<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ziarah ke Makam-Makam Habib di Dalam Masjid Tua di Jakarta</title><description>Di Jakarta terdapat masjid &amp;ndash;masjid tua peninggalan ulama-ulama terdahulu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta"/><item><title>Ziarah ke Makam-Makam Habib di Dalam Masjid Tua di Jakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta</guid><pubDate>Senin 19 April 2021 06:17 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta-AkeqNvgTjU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Masjid Luar Batang (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/19/337/2396839/ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta-AkeqNvgTjU.jpg</image><title>Masjid Luar Batang (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Di Jakarta terdapat masjid &amp;ndash;masjid tua peninggalan ulama-ulama terdahulu. Masjid itu antara lain masjid Luar Batang, kampung Bandan, Mangga Dua, dan masjid Hadramaut. Di sekitar masjid itu terdapat makam ulama jaman itu yang menyebarkan islam di Jayakarta.

Di Pasar Ikan, Jakarta Utara, terletak Masjid Luar Batang. Masjid itu hingga kini masih berdiri megah  letaknya hanya beberapa ratus meter di belakang benteng yang dibangun oleh JP Coen. Seperti masjid-masjid tua lainnya, mula-mula masjid ini hanya sebuah mushala, di tempat pemukiman para nelayan.

Masjid yang sudah berusia ratusan  tahun, banyak didatangi para peziarah dari berbagai tempat di tanah air. Di masjid ini terdapat makam Habib Husin Bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal dunia pada 17 Ramadhan 1169 H atau 24 Juni 1756. Dia adalah  pendiri masjid tersebut.

Menurut keterangan warga sekitar, sebelum datang ke Indonesia, habib Husin terlebih dulu tinggal di Gujarat (India). Sejak dulu pada malam Jumat, para peziarah bisa mencapai ribuan orang, sambil membaca surah Yasin.

Kawasan Luar Batang yang merupakan salah satu pemukiman tertua di Jakarta, sejak dulu merupakan daerah penyebaran Islam. Setidak-tidaknya para ulama dan da'i di sini telah mengimbangi kegiatan Kristenisasi yang dilakukan oleh VOC di benteng (kastil) Batavia. Masjid ini juga banyak didatangi pada saat acara haul pendirinya.

Tak jauh dari Pasar Ikan --tempat Belanda pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta-- antara pelabuhan Sunda Kelapa dan Taman Impian Jaya Ancol, terletak Kampung Bandan. Berdekatan dengan jalan tol Tanjung Priok- Cengkareng, terdapat sebuah Masjid Kampung Bandan. Di masjid ini terdapat makan tiga habib dari Hadramaut, yakni Habib Muhammad bin Umar Alqudsi (117 H atau 1705), Habib Ali bin Alwi Shatri (1710 M), dan Habib Abdurahman Shatri.

Kampung Bandan juga merupakan kampung tua di Jakarta. Ketika JP Coen melakukan pembunuhan massal terhadap penentangnya, ia pun membawa sebagian penduduknya ke Jakarta. Orang-orang Banda ini ditempatkan di Kampung Banda(n) sebagai budak belian.

Jika menelusuri Jl Pangeran Jayakarta berbelok ke arah kiri dari  stasion kereta api Jakarta Kota, akan terdapat Masjid Mangga Dua. Sampai  abad ke-18, sebelum Gubernur Jenderal Daendels memindahkan kota ke  Weltevreden, Jl Pangeran Jayakarta merupakan kawasan elite. Bahkan  Gubernur Jenderal Van den Parra membangun rumah peristirahatan megah di  sini.

Di masjid ini terdapat beberapa makam ulama yang berasal dari  Hadramaut. Termasuk makam pendirinya, habib dari keluarga Jamalullail.  Di Malaysia, Yang Dipertuan Agung sekarang ini berasal dari keluarga  Jamalullail.

Di masjid ini juga terdapat makam kerabat keraton dari Jawa Tengah.  Seperti Raden Tumenggung Anggakusumah Dalam. Kampung ini dulu dihuni  orang Jawa, ketika Belanda menempatkan penduduknya berdasarkan suku atau  etnis.

Orang Arab dari Hadramaut mulai banyak berdatangan ke Nusantara pada  abad ke-18. Sebelumnya, mereka pernah mendarat lebih dulu di Pantai  Malabar (India). Prof LWC van den Berg, ahli hukum dan masalah Arab yang  mengadakan penelitian pada 1864-1868, menyebutkan di Batavia koloni  Arab begitu besar, hingga pemerintah Belanda pada 1844 mengharuskan  adanya kapiten Arab.

