<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Kebakaran Kapal Tampomas II yang Menelan Ratusan Nyawa</title><description>Tragedi kebakaran kapal Tampomas II diceritaksn di buku &quot;Neraka di Laut Jawa: Tampomas II&amp;rdquo; (1981).</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa"/><item><title>Tragedi Kebakaran Kapal Tampomas II yang Menelan Ratusan Nyawa</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa</guid><pubDate>Selasa 27 April 2021 06:43 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa-Gt7AobI9Wv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/27/337/2401279/tragedi-kebakaran-kapal-tampomas-ii-yang-menelan-ratusan-nyawa-Gt7AobI9Wv.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tragedi kebakaran kapal Tampomas II diceritaksn di buku &quot;Neraka di Laut Jawa: Tampomas II&amp;rdquo; (1981). Buku ini merupakan hasil rekonstruksi ulang, dilengkapi pemutakhiran data dan wawancara tambahan, atas tumpukan dokumen reportase para wartawan Sinar Harapan dan Mutiara.

Tim penyusunnya para wartawan,antara lain, Aristides Katoppo, Panda Nababan, Umar Nur Zain, Agnes Samsuri, Gerson Poyk, dan Harry Kawilarang. Bondan Winarno sebagai penulis.

Buku itu  menyajikan adegan demi adegan lewat penggambaran yang demikian rinci dalam 291 halamannya. Kisah-kisah kecil yang menyentuh hati, yang dialami penumpang, awak kapal, dan para penolong.

Dalam tenggelamnya Tampomas II, bermunculan dugaan adanya ketidakberesan terkait kapal bekas berumur 10 tahun tersebut. Buruknya kondisi kapal digambarkan. Kronologi pembeliannya dimunculkan. Angka-angka yang mencurigakan dibeberkan. Namun semua data masih ditempatkan sebagai pelengkap cerita.

Tampomas adalah nama sebuah gunung di Sumedang, Jawa Barat. Ia menjadi nama bagi kapal yang beroperasi sejak Mei 1980 di bawah bendera PT PELNI. Kapal bekas, tua, dan tak terawat ini harus bekerja keras seperti kapal baru. Akhirnya,  tenggelam , sebanyak 666 orang menjadi korban.

Kapal bekas ini dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$8,3 juta.  Tampomas II diproduksi Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, pada 1956  1956 dengan lebar 22 meter dan panjang 125,6 meter.

Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt. Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot.

Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.

Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00  WIB dari Dari Tanjung Priok, Jakarta. Di atas kapal terdapat 191 mobil,  200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang  tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang  gelap.

Kapal rusak, minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena  kebocoran bahan bakar. Api menyambar dan kru mesin mati-matian  memadamkannya dengan alat pemadam portabel.

Usaha pemadaman menemui jalan buntu saat air untuk memadamkan api tak  bisa disemprotkan karena generator mati. Api menjalar ke ruang tempat  disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.

Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mencoba mendamparkan kapalnya ke  pulau terdekat. Namun gagal karena baling-balingnya tak bisa berputar.

Radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan tak bisa  dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara juga tak menyala.

Evakuasi penumpang berjalan kacau. Ada awak kapal yang menurunkan  sekoci untuk dirinya sendiri. Munculnya matahari pada 26 Januari 1981  menerangi lautan di sekitar Tampomas. Datangnya hujan deras pagi itu,  membuat kapal makin dipenuhi air.

Kapal Motor Sangihe, di bawah komando nakhoda kapal Kapten Agus K.  Sumirat, adalah yang pertama kali tiba. Mualim J. Bilalu dari KM Sangihe  melihat kepulan asap yang semula dikiranya datang dari sumur minyak  lepas pantai Pertamina.

Markonis KM Sangihe, Abubakar, kemudian mengirim pesan telegraf pada  pukul 08.15 terkait nasib Tampomas II. KM Ilmamui menyusul untuk  melakukan pertolongan dan tiba pada pukul 21.00. Disusul empat jam  kemudian oleh kapal tangker Istana VI dan kapal-kapal lain, yaitu kapal  Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT. Porodisa Lines.

Ruang mesin Tampomas II akhirnya meledak pada pagi 27 Januari  esoknya. Kapal pun makin dipenuhi oleh air laut. Ruang Propeller dan  Ruang Generator turut pula terisi air laut, dan kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada 27 Januari 1981, tepat hari ini 37 tahun lalu, Pukul  12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut  Jawa di sekitar perairan Masalembu.

