<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jung Jawa Berlayar Sampai Tanjung Harapan, Menyerang Portugis di Malaka</title><description>Kapal Jung adalah sebuah kapal layar tradisional yang digunakan oleh orang Jawa pada jaman dahulu.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka"/><item><title>Jung Jawa Berlayar Sampai Tanjung Harapan, Menyerang Portugis di Malaka</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka</guid><pubDate>Selasa 27 April 2021 07:06 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka-ych0ZjSrDI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/27/337/2401284/jung-jawa-berlayar-sampai-tanjung-harapan-menyerang-portugis-di-malaka-ych0ZjSrDI.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kapal Jung adalah sebuah kapal layar tradisional yang digunakan oleh orang Jawa pada jaman dahulu.

Jung merupakan kapal laut yang besar biasanya dipakai untuk berdagang dengan jarak yang jauh ataupun untuk berperang. Jung Jawa memiliki sepasang kemudi di buritan, sebuah rumah di atas geladak.

Kapasitas Jung Jawa ini berkisar 200-300 ton dan mampungi mengarungi Laut Jawa, Laut Cina hingga Teluk Benggala. Jung Jawa yang terbesar dapat mencapai hingga 1000 ton, yaitu Jung yang dipakai orang Jawa untuk menyerang Malaka pada tahun 1513.

Lambung kapal Jung dibentuk dengan menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi.

Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat.

Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14. Mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara.

Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.

Jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis.

Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang  digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada  Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini  disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

&quot;Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada  tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan  dengan Jung Jawa.&quot; tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel  (1515).

Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak  saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan  lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari  perairan Malaka.

Diego de Couto , pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada  pertengahan abad ke-16 di buku &quot;Da Asia&quot;, terbitan 1645. menyebutkan,  orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan  Madagaskar.

Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit  cokelat seperti orang Jawa. &quot;Mereka mengaku keturunan Jawa,&quot; kata Couto,  sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku&quot; Sejarah Modern Awal Asia  Tenggara.&quot;

Ketika pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal  tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung  Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah  yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan  Malaka pada waktu itu menjadi kota orang Jawa.

Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan  sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu  Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar  di Asia Tenggara itu.

Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut  Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis  ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa  lampau.

Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa  (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan  Makassar.

Menjelang akhir abad ke-17, ketika perang Jawa tidak bisa lagi  membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru dunia. Bahkan,  orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor Maskapai  Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa  orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal  besar.

Para sejarawan menyimpulkan, jung dan tradisi besar maritim Jawa  hancur akibat ekspansi militer-perniagaan Belanda. Serta, sikap represif  Sultan Agung dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa.  Raja-raja Mataram pengganti Sultan Agung bersikap anti perniagaan.

Terdapat pula perahu Jung pada masa Majapahut. Kerajaan Majapahit  merupakan sebuah kerajaan besar pada abad 13-15 Masehi yang hampir  menguasai hampir seluruh Nusantara dan beberapa daerah di luar Indonesia  serta memiliki perdagangan dan pelayaran yang begitu maju.

Perahu-perahu jung pada masa Majapahit ini memiliki berbagai ukuran  mulai dari kecil hingga besar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan  perjalanan yang ditempuh.

Perjalanan mencari rempah-rempah ke daerah Ambon, Sumbawa, Flores dan  lain-lain, perahu yang digunakan adalah perahu Jung besar dengan bobot  ratusan ton. Sedangkan pelayaran dalam wilayah sekitar pulau Jawa  menggunakan perahu jung kecil atau perahu jungkung.

Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan  pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik -  belakangan disebut sebagai &quot;Kapal Borobudur&quot;.

Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal  Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Kapal  Borobudur tercantum dalam relief candi Borobudur.

Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun.

Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal  kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar  sebagai Jung.</description><content:encoded>JAKARTA - Kapal Jung adalah sebuah kapal layar tradisional yang digunakan oleh orang Jawa pada jaman dahulu.

Jung merupakan kapal laut yang besar biasanya dipakai untuk berdagang dengan jarak yang jauh ataupun untuk berperang. Jung Jawa memiliki sepasang kemudi di buritan, sebuah rumah di atas geladak.

Kapasitas Jung Jawa ini berkisar 200-300 ton dan mampungi mengarungi Laut Jawa, Laut Cina hingga Teluk Benggala. Jung Jawa yang terbesar dapat mencapai hingga 1000 ton, yaitu Jung yang dipakai orang Jawa untuk menyerang Malaka pada tahun 1513.

Lambung kapal Jung dibentuk dengan menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi.

Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat.

Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14. Mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara.

Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.

Jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis.

Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang  digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada  Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini  disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

&quot;Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada  tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan  dengan Jung Jawa.&quot; tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel  (1515).

Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak  saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan  lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari  perairan Malaka.

Diego de Couto , pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada  pertengahan abad ke-16 di buku &quot;Da Asia&quot;, terbitan 1645. menyebutkan,  orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan  Madagaskar.

Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit  cokelat seperti orang Jawa. &quot;Mereka mengaku keturunan Jawa,&quot; kata Couto,  sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku&quot; Sejarah Modern Awal Asia  Tenggara.&quot;

Ketika pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal  tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung  Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah  yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan  Malaka pada waktu itu menjadi kota orang Jawa.

Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan  sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu  Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar  di Asia Tenggara itu.

Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut  Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis  ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa  lampau.

Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa  (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan  Makassar.

Menjelang akhir abad ke-17, ketika perang Jawa tidak bisa lagi  membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru dunia. Bahkan,  orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor Maskapai  Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa  orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal  besar.

Para sejarawan menyimpulkan, jung dan tradisi besar maritim Jawa  hancur akibat ekspansi militer-perniagaan Belanda. Serta, sikap represif  Sultan Agung dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa.  Raja-raja Mataram pengganti Sultan Agung bersikap anti perniagaan.

Terdapat pula perahu Jung pada masa Majapahut. Kerajaan Majapahit  merupakan sebuah kerajaan besar pada abad 13-15 Masehi yang hampir  menguasai hampir seluruh Nusantara dan beberapa daerah di luar Indonesia  serta memiliki perdagangan dan pelayaran yang begitu maju.

Perahu-perahu jung pada masa Majapahit ini memiliki berbagai ukuran  mulai dari kecil hingga besar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan  perjalanan yang ditempuh.

Perjalanan mencari rempah-rempah ke daerah Ambon, Sumbawa, Flores dan  lain-lain, perahu yang digunakan adalah perahu Jung besar dengan bobot  ratusan ton. Sedangkan pelayaran dalam wilayah sekitar pulau Jawa  menggunakan perahu jung kecil atau perahu jungkung.

Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan  pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik -  belakangan disebut sebagai &quot;Kapal Borobudur&quot;.

Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal  Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Kapal  Borobudur tercantum dalam relief candi Borobudur.

Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun.

Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal  kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar  sebagai Jung.</content:encoded></item></channel></rss>
