<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Covid-19 Kian Parah: Rumah Sakit dan Krematorium Kewalahan, Delhi Berlakukan Karantina Ketat</title><description>India tengah menghadapi gelombang kedua Covid-19.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat"/><item><title>Covid-19 Kian Parah: Rumah Sakit dan Krematorium Kewalahan, Delhi Berlakukan Karantina Ketat</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat</guid><pubDate>Selasa 20 April 2021 16:55 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat-yC5oGQAVpu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/20/18/2397892/covid-19-kian-parah-rumah-sakit-dan-krematorium-kewalahan-delhi-berlakukan-karantina-ketat-yC5oGQAVpu.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Reuters)</title></images><description>NEW DELHI - Ibu kota India, Delhi, memberlakukan karantina selama sepekan ke depan, setelah rekor lonjakan kasus Covid-19 yang membuat sistem kesehatan kota kewalahan.
Kantor pemerintah dan layanan penting, seperti rumah sakit, apotek, dan toko grosir, dibuka selama karantina, yang dimulai pada Senin (19/4/2021) malam.
Kota itu telah memberlakukan jam malam pada akhir pekan, namun lonjakan kasus harian tertinggi terjadi pada Minggu (18/4/2021), dengan 24.462 kasus.
BACA JUGA: India Dilanda Pandemi COVID-19 Gelombang Kedua
India kini dilanda gelombang kedua Covid-19 yang mematikan sejak awal April. Lebih dari 273.000 kasus virus corona telah dilaporkan di seluruh India - dengan lebih dari 1.600 kematian - dalam 24 jam terakhir.
Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal mengatakan kota itu hampir kehabisan tempat tidur di unit perawatan intensif rumah sakit (ICU) dan pasokan oksigen tidak mencukupi.
&quot;Saya selalu menentang karantina, tetapi yang ini akan membantu kami menambah jumlah tempat tidur rumah sakit di Delhi,&quot; katanya dalam konferensi pers virtual pada Senin.
BACA JUGA: Inggris Selidiki Varian Covid-19 Asal India
Dia juga mengimbau para pekerja migran yang ada di ibu kota untuk tidak pergi, seperti pada karantina nasional tahun lalu yang membuat jutaan dari mereka kembali ke kampung halaman setelah mendapati diri mereka menganggur dan kehabisan uang.
&quot;Ini adalah keputusan yang sulit untuk diambil, tetapi kami tidak punya pilihan lain,&quot; kata Kejriwal sebagaimana dilansir BBC.
&quot;Saya tahu ketika karantina diumumkan, pekerja berupah harian menderita dan kehilangan pekerjaan mereka. Tapi saya mengimbau mereka untuk tidak meninggalkan Delhi. Ini adalah karantina singkat dan kami akan menjaga Anda.&quot;

Krematorium di daerah itu juga kewalahan, menurut laporan BBC di Delhi.
Gambar-gambar menyedihkan menunjukkan mayat dibakar di trotoar, di luar salah satu pinggiran ibu kota.
Satu dari tiga orang di Delhi dinyatakan positif.
Selagi dilanda gelombang baru virus corona yang parah, pemerintah  India mengumumkan bahwa setiap penduduk dewasa, akan mendapatkan vaksin  mulai awal bulan depan.
&quot;Dalam pertemuan yang dipimpin oleh [Perdana Menteri] Narendra Modi,  keputusan penting yang mengizinkan vaksinasi untuk semua orang yang  berusia di atas 18 tahun mulai 1 Mei telah diambil,&quot; tulis Kementerian  Kesehatan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita AFP.
India telah melaporkan lebih dari 200.000 kasus setiap hari sejak 15  April - melewati puncaknya tahun lalu, ketika rata-rata mencapai 93.000  kasus per hari.
Imbas dari gelombang kedua Covid-19 di India, pada Senin Perdana  Menteri Inggris Boris Johnson membatalkan perjalanan yang direncanakan  ke negara itu.
Pemimpin kedua negara dijadwalkan akan berbicara pada akhir bulan ini  untuk &quot;meluncurkan rencana ambisius untuk kemitradaan masa depan,&quot; kata  sebuah pernyataan.
Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock juga mengumumkan pada Senin  sore bahwa India telah dimasukkan dalam daftar merah perjalanan negara  itu, yang berarti orang-orang yang telah berada di India dalam 10 hari  terakhir dilarang memasuki Inggris.
Mantan Perdana Menteri India Manmohan Singh dirawat di rumah sakit  setelah dinyatakan positif terkena virus, laporan media India.
Maharashtra, yang beribu kota di pusat finansial Mumbai, tetap   menjadi negara bagian yang paling parah terkena dampak, terhitung hampir   sepertiga dari sekitar 1,9 kasus aktif di India.
Tapi Delhi menjadi kota yang paling parah terkena dampak, dengan   mencatat lebih banyak kasus harian ketimbang Mumbai dalam beberapa hari   terakhir.
Rumah sakit sedang berjuang untuk mengakomodasi pasien positif Covid   di Delhi dan kota-kota lain, yang terkena dampak parah seperti Mumbai,   Lucknow, dan Ahmedabad.
Beberapa negara bagian telah melaporkan kekurangan tempat tidur di bangsal Covid dan ICU.
Bahkan hasil tes ditunda karena banyaknya permintaan, yang menurut   dokter, menyebabkan orang tidak didiagnosis dan dirawat tepat waktu.
Para ahli mengatakan pemerintah India mengabaikan peringatan   gelombang kedua dan tidak berbuat banyak untuk mencegahnya atau bahkan   menahannya.
Mereka merujuk pada pertandingan kriket yang dihadiri oleh kerumunan    orang yang tanpa mengenakan masker, pawai politik besar-besaran yang    tampaknya mengabaikan aturan dasar keselamatan Covid, dan festival  Hindu   besar di mana jutaan orang berkumpul di tepi sungai Gangga pada  awal   bulan ini.
Didukung oleh penurunan tajam dalam jumlah kasus dan dimulainya    program vaksinasi, India memulai tahun ini dengan apa yang tampak    sebagai kondisi normal.
Tetapi keadaan segera berubah menjadi lebih buruk ketika orang-orang    mulai lebih sering meninggalkan rumah, lebih sedikit mengenakan masker    dan bersosialisasi dalam kelompok yang lebih besar.
Masuknya varian dan kelambatan dalam upaya vaksinasi hanya meningkatkan infeksi lebih lanjut, kata para ahli.
Dalam beberapa pekan, India melesat ke puncak daftar negara dengan    kasus Covid terbanyak dunia, mencatat lebih banyak kasus setiap hari    daripada negara lain.</description><content:encoded>NEW DELHI - Ibu kota India, Delhi, memberlakukan karantina selama sepekan ke depan, setelah rekor lonjakan kasus Covid-19 yang membuat sistem kesehatan kota kewalahan.
Kantor pemerintah dan layanan penting, seperti rumah sakit, apotek, dan toko grosir, dibuka selama karantina, yang dimulai pada Senin (19/4/2021) malam.
Kota itu telah memberlakukan jam malam pada akhir pekan, namun lonjakan kasus harian tertinggi terjadi pada Minggu (18/4/2021), dengan 24.462 kasus.
BACA JUGA: India Dilanda Pandemi COVID-19 Gelombang Kedua
India kini dilanda gelombang kedua Covid-19 yang mematikan sejak awal April. Lebih dari 273.000 kasus virus corona telah dilaporkan di seluruh India - dengan lebih dari 1.600 kematian - dalam 24 jam terakhir.
Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal mengatakan kota itu hampir kehabisan tempat tidur di unit perawatan intensif rumah sakit (ICU) dan pasokan oksigen tidak mencukupi.
&quot;Saya selalu menentang karantina, tetapi yang ini akan membantu kami menambah jumlah tempat tidur rumah sakit di Delhi,&quot; katanya dalam konferensi pers virtual pada Senin.
BACA JUGA: Inggris Selidiki Varian Covid-19 Asal India
Dia juga mengimbau para pekerja migran yang ada di ibu kota untuk tidak pergi, seperti pada karantina nasional tahun lalu yang membuat jutaan dari mereka kembali ke kampung halaman setelah mendapati diri mereka menganggur dan kehabisan uang.
&quot;Ini adalah keputusan yang sulit untuk diambil, tetapi kami tidak punya pilihan lain,&quot; kata Kejriwal sebagaimana dilansir BBC.
