  merayakan malam Idul Fitri. Bedanya, kalau saat ini pawai takbiran  menggunakan mobil atau motor, dulu mereka berpawai menggunakan becak.  Mereka  keliling Jakarta pakai becak sewaan. Sewanya Rp 5. Mulainya  pukul 22.00 sampai pukul 05.00 pagi.

Warga Jakarta saat itu sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Di hari  Lebaran, semua orang saling mengunjungi. Bertukar makanan yang dimasak  sendiri. Tak ada yang jual makanan.

Saat Idul Fitri, para ulama membuka pintu rumahnya untuk para tamu  yang ingin bersilaturahmi dari pagi hingga malam. Tamu yang datang  murid-muridnya dan para mualim atau ustadz. Zaman dulu, kedudukan mualim  lebih tinggi daripada jagoan silat.</description><content:encoded>JAKARTA - Sejarawan Sehari sebelum puasa,  Alwi Shahab menulis bahwa tradisi kemeriahan menyambut datangnya bulan Ramadan  di Betawi , yang terjadi pada masa kolonial tidak kalah meriahnya dengan yang terjadi saat ini.

Jakarta tahun 1940 sampai 1950-an,  sungai Ciliwung dulu lebarnya masih 4 kali lipat dari sekarang. Kalau mau puasa, para ibu-ibu sibuk semuanya menyambut bulan Ramadan.

Satu hari menjelang bulan Ramadan, para ibu melakukan siraman atau mandi di sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung pada saat itu menjadi pusat kegiatan warga Jakarta. Bahkan, kapal pengangkut barang yang berlayar dari Bogor ke Muara Besar banyak lalu lalang melalui sungai ini.

Jaman dulu belum ada shampo atau sabun. Mereka pakainya merang. Sampai di rumah, sibuk masak makanan macam-macam, seperti kue talam dan pacar cina.

Sementara untuk penetapan 1 Ramadan, di Betawi pada masa kolonial dilakukan oleh mufti. Tahun 1940-an ada mufti yang namanya Habib Usman bin Yahya.

Mufti itu kalau sekarang mungkin MUI. Dan yang lebih dipakai metode rukyat, belum ada atau jarang sekali yang pakai hisab. Sehari sebelum puasa,  diumumkan dengan bedug yang ditabuh dari siang sampai malam.


Selain bedug, alat komunikasi yang lazim digunakan saat itu untuk memberi tanda masuknya bulan Ramadan adalah petasan. Petasan digunakan sebagai alat komunikasi saat itu karena belum ada alat komunikasi canggih seperti sekarang.  Petasan digunakan sebagai pengumuman.

Menurut ceritanya, akan sulit menemukan masjid di pinggir jalan di Jakarta tempo dulu. Masjid besar mungkin hanya ada di Kwitang atau Kepoja. Kalau di kampung, banyak masjid.

Namun akan sulit mencari masjid di pinggir jalan. Abah mengungkapkan,  bangunan tempat ibadah yang banyak terdapat di pinggir jalan adalah  gereja. Belanda memang melarang mendirikan gereja di dalam kampung.

Tentang takbiran, anak-anak muda Betawi saat itu pun berpawai  merayakan malam Idul Fitri. Bedanya, kalau saat ini pawai takbiran  menggunakan mobil atau motor, dulu mereka berpawai menggunakan becak.  Mereka  keliling Jakarta pakai becak sewaan. Sewanya Rp 5. Mulainya  pukul 22.00 sampai pukul 05.00 pagi.

Warga Jakarta saat itu sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Di hari  Lebaran, semua orang saling mengunjungi. Bertukar makanan yang dimasak  sendiri. Tak ada yang jual makanan.

Saat Idul Fitri, para ulama membuka pintu rumahnya untuk para tamu  yang ingin bersilaturahmi dari pagi hingga malam. Tamu yang datang  murid-muridnya dan para mualim atau ustadz. Zaman dulu, kedudukan mualim  lebih tinggi daripada jagoan silat.</content:encoded></item></channel></rss>