Kapten Abdul Rivai bersama ratusan penumpang yang ada di kapal tersebut menjadi korban tragedi Tamponas II .

</description><content:encoded>JAKARTA - Tragedi kebakaran kapal Tampomas II diceritaksn di buku &quot;Neraka di Laut Jawa: Tampomas II&amp;rdquo; (1981). Buku ini merupakan hasil rekonstruksi ulang, dilengkapi pemutakhiran data dan wawancara tambahan, atas tumpukan dokumen reportase para wartawan Sinar Harapan dan Mutiara.

Tim penyusunnya para wartawan,antara lain, Aristides Katoppo, Panda Nababan, Umar Nur Zain, Agnes Samsuri, Gerson Poyk, dan Harry Kawilarang. Bondan Winarno sebagai penulis.

Buku itu  menyajikan adegan demi adegan lewat penggambaran yang demikian rinci dalam 291 halamannya. Kisah-kisah kecil yang menyentuh hati, yang dialami penumpang, awak kapal, dan para penolong.

Dalam tenggelamnya Tampomas II, bermunculan dugaan adanya ketidakberesan terkait kapal bekas berumur 10 tahun tersebut. Buruknya kondisi kapal digambarkan. Kronologi pembeliannya dimunculkan. Angka-angka yang mencurigakan dibeberkan. Namun semua data masih ditempatkan sebagai pelengkap cerita.

Tampomas adalah nama sebuah gunung di Sumedang, Jawa Barat. Ia menjadi nama bagi kapal yang beroperasi sejak Mei 1980 di bawah bendera PT PELNI. Kapal bekas, tua, dan tak terawat ini harus bekerja keras seperti kapal baru. Akhirnya,  tenggelam , sebanyak 666 orang menjadi korban.

Kapal bekas ini dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$8,3 juta.  Tampomas II diproduksi Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, pada 1956  1956 dengan lebar 22 meter dan panjang 125,6 meter.

Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt. Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot.

Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.

Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00  WIB dari Dari Tanjung Priok, Jakarta. Di atas kapal terdapat 191 mobil,  200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang  tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang  gelap.

Kapal rusak, minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena  kebocoran bahan bakar. Api menyambar dan kru mesin mati-matian  memadamkannya dengan alat pemadam portabel.

Usaha pemadaman menemui jalan buntu saat air untuk memadamkan api tak  bisa disemprotkan karena generator mati. Api menjalar ke ruang tempat  disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.

Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mencoba mendamparkan kapalnya ke  pulau terdekat. Namun gagal karena baling-balingnya tak bisa berputar.

Radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan tak bisa  dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara juga tak menyala.

Evakuasi penumpang berjalan kacau. Ada awak kapal yang menurunkan  sekoci untuk dirinya sendiri. Munculnya matahari pada 26 Januari 1981  menerangi lautan di sekitar Tampomas. Datangnya hujan deras pagi itu,  membuat kapal makin dipenuhi air.

Kapal Motor Sangihe, di bawah komando nakhoda kapal Kapten Agus K.  Sumirat, adalah yang pertama kali tiba. Mualim J. Bilalu dari KM Sangihe  melihat kepulan asap yang semula dikiranya datang dari sumur minyak  lepas pantai Pertamina.

Markonis KM Sangihe, Abubakar, kemudian mengirim pesan telegraf pada  pukul 08.15 terkait nasib Tampomas II. KM Ilmamui menyusul untuk  melakukan pertolongan dan tiba pada pukul 21.00. Disusul empat jam  kemudian oleh kapal tangker Istana VI dan kapal-kapal lain, yaitu kapal  Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT. Porodisa Lines.

Ruang mesin Tampomas II akhirnya meledak pada pagi 27 Januari  esoknya. Kapal pun makin dipenuhi oleh air laut. Ruang Propeller dan  Ruang Generator turut pula terisi air laut, dan kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada 27 Januari 1981, tepat hari ini 37 tahun lalu, Pukul  12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut  Jawa di sekitar perairan Masalembu.

Kapten Abdul Rivai bersama ratusan penumpang yang ada di kapal tersebut menjadi korban tragedi Tamponas II .

</content:encoded></item></channel></rss>