&quot;Saya tahu ketika karantina diumumkan, pekerja berupah harian menderita dan kehilangan pekerjaan mereka. Tapi saya mengimbau mereka untuk tidak meninggalkan Delhi. Ini adalah karantina singkat dan kami akan menjaga Anda.&quot;

Krematorium di daerah itu juga kewalahan, menurut laporan BBC di Delhi.
Gambar-gambar menyedihkan menunjukkan mayat dibakar di trotoar, di luar salah satu pinggiran ibu kota.
Satu dari tiga orang di Delhi dinyatakan positif.
Selagi dilanda gelombang baru virus corona yang parah, pemerintah  India mengumumkan bahwa setiap penduduk dewasa, akan mendapatkan vaksin  mulai awal bulan depan.
&quot;Dalam pertemuan yang dipimpin oleh [Perdana Menteri] Narendra Modi,  keputusan penting yang mengizinkan vaksinasi untuk semua orang yang  berusia di atas 18 tahun mulai 1 Mei telah diambil,&quot; tulis Kementerian  Kesehatan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita AFP.
India telah melaporkan lebih dari 200.000 kasus setiap hari sejak 15  April - melewati puncaknya tahun lalu, ketika rata-rata mencapai 93.000  kasus per hari.
Imbas dari gelombang kedua Covid-19 di India, pada Senin Perdana  Menteri Inggris Boris Johnson membatalkan perjalanan yang direncanakan  ke negara itu.
Pemimpin kedua negara dijadwalkan akan berbicara pada akhir bulan ini  untuk &quot;meluncurkan rencana ambisius untuk kemitradaan masa depan,&quot; kata  sebuah pernyataan.
Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock juga mengumumkan pada Senin  sore bahwa India telah dimasukkan dalam daftar merah perjalanan negara  itu, yang berarti orang-orang yang telah berada di India dalam 10 hari  terakhir dilarang memasuki Inggris.
Mantan Perdana Menteri India Manmohan Singh dirawat di rumah sakit  setelah dinyatakan positif terkena virus, laporan media India.
Maharashtra, yang beribu kota di pusat finansial Mumbai, tetap   menjadi negara bagian yang paling parah terkena dampak, terhitung hampir   sepertiga dari sekitar 1,9 kasus aktif di India.
Tapi Delhi menjadi kota yang paling parah terkena dampak, dengan   mencatat lebih banyak kasus harian ketimbang Mumbai dalam beberapa hari   terakhir.
Rumah sakit sedang berjuang untuk mengakomodasi pasien positif Covid   di Delhi dan kota-kota lain, yang terkena dampak parah seperti Mumbai,   Lucknow, dan Ahmedabad.
Beberapa negara bagian telah melaporkan kekurangan tempat tidur di bangsal Covid dan ICU.
Bahkan hasil tes ditunda karena banyaknya permintaan, yang menurut   dokter, menyebabkan orang tidak didiagnosis dan dirawat tepat waktu.
Para ahli mengatakan pemerintah India mengabaikan peringatan   gelombang kedua dan tidak berbuat banyak untuk mencegahnya atau bahkan   menahannya.
Mereka merujuk pada pertandingan kriket yang dihadiri oleh kerumunan    orang yang tanpa mengenakan masker, pawai politik besar-besaran yang    tampaknya mengabaikan aturan dasar keselamatan Covid, dan festival  Hindu   besar di mana jutaan orang berkumpul di tepi sungai Gangga pada  awal   bulan ini.
Didukung oleh penurunan tajam dalam jumlah kasus dan dimulainya    program vaksinasi, India memulai tahun ini dengan apa yang tampak    sebagai kondisi normal.
Tetapi keadaan segera berubah menjadi lebih buruk ketika orang-orang    mulai lebih sering meninggalkan rumah, lebih sedikit mengenakan masker    dan bersosialisasi dalam kelompok yang lebih besar.
Masuknya varian dan kelambatan dalam upaya vaksinasi hanya meningkatkan infeksi lebih lanjut, kata para ahli.
Dalam beberapa pekan, India melesat ke puncak daftar negara dengan    kasus Covid terbanyak dunia, mencatat lebih banyak kasus setiap hari    daripada negara lain.</content:encoded></item></channel></rss>