Mereka mula-mula tinggal di Pekojan, Jakarta Barat, yang kala itu  merupakan pemukiman orang Koja (India). Lama-kelamaan etnis India ini  meninggalkan Pekojan yang letaknya berdekatan dengan Glodok. Keberadaan  orang India ini digantikan oleh orang Arab.

Sejumlah masjid yang dibangun oleh para imigran India hingga saat ini  masih berdiri di sekitar Pekojan. Seperti Masjid Al-Anshor yang  terletak di Jl Pengukiran II, yang oleh warga setempat hingga kini  disebut Gang Koja. Masjid ini dibangun pada 1648 oleh para Muslim dari  Malabar.

Para imigran India yang datang belakangan juga membangun sebuah  masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari masjid pertama mereka.  Masjid yang terletak di Jl Bandengan Selatan 34, Jakarta Barat ini oleh  masyarakat setempat disebut Masjid Kampung Baru.

Masjid yang didirikan pada 1748 itu kini hanya tersisa beberapa  bagian dari bangunan aslinya, seperti empat tiang penyangga dan beberapa  pilar kecil pada jendela. Tiap tahun pada saat Idul Fitri banyak warga  India Muslim berkumpul di masjid ini. Sambil berlebaran mereka  bernostalgia terhadap kampung nenek dan kakek mereka.

Di Jalan Pekojan, yang hingga kini masih terdapat banyak bangunan tua  bergaya Moor, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun oleh orang Arab  dari Hadramaut.

Masjid An-Nawier yang dibangun pada 1760, menurut Dinas Permuseuman  dan Kebudayaan DKI Jakarta, di masa-masa lalu sangat erat hubungannya  dengan masjid kuno di Keraton Surakarta dan Keraton Banten.

Konon, setiap ada tiap keluarga sultan atau para ulama yang meninggal  di Solo, berita ini disampaikan ke Masjid Pekojan agar dilakukahn  shalat gaib. Hal semacam ini juga dilakukan di masjid keraton bila ada  tokoh ulama Jakarta meninggal dunia.

Masjid yang semula hanya sebuah langgar (surau), pada awal abad ke-20  telah diperluas oleh Habib Abdullah bin Husin Alaydrus, yang memiliki  tanah sangat luas di Jakarta. Tempat tinggalnya hingga kini diabadikan  di Jl Alaydrus, dekat Harmoni.

Pada masa Perang Aceh, ia banyak menyelundupkan senjata untuk para  pejuang Aceh. Almarhum juga berjasa saat-saat berdirinya perguruan Islam  'Jamiatul Kheir,' awal abad ke-20. Masjid jami yang dapat menampung  sekitar 2.000 jamaah, mimbarnya merupakan hadiah dari Sultan Pontianak  Syarif Algadri.</description><content:encoded>JAKARTA - Di Jakarta terdapat masjid &amp;ndash;masjid tua peninggalan ulama-ulama terdahulu. Masjid itu antara lain masjid Luar Batang, kampung Bandan, Mangga Dua, dan masjid Hadramaut. Di sekitar masjid itu terdapat makam ulama jaman itu yang menyebarkan islam di Jayakarta.

Di Pasar Ikan, Jakarta Utara, terletak Masjid Luar Batang. Masjid itu hingga kini masih berdiri megah  letaknya hanya beberapa ratus meter di belakang benteng yang dibangun oleh JP Coen. Seperti masjid-masjid tua lainnya, mula-mula masjid ini hanya sebuah mushala, di tempat pemukiman para nelayan.

Masjid yang sudah berusia ratusan  tahun, banyak didatangi para peziarah dari berbagai tempat di tanah air. Di masjid ini terdapat makam Habib Husin Bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal dunia pada 17 Ramadhan 1169 H atau 24 Juni 1756. Dia adalah  pendiri masjid tersebut.

Menurut keterangan warga sekitar, sebelum datang ke Indonesia, habib Husin terlebih dulu tinggal di Gujarat (India). Sejak dulu pada malam Jumat, para peziarah bisa mencapai ribuan orang, sambil membaca surah Yasin.

Kawasan Luar Batang yang merupakan salah satu pemukiman tertua di Jakarta, sejak dulu merupakan daerah penyebaran Islam. Setidak-tidaknya para ulama dan da'i di sini telah mengimbangi kegiatan Kristenisasi yang dilakukan oleh VOC di benteng (kastil) Batavia. Masjid ini juga banyak didatangi pada saat acara haul pendirinya.

Tak jauh dari Pasar Ikan --tempat Belanda pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta-- antara pelabuhan Sunda Kelapa dan Taman Impian Jaya Ancol, terletak Kampung Bandan. Berdekatan dengan jalan tol Tanjung Priok- Cengkareng, terdapat sebuah Masjid Kampung Bandan. Di masjid ini terdapat makan tiga habib dari Hadramaut, yakni Habib Muhammad bin Umar Alqudsi (117 H atau 1705), Habib Ali bin Alwi Shatri (1710 M), dan Habib Abdurahman Shatri.

