<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa   </title><description>DI KAWASAN Tanjung Kait, Mauk, Tangerang , dekat Kelenteng terdapat bangunan makam berarsitektur tionghoa</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa"/><item><title>Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa</guid><pubDate>Jum'at 30 April 2021 06:51 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa-50vfyzMmRA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Budayawan Betawi Ridwan Saidi.(Foto:Okezone/Doddy Handoko)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/30/337/2403197/kisah-7-wali-betawi-dan-makam-wali-yang-berubah-jadi-bong-tionghoa-50vfyzMmRA.jpg</image><title>Budayawan Betawi Ridwan Saidi.(Foto:Okezone/Doddy Handoko)</title></images><description>DI KAWASAN Tanjung Kait, Mauk, Tangerang , dekat Kelenteng  terdapat bangunan makam berarsitektur tionghoa, dicat merah dan kuning menyala, lengkap dengan altar persembahan.
Sepintas orang akan menganggap hal itu wajar saja karena mengira itu adalah makam warga tionghoa. Namun ternyata menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, makam itu adalah  kuburan  Ema Datuk,  seorang  ulama muslim. Kini kuburan itu telah berubah menjadi makam atau bong tionghoa.
Ridwan terkejut melihat perubahan drastis itu. Padahal dia memiliki foto makam Ema Datuk yang masih seperti kuburan islam pada umumnya, memakai cungkup dan nisan dari kayu.  Di halaman luar masih terdapat atap bekas kuburan lama yang telah dibongkar.
Baca Juga: Kisah Jenderal Bambu Runcing Kiai Subchi, 10 Ribu Orang Tiap Hari Disepuh
Dulu ketika gunung Krakatau meletus, wilayah dekat kuburan itu satu-satunya yang bebas dari debu dan terjangan tsunami. Padahal di desa sekitar seperti desa Keramat, Kampung Melayu habis disapu air bah. Maka banyak orang menyelamatkan diri di makam itu.
Terkait ulama penyebar islam di Betawi, Ridwan menjelaskan bahwa masyarakat Betawi mengenal nama tujuh wali penyebar islam.
Baca Juga: Kisah Pertarungan Ayam Maulana Hasanudin dan Prabu Pucuk Umun
Dalam proses Islamisasi di betawi terdapat tujuh wali Betawi. Antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur.
Lalu Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Ema Datuk makamnya di Tanjung Kait, Mauk, Tangerang. Datuk Ibrahim makamnya di Condet. Wali Ki Aling, tidak diketahui makamnya.
Mereka  hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa. Tapi tidak terlalu banyak orang yang tahupada keberadaan makam-makam Wali penyebar islam itu.
Makam Datuk Ibrahim  terletak di jalan Datuk Ibrahim, Condet, di dalam komplek mushola di gang kecil. Meski dipagar besi namun sekilas malah terlihat seperti taman bunga.Selain itu  tidak terdapat  papan nama yang menunjukkan makam Datuk  Ibrahim, tidak terlihat makam seorang ulama besar pada jamannya.
Penyebar islam setelah tujuh wali itu antara lain Habib Husein  Alaydrus yang dimakamkam di Luar Batang, Jakarta Utara. Kong Jamirun  dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara. Datuk Biru, makamnya di  Rawabangke, Jatinegara. Serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta  Utara. Datuk Tanggoro di Cililitan, Jaktim. Ki Balung Tunggal di  Condet.
Di Mekkah, terdapat Syeikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari  Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Ia amat termashur karena menjadi imam di  Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100  tahun.
Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syech Nawawi al Bantani.
Sejauh ini, penyebaran islam di Betawi masih menjadi perdebatan. Ada  anggapan bahwa proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi  sejak Falatihan, panglima Kerajaan Islam Demak menaklukkan Sunda Kelapa  pada 22 Juni 1527.
Menurut Ridwan, proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah  terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lebih dari 100 tahun sebelum kedatangan  balatentara Falatehan yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk  Jakarta (sekitar Pasar Ikan).
Islam masuk pada tahun 1412, yang dibawa oleh Syekh Kuro, seorang  ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun  sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang.
Menurut kitab 'Sanghyang Saksakhanda', sejak pesisir utara Pulau Jawa  mulai dari Cirebon-Krawang dan Bekasi terkena pengaruh Islam yang  disebarkan orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang  masuk Islam.
Islamisasi di Betawi semakin berkembang  ketika Sultan Agung melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC.