Kampung Bandan juga merupakan kampung tua di Jakarta. Ketika JP Coen melakukan pembunuhan massal terhadap penentangnya, ia pun membawa sebagian penduduknya ke Jakarta. Orang-orang Banda ini ditempatkan di Kampung Banda(n) sebagai budak belian.

Jika menelusuri Jl Pangeran Jayakarta berbelok ke arah kiri dari  stasion kereta api Jakarta Kota, akan terdapat Masjid Mangga Dua. Sampai  abad ke-18, sebelum Gubernur Jenderal Daendels memindahkan kota ke  Weltevreden, Jl Pangeran Jayakarta merupakan kawasan elite. Bahkan  Gubernur Jenderal Van den Parra membangun rumah peristirahatan megah di  sini.

Di masjid ini terdapat beberapa makam ulama yang berasal dari  Hadramaut. Termasuk makam pendirinya, habib dari keluarga Jamalullail.  Di Malaysia, Yang Dipertuan Agung sekarang ini berasal dari keluarga  Jamalullail.

Di masjid ini juga terdapat makam kerabat keraton dari Jawa Tengah.  Seperti Raden Tumenggung Anggakusumah Dalam. Kampung ini dulu dihuni  orang Jawa, ketika Belanda menempatkan penduduknya berdasarkan suku atau  etnis.

Orang Arab dari Hadramaut mulai banyak berdatangan ke Nusantara pada  abad ke-18. Sebelumnya, mereka pernah mendarat lebih dulu di Pantai  Malabar (India). Prof LWC van den Berg, ahli hukum dan masalah Arab yang  mengadakan penelitian pada 1864-1868, menyebutkan di Batavia koloni  Arab begitu besar, hingga pemerintah Belanda pada 1844 mengharuskan  adanya kapiten Arab.

Mereka mula-mula tinggal di Pekojan, Jakarta Barat, yang kala itu  merupakan pemukiman orang Koja (India). Lama-kelamaan etnis India ini  meninggalkan Pekojan yang letaknya berdekatan dengan Glodok. Keberadaan  orang India ini digantikan oleh orang Arab.

Sejumlah masjid yang dibangun oleh para imigran India hingga saat ini  masih berdiri di sekitar Pekojan. Seperti Masjid Al-Anshor yang  terletak di Jl Pengukiran II, yang oleh warga setempat hingga kini  disebut Gang Koja. Masjid ini dibangun pada 1648 oleh para Muslim dari  Malabar.

Para imigran India yang datang belakangan juga membangun sebuah  masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari masjid pertama mereka.  Masjid yang terletak di Jl Bandengan Selatan 34, Jakarta Barat ini oleh  masyarakat setempat disebut Masjid Kampung Baru.

Masjid yang didirikan pada 1748 itu kini hanya tersisa beberapa  bagian dari bangunan aslinya, seperti empat tiang penyangga dan beberapa  pilar kecil pada jendela. Tiap tahun pada saat Idul Fitri banyak warga  India Muslim berkumpul di masjid ini. Sambil berlebaran mereka  bernostalgia terhadap kampung nenek dan kakek mereka.

Di Jalan Pekojan, yang hingga kini masih terdapat banyak bangunan tua  bergaya Moor, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun oleh orang Arab  dari Hadramaut.

Masjid An-Nawier yang dibangun pada 1760, menurut Dinas Permuseuman  dan Kebudayaan DKI Jakarta, di masa-masa lalu sangat erat hubungannya  dengan masjid kuno di Keraton Surakarta dan Keraton Banten.

Konon, setiap ada tiap keluarga sultan atau para ulama yang meninggal  di Solo, berita ini disampaikan ke Masjid Pekojan agar dilakukahn  shalat gaib. Hal semacam ini juga dilakukan di masjid keraton bila ada  tokoh ulama Jakarta meninggal dunia.

Masjid yang semula hanya sebuah langgar (surau), pada awal abad ke-20  telah diperluas oleh Habib Abdullah bin Husin Alaydrus, yang memiliki  tanah sangat luas di Jakarta. Tempat tinggalnya hingga kini diabadikan  di Jl Alaydrus, dekat Harmoni.

Pada masa Perang Aceh, ia banyak menyelundupkan senjata untuk para  pejuang Aceh. Almarhum juga berjasa saat-saat berdirinya perguruan Islam  'Jamiatul Kheir,' awal abad ke-20. Masjid jami yang dapat menampung  sekitar 2.000 jamaah, mimbarnya merupakan hadiah dari Sultan Pontianak  Syarif Algadri.</content:encoded></item></channel></rss>