Para prajurit Mataram setelah gagal mengusir Belanda, tinggal di  Jakarta . Mereka banyak menjadi juru dakwah yang handal. Mereka telah  memelopori berdirinya surau-surau di Jakarta yang kini menjadi masjid  seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan Lima, yang didirikan pada 1717.  Salah seorang ulama besar dari kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir  tahun 1875.</description><content:encoded>DI KAWASAN Tanjung Kait, Mauk, Tangerang , dekat Kelenteng  terdapat bangunan makam berarsitektur tionghoa, dicat merah dan kuning menyala, lengkap dengan altar persembahan.
Sepintas orang akan menganggap hal itu wajar saja karena mengira itu adalah makam warga tionghoa. Namun ternyata menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, makam itu adalah  kuburan  Ema Datuk,  seorang  ulama muslim. Kini kuburan itu telah berubah menjadi makam atau bong tionghoa.
Ridwan terkejut melihat perubahan drastis itu. Padahal dia memiliki foto makam Ema Datuk yang masih seperti kuburan islam pada umumnya, memakai cungkup dan nisan dari kayu.  Di halaman luar masih terdapat atap bekas kuburan lama yang telah dibongkar.
Baca Juga: Kisah Jenderal Bambu Runcing Kiai Subchi, 10 Ribu Orang Tiap Hari Disepuh
Dulu ketika gunung Krakatau meletus, wilayah dekat kuburan itu satu-satunya yang bebas dari debu dan terjangan tsunami. Padahal di desa sekitar seperti desa Keramat, Kampung Melayu habis disapu air bah. Maka banyak orang menyelamatkan diri di makam itu.
Terkait ulama penyebar islam di Betawi, Ridwan menjelaskan bahwa masyarakat Betawi mengenal nama tujuh wali penyebar islam.
Baca Juga: Kisah Pertarungan Ayam Maulana Hasanudin dan Prabu Pucuk Umun
Dalam proses Islamisasi di betawi terdapat tujuh wali Betawi. Antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur.
Lalu Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Ema Datuk makamnya di Tanjung Kait, Mauk, Tangerang. Datuk Ibrahim makamnya di Condet. Wali Ki Aling, tidak diketahui makamnya.
Mereka  hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa. Tapi tidak terlalu banyak orang yang tahupada keberadaan makam-makam Wali penyebar islam itu.
Makam Datuk Ibrahim  terletak di jalan Datuk Ibrahim, Condet, di dalam komplek mushola di gang kecil. Meski dipagar besi namun sekilas malah terlihat seperti taman bunga.Selain itu  tidak terdapat  papan nama yang menunjukkan makam Datuk  Ibrahim, tidak terlihat makam seorang ulama besar pada jamannya.
Penyebar islam setelah tujuh wali itu antara lain Habib Husein  Alaydrus yang dimakamkam di Luar Batang, Jakarta Utara. Kong Jamirun  dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara. Datuk Biru, makamnya di  Rawabangke, Jatinegara. Serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta  Utara. Datuk Tanggoro di Cililitan, Jaktim. Ki Balung Tunggal di  Condet.
Di Mekkah, terdapat Syeikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari  Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Ia amat termashur karena menjadi imam di  Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100  tahun.
Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syech Nawawi al Bantani.
Sejauh ini, penyebaran islam di Betawi masih menjadi perdebatan. Ada  anggapan bahwa proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi  sejak Falatihan, panglima Kerajaan Islam Demak menaklukkan Sunda Kelapa  pada 22 Juni 1527.
Menurut Ridwan, proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah  terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lebih dari 100 tahun sebelum kedatangan  balatentara Falatehan yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk  Jakarta (sekitar Pasar Ikan).
Islam masuk pada tahun 1412, yang dibawa oleh Syekh Kuro, seorang  ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun  sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang.
Menurut kitab 'Sanghyang Saksakhanda', sejak pesisir utara Pulau Jawa  mulai dari Cirebon-Krawang dan Bekasi terkena pengaruh Islam yang  disebarkan orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang  masuk Islam.
Islamisasi di Betawi semakin berkembang  ketika Sultan Agung melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC.
Para prajurit Mataram setelah gagal mengusir Belanda, tinggal di  Jakarta . Mereka banyak menjadi juru dakwah yang handal. Mereka telah  memelopori berdirinya surau-surau di Jakarta yang kini menjadi masjid  seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan Lima, yang didirikan pada 1717.  Salah seorang ulama besar dari kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir  tahun 1875.</content:encoded></item></channel></rss>
